WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 246


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


“Kamu ga punya nomor telfon orang kantornya Lia, Ji?” Adalah papanya Reiji yang bertanya pada putranya itu, setelah ia dan mamanya Reiji datang, tak lama setelah Reiji menghubungi papanya untuk bertanya lagi soal Malia sekaligus menceritakan masalah yang sebenarnya.


Reiji menggeleng lesu seraya menjawab, “Engga, Pa...”


Dimana kemudian Reiji mendapat protes kecil dari mamanya. Dan Reiji langsung menghela nafas frustasi.


“Tapi aku tau harus cari tahu ke siapa.” Reiji tak lama kemudian bersuara, dengan wajah yang sedikit sumringah, karena ia teringat pada Andra.


Dan Reiji segera meraih ponselnya dengan bersemangat.


“Ga ada yang tau. Lia ga ada hubungi mereka dari sejak pulang kantor.”


Reiji berucap lesu, karena setelah ia menghubungi teman lamanya yang adalah bos Malia di kantor istrinya itu, Reiji mendapatkan semua nomor telefon rekan kerja Malia yang ada di divisi yang sama dengan Malia, namun setelah menghubungi satu-satu dari mereka----tak ada satupun yang tahu perihal keberadaan Malia saat ini.


“Ya udah kita tenang dulu.”


Papanya Malia kemudian berucap, setelah mendengar penuturan Reiji yang telah menghubungi satu-satu rekan kerja Malia yang bekerja di divisi yang sama dengan putri tunggal mereka itu, namun nihil hasilnya tentang keberadaan Malia, pun petunjuk untuk itu.


“Papa udah hubungi Om Fakih. Dia akan bantu cari Lia,” tambah papanya Malia. “Nanti ada anak buahnya yang akan telefon minta informasi---“


**


REIJI


Aku sudah rasanya amat sangat tak karuan karena belum mendapat sama sekali petunjuk soal keberadaan Lia.


Informasi yang di dapat dari kerabat Lia yang seorang aparat dengan posisi yang cukup berpengaruh, baru sampai perihal Lia yang menaiki taksi setelah keluar dari apartemen Irly.


Pun informasi mobil yang mengantar Lia yang menurut mama mertuaku dan aku sepakat dengannya, bisa jadi itu sebuah mobil yang merupakan taksi online. Namun begitu, tetap juga sedang diselidiki nomor polisinya dan sebagainya seperti halnya taksi yang Lia naiki dari lobi gedung apartemen Irly.


Tapi proses itu lama sekali menurutku, yang sedang dirundung kegelisahan yang amat sangat ini----pun, khawatir dan takut tentang keadaan Malia. Hanya saja mau bagaimana?


Aku sendiri tiada daya memiliki sesuatu yang canggih yang bisa mendeteksi keberadaan Lia seperti di film-film, selain aku sangat menyesal juga kenapa aku tidak memasang tracker standar di ponsel Lia----atau langsung bertanya pada Andra tentang perangkat pelacak ponsel yang canggih yang katanya ia gunakan ke istrinya dengan harga yang cukup mahal namun sangat akurat. - Kata Andra.


Dan aku akan meminta Andra untuk memesankannya setelah ini----setelah Lia ketemu, tak peduli seberapa mahal harga perangkat pelacak canggih itu. Tidak mungkin seharga rumah mewah, kan?...


Disela kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutanku soal keadaan Lia yang pikiran burukku bisa saja dia menjadi korban penculikan. Tapi bertanya-tanya juga, kenapa harus ada yang menculik Lia sementara baik aku dan keluargaku serta orang tua Lia sendiri bukanlah orang-orang penting dalam negeri yang kami tinggali ini.


Saingan bisnis papaku atau papa mertuaku?


Rasanya bukan, karena keduanya hanya menjalankan bisnis yang bukan bisnis dari sebuah perusahaan yang teramat besar ataupun berpengaruh.


