WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 276


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


MALIA


Sebal, saat melihat Rei sudah ada di lobi utama gedung perkantoran tempatku bekerja. Lalu, jadi mulai kesal saat aku mau tidak mau aku mendekatinya---dan Reiji pun memang sedang berjalan ke arahku.


Suitan cie-cie dari beberapa rekan kerjaku saat melihat Rei, lalu celetukan ehem-ehem tentang suami perhatian sambil mereka berlalu setelah sekilas menyapa Reiji membuatku jengah.


Namun tentu saja aku tunjukkan kejengahanku itu pada rekan kerjaku.


Aku hanya menunjukkan senyum tipisku pada mereka, tanpa berkomentar.


Tak seperti biasa, jika aku dijemput Rei dan beberapa rekan kerjaku yang iseng itu ada lalu mereka menggodaku---aku akan menjawab ledekan plus godaan mereka.


“Jones iriii....”


Atau


“Yang suaminya kurang perhatian juga iri nih yeee?....”


Begitu aku akan menjawab ledekan dan godaan dari para rekan kerjaku itu.


Tapi saat ini tidak, aku tidak merasa senang dengan kehadiran Rei di depanku saat ini---yang pastinya ingin menjemputku dan pulang bersama ke apartemen.


--


Bukannya aku tidak ingin segera pulang ke apartemen, karena aku kapok ‘berkeliaran’ sendirian.


Namun aku hanya tidak ingin berdekatan dengan Rei sekarang ini, yang mana aku juga sudah berencana saat sampai di apartemen nanti jika Rei mengikuti keinginanku yang aku sampaikan pada chatku tadi pagi menjelang siang---aku akan langsung meloyor ke kamar kami dan mengunci diri di sana.


Eh taunya si Reiji Shakeel ini sudah ada di lobi gedung perkantoran tempatku bekerja tanpa pemberitahuan apa-apa sebelumnya, membuatku merasa sebal dan kesal seketika.


--


Emosi, sedang menggelayutiku.


Setelah niatku untuk mendiamkan Rei batal saat aku melihatnya di lobi gedung perkantoran tempatku bekerja lalu mulutku rasa gatal untuk tidak mencibirnya, aku mulai tersulut emosi di saat aku sudah berada di dalam perjalanan menuju apartemenku dan Rei, dengan menggunakan mobil Rei---dimana awalnya, adalah bahasan tentang promilku.


Yang mana satu kalimat yang aku katakan, membuat Rei terkejut, “Aku udah batalin promil aku. Aku batal ingin hamil sekarang.“ begitu perkataanku pada Rei kurang lebihnya.


Setelah ia mengatakan sebaris kalimat sebelumnya, yang mengajakku berdiskusi tentang mengatur ulang jadwal untuk bertemu dengan seorang dokter yang selama ini aku dan Rei datangi untuk promilku.


--


Sekali lagi, sedari aku mengetahui jika Reiji setiap bulannya menafkahi si bibit pelakor itu disaat aku dan dia sudah menikah---emosi sudah menggelayuti hatiku. Selain rasa tak terima atas kelakuan Rei itu, yang mana hitungannya---bagiku, Rei sudah membohongiku, menipuku---berikut mengingkari janjinya padaku, dan semua rasa berkecamuk di hatiku.


Marah dan sedihku menjadi satu.


Lalu kekecewaan tentunya tak tertinggal.


Hingga menciptakan aku yang menjadi seorang yang sangat egois dan tidak lagi mau peduli perasaan Rei sebagai seorang suami.


Yang mana hal itu membuatku mengambil keputusan secara sepihak mengenai promilku, yang aku batalkan. Dengan aku yang menghubungi langsung dokter yang selama ini membantuku dan Rei dalam langkah kami untuk memiliki momongan dalam waktu dekat.


Dan saat di kantor tadi, aku ingat soal itu---karena ada mark di kalender mejaku tentang jadwal konsultasi promilku di hari sabtu ini.


Lalu pikiran untuk membatalkannya terbersit begitu saja di kepalaku. Yang membuatku langsung mencari kartu nama dokter yang selama ini membantuku dan Rei dalam promilku itu, lalu menghubunginya dan melakukan pembatalan.


Tidak hanya jadwal konsultasi, tapi juga programnya secara keseluruhan.


Dimana sergahan aku dapatkan dari dokter itu, yang bertanya alasan kenapa aku membatalkan promil yang sudah setengah jalan.


“Alasan pribadi, Dok.”


Begitu jawabku.


Lalu dokter perempuan yang bernama Dewi itu tidak bertanya lebih lanjut lagi.


--


Alasan utamaku, kenapa aku sampai membatalkan promilku adalah rasa tidak terimaku, atas seorang anak yang memanggil Rei dengan sebutan ‘Papi’.


