
Selamat membaca....
***
“Kamu...... Sudah menikah? .....”
Malia sedang berada di sebuah restoran sushi di bilangan Jakarta.
Seorang pria dari masa lalu Malia tahu-tahu muncul dihadapan Malia saat istri Reiji itu telah duduk didalamnya.
Kini, Malia dan pria dari masa lalunya yang bernama Irsyad itu telah duduk bersama di meja tempat Malia berada.
Berbasa-basi sedikit, hingga akhirnya sampai pada Irsyad yang bertanya mengenai status Malia sambil pria itu melihat ke arah tangan kiri Malia, dimana memang ada cincin pernikahannya dan Reiji yang tersemat pada jari manisnya.
Malia tidak langsung menjawab.
Istri Reiji itu mengetahui jika Irsyad tadi melihat pada cincin kawin di jari manisnya.
“Iya. Aku sudah menikah, Kak..”
Malia melirik sekilas pada cincin kawinnya, baru ia langsung menjawab pertanyaan Irsyad, dengan menampakkan senyuman tipis pada Irsyad.
“Wow, kejutan sekali ...”
Irsyad berucap sambil melirik pada Malia. Sorot mata laki-laki itu yang tadinya terlihat berbinar bertemu Malia, nampak berubah.
Disebrang Irsyad, Malia memperhatikan gerak-gerik laki-laki itu dengan agak seksama. Tangan Malia yang tadi berada di atas meja, kini telah berada di atas kedua pahanya.
“Cong-rats ya?” ucap Irsyad kemudian. Senyuman sangat tipis tampak di sudut bibirnya.
“Makasih.” Sahut Malia. Lalu suasana menjadi sedikit canggung bagi keduanya.
✨
Malia dan Irsyad sama-sama bingung harus berkata-kata. Keduanya seolah larut dengan pikiran mereka masing-masing, hingga kemudian waitress mengantarkan pesanan Malia ke mejanya. Malia tersenyum tipis pada pelayan yang menyajikan pesanannya, setelah semua pesanan Malia telah tersaji dihadapannya.
“Ikut makan yuk, Kak? ...” ucap Malia, yang memecah keheningan antara dirinya dan Irsyad.
“Thanks, Lia.”
Irsyad menyahut.
“Aku kan bilang kalau aku udah makan tadi.”
“Oh iya ...” Malia tersenyum canggung.
**
“Makan, Kak ...”
Malia bersuara, setelah ia memegang sepasang sumpit di tangannya.
“Iya, silahkan, Lia ...” sahut Irsyad.
Lalu terdengar Irsyad berdehem pelan.
“Ehem, Lia ...” Kemudian Irsyad menatap Malia sambil juga memanggil Malia.
“Aku kayaknya harus pamitan ini.” kata Irsyad. “Ada kumpul keluarga.”
“Oh, oke.”
Malia menyahut.
“Sampai bertemu lagi ya, Lia? ...”
Irsyad bangkit dari duduknya dan Malia juga melakukan hal yang sama.
*
MALIA
Irsyad tak lama undur diri setelah pesananku sudah disajikan oleh salah seorang pelayan restoran sushi favoritku ini. Tepatnya, setelah ia bertanya padaku apa aku sudah menikah.
Dimana hal itu Irsyad tanyakan setelah aku rasa ia menyadari jika ada sebuah cincin berlian yang modelnya jelas sekali memperlihatkan jika itu adalah cincin kawin yang melingkar pada salah satu jari manisku.
“Sampai bertemu lagi ya, Lia? ...” Irsyad yang telah berdiri dari duduknya itu berkata padaku.
Apa Irsyad bilang? Sampai bertemu lagi? Apa iya kami harus bertemu lagi? ...
Tidak! Seharusnya jangan ada lagi pertemuan setelah ini diantara aku dan Irsyad.
“Iya, sampai bertemu, Kak ...” tapi kalimat itu yang keluar dari mulutku. Aku tidak tahu harus berkata apa habisnya.
Jadi kalimat itu yang spontan saja keluar dari mulutku sebagai balasan, saat Irsyad menyalamiku, lalu pergi setelahnya.
Hanya sekedar basa-basiku. Iya, hanya basa-basi.
Lagipula, bagaimana bisa bertemu lagi? Irsyad bahkan tidak menanyakan nomor ponselku yang baru ini.
Rasa-rasanya juga sepertinya Irsyad tidak tahu jika aku telah mengganti nomor kontak ponselku dengan nomor baru, karena ponsel lamaku telah hilang digondol copet.
Tidak tahu dan tidak akan ngeh jika aku telah berganti nomor ponsel, karena ia memang tidak pernah menghubungiku lagi, atau hanya sekedar bertanya kabar melalui pesan.