Baik papaku atau papa mertuaku bukanlah seorang CEO dari perusahaan yang kiranya memiliki saingan bisnis berbahaya. Dan lagi, jika Lia diculik pun----belum ada telepon misterius yang meminta uang tebusan.


Bicara tentang CEO sebuah perusahaan besar,  “Semendesak apa urusan keluarga anda, Pak Rei?...” aku mendapatkan telefon dari yang bersangkutan. Anak dari para tuan besar dari satu keluarga yang mempekerjakanku sebagai pilot pribadi mereka.


Yang menghubungiku, karena aku mendadak menolak untuk menjalankan tugas, sekaligus aku minta libur selama dua atau tiga hari.


Dimana bayang-bayang pemecatan sudah menari-nari di kepalaku saat satu tuan muda yang katanya pewaris utama dari keluarga yang mempekerjakanku itu sedang menghubungiku saat ini.


Terserah jika satu tuan muda bernama Alvarend ini menganggapku mengada-ada tentang alasanku yang menolak jadwal tugas serta minta cuti mendadak, tapi aku sudah jujur padanya tentang alasanku.


Meskipun aku tidak menceritakannya secara detail.


Namun alih-alih aku mendengar tawa ejekan dari tuan muda yang bernama Alvarend, karena aku sudah berpikir pasti dia menganggap alasanku itu masuk akal, “Kau datang ke kediaman keluargaku sekarang,”


Tuan Alvarend malah berkata seperti itu padaku.


**


"A-apa, Tuan?"


Reiji terkesiap setelah mendengar ucapan dari salah satu orang yang ia katakan sebagai bos besarnya itu, selain Reiji merasa sedikit bingung.


Namun kebingungan Reiji itu kemudian tertunda, ketika Reiji mendengar salah satu bos besarnya itu lagi berucap, "Kau datang ke kediaman keluargaku dan temui aku di sini."


Tapi Reiji jadi tertegun, dimana ia terdiam untuk sejenak. “Tapi saya sedang menunggu kabar dari polisi.“


Tak lama Reiji berucap, menanggapi ucapan satu bos besarnya itu.

__ADS_1


Karena memang itu yang sebenarnya.


Meski rasanya lama sekali Reiji merasakan informasi dari polisi yang membantunya mencari Malia, tapi Reiji harus tetap berada di tempatnya sekarang----agar jika keberadaan Malia telah ditemukan, Reiji akan langsung melesat ke sana.


Walaupun kapan waktunya, Reiji tidak tahu.


Yang jelas Reiji harus sabar menunggu, mau tidak mau.


Dan Reiji ingin berada di tempatnya saja saat ini,  dirumah orang tua Malia.


Karena papa mertuanya aktif berkomunikasi dengan kerabatnya yang seorang aparat berpangkat tinggi di kepolisian----dimana yang bersangkutan sedang mengerahkan beberapa anak buahnya.


Jadi Reiji tidak mau rasanya beringsut dari rumah kedua orang tua Malia itu.


Tapi kemudian, Reiji dibuat terkesiap lagi setelah salah satu bos besarnya yang masih terhubung dengan Reiji di sambungan telefon ponselnya itu bilang,


“Datang ke kediaman keluargaku sekarang jika kau ingin cepat menemukan istrimu.”


"A-apa, Tuan?"


Reiji tergugu, bertanya memastikan pendengarannya.


“Datang ke sini jika kau ingin menemukan istrimu lebih cepat dari polisi.”


**


Reiji yang tergugu setelah mendengar ucapan salah satu bos besarnya yang mengatakan jika dirinya ingin tahu dengan segera keberadaan Malia, maka dia diharuskan datang ke rumah bos besarnya itu----pada akhirnya tidak berpikir apa-apa lagi selain mengegaskan langkahnya untuk pergi ke rumah bos besarnya tersebut, setelah mendengar ucapan sang bos besar yang terdengar begitu meyakinkan----mengatakan jika yang bersangkutan dapat membantu Reiji menemukan Malia lebih cepat dari penegak hukum yang sedang bekerja mencari tahu keberadaan Malia saat ini.


