WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 61


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


Waktu sudah menunjukkan jam empat sore waktu Jakarta, kala nada notifikasi di ponselku terdengar. Aku yang memang menunggu chat atau sambungan telepon dari Reiji langsung menyambar ponselku itu tanpa menundanya.


Hatiku seketika lega karena memang nada notifikasi yang berbunyi itu adalah pesan yang masuk dari Reiji dalam sebuah aplikasi pesan.


Aku mungkin belum mencintai Reiji, tapi profesinya sebagai pilot itu kadang membuatku memiliki rasa takutku sendiri.


Bahkan aku sudah mengkhawatirkan keselamatan Reiji saat dia sedang menerbangkan burung besi di angkasa, kala statusku masih jadi ade-ade-an nya Reiji. Dan sekarang, setelah aku menikah dengan Reiji, sepertinya rasa khawatir dan takutku sedikit meningkat daripada saat aku masih berstatus ade-ade-an nya Reiji.


Takut jika penerbangan yang dilakukan Reiji dalam tugasnya dan sesuatu yang buruk mengenai kecelakaan pesawat menimpanya. Coy, coy, jangan sampe deh.


Bukan masalah dengan status menjadi janda-nya, tapi bagiku Reiji itu baik orangnya. Dulu dia menyebalkan dengan sikap dingin dan cueknya, terkadang nyinyir.


Tapi selebihnya Reiji memang laki-laki yang baik. Setidaknya itu yang aku rasa setelah aku semakin mengenalnya, dan setelah ia menjadi suamiku. Yah, kecuali mode mes*mnya yang terasa menyebalkan kalau sedang menyala.


Dan Reiji sedang bertugas menerbangkan pesawat ke Korsel sekarang. Kekhawatiranku seketika sirna sesaat ketika pesan dari Reiji aku terima dan baca.


***


Ruang pesan Malia dan Reiji


(Aku udah sampe Yang) – Reiji.


(Alhamdulillah) – Malia.


(Kamu pulang ke rumah papa mama kamu, atau ke rumah orang tua aku aja ya hari ini? Meskipun Avi belum balik dari Jogja) – Reiji.


(Kita udah ngomongin soal ini semalem kan Rei? I will be fine di apartemen) – Malia.


(Tapi aku khawatir Yang kalo kamu sendirian) – Reiji.


(Aku bukan bocah lah) – Malia.


(Iya paham, aku kan Cuma khawatirin istri aku aja sendirian di apartemen) – Reiji.


(Aku akan baik-baik aja, oke?. Lagian apartemen kita juga cukup oke keamanannya kan?) – Malia.


(Iya sih, memang) – Reiji.


(Udah makan?) – Malia.


(Belum. Baru banget sampe di Hotel) – Reiji.


(Sama siapa?) – Malia.


(Sama kru satu penerbangan lah, masa sama Lisa Blackpink?) – Reiji.


(Ya kali bawa cem-ceman) – Malia.


(Kok aku menangkap ada gelagat istri yang was-was ya?) – Reiji.


(Ya wajar kelles istri nanya begitu) – Malia.


(☺ ) – Reiji


(Seneng deh dicurigain) – Reiji.


(Dih aneh) – Malia.


(Ada gitu suami dicurigain istrinya malah seneng bukannya kesel) – Reiji.


(Ada. Nih aku buktinya) – Reiji.


(Dasar) – Malia.


(*Love you*, Yang. I miss you already) – Reiji.


(Ya udah istirahat sana) – Malia.


(Iya) – Reiji.


(Kalo udah sampe di apartemen kasih tau ya?) – Reiji.


(Iya) – Malia.


(Ya udah, take care, my lovely wife) – Reiji.


(You too. Jangan lupa sholat) – Malia.


(Iya sayangku Malia) – Reiji.


(Makan juga jangan lupa) – Malia.


(Ga masalah lupa makan, yang penting ga lupain kamu) – Reiji.


(Halah!) – Malia.