Kan, memang begitu?.
Ah sudahlah.
Memang tidak seharusnya aku dan Irsyad bertemu lagi setelah pertemuan yang tidak disengaja ini.
Semua tentang Irsyad sudah sepatutnya aku lupakan, aku lepaskan.
Jadi tidak perlu ada pertemuan yang lain lagi setelah ini dengan Irsyad.
Tapi, nyatanya, di sudut hatiku ini, aku ingin, berharap untuk bisa bertemu lagi dengannya.
Setidaknya, bukankah aku dan Irsyad harus bicara dulu, sebelum aku mencetuskan ‘perpisahan’ dengannya?.
Agar tidak ada ganjalan diantara kami. Untukku terutama.
*
Malia membeku di tempatnya, setelah Irsyad menyalaminya lalu berbalik pergi dari hadapan Malia begitu saja.
Malia bergeming sampai sosok Irsyad yang Malia perhatikan berjalan pergi melalui punggung laki-laki itu yang menghilang setelah melewati pintu restoran sushi favorit Malia tersebut.
‘Apa kita akan bertemu lagi, Kak?’
Malia membatin.
Baru setelahnya Malia kembali duduk di tempatnya semula.
‘Apa harus kita bertemu lagi?’
***
MALIA
Aku telah berada di apartemenku saat ini.
__ADS_1
Dan aku segera membersihkan tubuhku sesampainya aku di tempat tinggalku ini setelah menikah dengan Reiji.
Aku pergi dengan cepat dari restoran sushi favoritku, tak lama setelah aku lihat sosok Irsyad menghilang dari pandanganku. Bahkan sushi yang sudah aku pesan dan tersaji saat di restoran tadi, tidak jadi aku santap disana, akibat selera makanku yang tiba-tiba menghilang.
Jadilah aku meminta waitress restoran tersebut untuk membungkusnya saja, bersama dengan beberapa varian sushi lain yang aku pesan lagi untuk aku sajikan pada Avi nanti.
Selera makanku hilang, karena Irsyad. Entah selera makanku tahu-tahu menghilang begitu saja karena aku bertemu dengannya, atau karena pertemuanku dengan Irsyad yang singkat saja?.
Entahlah.
Memang apa yang aku harapkan?.
Toh Irsyad ‘meninggalkanku’ begitu saja.
‘Meninggalkanku’ seperti dahulu, saat ia memutuskan akan pergi ke London dan tinggal disana, setelah perusahaan impian Irsyad ternyata menerima lamaran kerjanya. Tanpa pernah Irsyad membahas tentang hubungan kami, yang memang tak pernah jelas statusnya.
HTS?.
Alias Hubungan Tanpa Status.
Atau,
TTM?
Teman Tapi Mesra?.
Entahlah, aku juga tidak tahu hubungan apa yang pernah aku jalani bersama Irsyad.
Yang jelas, hari ini saat aku bertemu dengannya lagi setelah sekian lama, Irsyad lagi-lagi ‘meninggalkanku’ tanpa banyak kata.
‘Meninggalkanku’ begitu saja, sama seperti dahulu. Disaat Irsyad memutuskan untuk pergi ke London dan menetap disana, demi mengejar mimpinya.
‘Meninggalkanku’ demi mimpinya, dimana mimpiku menjadi tidak berbentuk karenanya. ‘Meninggalkanku’ tanpa kepastian apa-apa mengenai hubungan kami.
Yah, jangankan sebuah kepastian. Irsyad bahkan tidak berbasa-basi, memberikan iming-iming padaku atas sebuah harapan mengenai hubungan kami.
Harapan, untuk menunggunya, misalkan?.
Karena seandainya jika Irsyad melakukan itu, aku tidak akan menerima perjodohanku dengan Reiji.
Saat ini, aku tidak akan menyandang gelar sebagai Nyonya Reiji Shakeel.
Ah ya Tuhan, kenapa aku jadi semakin tenggelam pada kenangan masa laluku dan Irsyad?.
Well, bicara tentang hubungan masa lalu.
Tentang status hubunganku dengan Irsyad yang entah apa dan bagaimana, aku teringat pada hubungan masa lalu Reiji dan sahabat perempuannya yang pernah aku tuding, jika mereka memiliki hubungan berupa Teman Tapi Mesra.
TTM...
Ingat TTM, aku jadi ingat Reiji. Ingat tentang tuduhanku tentangnya dan sahabat perempuannya.
Sekarang, jika Reiji tahu tentang kisahku dan Irsyad, mungkin dia akan menertawaiku, atau juga mengataiku.
