
Selamat membaca....
***
REIJI
“Lia, Lia .. OCD banget sih ..” Tanggapanku saat Malia kekeh ingin membereskan kamar yang akan kami jadikan ruang serbaguna di apartemen kami. Aku mendengus geli kemudian, mengingat jika istriku itu adalah seorang yang ga bisa liat sesuatu yang berantakan.
“Bodo ah .. OCD, OCD deh. Ga betah banget perasaan liat itu kamar begitu ..”
Begitu Malia membalas ledekan-ku. Padahal sebenarnya Malia juga bukan seorang penderita gangguan mental yang suka mengatur benda-benda dalam pola tertentu, macam para penderita OCD itu.
Kelakarku saja, karena Malia akan mengomel jika ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, dan jika dia menyuruhku untuk merapihkannya, namun aku menunda, pasti dia akan ngedumel dengan dia sendiri yang menggerakkan tangannya untuk merapihkan sesuatu yang Malia anggap berantakan itu.
Aku juga penyuka kerapihan dan kebersihan, selain kedisiplinan. Tapi melihat Malia yang ngedumel dengan bibirnya yang suka sampe maju-maju itu, menjadi hiburan tersendiri buatku. Lia, Lia .. Perempuan yang telah mengalihkan duniaku sampai sebegitunya. Padahal aku benci sekali perempuan cerewet.
Terkecuali Mamaku tercinta ya.
Perempuan cerewet dalam kategori yang tidak aku sukai, adalah mereka yang pernah menjadi pacarku.
Aku tidak suka diatur, apalagi dikuasai sama yang namanya pasangan.
Tapi dengan Malia berbeda. Aku seolah mendapat karma dari sikap cuek ku pada pacar-pacarku dulu.
Malia memang tidak cuek-cuek amat padaku, seperti aku yang dulu cuek pada mantan-mantan pacarku.
Tapi ya itu, untuk bagaimana aku ingin Malia memperlakukanku, aku harus mengatakan, kadang menjelaskan dengan pandangan-pandanganku dulu padanya.
Padahal dulu, aku sebegitu sabodo amat-nya pada mantan-mantan pacarku yang selalu mengalah untuk berusaha mengerti aku. Dan saat mereka mulai menuntut, aku akan menghindari mereka.
Dan bersama Malia, duniaku terbalik.
Aku yang selalu berusaha mengerti akan dirinya.
Aku yang sekuat tenaga berusaha untuk menjadi suami yang pengertian untuk Malia.
Semata karena aku tidak ingin ada keluhan dari mulutnya tentangku.
Benar-benar Malia telah membalikkan duniaku.
Kembali soal Malia yang akan beberes kamar yang akan dijadikan ruangan serbaguna di apartemen kami.
“Ga cape kamu emangnya, Yang?” tanyaku.
“Kalo cape aku ga mungkin ngotot mau nge rapihin itu kamar sekarang, Rei ..”
Iya juga sih.
Kalo kata Malia lagi, dia belom ngantuk juga.
Jadi aku pikir mungkin saja dia gabut, jadi Malia nyari-nyari sesuatu yang bisa dia kerjain.
Cuma ya itu, aku takut malah Malia akan kelelahan kalau merapihkan itu ruangan sendiri, karena aku sadar kalau barang-barang printilan-ku lebih banyak dari punya Malia.
Tapi kemudian suatu pemikiran terlintas di benakku. “Kamu bersikeras banget rapiin barang aku, ada yang mau kamu cari tahu?...”
Hal konyol yang terlintas di pikiranku, dan entah kenapa juga sampai aku cetuskan juga dari mulutku dan menjadi pertanyaan untuk Malia.
Well, konyol memang pertanyaan itu, tapi ada sedikit rasa penasaran juga dihati ini soal itu. Soal apa Malia sedang mencari tahu tentang masa laluku?.
Soal mantan mungkin?.
Masa sih Malia penasaran dengan masa laluku?.
__ADS_1
Dengan para mantan yang ga penting juga itu.
Secara kan Malia belum mencintaiku. Jadi rasa kepo ingin tahu tentang mantan-mantanku yang mungkin berujung cemburunya Malia, kan ga akan mungkin juga.
“Maksud?..”
Nah kan Malia akhirnya bilang begitu.
Pasti dia ga senang aku tanyain hal itu padanya.
Atau memang karena dia bener-bener ga ngerasa, jadi dia tanya maksudku bertanya seperti itu padanya.
Terus aku jawab kalau aku ga ada maksud apa-apa bertanya seperti itu pada Malia. Hanya sekedar tanya. “Kali kamu penasaran aku nyimpen foto mantan?..” selorohku.
Siapa tahu Malia penasaran apa aku membawa serta foto mantan diantara barang-barang printilan-ku itu.
Yang mana ga akan mungkin akan Malia temukan juga, karena memang tidak ada foto mantan yang sampai aku cetak.
Di ponselku juga tidak ada.
Foto-foto berdua mantan yang pernah di tag ke akun sosmed-ku pun udah aku lenyapkan, sejak aku putus dengan mereka.
“Ih, sorry ya, aku ga sekepo itu wahai Bapak Reiji Shakeel....”
Dan kalimat Malia itu membuatku mendengus geli.
Tapi kemudian satu kalimat panjang Malia setelahnya, membuatku cukup terperangah.
Kata Malia, aku terkesan menahan-nahan agar dia tidak sampai membereskan barang-barangku di kamar sebelah itu, karena mungkin ada yang aku sembunyikan darinya.
Hh, ada-ada Malia mikirnya.
Memang apa yang aku sembunyikan dari Malia?.