Iya, setelah melihat bulatan pada sebuah kolom di kalender mejaku yang aku tahu jika itu adalah pengingat soal konsultasi promilku, didetik setelahnya aku mengingat saat aku memergoki Rei di apartemen si bibit pelakor sialan itu, yang mana mengingatkanku juga saat aku mendengar anak perempuan itu memanggil Rei dengan sebutan ‘Papi’.

__ADS_1


Lalu hatiku menjadi kesal sekali.


Tak hanya ibunya, bahkan anaknya pun telah melangkahi.


Ibunya melangkahiku dengan mendapatkan uang dari Rei yang disisihkan lebih dulu sebelum Rei memberikan padaku.


Aku yakini itu.


Walau bagianku jauh lebih banyak, namun tetap aku sudah dilangkahi, kan?


Karena bagiku, hitungannya aku dapat sisaan, tak peduli jika sisaan itu amat besar bagiannya.


Namun sisa tetap saja sisa.


Lalu, mengenai anaknya si bibit pelakor itu. Yang memang, anak itu mungkin tak patut dipersalahkan karena memanggil Rei dengan sebutan ‘Papi’.


Namun bagiku, anaknya si bibit pelakor sialan itu---dia telah melangkahi bakal calon anakku dan Rei yang masih di awang-awang dengan memberikan panggilan selayaknya seorang anak pada ayahnya.


Dan sialnya, panggilan anak itu ke Rei, adalah panggilan yang sudah aku rencanakan untuk anakku dan Rei nanti. ‘Papi’ untuk Rei, dan ‘Mami’ untukku. Yang sekarang sudah aku coret dari rencanaku.


Kekanakkan ya aku?


Terserahlah.


Namun hal itu memang sensitif bagiku.


Terlalu sensitif, makanya aku sampai memutuskan untuk tidak melanjutkan promilku.


--


Telah aku sampaikan keputusanku yang membatalkan promilku secara sepihak itu pada Rei.


Dan sesuai dugaanku, Rei terkejut.


"Kok gitu, Yang?"


Komentar Rei setelahnya.


Dan aku menjawabnya dengan santai dan datar.


“Tapi kita udah setengah jalan, Yang. Dan harusnya kamu diskusikan soal itu dulu sama aku....“


Begitu kata Rei, dan aku balikkan langsung ucapannya---ngaca ga sih dia?


“Did you? Ada kamu diskusi sama aku soal kamu menafkahi janda sialan itu?“ balasku.


Dan aku merasakan emosiku merambat disaat yang sama, lalu kian merambat saat Rei menjawab ucapan balasanku sebelumnya.


“Soal promil kamu dan rencana kita punya anak dalam waktu dekat ga ada hubungannya sama Irly.“


Kalimat yang Rei katakan sebagai balasan.


Nampak ada guratan emosi sekilas yang aku tangkap dari ucapan Rei itu.


Dimana aku langsung menyambar.


“Ada!—“


“Denger Yang, aku tau kamu marah sama aku. Tapi soal promil kamu, itu keputusan kita bersama. Jadi apapun mengenai hal itu, kamu bicarakan dulu sama aku. Jangan memutuskan secara sepihak seperti ini atas dasar emosi.. Calon anak yang kemungkinan berhasil dalam promil kamu, itu mimpi kita, Yang....”


Mungkin, Rei sempat emosi padaku. Atas sikapku yang acuh tak acuh sedari semalam, bahkan aku kunciin juga dia di luar kamar tidur kami. Lalu sikap menyebalkanku tadi yang aku tunjukkan sejak di lobi gedung perkantoran tempatku bekerja, kemudian sikapku yang nampak masa bodoh dalam membahas hal yang sebenarnya bisa dikatakan penting untuk kami.


Namun kiranya ia tidak mengikuti emosinya itu, karena setelah aku memotong ucapannya dengan cepat dan sinis, Rei lalu berkata dengan perlahan padaku.


Bahkan terkesan hati-hati.


Hanya saja maaf, itu tidak cukup untuk meluluhkanku.


“Udah engga buat aku. Terserah kamu mau terima atau engga....“


Dan aku tetap pada pendirianku, bersikap acuh tak acuh dan masa bodoh pada Rei, hingga enteng saja aku bicara begitu.


“Ya jelas aku ga terima lah kalo kamu memberhentikan promil kamu gitu aja tanpa kamu bicarakan dulu dengan aku....“


Untuk kali ini, Rei menampakkan emosinya.

__ADS_1


Ia dengan cepat menyambar ucapanku, dan nada suara Rei sedikit meninggi dari yang sebelumnya.


Alih-alih memperbaiki sikapku atau takut pada emosi Rei yang sempat aku dapati ketika di apartemen si bibit pelakor sialan, dimana Rei sempat membentakku karena kasar pada perempuan itu dan anaknya---aku malah menantang Rei.


