
Selamat membaca...
***
REIJI
“Aku itu bukannya ragu atau ga mau kasih nomor telpon dia ke kamu, Rei ... Aku Cuma berpikir, ga guna juga kamu ajak dia ketemu --- selain aku ga mau kamu buang waktu dengan meladeni dia...“
Lia berbicara selepas aku meminta maaf padanya untuk ucapanku yang terdengar sarkas dan sedikit ketus, dimana ucapanku itu sebenarnya memang tidak aku tujukan untuk Lia. Hal itu adalah bentuk kemarahanku pada laki – laki kurang ajar yang berani – beraninya mencium bibir Lia dengan paksa.
“Yang penting aku puas dulu hajar dia ...”
Jadi hal itu yang kemudian terlontar dari mulutku, setelah ucapan Lia yang terdengar seperti ingin membujukku agar tidak sampai ribut dengan itu si bibit pebinor ga ada akhlak.
Dan aku mengerti sekali alasan Lia, tahu juga memang akan hanya membuang waktuku saja untuk menghadapi satu laki – laki tidak tahu malu itu. Namun hatiku sudah kelewat geram karena kelakuan satu laki – laki tidak tahu malu dan kurang ajar itu.
--
“Buang waktu atau engga, aku mau ketemu dia.” Aku menegaskan keinginanku pada Lia, dengan nada bicara yang normal. “Jadi kasih aku nomor laki – laki brengsek itu.”
Dan aku bicara lagi pada Lia, memintanya untuk memberikan apa yang aku inginkan saat ini.
Dimana Lia memandangiku sesaat, lalu ia mengangguk lemah. Mungkin pasrah, karena ia menyadari jika aku begitu geram pada laki – laki brengsek bernama Irsyad itu.
“Ini ...”
**
Malia menyodorkan ponsel Reiji pada si empunya, setelah ia mengetikkan beberapa angka di ruang yang tersedia dalam ponsel tersebut setelah Reiji memberikan ponselnya itu pada sang istri.
Ragu Malia sebenarnya.
Namun daripada Reiji berpikir yang bukan – bukan lagi lalu suaminya itu bertambah gusar, jadi mau tidak mau Malia memberikan juga nomor Irsyad yang sudah Malia ketikkan di ponsel Reiji tersebut.
Reiji tersenyum saat Malia memberikan kembali ponselnya itu kepadanya, setelah melirik beberapa angka yang sudah diketikkan Malia disana saat sang istri mengembalikan benda pipih milik Reiji itu.
“Thanks, Yang,” ucap Reiji dengan seutas senyuman yang ia tampakkan pada Malia.
“Daripada kamu ngambek,” sahut Malia dan Reiji pun terkekeh kecil.
“Ga lah, aku ga bakal ngambek ....”
“Ga ngambek, tapi pasti jadi pendiem ....”
Malia menimpali ucapan Reiji, dimana Reiji terkekeh lagi.
“Kamu kalo mau istirahat duluan, istirahatlah sana –“
“Mau bareng kamu aja,” tukas Malia dan Reiji tersenyum lalu mengangguk samar.
“Ya udah bentar ya?”
Malia menanggapi dengan anggukan perkataan Reiji barusan.
“Kamu –“
“Hold –“
‘Eh, seriusan itu Rei telfon Irsyad? –‘
“Ck!”
Malia kembali memperhatikan Reiji ketika suaminya itu terdengar berdecak kesal, setelah beberapa saat Reiji menempelkan ponsel miliknya ke telinganya.
Lalu menjauhkan ponsel miliknya itu yang kemudian Reiji lihat layarnya, sebelum ia menoleh pada Malia.
“Kenapa? –“
“Ini nomornya bener? ....”
Reiji menukas ucapan Malia dengan bertanya pada istrinya itu.
__ADS_1
Malia lantas mengangguk dengan spontan.
“Ga nyambung-nyambung.”