Aku dengan enteng mengatai Reiji yang TTM-an dengan Shirly, tapi tak bercermin pada diriku sendiri.
Ingat Reiji, aku jadi mengingat satu hal....
Haruskah aku menceritakan soal Irsyad padanya?.
Pada suamiku itu?.
***
“Jadi gimana menurut lo soal Marco, Jeng? ....” Avi telah berada di apartemen Malia dan Reiji.
“......”
Avi berseru sambil menjejalkan sepotong sushi yang sedang ia nikmati saat ini ,ke bibir Malia.
“Ish!”
Malia mendesis, lalu mencebik pada Avi yang terkekeh kemudian.
“Ya elo! ....” protes Avi. “Siapa suruh bengong!” sambungnya.
Malia berdecak kecil, lalu mencomot satu potong sushi yang kemudian ia langsung masukkan ke mulutnya setelah ia mencocolkannya terlebih dahulu ke kecap asin yang sudah dicampur dengan saus teriyaki, cabai bubuk dan wasabi.
“Kenapa sih lo?” tanya Avi karena Malia yang tadi ia lihat sedang melamun.
Malia menggeleng. “Ga apa-apa...” jawab Malia dengan mencoba santai dihadapan Avi.
“Lia, Lia.... kek gue baru kenal lo kemaren aja!....” tukas Avi, lalu ia memasukkan lagi satu potong sushi ke mulutnya.
‘Gue cerita soal pertemuan gue sama Irsyad tadi ke Avi, ga ya?....’
Malia membatin. Seraya ia menimbang-nimbang.
“Btw tadi lo nanya apaan? ....”
Malia bertanya pada Avi, yang sepertinya saat ia sedang melamun tadi, Avi mengajukan pertanyaan padanya.
“Pendapat lo soal Marco ....” jawab Avi.
“Oh.” Tanggap Malia atas jawaban Avi. “Ganteng.”
“Hati-hati muji laki-laki laen di depan Abang gue. Cembokur dia, berabe.”
Celetukan Avi membuat Malia mendengus geli kemudian. “Btw si Marco itu cowok yang waktu itu lo ceritain ke gue bukan, sih?”
“Iyap!” sahut Avi mantap.
“Bukannya kata lo dia nyebelin?”
Malia kini tak lagi memikirkan soal Irsyad.
Yah setidaknya saat ini.
Malia berpikir lebih baik dia menikmati waktunya bersama Avi, mendengarkan cerita cinta sahabat yang merangkap sebagai adik ipar Malia itu saja saat ini.
“Emang!” sahut Avi lagi.
“Nah jadinya lo mau pacaran sama dia?”
Malia mencomot lagi satu potong sushi yang kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya.
“Selain dia ganteng.” Malia menyambung ucapannya.
Avi cengengesan terlebih dahulu sebelum menjawab Malia.
“Tajir dan royal!”
Dan satu toyoran pun mendarat di kepala Avi dari tangan Malia.
Avi terkekeh kemudian.
“Matre ga ilang-ilang!” cibir Malia.
Dan Avi terkekeh lagi. “Tapi dia kukuh juga sih ngejar gue. Trus romantis ternyata.”
__ADS_1
“Jadi kapan?”
“Kapan apanya? ....” Avi menjawab pertanyaan Malia dengan balik bertanya.
“Ngikutin jejak gue ....”
“Nikah? ....” tanggap Avi.
“Hum ....”
Malia manggut-manggut, sambil lagi melahap sepotong sushi.
Avi mendengus geli.
“Ya elah Ya’, gue pacaran ama Marco aja baru sehari,” ucap Avi. “Masa udah mikirin nikah aja?”
“Ya kali ....” gumam Malia namun tidak pelan.
“Gue sih tergantung dia aja, Ya’ .... kalo Marco emang ngebahas soal pernikahan, trus emang dia mau ngajak nikah cepet, ya gue bakal iya-in ....” Avi berucap.
Malia pun manggut-manggut lagi.
“Eh iya Ya’! ....” panggil Avi.
“Apa? ....” sahut Malia.
“Kemaren waktu gue lagi nemenin Marco nemuin kliennya, gue kayak ngeliat mantan lo deh.”
Malia langsung mengangkat alisnya, menatap pada Avi. “Mantan?. Sejak kapan gue punya mantan? ....”
Lalu Malia berucap.
Avi terkekeh lagi. “Oh iya gue lupa, kalo kakak ipar gue kan mantan jones ....” kata Avi kemudian.
“Jojoba.” Sambar Malia. “Sembarangan aja bilang gue jones ....”
“Iya, oke, oke.” Tukas Avi, menanggapi protes Malia barusan yang meralat sebutannya.
