
Selamat membaca....
***
‘Kak Irsyad?..’
Reiji mengernyitkan dahinya kala ia melihat nama pemanggil yang terus menerus menghubungi ponsel Malia.
‘Siapa dia? .. Saudara Lia? .. Ah kayaknya bukan. Perasaan gue ga ada orang dari keluarga Lia yang namanya Irsyad seinget gue. Asing juga ini nama.’
Reiji bermonolog dalam hatinya, dengan masih menggenggam ponsel Malia.
‘Gue angkat ga ya? ..’ batin Reiji seraya menimbang-nimbang. ‘Siapa tau orang kantor Lia? ..’
Reiji memilin bibirnya sambil memandangi ponsel Malia. Lalu kemudian dia menghela pelan nafasnya.
‘Inget janji lo sendiri, Rei!’ hati Reiji berkata.
Dan didetik berikutnya Reiji meletakkan kembali ponsel Malia ke tempatnya, yang kebetulan juga berhenti bergetar itu.
Reiji pun hendak melangkahkan kakinya, namun layar ponsel Lia menyala.
Dan sebuah pesan chat masuk ke ponsel istrinya Reiji itu.
Reiji tak ingin kepo sebenarnya. Namun matanya seolah tersetel otomatis untuk melirik pesan chat yang muncul pada layar apung ponsel Malia.
‘Sibuk ya Li?’
Reiji menarik lurus bibirnya setelah melihat isi chat yang singkat hingga dapat Reiji baca walau tidak menyentuh ponsel Malia.
Hanya chat biasa saja. Jadi Reiji melengos.
Mau beranjak dari tempatnya, namun cahaya ponsel Malia berikut kemunculan satu pesan chat lagi, membuat Reiji kembali kepo untuk melirik ponsel istrinya itu.
‘Ada waktu ga hari ini?’
Alis Reiji terangkat saat membaca pesan chat kedua dari nomor kontak yang berlabel Kak Irsyad itu.
Membuat Reiji merasa ambigu. ‘Positive thinking Rei... Mungkin itu temen kantornya Lia yang lo ga kenal, dan mereka ada urusan kerjaan.’
Namun begitu, batin Reiji tak mau sembarang menduga-duga.
Jadi Reiji kemudian menjauh dari ponsel Malia yang memang sudah tak lagi bergetar, dan tak ada lagi chat yang masuk, setelah Reiji berdiri sesaat di dekat nakas sisi bagian tidur Malia.
Dan Reiji melangkah keluar dari kamarnya, kemudian duduk di sofa ruang tamu apartemennya dan Lia, lalu membuka sepatu jogging-nya. Reiji mencoba berpikiran positif saja tentang seseorang yang tadi menghubungi dan mengirim pesan chat pada Malia.
Yang Reiji yakin adalah seorang laki-laki.
Namun, meski Reiji tidak ingin berpikir macam-macam, keinginan Reiji untuk jogging pagi ini rasanya hilang.
***
MALIA
Aku tersentak kaget saat aku mendapati Reiji berada di ruang santai apartemen kami. Bukankah dia akan langsung jogging setelah menaruh pakaian kotor kami di Laundry?. Tapi kenapa orangnya malah sudah ada kembali dalam apartemen, ya?... Ini baru dua puluh menit Reiji pergi jika aku tidak salah, saat aku melirik pada jam dinding dan mengingat di angka berapa jarum jam terletak saat aku masuk kamar mandi tadi.
Aku sampai mengerjapkan mataku memandang ke arah ruang santai apartemen dimana Reiji nampak sedang memegang ponselnya. “Rei?...” panggilku.
“Ya?”
Reiji langsung menyahut seraya menoleh saat aku memanggil sekaligus menghampirinya.
“Kamu udah balik jogging?...”
Tapi Reiji tidak langsung menjawabku.
Dia seperti melamun?
Dan memandang ke...
Ah ya ampun!
Aku baru sadar jika aku hanya mengenakan handuk saja saat ini, dan sangkutan bagian atas tidak menutup keseluruhan dua bukit kembar milikku.
Aku berdehem, baru Reiji terkesiap lalu segera menatapku dengan tersenyum canggung.
Aku pun berlagak cuek, padahal sebenarnya aku sedikit was-was. Karena biasanya Reiji tidak bisa melihatku memakai handuk di depannya, maka ia akan langsung menerjang-ku.
“Kamu udah mandi pagi-pagi gini... Mau pergi?...”
Tapi tidak saat ini. Reiji nampak biasa saja.
Tidak ada gelagat jika dia ingin meminta ‘jatah’.
Apa karena kami sedang dalam hubungan yang sedikit canggung saat ini, akibat pertengkaran waktu itu?.
“Engga sih.” Tanggapku pada pertanyaan Reiji tadi. “Pengen mandi aja.”
“Oh...”
Reiji menjawab datar.
“Ya udah, pakai baju dulu sana...”
