WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 54


__ADS_3

Selamat membaca..


***


MALIA


Kalau dulu aku banyaknya sebal pada Reiji, kecuali saat dia mentraktir atau mengajak jalan-jalan diriku dan Avi.


Atau pada hari wisuda-ku dia bela-belain langsung meluncur ke tempat acara wisuda-ku lalu langsung memberiku sebuket bunga mawar yang indah banget.


Selain itu, kalau aku dan Reiji berinteraksi, cowok itu banyaknya nyebelin, ngeselin.


Tapi sejak kami dijodohkan, lalu Reiji mengajukan agar aku membuka diri saat dia ingin melakukan pendekatan, aku merasa Reiji bak seperti sosok lain dari yang selama ini aku kenal.


Si freezer frozen food itu jadi lebih banyak bicara, dan semakin aku dan dia kian dekat, ternyata Reiji punya sisi receh juga.


Banyak juga stok gombalannya itu dia ternyata.


Well, selain itu, ternyata Reiji punya sisi romantis juga.


Dan aku berada diposisi antara canggung dan yah, senang juga sih diperlakukan romantis serta hangat oleh Reiji.


Hmm, mungkin karena sudah merasakan kehangatan yang Reiji berikan serta keromantisan Reiji, jadinya rasa sayangku padanya mulai ada, mulai tumbuh, walau belum berwujud menjadi cinta. Dan rasa nyaman sebagai pasangan Reiji, sudah mulai aku rasakan dan aku nikmati.


Aku, yang sempat tidak percaya jika Reiji bilang telah mencintaiku, rasanya kini aku percaya kalau melihat dan merasakan perlakuannya padaku.


Terlebih, Reiji sampai dengan detik ini tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku. Yang selalu dia bilang, ‘terserah kamu’, ‘enaknya aja kamu gimana’, dan lain sebagainya.


Bahkan saat malam pengantin kami, setelah kami selesai melakukan ritual suami istri yang dahsyat sekali baik rasa dan efek setelahnya, Reiji bertanya padaku, “Apa kamu udah sampe, Yang?”.


Simple sih, tapi bagiku yang notabene seorang perempuan, diberikan pertanyaan seperti itu oleh pasangan setelah bercinta, rasanya dihargai sebagai seorang istri, yang biasanya mendapat perlakuan egois di ranjang.


Egois seperti apa?


Ya kalau dari artikel yang pernah aku baca soal masalah suami istri yang mana tertuju pada area ranjang, atau dari cerita beberapa teman kantor perempuan yang sudah menikah, atau yang belum tapi sudah begitu bebasnya berhubungan badan dengan pasangan mereka yang belum menjadi pasangan halalnya, terkadang para lelaki egois saat mereka telah ‘sampai’ tanpa menanyakan bagaimana pasangan mereka sendiri. Apakah mereka sama 'puas' nya atau tidak.


Tapi tidak dengan Reiji, dikali pertama, sampai kemudian dia minta nambah, lalu mengulang lagi saat di kamar mandi, Reiji selalu menanyakan hal itu padaku. “Kamu udah sampe, Yang?”


Yang aku jawab dengan kata ‘iya’ atau hanya dengan anggukan kepala.


Ya memang itu yang sebenarnya.


Dari ketiga kali, aku dan Reiji melakukan penyatuan halal, kesemuanya membuatku ‘sampai’ pada titik yang membuatku merasakan gulungan ombak kenikmatan yang tiada tara.


Membuatku sempat ragu, tentang kenyataan yang Reiji katakan kalau penyatuan bersama seorang wanita itu, baru ia lakukan bersamaku.


Karena menurut penilaianku, Reiji itu macam sudah pro soal urusan bercinta, mengingat betapa pandainya ia membuatku bergerak tak karuan saat ia memetakan setiap inci tubuhku baik dengan tangan atau bibirnya.


Ah entahlah! Aku tidak mau berpikir negatif soal Reiji, karena aku ingin pernikahanku dan Reiji berjalan langgeng ke depannya.


Dan itu, walaupun aku belum mencintainya, tapi tetap aku ingin menumbuhkan rasa saling percaya diantara kami.


Jadi saat Reiji bilang kalau aku wanita pertama yang disentuhnya dengan total, aku memilih percaya.


Toh dari sejak perjodohanku dan Reiji hingga sampai hari pernikahan kami, tidak ada drama datangnya seorang wanita yang mengaku telah ditiduri Reiji.


Bahkan dua mantan Reiji yang datang itupun bersikap normal-normal saja, meskipun aku sempat menangkap tatapan iri juga agak singit mereka padaku yang berdiri bersanding dengan Reiji, ditambah Reiji memperlakukanku dengan sangat mesra dari sejak acara akad nikah sampai ke resepsi.


Yang jelas, sebagai seorang istri aku merasa dihargai setelah ‘melayani’ suaminya dengan pertanyaan Reiji yang menanyakan soal ‘kepuasanku’.


