
Selamat membaca....
***
“Tapi ngeliat muka lo gini, lo emang abis ribut sama Malia kan?” tanya Abbas dan Reiji langsung menoleh pada salah seorang sahabatnya itu yang sedang Reiji kunjungi apartemennya dan mengobrol santai dengan Reiji sedari tadi, sambil menunggu tiga sahabat mereka lainnya datang.
Reiji tersenyum kecut sekali lagi, sambil ia mengangguk lesu.
“Berat?..”
Abbas yang melihat anggukan Reiji itu sontak bertanya.
“Mayan ..”
“Sabar aja lah, Ji.”
Abbas mengajukan sarannya lagi untuk Reiji.
“Pernikahan lo itu kan atas dasar perjodohan, jadi ya mungkin bakal lebih berat cobaan dari mereka yang nikah karena emang punya perasaan yang sama.”
“Ya itu yang sedang gue lakukan, Bas.” Sahut Reiji. “Tapi sekarang gue ragu kalau pernikahan gue sama Lia akan langgeng—“
Reiji meletakkan stik konsol game yang ada di tangannya. Lalu ia melandaikan duduknya, sambil Reiji menyugar kebelakang rambutnya dan mendengus kasar, menggambarkan kegusaran hatinya.
“Jangan mikir begitu.” Sambar Abbas. “Gue emang belom ngerasain yang namanya nikah, tapi dari pernikahan kedua orang tua gue, seengganya gue bisa belajar banyak hal. Yang jelas sih, sesulit apapun lo dengan pernikahan lo, ya jauh-jauh deh dari opsi cerai—“
“......”
“Pertengkaran suami istri mungkin ga nyaman, menyakitkan. Tapi gue rasa perceraian itu jauh lebih menyakitkan, terlepas bini lo itu udah cinta atau belum sama lo ---“
“Ya pasti menyakitkan. Terutama buat gue, dan keluarga kami berdua, Bas .. Tapi entah buat Lia .. Terlebih-“
“Ga usah cerita kalo lo emang ga nyaman buat cerita masalah pribadi lo .. Terutama soal dalemnya kondisi pernikahan lo, Ji .. Gue paham.” Ucap Abbas yang sadar jika Reiji menggantungkan kalimatnya, lalu Reiji terdiam.
“Bas ..”
Reiji memanggil seraya menoleh pada sahabatnya yang sedang menyesap minuman kalengnya.
Abbas berdehem untuk menyahut.
“Kalo lo ditempatkan pada kondisi pernikahan seperti yang lagi gue alami sekarang, gimana sikap lo? ..” Reiji melontarkan pertanyaan pada Abbas kemudian.
“Sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue ngomong dulu –“ sahut Abbas. “Kayaknya waktu gue perhatiin pas nikahan lo sama Malia sama bahagia mukanya? Apa itu Cuma pembohongan publik?” Selidik Abbas. Reiji mendengus geli selepas mendengar ucapan Abbas barusan.
“Tapi gue liat di igeh lo, walau ga banyak foto-foto lo sama Malia, muka kalian hepi aja perasaan --“
“Seperti yang gue bilang tadi. Gue itu udah jatuh cinta sama Lia, mungkin sebenarnya udah lama gue punya rasa sama dia .. Tapi baru bener-bener gue yakini setelah perjodohan gue sama Lia dicetuskan sama bonyok kami berdua.”
“Hmm ..”
“Jadi kalo muka gue keliatan bahagia, ya emang gue bahagia abis ngesahin Lia jadi bini gue.”
“Jadi Lia yang fake waktu nikahan kalian?” sambar Abbas seraya bertanya.
“Sebenarnya engga juga. Waktu kami nikah Lia bilang dia udah bisa nerima gue-berusaha untuk menerima gue. Walau belum cinta, tapi dia sayang sama gue. Dan yah, keliatan sih, sesuai ucapannya kalo dia mau berusaha menerima pernikahan kami yang berdasar perjodohan ini, lalu berusaha jadi istri yang baik buat gue.” tutur Reiji pada salah satu sahabatnya itu.