Reiji memilih untuk pergi sendiri ke rumah bos besarnya itu, walau papanya dan papa mertuanya mengajukan diri untuk ikut serta bersama Reiji. Namun Reiji mengatakan pada kedua pria tersebut, jika dirinya saja yang datang sendiri ke rumah bos besarnya itu.


“Reiji sendiri aja. Bos Rei ini orangnya susah ditebak. Takut dia ga suka kalo aku bawa orang lain bersama aku ke tempatnya, andai dia bisa beneran bantu seperti yang dia bilang----nanti dia malah berubah pikiran kalo aku dateng ga sendirian---“


“Ya dia pasti bisa paham lah, kamu dateng sama ayah kamu dan ayah mertua kamu yang sama khawatirnya sama kamu soal Lia...”


Papanya Reiji menukas ucapan Reiji yang terlihat ragu untuk mengajaknya, serta sang besan lelaki ke rumah bos anak lelakinya itu. Dimana ucapan papanya Reiji itu diaminkan oleh tiga orang tua yang lain.


“Aku akan mengabarkan apa yang aku dapat di sana nanti,” ucap Reiji. “Kalian tunggu saja di sini.”


“Ya sudah.”


Orang tua dan mertua Reiji pun mengangguk. “Sekecil apapun kabar, kamu langsung hubungi kami.” Papanya Malia kemudian berujar.


“Iya, Pa---“


**


REIJI


Aku sudah sampai di kediaman Tuan Alvarend yang ia sebut sebagai kediaman keluarganya itu, setelah aku mengiyakan ucapan beliau untuk datang ke kediaman keluarganya dengan segera.


Sebuah hunian super mewah dan megah, namun tak semegah kediaman mereka yang berada di London, yang bahkan memiliki helipad dan danau di dalamnya.


Tapi untuk ukuran di Jakarta, kediaman Tuan Alvarend dan keluarganya itu sungguhlah sangat-sangat ‘Wah’.


Terlalu ‘Wah’ bahkan.


Saking ‘Wah’ nya, aku sampai merinding membayangkan seberapa kayanya Tuan Alvarend dan keluarganya itu sampai bisa membangun dua hunian mewah dan megah mereka itu----belum lagi banyaknya aset transportasi mereka yang jauh dari yang namanya standar.


Entah bagaimana nyari duitnya itu mereka.


Tapi bagaimanapun cara mereka mendapatkan kekayaan mereka itu, yang jelas aku sungguh bersyukur dapat bekerja sebagai pilot pribadi satu keluarga yang memberi gajinya ga kira-kira.


“Selamat malam, Pak Reiji...” seorang laki-laki bertubuh tegap yang merupakan salah seorang bodyguard keluarga Tuan Alvarend yang aku kenal, menyapaku. Nampak seperti memang sudah menungguku.


“Malam, Mas Achiel.”


Aku membalas sapaan bodyguard bernama Achiel itu.


“Mari, Pak. Sudah ditunggu,” ucap Achiel padaku, yang kemudian berjalan di depanku.


“Duduk, Rei.” Aku kemudian dipersilahkan duduk oleh salah seorang ayah angkatnya Tuan Alvarend yang juga ada saat aku masuk ke dalam kediaman keluarganya itu,  setelah kami saling menyapa dan aku menyalami mereka.


Tuan Alvarend sendiri dan dua orang ayah angkatnya sudah duduk di ruang tamu yang rasanya hampir seluas apartemenku itu, ketika aku diantar Achiel untuk masuk.

__ADS_1


Ada beberapa orang lain yang bersama mereka, yang aku tahu adalah orang kepercayaan dari Tuan Alvarend dan para ayahnya.


Lalu ada juga beberapa bodyguard yang berdiri tegak dan siaga di tempatnya.


Aku merasa bak sedang berada di markas Mafia, meskipun aku sudah tidak aneh dengan keberadaan para bodyguard di sekeliling Tuan Alvarend dan keluarganya.


Tapi saat ini, auranya sedikit berbeda.