Ditambah setiap kami selesai memadu kasih, Reiji selalu memberikan kecupan lembut di keningku, lalu mengucapkan terima kasih padaku, seolah dengan aku yang mau ‘melayaninya’ itu adalah hal yang begitu berharga bagi Reiji. Dan itu, cukup menghangatkan hatiku.


Aku belum mencintai Reiji, tapi perlakuannya yang seperti itu tetap saja bisa membuat hatiku menghangat.


Dan perlakuan mesra Reiji pun terus bergulir dengan cukup sering sampai saat kami sudah berada di destinasi bulan madu kami.


Destinasi bulan madu yang Wah menurutku, karena aku sempat browsing tentang sebuah pulau yang Reiji katakan serta ajukan padaku untuk destinasi bulan madu kami.


Yang aku pikir hanya sekedar Wah dalam batas yang tidak gimana-gimana, tapi ternyata oh ternyata, setelah aku sempat browsing kala perjalanan menuju bandara, tempat destinasi yang telah dipersiapkan Reiji untuk kami berbulan madu, bukan pulau sembarangan.


Bukan pulau pribadi milik Reiji memang, tapi melihat betapa privasi dan sepinya pulau yang menjadi destinasi bulan maduku dan Reiji itu terasa bak berada di pulau pribadi.

__ADS_1


Merasakan kursi first class dalam penerbangan menuju provinsi tempat destinasi bulan maduku dan Reiji berada saja sudah cukup Wah bagiku, dan fakta yang baru aku tahu bahwa tidak sembarangan untuk bisa berlibur dalam Resort sebuah pulau yang ternyata adalah salah satu dari sekian tempat di dunia ini adalah destinasi eksklusif yang banyak dikunjungi artis-artis dunia, ,membuatku sungguh takjub se-takjub-takjubnya.


Dan fakta lain yang aku tahu, kalau harga sewa kamar per malamnya itu mungkin bisa membeli satu sepeda motor matic.


Selain membuatku merinding membayangkan berapa nominal yang Reiji gelontorkan untuk lima hari bulan madu kami di pulau yang bernama Moyo ini, aku juga penasaran sebanyak apa uang Reiji, pria yang berprofesi sebagai Pilot dan telah menjadi suamiku ini.


Harap maklum, namanya perempuan. Cinta, belum cinta, kalau sudah merasa jadi istri, pasti jiwa kepo tentang uang suami muncul dengan sendirinya.


Bukan begitu?.


Hehehehehe.


Well, atas dasar rasa penasaran itu, aku sontak saja melontarkan pertanyaan tentang berapa besar budget yang dihabiskan Reiji untuk bulan madu kami, pada suamiku itu selepas kami ...


Ehem,


Bercinta di sore hari, dihari pertama kedatanganku dan Reiji di sebuah Resort dalam pulau yang berada di Sumbawa ini.


Dimana seharusnya aku dan Reiji rencananya akan berjalan-jalan di pantai sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar Resort.


Tapi kenyataannya batal, akibat hal yang baru aku sadari adalah akal-akalan Reiji saja, saat ia kembali membawaku masuk ke penginapan privasi kami di sebuah hutan tropis nan asri, dengan alibi ada petugas Resort yang datang saat aku tengah berganti baju, yang bilang akan turun hujan jadi sebaiknya stay di dalam penginapan aja.


Dan tipis diantara terlalu polos atau oon, aku iya-iya aja percaya dengan ucapan Reiji yang membawaku masuk kembali ke dalam penginapan. Padahal aku sempat menyadari kalau langit di atas kami cerah-cerah aja perasaan, dan sepenglihatanku.


Taunya, saat sudah sampai di dalam penginapan yang pintunya langsung ditutup dan dikunci oleh Reiji, padahal rasanya tidak akan ada orang yang selonong boy ke dalam penginapan eksklusif kami yang desainnya mirip tenda glamping mewah, tapi Reiji tetap menguncinya.


Dan setelahnya, Reiji mengunci ku dengan gelagat yang mengatakan lewat sorot matanya, jika ia sedang menginginkan diriku.


Dan aku, bak seorang istri yang pengertian, aku menunjukkan pada Reiji gelagat menerima undangannya untuk memadu kasih dan gelora saat tatapan berkabut Reiji tertuju kepadaku.


Maka terjadilah lagi hal yang membuat mataku terpejam menahan nikmat, sampai kadang dadaku membusung karenanya, hingga peluh membasahi tubuhku dan Reiji dengan irama jantung yang menggila hingga momen pelepasan itu datang dengan dahsyatnya.


****


“Rei ....”


Malia yang sedang bersandar di dada bidang Reiji setelah melakukan sesi panas pertama mereka di bulan madu kedua pengantin baru itu, memanggil Reiji sembari mendongakkan sedikit kepalanya.


