
Selamat membaca..
***
“Ga mau minum dulu, Rei?...”
Malia bertanya pada Reiji sekaligus menawarkan minum pada pria yang merupakan calon suaminya dalam tiga
bulan kedepan itu, selepas mereka sudah sampai di Jakarta, dan Reiji sudah mengantarnya selamat sampai rumah tanpa kekurangan suatu apapun.
Bukan apa, Malia hanya merasa tidak tega melihat wajah Reiji yang nampak lelah, karena perjalanan pulang dari
Bandung menuju Jakarta cukup menyita waktu karena kemacetan yang lumayan padat di arah tersebut.
Belum lagi jalanan Jakarta yang cukup macet di malam minggu.
Jadinya Reiji dan Malia sampai agak larut dan orang tua Malia sudah beristirahat saat Reiji mengantarkan Malia
pulang ke rumah orang tuanya itu.
“Thanks Lia, tapi aku langsung balik aja deh. Salam aja sama Papa dan Mama kamu ya? ...”
“Iya nanti gue sampein salamnya”
Malia mengulas senyumannya kemudian.
“Ya udah aku balik kalo gitu...”
“Iya..”
“Yuk Lia ...”
“Thanks buat hari ini ya Rei”
Malia berucap tulus pada Reiji.
Reiji mengangguk serta mengulas senyuman yang menghiasi wajah tampannya yang nampak lelah itu.
“Sama-sama Lia”
Reiji menyahut lembut pada Malia.
“Yuk aku balik ya, Lia?”
“Iya, hati-hati.....”
Malia juga menyahut lembut pada Reiji dengan mengulas senyuman.
“Met istirahat ya? Mimpi indah.. Mimpiin aku kalo bisa sih”
Reiji berkelakar kecil, dan Malia mendengus geli.
Lalu Reiji benar-benar undur diri dari hadapan Malia.
******
MALIA
Aku sudah masuk ke kamarku, tak lama setelah Reiji berpamitan dan pergi dari rumahku. Rumah orang tuaku
maksudnya. Uang tabunganku belum cukup buat beli rumah sendiri. Hehe. Maklum karyawan kantoran biasa, yang gajinya ga sampe ke angka sepuluh juta.
Dan lagi, aku baru bekerja selama tiga tahun, dan itu pun baru diangkat jadi karyawan tetap kira-kira satu
setengah tahun yang lalu. Jadi gaji yang lumayan jumlahnya untukku baru aku terima dalam satu setengah tahun belakangan. Dan selama itu, aku belum dapat dikatakan benar-benar menabung.
Meski uang gajiku itu kebanyakan utuh aku miliki setiap bulannya, karena orang tuaku tak mau menerima gajiku
itu.
Yah, kalau dibandingkan dengan penghasilan mereka sebagai pengusaha furniture yang walau bukan pengusaha dalam kategori Crazy Rich, gajiku ya ga ada apa-apanya.
Paling-paling kadang kala aku belikan mama skin care yang bikin wajah mama tetep glowing meski usianya sudah paruh baya. Atau membelikan papa sesuatu, meski ga setiap bulan aku lakukan itu.
Sisanya, ya aku pakai untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Meski setiap bulan, papa juga tetep aja
__ADS_1
mengirimkan sejumlah uang yang merupakan jatah bulanan dari orang tua walaupun aku sudah pernah meminta papa untuk menghentikannya sejak aku diangkat menjadi karyawan tetap di Perusahaan tempatku bekerja sekarang.
Papa menolak dengan tegas permintaanku itu, dengan alasan jika itu merupakan hak aku sebagai anak mereka dan tambahan ucapan, “Semua yang Papa dan Mama punya ini buat kamu Lia.. Nanti kalau Papa sama Mama ga ada umur...”
Dan aku menghentikan ucapan papa saat beliau mengatakan kalimat tambahannya itu. Kalimat yang benar-benar enggan untuk aku dengar.
Hal yang tak sanggup untuk aku bayangkan jika aku harus kehilangan papa dan mama, meski aku tahu takdir
manusia itu ya pasti kembali ke Penciptanya.
Tapi aku selalu berharap, berdoa tentunya, jika kedua orang tuaku selalu diberikan kesehatan dan umur yang
panjang untuk terus berada disisiku, meski tiga bulan lagi aku akan menikah dan mungkin akan keluar dari rumah ini untuk ikut tinggal dimana Reiji akan mengajakku tinggal.
Eh iya ya, baru inget belum ada pembicaraan akan tinggal dimana nanti aku dan Reiji setelah kami menikah. Hm ...
Ah ini hari aja baru perdana kencan sama Reiji sejak perjodohan kami. Boro-boro bicara tentang tempat tinggal kami ke depannya, aku dan Reiji aja masih harus saling mencocokkan diri kali sampai tiba saat akad nanti.
**
MALIA
Aku sudah membersihkan diriku berikut sudah menggunakan kaos wong ndeso favoritku, yang udah ga karuan
bentuknya.