(😃😃 ) – Reiji.


(Ya udah, aku istirahat dulu ya, Yang?) – Reiji.


(Saranghae) – Reiji.


Malia tersenyum simpul membaca pesan dari Reiji.


Setelahnya, Malia kembali pada pekerjaannya sembari menunggu waktu pulang kerja yang akan tiba kurang lebih satu jam lagi.


***

__ADS_1


MALIA


Aku telah sampai di apartemenku dan Reiji sekarang. Setengah tujuh lewat, dan sepertinya aku harus buru-buru mengambil wudhu, mengingat jika waktu maghrib mungkin tersisa sekitar tiga puluh menitan lagi.


Aku ingin segera mandi sebenarnya, tapi jika aku memilih mandi terlebih dahulu pastinya aku akan melewatkan satu waktu ibadah wajib tersebut. Jadi aku memilih untuk segera mengambil air wudhu saja dan menjalankan kewajiban utama sebagai umat dalam agama yang aku anut.


Baru aku akan mandi setelahnya.


*


Alih-alih langsung mandi selepas sholat maghrib, aku malah pergi ke pantri dan melihat stok makanan dalam kulkas, karena perutku terasa lapar. Bahkan aku masih menggunakan pakaian kantoran ku.


Mumpung Reiji ga ada, kayaknya aku bisa makan mi instan sekarang, meskipun aku sudah memakannya tadi pagi saat sarapan.


Reiji itu melarangku untuk makan mi instant sering-sering. Dia bahkan menetapkan jadwal kalau aku boleh makan mi instan per tiga hari sekali.


Nyebelin banget!.


*


Aku teringat jika aku belum memberitahukan pada Reiji jika aku telah tiba di apartemen, saat aku sedang merebus mi instan dan menunggunya matang dengan tekstur yang aku inginkan.


Okelah, nanti setelah mi instanku matang dan sudah aku tuang di mangkok berbumbu di dalamnya, aku akan mengambil ponselku dalam tas untuk mengatakan pada Reiji jika aku telah sampai di apartemen.


*


Bicara soal menghubungi Reiji untuk mengabarinya jika aku telah sampai di apartemen, nyatanya Reiji telah berkali-kali menghubungiku dan cukup banyak chat darinya saat aku telah mengambil ponselku yang aku simpan di dalam tas kerjaku itu, dan aku lupa mengeluarkannya dari sana, selepas aku sholat maghrib dan merebus mi instan.


Dimana tas yang aku gunakan saat ke kantor aku letakkan di atas nakas samping tempat tidur dalam kamar, jadi deringan apalagi bunyi notifikasi ponsel tidak terdengar saat aku berada di pantri dalam apartemenku dan Reiji. Dan baru saja ponselku aku pegang, deringan pun berbunyi lagi, seiring nama pemanggil yang tertera di layar ponselku.


Siapa lagi kalau bukan, My hubby-nama kontak yang aku sematkan dalam ponselku untuk nomor kontak Reiji, berdasarkan permintaan Reiji saat kami berbulan madu. Hal yang tidak mampu ku tolak.


“Kamu dimana, Yang?”


Suara Reiji yang terdengar gusar, langsung saja menyapa telingaku saat ikon hijau aku geser.


“Udah di apartemen, Rei ..” jawabku.


“Jam berapa sampe?”


“Kok lama ngangkatnya?”


“Aku khawatir tau ga?” Cecaran pun aku dapatkan dari Reiji.


Nah kalau Reiji lagi begini, baru aku rasanya mengenal Reiji yang dulu cerewet itu kalau aku sama Avi pergi ke suatu tempat, terus pas balik ketemu dia, cecaran panjang akan aku dan Avi terima dari mulut Reiji dengan ketusnya.


“Iya, sorry.” Pada akhirnya itu yang aku ucapkan untuk meredakan kegusaran Reiji.


*


“Eh iya, Rei ..” ucapku pada Reiji setelah kami bicara soal oleh-oleh selepas Reiji mencecar ku, dan nada suaranya sudah tak lagi gusar.