Malia ga pernah tanya tentang mantan, aku juga malas buat membahas.
Tapi andai-pun Malia tanya, pasti akan aku jawab dengan sejujurnya. Soal apapun itu.
Yang pada akhirnya aku bilang sama Malia, kalau ga ada apapun yang aku sembunyikan atau aku coba sembunyikan dari dia.
“Yakin?” tanya Malia setelahnya.
“Yakin.”
Dengan mantap aku menjawab.
Kemudian Malia berseloroh, dan aku tersenyum kecil tanpa Malia lihat.
“Hal-hal yang menyangkut kamu akan aku tanggapi dengan serius, Yang....”
Lalu aku menanggapi selorohan Malia dengan sedikit serius memang. Semata-mata agar Malia yakin, karena memang itu yang sesungguhnya.
Lalu sahutan Malia adalah dia kayaknya batal mau membereskan itu kamar, karena dia bilang nunggu aku balik aja.
Dan aku mengatakan bebas aja kalau dia memang mau membereskannya.
Aku memang ga masalah Malia menemukan sesuatu yang janggal. Karena rasanya memang tidak ada yang janggal atau perlu dicurigai dariku.
Jangan-jangan dia abis nonton sinetron yang berbau perselingkuhan suami, makanya mungkin Malia hendak mencari-cari sesuatu yang janggal dariku?.
Entahlah, yang jelas aku menahan hanya tidak mau kalau Malia sampai kelelahan, ditambah aku sedang tidak ada bersamanya. Ini aja aku merasa was-was, karena Malia kadang selebor orangnya.
Fokus sama kerapihan, tapi kadang ceroboh soal keamanan. Yang lupa mengunci mobil lah, melenggang gitu aja pas keluar dari mobil. Yang baru-baru ini, tv ga dia matiin pas berangkat kerja. Untung aja aku pulang dulu waktu tugas dadakan gantiin pilot akhirnya aku tolak gegara aku cemburu sama teman cowonya Malia yang pernah aku lihat merangkul bahu Malia.
__ADS_1
Coba kalo aku ga balik dulu ke apartemen buat mandi dan ganti baju?. Ga meledak itu tivi saking kepanasan akibat nyala seharian?. Nah aku jadi was-was disini.
Termasuk khawatir kalo Malia kelelahan, terus tidur tanpa mengecek hal-hal sepele, tapi bisa berefek bahaya besar. Atau bisa aja dia sakit saking kelelahan beberes sendirian.
Itu aja alasanku menahan Malia agar ga beberes saat ini juga.
Tapi biar Malia ga mikir gimana-gimana, ya aku persilahkan aja kalau dia mau liat semua barang-barang printilan-ku yang masih ada di kontainer plastik itu.
“Enggalah. Tunggu kamu aja. Biar ada yang janggal bisa langsung aku tanyain ke kamu....”
Dan aku terkekeh kecil mendengar ucapan Malia itu.
Bagiku, masa lalu ya masa lalu. Sudah terjadi, tidak bisa dirubah.
Tidak perlu dijadikan bahasan kalau sekiranya memang ga penting untuk dibahas.
Lebih baik fokus aja pada masa sekarang dan masa depan.
Dan aku katakan itu pada Malia.
“Rasanya kamu ga mungkin setertarik itu sama masa lalu aku, mengingat.... kamu kan ga cinta sama aku....”
Entah apa yang akan Malia pikirkan setelah aku bicara begitu.
Walaupun aku juga ga sengaja mengungkit tentang perasaan Malia untuk memojokkannya dan merasa bersalah padaku.
Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan aja padanya. Itu aja sih.
✳✳✳
Tapi bicara soal masa lalu, ya aku sedikit penasaran juga gegara menyebut kata mantan.
Sekarang gantian aku yang kepo, soal masa lalu Malia. “Masa lalu kamu. Apa kamu punya ‘seseorang’ dimasa lalu?”
Dan pertanyaan itu keluar dari mulutku. Aku jadi ingin tahu, apa pernah ada laki-laki yang mengisi hati Malia yang belum bisa aku masuki sepenuhnya itu?.
Malia mengatakan dengan lugas, yang memang benar aku pernah bertanya pada Avi apa Malia pernah punya pacar, dan Avi bilang tidak.
Aku juga tidak pernah melihat Malia posting keuwuan bersama seorang cowok di sosmednya yang aku sudah lihat jejaknya dari foto pertama yang Malia unggah.
Well, Malia juga bukan orang yang terlalu sering posting sesuatu di sosmed macam aku. Kami sama soal itu.
Dan jawaban Malia sama dengan apa yang Avi katakan padaku.
“Aku ga pernah punya pacar,” Malia menegaskan. Dan aku percaya.
Memang sudah sepatutnya seperti itu kan?. Kalau antara suami dan istri sudah sepatutnya menumbuhkan rasa saling percaya, terlepas ada atau tidak, belumnya cinta, dalam kehidupan rumah tangga.
Hanya saja, aku sempat sesaat menangkap, ada sesuatu yang Malia simpan rapat-rapat kala aku bertanya tentang seseorang dimasa lalunya.
Aku mendengar Malia menghela nafas yang sangat pelan, yang mungkin ia pikir aku tidak menyadarinya. Tapi entah apa, aku tidak ingin bertanya lebih jauh lagi.
Aku rasanya tidak perlu mencari tahu soal masa lalu Malia, karena dia, toh kini sudah menjadi milikku.
Walau aku penasaran juga, apa Malia pernah mencintai seseorang meski tidak pernah pacaran.
Seperti....
Halnya aku?.
✳✳✳
Bersambung...
__ADS_1