Dan menyuruhku untuk berpakaian, sambil melengoskan wajahnya dariku.
“Iya.”
Akupun segera hengkang dari hadapan Reiji.
Dan melangkahkan kakiku menuju kamar untuk berpakaian.
Aku sempat melirik Reiji saat aku hendak masuk ke kamar kami.
Sedikit was-was karena takut dengan tiba-tiba Reiji ‘menyerangku’ dari belakang.
Tapi pada kenyataannya, Reiji bergeming di tempatnya. Masih duduk di sofa dan nampak kembali melanjutkan bermain game di ponselnya.
--
Aku masih bertanya-tanya sendiri kenapa Reiji cepat sekali kembali dari jogging.
Tapi aku ragu kalau dia berangkat jogging.
Muka Reiji masih fresh aja kalau aku ga salah lihat.
Tapi kalau Reiji tahu-tahu batal jogging kenapa ya?.
Apa Reiji ada tugas terbang mendadak kayak waktu itu?.
Tapi Reiji terlihat anteng-anteng aja main game itu.
__ADS_1
Kalau memang ada tugas terbang, kan harusnya dia udah buru-buru mandi dan rapih-rapih?...
Tapi ini santai-santai aja aku liat tadi itu si Reiji.
Ah sudahlah.
Mungkin Reiji tiba-tiba males kali.
Lebih baik aku berpakaian aja.
**
‘Kak Irsyad telpon tadi?...’
Malia membatin saat ia sudah berpakaian dan kini sedang memegang ponselnya.
Kala ia melihat dua panggilan tak terjawab yang masuk ke ponselnya.
“Reiji liat ga ya ini miss-called?...” gumam Malia sambil menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup. “Kayaknya engga deh...” gumamnya lagi. “Ga berubah posisi juga ini ponsel gue.”
Lalu Malia kembali memfokuskan pandangannya pada ponselnya itu.
‘Gue harus jawab apa ya ke Kak Irsyad?...’ batin Malia, setelah membaca dua pesan chat yang masuk juga ke ponselnya.
Drrttt...
Ponsel Malia bergetar di tangannya, tak berapa lama setelah ia membaca dua pesan masuk dari Irsyad.
‘Duh, nelpon lagi orangnya!...’
Malia tak langsung mengarahkan jempolnya ke tombol berwarna hijau.
‘Kalo Kak Irsyad nanyain lagi soal bisa ketemuan apa engga hari ini gimana?’
Malia masih belum menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan pada ponselnya.
‘Ga mungkin juga gue iyain buat ketemuan dengan Kak Irsyad kalau Reiji lagi ada begini.’
Malia masih membatin.
‘Kak Irsyad pasti ngerti kalo gue tolak undangannya hari ini...’
Malia pun menggeser tombol hijau pada panggilan telepon yang sedang masuk ke ponselnya
“Halo Kak ---”
“Yang ---”
**
Disaat dimana Malia sudah menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan pada ponselnya, disaat yang sama pula Reiji masuk ke dalam kamar mereka seraya memanggil Malia. Tentunya itu mengejutkan Malia.
“Ya, Rei? ..”
“Oh kamu lagi telfon?”
“Udahan kok ..”
Malia menyahut sambil menjauhkan ponsel yang sudah tertempel di telinganya, sekaligus dengan cepat menekan tombol berwarna merah dalam panggilan yang sedang berlangsung di ponselnya itu.
Dan Malia segera menyelipkan ponselnya pada saku belakang hotpant yang ia kenakan.
“Telfonan sama siapa?...”
Reiji bertanya dengan santai.
“Temen...”
Malia menjawab singkat.
“Oh...”
**
“Ngomong-ngomong kok kamu kayaknya cepet banget balik jogging-nya Rei?”
“Ga jadi jogging –“
“Kok?.....”
“Tadi balik mau ngambil dompet rencananya. Eh sampe sini malah jadi males mau keluar lagi.”
“Oh.....” Malia manggut-manggut.
“Yang.....” ucap Reiji.
“Ya?.....” sahut Malia.
Reiji duduk di pinggir salah satu sisi tempat tidurnya dan Malia.
Lalu menepuk ruang di sebelahnya, agar Malia duduk di sebelahnya.
“Ada yang mau kamu sampaikan ke aku? ...” tanya Reiji.
“Tentang? ...”
Malia balik bertanya.
“Ya tentang apa aja ...” jawab Reiji. “Kamu ada unek-unek tentang aku mungkin?”
“Ga ada ...” tukas Malia.
“Beneran ga ada?”
Reiji kembali bertanya.
“Untuk saat ini ga ada ...”
Reiji pun menarik sudut bibirnya.
“Ya udah kalo begitu.” Ucap Reiji kemudian. “Hari ini kamu ga ada acara kan?”
“Euumm ...”
“Aku mau ngajak kamu –“
“Kemana?” potong Malia.