“Dan yang terjadi? ..”
“So far so good (Sejauh ini baik). Selama kurang lebih lima bulan ini hubungan gue dan Lia baik-baik aja, sampai ..”
Reiji menggantungkan lagi kalimatnya.
“Sampai Lia nemuin fakta kalo gue pernah cinta sama Shirly ..”
“Jadi lo ribut sama dia hari ini gara-gara itu?”
Abbas spontan bertanya dan Reiji langsung menggeleng. “Tapi itu jadi pemicu perubahan sikap Lia ke gue.”
“Ya lo yakinin lah sama bini lo itu, kalo lo udah ga ada rasa sama si Irly!”
Abbas berkomentar.
__ADS_1
“Udah berkali – kali gue jelasin ke dia!”
“B – ae jangan ngegas ----“
Abbas menyambar, lalu terkekeh kecil.
“Kesel abisan gue! .. Lia itu kekanakkan banget kadang-kadang.”
“......”
“Waktu gue jelasin ke dia, jawabannya oke, dia mau berusaha untuk percaya .. Tapi yang ada, dia sering aja tuh nyindir – nyindir soal gue sama Irly, heran gue.” kata Reiji
“Dan sekarang lo udah sampe ke tahap fase jenuh sama sindiran Malia? ..” tanya Abbas.
Reiji lalu menggeleng samar.
“Kalau soal disindir gue masih bisa tahan---“
“......”
“Dan gue hanya menanggapi dengan santai selalunya, dan kalau gue bete ya lebih baik gue abaikan aja sindirian Lia soal gue dan Irly ..”
Reiji meraih minuman kaleng yang Abbas sajikan untuknya tadi, lalu membuka dan meminumnya.
“Dan gue pikir nantinya dia bakal cape sendiri.”
“Tapi nyatanya engga? ..”
Reiji lantas mengangguk setelah Abbas melontarkan terkaannya, lalu ia menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa yang sedang ia duduki.
Lalu Reiji menghela nafasnya dengan frustasi. “Parahnya, gue malah kecolongan.”
Abbas mengernyit.
Dan didetik berikutnya wajah Abbas sedikit menyelidik menatap Reiji.
“Maksud lo, Malia selingkuh, Ji??? ..”
Dengan wajah Abbas yang nampak sangat ingin tahu. Sampai ia memiringkan duduknya dan intens menatap Reiji yang terlihat lesu itu.
**
Reiji tidak langsung menjawab pertanyaan Abbas tadi. Ia menghela lagi nafas frustasinya. “Gue belum tahu pasti, tapi ada indikasi kesana.” Ucap Reiji tak lama kemudian. “Karena itu cowok, kalo berdasarkan apa yang ade gue bilang – which is best friendnya istri gue, adalah lelaki impiannya Lia, dan Lia cinta sama dia selama bertahun – tahun---“
Reiji bangkit dari posisinya, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan yang menindih kedua pahanya.
“Mereka sempet lose contact, tapi sekarang cowok itu balik lagi dan mereka jadi intens ketemuan sekarang-sekarang ini..” lanjut Reiji. Dan Abbas menghela nafasnya.
“Ribet juga ya?..”
Tanggapan yang keluar dari mulut Abbas.
**
“Kalo udah urusan selingkuh sih, gue juga ga punya toleransi buat itu.” Ucap Abbas. “Tapi lo bilang itu baru indikasi aja kan?”
“Hmm.” Sahut Reiji.
“Belum pasti bener berarti ..”
Abbas kembali berucap.
“Ya tapi masalahnya Bas, Lia pergi gitu aja ninggalin gue tadi yang gue tau persis kalau dia nemuin itu laki, bahkan saat gue dan dia belum tuntas bicara ..”
Lalu Reiji dan Abbas sama-sama terdiam.
*
REIJI
“Tapi kalo menurut gue si Ji, daripada lo tebak-tebak buah manggis, mending lo langsung tanya aja sama Malia tentang sejauh mana hubungan dia sama cowok dari masa lalunya itu.”
