
Selamat membaca...
***
“Reiji!”
Sebuah suara bariton yang memanggilnya, membuat Reiji yang baru saja keluar dari sebuah minimarket yang tersedia di komplek gedung tempat tinggalnya dan Malia itu segera menoleh mencari sumber suara yang memanggilnya barusan.
“Benar dengan Reiji kan? ..”
Dan tak berapa lama, orang yang memanggil Reiji itu sudah berada di hadapannya sekarang.
Seorang laki – laki berkulit putih, tampak dandy---orang yang tahu – tahu muncul dan memanggil Reiji barusan serta sudah berada di hadapan suami Malia itu.
“Reiji suaminya Malia?” Laki – laki yang memanggil Reiji dan sudah berdiri di hadapan Reiji itu bersuara lagi, nampak memastikan disaat Reiji sedang menelisik diri si laki – laki berpenampilan dandy tersebut.
Reiji sedang mencoba untuk mengingat – ingat tentang siapa laki – laki di hadapannya itu.
Dimana tak seberapa lama dari dirinya yang sedang menelisik laki – laki berpenampilan dandy tersebut, Reiji membatin.
‘Nih kalo ga salah si bibit pebinor bukannya?!’ sambil Reiji kembali menelisik laki – laki di hadapannya itu. ‘Model – modelnya kalo dari samping sih iya sama pas waktu dia dateng nemuin Lia disaat yang sama pas gue mau kasih surprise buat Lia di kantornya hari itu ---‘
Reiji berucap lagi di hatinya.
“Iya, benar.”
Reiji pun menyahut menjawab pertanyaan pria dandy di hadapannya, yang sedang memastikan perihal jika dirinya adalah Reiji suaminya Malia.
Reiji sudah rasanya yakin dengan dugaan tentang siapa pria yang tahu-tahu muncul di hadapannya ini.
“Anda siapa?”
Reiji balik bertanya pada pria dandy tersebut dan berpura – pura tidak tahu siapa pria itu, sambil Reiji sedang berusaha juga menahan emosinya pada pria dandy tersebut.
Yang kemudian mengulurkan tangannya pada Reiiji dan memperkenalkan dirinya.
“Irsyad.”
Sambil menunggu Reiji menyambut uluran tangannya.
“Bisa kita duduk dan bicara?---“
“Tentang?---“
“Malia---“
***
MALIA
“Ini kita mau langsung balik ke apartemen?”
Aku melontarkan pertanyaan pada Rei ketika aku sudah berada di dalam mobilnya, dimana suamiku itu menjemputku kala waktu kerjaku di kantor telah selesai.
Dan aku menanyakan hal itu, karena pasalnya tadi pagi Rei mengatakan ingin mengajakku ke sebuah kafe untuk sekedar hangout.
__ADS_1
“Iya,” jawab Rei.
Tapi jawabannya mengartikan jika ia tidak jadi mengajakku pergi hangout sekarang ini.
“Kenapa?”
Aku lantas bertanya.
Sedikit tidak terima sih, Rei membatalkan rencana untuk hangout begitu saja.
Aku udah ready to go banget soalnya. Meski tetap menggunakan pakaian kerjaku.
Tapi wajahku ini sudah aku touch up biar fresh dan oke buat dipandang. Mubazir banget kalo ga jadi hangout kan? ..
--
“Ga apa – apa,” jawaban Rei atas pertanyaanku tentang kenapa dia sampai membatalkan acara hangout kami malam ini.
“Alasan spesifiknya? –“
“Ga ada .. Cuma tiba-tiba males.”
***
Reiji nyatanya memang serius mengatakan jika rencananya dan Malia untuk pergi hangout ke sebuah kafe yang juga menyajikan sebuah live music itu dibatalkan.
Karena Reiji memang membawa mobilnya yang ia kemudikan, kembali ke gedung apartemennya dan Malia, setelah menjemput Malia di gedung perkantoran tempat istrinya bekerja itu.
‘Perasaan gue aja, atau gimana?’ batin Malia. ‘Rei kok rada pendiem sejak dari jemput gue tadi?..’
“Iya –“
“Terserah kamu mau pesen dari aplikasi atau mau pesen dari bawah –“
“Rei –“
“Ya?” sahut Reiji pada Malia yang meraih tangannya, lalu membuat mereka saling berhadapan.
“Kamu kenapa?” tanya Malia kemudian.
***
Malia yang merasakan jika sikap Reiji sedikit berbeda saat ini, memutuskan untuk langsung bertanya pada suaminya itu.
Dimana Reiji kemudian mengulas senyuman tipis pada Malia. “Duduk dulu,” ucap Reiji setelahnya.
Namun Malia menggeleng. “Langsung aja kamu kasih tau aku –“
“Duduk dulu.”
Reiji menukas ucapan Malia.
“Aku memang mau bicara sama kamu.”
“Ya udah ngomong aja sekarang Rei.”
__ADS_1
Malia yang tak sabar, selain ia penasaran.
***
MALIA
Aku memaksa Rei untuk bicara, karena aku memang penasaran sedang ada apa dengan suamiku itu yang menjadi lebih pendiam dari sejak ia menjemputku di kantor tadi.
“Aku bikin minum dulu,” jawab Rei.
Tapi aku menahannya.
“Aku ga haus,” ucapku.
Lalu Rei menatapku sebentar.
---
Pada akhirnya Rei urung membuat minuman karena aku yang penasaran ini memaksanya untuk bicara atau menjelaskan kenapa Rei jadi seperti begitu pendiam padaku saat ini, sejak sore ia menjemputku tadi.
“Aku mau kamu jujur sama aku, Yang ..”
Kalimat itu yang Rei ucapkan setelah ia membawaku duduk di sofa dalam unit apartemen kami.
“Soal? ..”
Kontan aku pun segera melontarkan pertanyaan.
“Kamu selama ini, hanya berpura – pura udah cinta aku?”
Dimana jawaban yang dikeluarkan dari mulut Rei membuat aku tercengang.
Aku belum sempat menormalkan diriku, dimana hatiku sedikit tersinggung dengan ucapan Rei yang menggambarkan keraguan.
Masih sedikit tercengang seraya bertanya – tanya dalam hati, kenapa Rei tiba – tiba bicara seperti itu.
Aku hendak menanggapi ucapan Rei soal pertanyaannya mengenai aku yang katanya selama ini hanya pura – pura sudah mencintainya.
Namun sebelum aku mengeluarkan suara untuk melayangkan protes, aku dibuat tercengang lagi oleh Rei, kala ..
“Karena aku mendapatkan ini ..”
Rei berucap sambil meletakkan beberapa lembar foto di atas meja.
Dimana foto – foto tersebut menggambarkan bentuk kemesraan antara aku dan Irsyad.
“Tanggal yang terbaru, waktu aku tugas ke Medan beberapa hari yang lalu-“
“Rei, ini-“
“Kamu ada main dengan dia dibelakang aku selama ini-“
Oh Tuhaannn..
****
__ADS_1
Bersambung....