“Kumpul sama anak-anak ...”
“Maksudnya anak-anak ... geng kamu itu?”
__ADS_1
“Iy—“
“Aku ga mau ...”
Malia kembali memotong ucapan Reiji.
“Loh kenapa? ...”
“Ya ga mau aja ...”
“Please jangan bilang karena ada Irly.”
Reiji dengan cepat menanggapi penolakan Malia.
“Iya—“
“Trus kenapa emangnya kalo ada Irly dan kamu ga mau ikut?..” potong Reiji saat Malia mengiyakan dugaannya. “Bukannya tadi kamu udah fine-fine aja soal masa lalu aku dan Irly?..” lanjut Reiji.
“Ya walaupun udah fine juga, ga mesti aku langsung sok akrab ngumpul bareng dia juga.”
Malia menyahut dengan sedikit ketus. Dan Reiji terkekeh hambar.
“Aneh kamu Yang.”
“Aneh gimana?”
“Ya aneh ... tadi kamu bilang sudah mau percaya sama aku. Bahwa kamu percaya kalau soal perasaan aku sama Irly itu udah tinggal masa lalu. Udah aku lupain malah. Terus sekarang kamu ga mau ikut aku kumpul sama anak-anak, gara-gara ada dia. Ya aneh kan?”
Reiji mendengus sinis.
“Kamu labil banget Yang.”
Malia menoleh tajam pada Reiji.
“Kamu bilang aku labil?---“
“Ya habisnya sikap kamu kayak gini—“
“Terlepas aku percaya atau engga sama ucapan kamu tentang perasaan kamu yang udah hilang ke sahabat cewe kamu itu, hak aku dong, mau atau engga ketemu dia.”
“.....”
“Lagian tadi aku bilang, ‘coba’ ya!.....”
Malia bangkit dari duduknya.
“Belum aku iyakan kalau aku sepenuhnya percaya sama pengakuan kamu!”
Lalu bicara dengan sedikit tajam pada Reiji.
“Ya terus aku harus gimana lagi biar kamu percaya Yaang....”
“Ya kasih aku waktu....”
“Ya justru itu, aku ajak kamu ikut kumpul sama sahabat-sahabat aku biar kamu bisa lihat sendiri bagaimana interaksi aku sama Irly. Biar kamu lebih kenal lagi sama sahabat-sahabat aku yang lain, termasuk sama Irly—“
“Kalo aku ga mau?”
Malia dengan cepat memotong ucapan Reiji.
“Kamu mau apa?” cecar Malia.
“Aku Cuma berusaha untuk menghilangkan kecurigaan kamu ke aku Yang. Itu aja.”
“Ya makanya beri aku waktu. Jangan malah maksa aku buat ketemuan sama si Irly itu.”
“Aku ga maksa, aku Cuma me-nya-ran-kan. Dan asal kamu tahu ya, pasangan-pasangan dari para sahabat aku yang lain fine-fine aja dengan keberadaan Irly sebagai sahabat dari pasangan mereka—“
“Tapi aku bukan mereka!” sergah Malia.
Reiji menghela nafasnya.
“Aku ga mau ikut kumpul sama teman-teman kamu. Titik!”
Malia melangkahkan kakinya menjauh dari Reiji. “Yang.. kita belum selesai bicara loh ini.” kata Reiji.
Namun Malia acuh.
“Yang..”
Panggil Reiji seraya menahan Malia.
“Ga usah pake marah-marah kenapa sih?”
“Aku ga marah-marah ya? –“
“Nah ini buktinya kamu ninggalin aku gitu aja di kamar sebelum kita ketemu titik terang?”
Malia nampak menghela nafasnya.
“Aku belum bisa untuk ketemu sama sahabat cewe kamu itu Rei. Sorry..”
“Aku pengen banget kamu ikut, Yang. Ayo, kenal sama temen-temen aku.. kalau memang kamu mau mencoba, cobalah kenal mereka. Termasuk Irly.”
“Ga sekarang lah Rei ..”
Malia melembut, tak lagi sinis dan ketus.
“Kamu kalo mau kumpul sama sahabat-sahabat kamu itu silahkan aja.”
“Ya pengennya kan aku dateng sama kamu, Yang. Ja—“
“Aku juga sebenarnya udah ada janji hari ini.”
**
Bersambung ....
Mohon maaf othor ucapkan bagi kalian para pembaca novel ini, untuk update yang kemungkinan sangat slow sampai akhir bulan, karena othor sedang mengejar target jumlah kata di karya on going othor satunya lagi.
Jadi harap maklum dan salam enjoy.
Terima kasih untuk kalian yang masih setia.
Selama menunggu update karya ini, monggo mampir ke karya-karya Emaknya Queen yang lain jika berkenan.
Noted: Jika kalian penikmat novel series, tiga novel othor dibawah ini bisa jadi pilihan.
Loph Loph, Emaknya Queen.
__ADS_1