__ADS_1
Aku teringat pada saran Abbas saat aku di apartemen salah seorang sahabatku itu, yang menjadi pilihanku untuk sejenak menghilangkan penat atas kekesalanku pada sikap Lia.
“Tanya baik-baik, jangan asal lo tembak juga itu bini lo, trus bilang ‘Kamu selingkuh sama dia?!’”
Dan aku terus memikirkan saran Abbas tersebut sebelum aku jatuh terlelap, menunggu Lia pulang.
Jujur saja, aku yang biasanya tenang ini menjadi seperti orang lain selepas aku tahu fakta jika istriku mencintai laki-laki lain.
Dulu – kalau kata Avi.
Tapi menurutku, Lia masih mencintai lelaki bernama Irsyad itu.
Karena itu, Lia sulit untuk benar – benar membuka hatinya untukku.
Tapi Abbas benar juga. Bagaimanapun kesalnya aku pada Lia, terlepas aku begitu geram pada bibit pebinor yang bernama Irsyad itu, aku tidak boleh mengedepankan emosi.
Inginku begitu, tapi nyatanya aku tidak bisa mengontrol emosiku setelah Lia telah pulang. “Temen yang kamu maksud itu, Irsyad namanya? — Si Lelaki Im-pi-an-nya Malia?! --- Lelaki impianmu yang sekarang jadi selingkuhan?“
Aku bicara seraya bertanya dengan nada tinggi dan tajam pada Lia.
Bukan aku mencari kambing hitam atas emosiku, tapi sungguh sikap Lia yang terlihat masa bodoh dan acuh tak acuh menanggapiku, menyulut emosiku yang biasanya tak muncul ke permukaan dengan gamblang itu.
Dan Malia pun tajam memandangku.
“Jangan asal nuduh kamu!”
Lia mendelik padaku.
Dan aku berdiri tegak menghadap Lia setelah aku beringsut dari balkon lalu menutup pintunya.
Aku mendengus sinis kala mendengar Lia berucap tajam sambil mengarahkan telunjuknya padaku, agar aku tidak menuduhnya selingkuh.
“Kamupun asal menuduhku masih memiliki perasaan pada Irly.” Sahutku sinis.
“Kenapa jadi bawa-bawa dia?!” balas Lia.
Ia nampak sengit.
“Perasaan aku dimasa lalu pada Irly yang jadi pemicu kecurigaan kamu yang berpikir aku masih punya perasaan sama dia, sampai kamu berpikir diri kamu adalah pelarian dari penolakan cintanya padaku kan? ..”
Aku dengan cepat membalas ucapan Lia.
“Lalu itu membuat kamu merasa layak pergi dengan laki-laki lain.”
Wajah Lia nampak tak senang, namun ia diam menatapku.
Setelahnya Lia berbalik badan.
“Apa lagi?. Aku ga peduli kamu mau ngomong apa!” tukas Lia saat aku telah dengan cepat mencengkram tangannya kala ia berbalik dan hendak berjalan menuju kamar kami.
“Oh tentu kamu ga peduli sama aku—“ ketusku. “Kamu pastinya lebih peduli sama lelaki impianmu itu kan?!”
Lia menatapku dengan nanar.
“Jawab.”
Aku masih mencengkram tangan Lia, dan menatapnya tajam, menunggu jawaban Lia atas pertanyaanku yang lebih kepada sindiran untuk Lia.
“Kalau iya, kamu mau apa?”
Jawaban Lia padaku. Didetik dimana aku berusaha keras untuk menahan emosiku, untuk tidak melebihi batas perlakuanku padanya.
Aku mengepalkan dengan kuat tangan kananku, agar ia tidak melayang ke pipi Lia. Sungguh, aku tidak pernah se – emosi ini dalam hidupku.
“Sekarang kamu yang jawab, kalau iya – kalau aku lebih peduli sama Irsyad, kamu mau apa?—“ sinis Lia dengan seolah menantangku.
Mengapa kamu terlalu menguji emosiku Lia?.
**
Bersambung ..
__ADS_1