“Bisa aku minta nomor telfon istrimu?”


Tuan Alvarend yang bertanya padaku, setelah aku sempat perhatikan jika ia memperhatikan wajahku dengan seksama.


“Iya, tentu. Tuan.”


“Ka. Urus,” begitu ucap Tuan Alvarend kemudian pada satu orang kepercayaannya yang juga aku kenal.


**


“Taksi yang istri anda dari komplek apartemen yang anda bilang, mengantarnya ke SBR,” ucap orang kepercayaan Tuan Alvarend setelah aku memberikan nomor kontak Lia, beberapa menit kemudian, sambil juga aku menceritakan kronologis menghilangnya Lia, walau tidak secara gamblang di hadapan Tuan Alvarend dan beberapa orang yang ada bersamanya itu.


Selanjutnya, aku dibuat takjub.


Karena rasanya kurang dari lima menit saja informasi itu Kafeel katakan, setelah ia fokus pada sebuah tab yang dipegangnya.


“Ini kan, istri anda?...” ucap orang kepercayaan Tuan Alvarend yang bernama Kafeel itu, setelah ia menyebutkan tempat Malia singgah selepas dari apartemen Irly, sambil menunjukkan layar tabnya yang ia pegang padaku.


“I-iya, benar...”


Aku yang tadinya masih agak ragu dengan informasi yang diberikan laki-laki bernama Kafeel itu, akhirnya tak lagi ragu--karena wajah Lia yang memasuki sebuah restoran merangkap bar di salah satu gedung tersohor di Jakarta itu nampak jelas sekali.


Sementara aku takjub dengan kemampuan mereka mendapatkan informasi soal Lia dalam hitungan menit, Kafeel berikut Tuan Alvarend nampak fokus lagi dengan tab mereka.


Aku sesekali di tanya oleh dua ayah angkat Tuan Alvarend, sementara yang bersangkutan banyak diamnya.


Yah, memang seperti itu sih Tuan Alvarend pembawaannya. Tak banyak bicara. Pun kalau bicara, to the point saja.


Tapi auranya sebagai seorang pemimpin jelas terlihat, padahal dia dua tahun lebih muda di bawahku.


Aku banyak diam, memperhatikan saja Tuan Alvarend dan Kafeel yang nampak fokus dengan tab berbeda di tangan mereka.


Dan dua ayah angkat Tuan Alvarend juga masing-masing kini fokus berpasangan bersama Kafeel dan Tuan Alvarend sendiri memperhatikan dua tab yang sedang dikutak-katik itu.


“Istrimu datang sendiri ke SBR,” ucap Kafeel selang beberapa menit kemudian. “Tapi meninggalkan tempat itu bersama seorang pria.”


Dimana perkataan Kafeel itu membuat rahangku langsung mengeras.


Kemudian Kafeel menyodorkan tab yang ia pegang itu padaku. “Anda kenal dengan pria ini?...”


Rahangku semakin mengetat ketika aku melihat gambar seorang pria di layar tab yang Kafeel sodorkan padaku.


Irsyad.


Dimana si bibit pebinor itu sedang merangkul istriku di depan sebuah lift.


Jangan bilang setelah ini keduanya pergi ke hotel.


Karena aku tidak akan bisa menahan diriku.


“Istrimu ada di sebuah Villa di satu daerah di Puncak.”


Ucapan Tuan Alvarend semakin membuat emosiku sampai ke ubun – ubun.


"Bersama pria itu sekarang ini..."


Beginikah cara Lia membalasku yang ia pikir selingkuh dengan Irly?!... Dengan kembali menjalin hubungan dengan Irsyad, bahkan lebih parah?!...


“Jangan berprasangka buruk dulu pada istrimu...”


Suara Tuan Alvarend terdengar.


Entah bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan.


“Dia bersama pria itu diluar kuasanya, karena *s*he was sedated ( Dia telah dibius )” ucap Tuan Alvarend, dan aku membeku seketika.

__ADS_1


****


Bersambung.....


__ADS_2