Udah melar dan memble ga karuan itu kaos favoritku. Tapi aku tidak mau membuangnya.
Karena kaos yang aku dan Avi sebut sebagai kaos wong ndeso dimana Avi juga memilikinya, adem banget kalo
dipake.
Daripada menggunakan daster atau piyama, yah aku lebih memilih mengenakan kaos wong ndeso ini yang aku padankan dengan celana pendek bahan yang nyaman.
Avi juga kurang lebih sama. Banyak emang kesamaan aku dan Avi. Saat ini perbedaannya Cuma satu, yakni aku
akan menikah dalam waktu yang bisa dikatakan sebentar lagi, sementara Avi engga. Punya pacar aja engga itu anak.
Ngomong-ngomong soal pacar,
“Ya udah bagi dua, Rei”
Aku teringat kejadian waktu di NB saat aku dan Reiji mampir ke Kafe tersebut.
Saat Reiji menawarkan carrot cake yang ada di Kafe tersebut dengan percaya dirinya Reiji bilang kalau itu enak
rasanya.
Cuma saat kue itu datang, dan aku menawarkan pada Reiji, ya seperti begitu tadi jawabannya seingatku.
Lalu saat aku menanyakan kalo ga suka kenapa bilang enak, ada sebuah nama yang terselip dalam ucapan Reiji.
Shirly.
Dan nama itu aku dengar lagi dari mulut temannya Reiji, yang bernama Abbas.
Abbas Ramdan, aktor dalam negeri yang sedang aku kagumi.
Jadi sekarang aku penasaran, siapa gerangan si Shirly itu. Mantan terindahnya Reiji kah?.
**
Tiiiiitt...
Alarm dari jam digital di atas nakas Malia berbunyi nyaring. Membuat tidur Malia menjadi terusik.
Tangan Malia meraba-raba nakasnya untuk menggapai jam digital yang alarmnya berbunyi nyaring tersebut.
“Ish, ini alaaaaarrrmm!” Malia menggerutu. ‘Gara-gara mikirin siapa itu Shirly, gue jadi lupa setting waktu deh ah!’
Malia bangkit dengan berat pada akhirnya, karena jam digital tak teraih saat ia meraba nakasnya tadi.
“Ish!”
Malia mendengus kesal sambil bersandar di dashboard ranjang.
__ADS_1
‘Harusnya gue bangun siang kan hari minggu begini?! ...’ Batin Malia yang menggerutu. ‘Kalo bangun buat subuh
sih iya ga masalah...’
Malia masih menggerutu dalam hatinya.
‘Tapi ini kan gue lagi dapet’
Malia mendengus lagi, lalu menghela pendek tapi terdengar helaan nafas Malia itu sedikit berat.
“Ga bakal bisa lanjut tidur ini gue” Gumam Malia. Pasalnya Malia memang akan sulit melanjutkan tidurnya kembali, jika sudah terbangun.
**
“Eh, baru aja Mama mau bangunin.....” Mamanya Malia sudah ada tepat di depan pintu kamar Malia, saat Malia membuka pintunya.
“Mama ingetnya ini hari senin ya?.....” Tukas Malia.
Mamanya Malia menggeleng pasti. “Engga tuh!” Ucapnya. “Mama tau ini hari minggu”
“Terus ngapain mau bangunin Lia pagi-pagi? .....”
“Lah emang Reiji ga bilang kalo hari ini dia sekeluarga mau kesini nanti jam sembilanan?.....” Cetus Mamanya Malia.
“Hah?!. Yang bener Ma?!”
“Ih ngapain boong coba?! .....”
“Emang mau ngapain deh? .....”
“Yah, beneran emang si Reiji ga ngomong sama kamu kemarin soal hari ini?.....”
“Engga” Sahut Malia dengan cepat.
“Yah, lupa kali si Reiji saking senengnya bisa nge-date sama kamu ya Lia?.....”
“Apaan sih Ma?”
Malia mencebik kecil.
“Terus itu gimana maksudnya si Reiji sekeluarga mau kesini pagi-pagi??”
“Mau ngelamar kamu secara resmi!”
“HAH?!”
**
“Iya, halo Lia?......” Terdengar sahutan dari sebrang telpon saat Malia dengan sedikit panik menghubungi Reiji di ponselnya.
“Rei!”
“Wa’alaikumsalam ...”
Malia berdecak kecil saat mendengar ucapan Reiji yang seolah sedang meledeknya karena langsung berseru
memanggil nama Reiji, tanpa memberi salam terlebih dahulu.
“Iya, Assalamu’alaikum!” Cetus Malia.
“Nah gitu dong” Celetuk Reiji.
“Nah gitu dong, nah gitu dong!”
Malia berbicara sedikit ketus.
“Rei!”
“Hm?”
“Kok lo ga bilang mau kesini sekeluarga?! Jam sembilan pagi lagi!”
“Hehehe, lupa ....”
“Ish Reijiiii!!”
__ADS_1
**
Bersambung .....