“Kamu habis berapa ini buat bulan madu kita? ....”


“Kenapa memangnya?”


“Ya pengen tau aja .... kursi pesawat aja udah yang first class, ditambah lagi Resort ini yang aku tahu sangat jauh dari kata murah, Rei ....”


“Kalau pesawat kan aku sudah bilang, itu hadiah dai maskapai tempat aku bernaung, jadi aku ga ngeluarin sepeser pun buat tiket pesawat, Yang.” kata Reiji.


“Oh iya ya ....”


Malia manggut-manggut dalam dekapan Reiji, yang jemarinya sedang bermain di pundak terbuka Malia.


“Ya tapi biaya menginap di pulau ini kan mahal banget, Rei? ....” ucap Malia.


“Kata siapa?” Reiji pun langsung menyahut seraya bertanya.


“Ya dari informasi yang aku baca ....”


Malia pun menjawab berdasarkan apa yang memang ia ketahui.


Lalu, Reiji hanya ber oh ria.


“Ih bukannya jawab, malah oh doang! ..”


Malia melayangkan protesnya, tapi Reiji hanya tersenyum geli.


“Jadi ini kamu habis berapa ini buat bulan madu kita? ....”


Malia kembali menanyakan hal yang membuatnya penasaran.


“Ada, lah ..” sahut Reiji.


“Ya adanya berapa?”

__ADS_1


“Emang kenapa sih, kamu pengen tau banget soal itu?”


“Ya pengen tau aja.”


“Trus kalo kamu udah tau?”


“Iihh, tinggal jawab aja sih berapa-berapanya susah banget!...”


Malia mencebik dan Reiji tersenyum kecil.


“Iya aku kan Cuma mau tau, kenapa kamu penasaran sama budget honeymoon kita ini?”


“Ya waktu kamu ngusulin ini pulau kan aku ga terlalu memperhatikan banget kenyataan kalo ternyata ini destinasi eksklusif, makanya aku iyain aja, karena aku belum pernah kesini...”


“......”


“Tapi kenyataan kalo ternyata biaya menginap disini, belum lagi kamu ambil paket honeymoon, itu dari yang aku udah tau ternyata mahal banget, aku jadi ga enak sendiri...”


“Ga enaknya? ....” tanya Reiji.


“Ya kamu harus ngeluarin uang yang banyak banget buat ini honeymoon kita.” jawab Malia.


“Memang kenapa?” tanya Reiji lagi. “Worthed ( Setimpal ) kok.”


“Emang sih worthed kalo dari biaya yang dikeluarin sama apa yang didapet disini, Cuma kan jadi nge bebanin kamu banget Rei...”


“Aku ga merasa terbebani, Lia sayaang..” tukas Reiji, lalu menatap Malia. “Kalau untuk membahagiakan orang yang kita cintai, ga ada itu yang namanya beban.”


Mengatakan apa yang baru saja dikatakan dengan pancaran ketulusan yang Malia tangkap dari sorot mata Reiji saat mengatakannya.


Hal itu membuat hati Malia terasa menghangat.


“Kalau aku mampu, aku mau sewa ini pulau hanya untuk kita, Yang. Tapi berhubung aku bukan seorang Crazy Rich, ya hanya segini aja kemampuan aku,” sambung Reiji.


“Tapi tetep aja kamu ngeluarin banyak uang,” tukas Malia.


“Uang bisa dicari, Yang. Kebahagiaan itu yang susah dicari. Berapapun yang aku keluarkan untuk biaya honeymoon kita ga usah kamu pikirkan, karena aku merasa itu setimpal dengan kebahagiaan yang aku dapet bersama kamu ..”


Lagi-lagi ucapan Reiji membuat Malia terenyuh.


“Makasih ya, Rei?”


Malia berkata tulus dengan tersenyum manis pada Reiji yang mengangguk dengan tersenyum lembut pada Malia.


“Lagian aku punya tabungan juga, yang baiknya aku pergunakan untuk membahagiakan dan memanjakan istri aku, kan?..”


“Beruntung dong ya aku berarti jadi istri kamu?...” Malia berkelakar.


“Alhamdulillah kalo kamu merasa begitu..”


“Ya, Bapak Pilot banyak duitnya..” canda Malia.


Reiji pun terkekeh kecil, lalu mengeratkan pelukannya pada Malia.


“Love you, Lia. Makasih udah ada dalam hidup aku”


Lagi-lagi ucapan yang keluar dari mulut Reiji membuat hati Malia menghangat.


Ucapan yang memang tulus keluar dari mulut Reiji berdasarkan apa yang dia rasa pada Malia di dalam hatinya.


****


‘Cinta dan Keajaiban memiliki persamaan besar. Keduanya memperkaya jiwa dan mencerahkan hati.’


Nora Roberts,


****


Bersambung ..


Enjoooy, semoga syuka

__ADS_1


__ADS_2