“Apa, Yang?”


“Itu kamar yang buat ruang ini itu aku rapiin aja ya sekarang, Rei?”


“Besok aku juga pulang kan, Yang? .. lagian bukannya kita sepakat mau nge rapihin pas weekend?.” Jawab Reiji atas pertanyaanku, selain aku meminta ijin padanya, karena aku juga ingin merapihkan barang-barang printilan Reiji yang lebih banyak dari barang-barang printilan ku.


“Iya tapi aku ga betah aja ngeliatnya, Rei ..”


“Lia, Lia .. OCD banget sih ..” kata Reiji kemudian.


“Bodo ah .. OCD, OCD deh. Ga betah banget perasaan liat itu kamar begitu ..”


Aku membalas ucapan Reiji dengan perkataan itu.


“Lia, Lia ..” Aku dengar Reiji terkekeh diseberang sana.


“Ya?, aku aja yang rapiin sekarang itu kamar ya? ..”


“Ga cape kamu emangnya, Yang?.”


“Kalo cape aku ga mungkin ngotot mau nge rapihin itu kamar sekarang, Rei ..”


“Huuumm,”


“Lagian aku belom ngantuk juga ..” kataku.


“Ga mau nunggu aku balik aja? .. Banyak loh itu ..”


Reiji sepertinya mencoba mengubah rencanaku untuk membereskan itu kamar yang akan jadi ruangan serbaguna kami.


“Ya aku rapiin semampu aku, Rei.”


Tapi kalo soal membereskan sesuatu yang ga estetik di mataku, ya tidak semudah itu juga.


Lagian memang aku belum mengantuk, dan belum mandi juga, jadi sekalian gerah-gerahan, abis beberes, mandi, terus tidur. Eh Isya dulu deh, doain itu suami biar selamat sampai pulang kesini besok tanpa sesuatu apapun.


Sok banget solehah ya aku?.


Tapi ya, memang aku ingin Reiji selalu diberikan keselamatan, selain diriku, orang tuaku, dan orang tua Reiji serta Avi yang kini benar-benar adalah keluargaku, dan memang sudah aku sematkan doa untuk mereka disetiap aku selesai beribadah.


Lagipula, Reiji kan suamiku sekarang. Jadi sudah sepatutnya seorang istri mendoakan suaminya yang baik-baik, bukan?.


Oke, kembali ke pembicaraanku dengan Reiji.


“Ga mau nunggu aku balik aja? .. Banyak loh itu ..”


“Ya aku rapiin semampu aku, Rei.”


“Ya udah terserah kamu sih aja sih itu sebenarnya.”


Pada akhirnya Reiji mengiyakan saja keinginanku untuk membereskan kamar yang akan menjadi ruang serbaguna kami itu.

__ADS_1


Namun pertanyaan Reiji setelahnya membuatku rasa ambigu.


“Yang,”


“Ya?”


“Kamu bersikeras banget rapiin barang aku, ada yang mau kamu cari tahu? ..”


Apa coba maksudnya Reiji nanya begitu?.


“Maksud? ..”


“Ya ga ada maksud apa-apa, Cuma nanya aja, Yang .. kali kamu penasaran aku nyimpen foto mantan? ..”


Reiji berseloroh, dan kudengar ia mendengus geli diseberang sana kemudian. Ish, kerajinan banget aku kepoin mantan-mantannya Reiji.


Eh, ngomong-ngomong soal mantan, cewe yang namanya Shirly itu, sebenarnya salah satu mantannya Reiji atau bukan ya?.


“Ih, sorry ya, aku ga sekepo itu wahai Bapak Reiji Shakeel ..”


Memang aku tidak sampai kepikiran untuk memeriksa barang-barang Reiji saat orangnya ga ada.


“Tapi tunggu deh, kamu kesannya kayak nahan-nahan aku biar ga beresin barang-barang kamu saat kamu ga ada, apa sebenernya ada yang kamu sembunyiin dari aku, Rei?.”