Lalu Malia mengkode Avi untuk melanjutkan ucapan sahabat merangkap adik iparnya itu sebelumnya.
“Yang lo maksud mantan gue itu siapa? ....”
“Irsyad!”
Dan didetik berikutnya Malia menjadi sedikit kikuk. Avi melirik, guna melihat reaksi Malia.
“Darimana lo berpikir itu dia?”
Malia menormalkan ke-kikuk-kan-nya.
“Ketemu aja ga pernah lo sama dia ....”
Malia melanjutkan ucapannya, kembali mencomot sepotong sushi, lalu meraih remote televisi untuk mengganti channel.
“Ye, biar gue ga pernah ketemu atau kenalan sama itu si Irsyad, gue kan tau mukanya.” Sambar Avi. “Lo kan kolektor foto-foto si Irsyad waktu jaman kuliah dulu!”
“Hum ....” tanggap Malia.
“Tapi gue yakin sih kalo itu Irsyad yang sama yang pernah menjadi pujaan hati lo itu ....”
“Emang itu dia.”
Avi pun segera memfokuskan matanya pada Malia, selepas mendengar ucapan Malia barusan. “Jadi lo udah ketemuan sama dia?” tanya Avi setelahnya.
“Ga sengaja ketemu. Tadi, waktu gue lagi di Groove.”
Malia tersenyum tipis seraya menoleh pada Avi.
Lalu Malia terkekeh miris.
“Setelah sekian lama ....” lirih Malia. Avi pun menarik sudut bibirnya.
Lalu sahabat Malia yang merangkap juga sebagai adik ipar Malia itu, mengelus pelan lengan Malia. Karena sedikit banyak, Avi tahu bagaimana perasaan Malia pada pria bernama Irsyad itu.
“Are you okay? ( Lo baik-baik aja? ) ....” tanya Avi.
Malia hanya tersenyum tipis.
Lalu Malia mengangguk pada Avi.
Menutupi, bahwa sebenarnya hati Malia sedang tidak baik-baik saja.
“Terus pas ketemu dia tadi, gimana?”
Avi kembali bertanya, lalu Malia menghela nafasnya.
“Ya ga gimana-gimana. Cuma ngobrol sebentar itu juga. Just say Hello aja.” Malia menjawab seadanya. Dan ya memang sedikit banyak singkat saja ia berbicara dengan Irsyad saat mereka bertemu tadi.
“Dia tahu lo udah nikah? .....”
Avi kembali bertanya, dan Malia mengangguk.
“Dia liat cincin kawin gue, terus nanya. Ya gue jawab sejujurnya lah,” ucap Malia.
Avi pun manggut-manggut.
“Terus reaksi dia?”
Avi masih mencecar Malia dengan pertanyaan.
“Ngasih gue selamat. Terus dia cus! ....” jawab Malia, kembali berlagak santai dihadapan Avi.
Avi manggut-manggut lagi. “Boleh gue tanya sesuatu? ....” kata Avi seraya bertanya.
Malia mendengus geli. “Dari tadi lo itu ngapain emang? ....” kata Malia dan Avi terkekeh karena paham maksud Malia soal dirinya yang memang mencecar Malia dengan pertanyaan seputar pertemuan Malia dengan Irsyad.
“Maksud gue mau nanya yang lebih spesifik ....” tukas Avi kemudian. “Tapi sebelumnya gue mau tahu dulu soal satu hal.”
“Apa?” tanggap Malia.
“Perasaan lo ke itu cowok apa masih ada?”
Pertanyaan Avi cukup membuat Malia terkejut.
“Udah ga perlu dibahas itu. Udah ga penting, Vi.”
Malia menjawab malas pertanyaan Avi soal perasaannya pada Irsyad.
“Jadi lo udah ga ada perasaan sama dia? ....” tanya Avi lagi.
“Please deh Vi, itu udah ga penting lagi buat dibahas.”
Malia menukas pertanyaan Avi dengan sanggahan, karena memang Malia rasanya malas membahasnya.
“Status gue apa sekarang? .... Jadi mending hal itu jangan dibahas lagi deh.” cetus Malia.
Malia sedang mencoba untuk tegas pada dirinya sendiri atas perasaanya pada Irsyad, semata-mata agar perasaannya tidak terkoyak lagi, mengingat dia sudah menikah saat ini.
‘Karena kalau mau dibahas lagi, gue takut semakin sulit menghilangkan perasaan gue ke Irsyad yang nyatanya masih ada ....’ batin Malia. ‘Sorry Vi ....’ lirih Malia dalam hatinya. ‘Sorry, Rei ....’
__ADS_1
***
Bersambung ...