“Mungkin lagi ga aktif nomornya, Rei ....”
Malia langsung berucap ketika Reiji berkata dengan nada sedikit kesal.
“Aku kasih nomor yang bener kok, Rei .... Sumpah Demi –“
“Sorry, sorry. Bukan maksud aku curigain kamu ngasih nomor salah, Yang ....”
Reiji segera menukas ucapan Malia yang terdengar lesu di telinganya ketika Reiji menyadari jika ucapannya seolah mencurigai istrinya itu memberikan nomor yang asal sehubungan permintaan Reiji yang meminta nomor kontak Irsyad.
“Maaf ya? –“
“Ga apa, Rei ....”
“Dia tau nomor telepon aku ga sih kira-kira?”
Reiji lalu bertanya dengan ekspresi wajah dan nada suara yang normal pada Malia.
“Yang jelas aku ga pernah kasih dia nomor kamu, bahkan dia juga ga pernah pegang hp aku ....”
***
“Kamu telfon via telfon biasa atau aplikasi?” tanya Malia yang kini sudah duduk tepat di depan Reiji dalam ruang pada sofa yang sama, dimana Reiji membawa Malia untuk duduk rapat dengannya.
Pada space kosong yang sengaja dibuat Reiji diantara kedua pahanya agar Malia duduk dalam apitannya.
“Biasa ....”
Reiji menjawab pertanyaan Malia dengan kedua tangannya yang kini berada di depan dada istrinya itu dengan ponsel milik Reiji yang masih laki – laki itu pegang di kedua tangannya yang melingkari tubuh Malia.
“Hmm ....”
Malia berdehem kecil.
“Oke.”
Reiji menukas cepat mengiyakan cetusan pendapat Malia yang berupa usulan.
“Tapi aku harus ngesave itu nomor b*jingan satu itu dong? ...” ucap Reiji kemudian, setelah ia menggerakkan jemarinya untuk membuka satu laman aplikasi mobilitas.
***
REIJI
“Ya kalau kamu keberatan menyimpan nama dia di hp kamu, pakai aja ponsel aku, Rei? ... Tapi sama juga harus save, karena nomor kontak dia juga udah aku hapus dari daftar kontak di hp aku ...” ucap Malia setelah aku berkata enggan perihal menyimpan nomor kontak ponsel si bibit pebinor kurang ajar itu.
“Ga usah ...” sergahku.
Lia lalu tersenyum seraya sedikit memposisikan dirinya miring hingga ia dapat melihat wajahku yang mungkin terlihat jelas jika aku sedang merasa sebal.
“Gemesin banget kalo lagi cemberut gini? ...”
Aku mendengus geli saat Lia menggoda sambil mencubit satu sisi pipiku.
“Kalo udah ngemesin mau diapain?”
“Maunya? –“
“Abis ini ya?” tukasku sambil tersenyum penuh arti.
Lia pun terkekeh.
--
Pada akhirnya, aku --- meskipun malas bin ga ikhlas, menyimpan juga nomor si bibit pebinor kurang ajar itu di daftar kontak dalam ponselku demi aku yang penasaran saking kesal lebih ke geram pada laki – laki yang sudah kurang ajar mencium paksa bibir istriku itu, dan menyimpan nomornya agar aku dapat juga menghubunginya melalui satu aplikasi mobilitas sejuta umat.
“Bener – benar cari perkara ya nih orang?! –“
__ADS_1
“Kenapa, Rei? ...” tukas Lia yang merespon ketika aku menggerutu tajam dengan mataku yang memandang kesal ke layar ponselku itu.
“Nih liat ...”
Aku menunjukkan layar ponselku pada Lia.
“Emang dia mau cari perkara kan sama aku, Yang?”
Aku berucap kesal.
Tentu saja.