Namun pada akhirnya aku terpancing dengan pertanyaan Reiji yang berupa dugaannya padaku, tentang aku yang ingin mencari tahu tentang mantan-mantannya.


Lalu setelah aku bertanya seperti itu, aku dengar hembusan nafas pelan dari Reiji di seberang telepon. Lalu setelahnya Reiji bilang,


“Ga ada yang perlu aku sembunyikan dari kamu, Yang ..”


“Yakin?” tanyaku seraya bercanda. Soalnya aku tangkap suara Reiji jadi serius barusan.


“Yakin,” Reiji menjawab pasti.


“Serius banget pak Pilot,” selorohku.


“Hal-hal yang menyangkut kamu akan aku tanggapi dengan serius, Yang..”


Padahal aku sudah coba mencairkan suasana.


Tapi nada suara Reiji masih serius aja. Aku jadi malah canggung kalau Reiji begini.


“Ya udah rapiin itu kamar nunggu kamu balik aja deh kalo gitu,” kataku pada akhirnya.


“Terserah aja, Yang .... Aku menahan kamu ga merapihkannya sampai ada aku, semata-mata karena aku ga mau kamu kecapean ....”


“.........”


“Bukan karena ada yang aku sembunyikan ... Silahkan aja kalau kamu mau lihat barang-barang aku yang ada di kamar sebelah.”


“Enggalah,” sahutku. “Tunggu kamu aja .....” sambungku. “Biar ada yang janggal bisa langsung aku tanyain ke kamu .....”


Aku terkekeh kemudian.


Tapi nyatanya, Reiji masih aku dengar serius nada suaranya.


“Buat aku masa lalu ya masa lalu.. Dan rasanya kamu ga mungkin setertarik itu sama masa lalu aku, mengingat.. kamu kan ga cinta sama aku..”


“.........”


“Justru sebenarnya aku penasaran pada satu hal ...”


“Apa?..” tanyaku penasaran.


“Masa lalu kamu. Apa kamu punya ‘seseorang’ dimasa lalu?”


Dan lidahku, kelu.


Sungguh aku tak mengira jika Reiji akan menanyakan hal itu.


Tentang seseorang dimasa laluku.


“Aku yakin kamu pernah tanya sama Avi soal aku, Rei..”


Aku buat nada suaraku senormal mungkin saat aku kembali berbicara.


“Dan aku yakin Avi ngomong yang sebenarnya soal aku...” sambungku. “Aku ga pernah punya pacar.”


“Ya udah kalo gitu, aku percaya ..” kata Reiji kemudian.


Memang seharusnya dia percaya, karena memang itu kenyataannya.


Aku tidak pernah memiliki pacar. Iya, itu benar.


Tapi, jika Reiji bertanya tentang seseorang dimasa lalu,


Dan andai Reiji bertanya, “Apa kamu pernah mencintai seseorang, Malia?..”


Maka jawabanku adalah,


Ya.


Pernah ada seorang laki-laki yang aku cintai.


Dan masih aku tunggu dia menyatakan cintanya padaku, sampai sebelum aku dijodohkan dengan Reiji oleh kedua orang tua kami. Bahkan sampai waktu sebelum ijab kabul tiba, dengan tidak ber-akhlaknya, aku masih berharap sosok itu datang.


Hanya saja hal itu tidak pernah terjadi, sampai aku benar-benar menjadi seorang istri Reiji Shakeel. Harapanku pada laki-laki itu, pupus dihari dimana Reiji menyebut namaku dengan lantangnya saat ijab kabul.


Dan laki-laki itu, biar bagaimanapun, meski hati ini aku tak yakin sudah tak menyimpan namanya. Tapi dia sudah menjadi masa laluku, yang sudah seharusnya aku kubur dalam-dalam.


***


Bersambung ..

__ADS_1


Dukungan akan selalu emak tunggu.


Loph you All, and Thank You.


__ADS_2