Yang mana tantangan itu, adalah emosiku yang tersulut karena aku teringat kejadian tersebut. Satu hal lain yang tidak dapat aku terima sampai dengan detik ini, hingga aku sekali lagi dengan entengnya bicara seenakku saja---masa bodoh jika Rei juga kian emosi, dan mengiyakan tantanganku.


“Terus kalo kamu ga terima mau apa? Mau ceraikan aku? Silahkan aja!“ seruku dengan tatapan permusuhan pada Rei, dimana Rei menatapku balik dengan tatapan yang lumayan tajam.


Karena kebetulan, saat kami sedang adu mulut agak sengit itu, mobil Rei berhenti karena lampu merah. Dan kami saling menatap tajam. Aku menunggu jawaban Rei.


Tapi aku tidak mendapat jawaban apapun dari Rei, karena kemudian ia memalingkan wajahnya lebih dulu dariku, juga kulihat ia menarik nafasnya dengan samar sebelum kembali melajukan mobil setelah lampu lalu lintas berganti hijau.


Setelahnya, Rei bungkam seribu bahasa sampai kami tiba di unit apartemen kami---begitupun aku.


--


Tapi kemudian kebungkamanku berhenti, ketika aku telah bertemu Avi di dalam unit apartemenku dan Rei.


Dimana sahabat merangkap adik iparku itu, langsung berhambur menyambut kedatanganku dengan wajah paniknya sambil mengecek diriku---bertanya, apa aku baik-baik saja.


Sementara Rei tetap bungkam, lalu meloyor ke dalam kamar.


Namun tak lama Rei sudah keluar lagi dari dalam kamar kami itu, dengan sudah berganti pakaian santai.


Terus meloyor ke arah pantri, dimana suara Avi yang bertanya pada kami berdua terdengar, “Gue udah order makanan, kalian pasti juga belum makan malem kan? Yuk makan sekarang? Mumpung masih anget, belum lama dateng itu makanan....”


**


“Gue mandi dulu kali, Vi,” ucap Malia setelah Avi menawarkan dirinya dan Reiji untuk segera makan.


Sementara Reiji tidak menolak atau mengiyakan ajakan Avi, namun sudah mengambil tempat di meja makan dan langsung mengambil piring yang kemudian Reiji isi dengan makanan yang telah disiapkan Avi.


“Ya elah keburu dingin itu makanan kelar lo mandi—“


“Ya udah iya....”


Malia terus mengambil tempat di meja makan bersama Avi.


**


“Lo nginep ya, Vi?....“ ucap Malia disela sesi makannya bersama Avi dan Reiji yang diam seribu bahasa. Dimana Malia menanyakan kesediaan Avi yang langsung menanggapi ucapan Malia itu.


“Terus gue tidur dimana, Neng?”


“Ya sama gue lah di kamar.”


“Nah itu Pak Suami?”


“Santai dia sih. Kan punya tempat bobo cadangan?“ cibir Malia dengan keremehan sikapnya pada Reiji.


**


**


Menanggapi cibiran Malia di saat makan bersama Avi, Reiji tetap diam. Dan tak lama kemudian ia langsung beranjak dari tempatnya menuju ke kamar serbaguna dan tidak keluar sampai waktu dimana Malia dan Avi masuk ke kamar pribadi Malia dan Reiji.


Namun kebungkaman Reiji terpecah, saat Avi menyambanginya untuk menanyakan apa yang sebelumnya Avi dengar dari Malia. Dan Malia mengekori Avi yang sebelumnya juga sontak bangkit dari ranjang dengan tergesa, lalu berjalan ke arah pintu kamar Malia dan Reiji di apartemen mereka tersebut.


“Aku ga masalah kalau kamu mau curhat sama Avi tentang keburukan aku. Tapi kalau memang kamu mau menyuarakan ketidaksenangan kamu, ngomong langsung ke aku,” ucap Reiji yang matanya fokus kepada Malia.


“Aku bukan curhat sama Avi soal keburukan kamu ya?! Tapi kenyataan soal abangnya yang nafkahin janda sialan nan murahan bertopeng sahabat itu!”


Malia menjawab sengit ucapan Reiji.


Dimana Avi yang semula ingin mengomeli kakaknya itu, malah sekarang jadi terpaku dan membeku dengan menggigit bibirnya sendiri, karena ia sedang berada di situasi yang mengarah kepada ‘medan perang’.


“Sahabat.... Cih!.... Mana ada laki yang cuma-cuma ngasih sahabatnya 300 juta kalo ga ada embel-embel di belakangnya....”


“Maksud kamu apa?---“


“Laki-laki yang enteng banget ngasih duit ratusan juta ke perempuan tanpa embel-embel pinjeman, cuma satu kenyataannya! Itu perempuan sialan yang namanya Irly, sahabat yang merangkap gundik kamu---“


“Jaga ucapan kamu Lia!” Reiji berseru kencang, dengan satu telunjuknya yang mengarah tajam ke Malia dengan pandangan yang juga tajam dan menusuk.


***

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2