Bagaimana tidak kesal, karena setelah aku save nomor itu si bibit pebinor kurang ajar --- foto profilnya pada aplikasi adalah salah satu foto yang kopiannya di berikan oleh lelaki sialan itu padaku bersama beberapa foto yang sebelumnya membuatku mencurigai Lia.
Foto dua tangan yang bertaut.
Tangan Lia dan si bibit pebinor itu yang bertaut, meski menurut pengakuan Lia itupun tidak lama tertautnya.
Dan Lia juga tidak tahu jika si bibit pebinor itu mengabadikan momen tangan mereka yang bertautan itu. Tapi tetap saja, jika melihat dan mengingat Lia pernah bergandengan tangan dengan laki – laki lain disaat dirinya telah berstatus sebagai istriku --- ada geram yang muncul secara spontan di hatiku ini.
Lebih geram kepada si bibit pebinor kurang ajar itu memang. Dan dengannya yang memasang foto ini sebagai foto profilnya pada aplikasi, membuatku kian merasa emosi pada lelaki tak tahu malu itu.
Emang dasar sialan nih orang!
Benar – benar membuatku ingin segera menemui dan berhadapan dengannya sebagai lelaki.
Persetan jika dibilang norak. Yang jelas aku ingin memberinya pelajaran karena telah berani – berani mencium paksa istriku.
Namun meski geram, setidaknya dengan aku yang menyimpan beberapa nomor yang tadi diketikkan oleh Lia di ponselku membuatku menyadari satu hal.
Bahwasanya memang benar, angka – angka yang Lia ketikkan itu adalah nomor si bibit pebinor kurang ajar itu jika melihat dari foto profilnya yang aku kenali gambarnya.
“Ck!” decakku lagi – lagi.
Karena setelah beberapa kali mencoba menghubungi si bibit pebinor kurang ajar itu bolak – balik via aplikasi maupun telepon biasa, tetap saja tidak tersambung.
Walau sedari awal aku menghubungi nomor tersebut via jalur telepon biasa sudah ada perempuan yang menjawab, “Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif ...”, tetap saja aku merasa penasaran.
“Kalau memang kamu masih penasaran, ya udah pake hp aku aja Rei ...” Lia lalu berucap selepas aku berdecak untuk yang kesekian kalinya, setelah juga aku coba kirimkan pesan chat ke room chat pribadi dengan si bibit pebinor kurang ajar itu dan hasilnya tetap menandakan jika nomor tersebut memang sedang tidak aktif nampaknya.
Karena tanda pada pesan chatku pada nomor kontak lelaki tak tahu malu itu centang satu.
Jadi aku menggeleng cepat setelah Lia mengusulkan untuk coba menghubungi si bibit pebinor kurang ajar itu dengan ponselnya.
*****
“Ga usah ...” sergahku yang menanggapi usulan Lia soal menghubungi lelaki tak tahu malu dari masa lalunya itu dengan menggunakan ponsel Lia.
“Ya udah terserah kamu aja, Rei ...”
Lia berucap sabar kemudian. Yang kemudian aku rengkuh erat tubuhnya setelah aku meletakkan ponselku di atas meja.
Rasanya sudah cukup si bibit pebinor itu mengganggu waktuku dan Lia sedari tadi. Jadi sudah tak lagi aku coba menghubungi lelaki tak tahu malu itu. Toh aku sudah mengirimkan pesan chat ke ponselnya.
Lihat besok. Jika kulihat tanda di room chat pribadiku dan si bibit pebinor kurang ajar itu sudah berubah, akan langsung aku hubungi dia dan mengajaknya bertemu lalu meminta pertanggung jawabannya karena sudah lancang mencium bibir Lia – ku.
Untuk sekarang, lebih baik aku melakukan sesuatu yang dapat menuai banyak faedah.
“Yang –“
“Hmm? –“
“Dari tadi aku tegang.”
Aku berbisik di telinga Lia.
“Regangin?”
*******
Bersambung ......
__ADS_1