WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 245


__ADS_3

Selamat membaca....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Tolong segera tinggalkan aku sendiri,”


Adalah Malia yang bicara pada Irsyad, yang sudah menculiknya itu.


Dimana Malia ingin sekali menyergah setiap ucapan Irsyad yang sudah ngaco bagi Malia, lalu memakinya habis-habisan.


Namun ucapan Irsyad yang terdengar bak ancaman bagi Malia, membuat Malia urung untuk menyergah ucapan Irsyad.


Jadi Malia memilih untuk tidak menanggapi ucapan Irsyad, agar pria yang Malia sudah anggap gila itu segera pergi dari hadapannya.


Semata-mata, untuk menjalankan rencana yang sudah ada di otak Malia.


**


Malia yang sudah mengingat perihal tas kerjanya, langsung mencari benda tersebut setelah Irsyad meninggalkannya sendiri, sekaligus menguncinya di dalam kamar tempat Malia terbangun dari ketidaksadarannya itu. Lalu Malia dilanda kepanikan, ketika ia sudah sampai tiga kali menyisir kamar tempatnya berada hingga ke kamar mandinya---namun Malia tidak dapat menemukan tas kerjanya itu.


‘Duuuuuhhhh!!!’ Malia berkesah dalam hatinya, sambil memijat keningnya. ‘Pasti Irsyad yang udah nyita tas kerja gue!.... sialan!’ lalu menggerutu dan mengumpat didetik berikutnya. ‘Tau gitu hp gue kantongin di blazer, bukan gue masukin ke tas!....’ gerutu Malia lagi. ‘Ya Tuhaann, bagaimana ini?... bagaimana aku akan menghubungi Rei dan mengatakan jika Irsyad telah menculikku?...’


Malia gelisah.


Dan otaknya kembali harus Malia paksa untuk berpikir keras sekali lagi, untuk mencari alternatif lain untuk bisa kabur dari Irsyad.


‘Ah iya!’


Malia mendapatkan lagi pencerahan di otaknya.


Sudah yakin seratus persen kalau tas kerjanya itu pasti berada di tangan Irsyad, yang pastinya menurut Malia kalau Irsyad berpikir dengan menahan tas kerja dimana ada dompet Malia yang berisikan kartu identitas dan ponselnya juga, Malia tidak akan mencoba kabur dari tempatnya sekarang, karena Malia pastinya sangat membutuhkan beberapa barang di dalam tas kerjanya itu.


**


“Loncat, loncat deh gue dari balkon....” gumam Malia yang sudah menargetkan sebuah pintu yang terhubung dengan sebuah balkon dalam kamar tempatnya berada.


Malia sudah siap membuka pintu yang terhubung dengan balkon kamar tersebut, dengan dirinya yang sudah mempersiapkan diri untuk kabur. Namun kemudian wajah Malia dilanda kepanikan kembali.


‘Please.... mudah-mudahan cuma macet aja ini pintunya,’ mohon Malia dalam hatinya, sambil berusaha dengan menggunakan tenaganya untuk membuka pintu yang terhubung dengan sebuah balkon dalam kamar tempatnya berada sekarang ini.


Dan kemudian Malia berdecak, karena sudah mencoba beberapa kali untuk memaksa pintu yang sudah ia cengkram kuat knobnya agar terbuka, namun tetap tidak berhasil. Namun Malia tidak habis akal.


“Ya ampuunn.... kenapa pake segala di teralis ini jendela?!” Malia berkesah tajam.


**


Menyesal.


Itu yang menggelayuti hati Malia saat ini, selain was - was dan takut.

__ADS_1


Hatinya memang masih kesal pada Reiji, namun Malia lebih memilih bersama Reiji dengan kekesalannya pada suaminya itu, ketimbang berada di tempatnya sekarang bersama Irsyad yang Malia sudah anggap gila.


‘Rei sadar ga sih, kalau gue ga sekedar kabur dari dia kayak waktu itu????!!!!’ batin Malia yang kini sedang terduduk lesu di pinggir ranjang, setelah usahanya mencari celah untuk melarikan diri itu gagal.


Karena baik pintu balkon ataupun jendela dalam kamar tempat Irysad mengurungnya, tidak ada satupun yang bisa dibuka. Bahkan jendela yang tirainya telah Malia singkap, terpasang teralis besi yang tidak memungkinkan Malia bisa keluar dari sana meskipun jendela tersebut tidak terkunci macam pintu balkon.


‘Atau malah jadi keasyikan menghabiskan waktu di apartemennya itu janda gatel?!’


**


REIJI


Aku sudah berada di rumah mertuaku saat ini.


Setelah aku rasanya putus asa, buntu tentang keberadaan Lia.


Terlebih sudah lewat dari 1 x 24 jam aku masih tidak bisa menghubungi istriku itu yang belum aktif juga ponselnya. Dan aku, sudah berpikir untuk pergi melapor ke kantor polisi saja.


Meskipun otakku masih berpikir jika Lia sedang menghindariku dengan menyembunyikan diri seperti saat dia menghindariku yang tidak datang pada perayaan ulang tahunku yang telah Lia persiapkan.


Sudah mencoba untuk tenang dan menunggu sampai Lia pulang, tapi aku sangat tidak bisa tenang. Jadi cetusan ide dalam otakku untuk membuat laporan orang hilang telah bulat untuk aku wujudkan. Tapi sebelum itu, aku rasa aku perlu jujur kepada kedua mertuaku.


**


“Pa, Ma... maaf. Aku dan Lia sebenarnya sedang bertengkar dari kemarin...” Yang Reiji katakan pada kedua mertuanya setelah ia sampai di rumah orang tua Malia itu.


Reiji menatap dengan sendu kedua mertuanya yang nampak khawatir itu.


Reiji menghela nafasnya dengan berat kemudian, lalu menceritakan detail pertengkarannya dengan Malia kepada kedua mertuanya itu.


**


“Yah, dalam hal ini kamu yang sih yang salah Ji –“


“Iya, Ma –“


“Tapi maaf ya ini Mama ngomong gini, bukan semata – mata karena Lia anaknya Mama sama Papa...”


Mamanya Malia kembali bicara, dimana Reiji mengangguk setelah wanita yang masih nampak cantik dan bugar diusianya itu selesai mengatakan pada Reiji mengenai pendapatnya tentang masalah antara putri dan menantunya itu.


“Iya, Ma. Reiji ngerti –“


“Ya udah, sekarang yang penting kita perlu tau dulu di mana Lia,” ucap papanya Malia.


“Kamu udah telefon Avi, Rei?” tanya mamanya Malia.


“Udah, Ma. Avi sama sekali ga tau Lia dimana. Karena terakhir mereka ngobrol di telefon itu waktu sebelum Lia datengin aku ke tempat temenku itu, itupun via chat –“


“Huum...”

__ADS_1


“Reiji tau Avi ngomong jujur, kalau Lia ga ada ngomong apa – apa soal Lia yang menyembunyikan diri dari Reiji...”


“Ya udah, Papa coba telfon Om Fakih –“


**


REIJI


Aku mendapatkan telepon dari salah seorang bos besarku, di kala aku masih menunggu kabar tentang Lia.


Bos besarku yang bernama Alvarend itu, menanyakanku terlebih dahulu perihal alasanku yang tiba-tiba menolak tugas yang diberikan padaku.


Dan aku pun menjelaskan alasanku, dimana kemudian tak lama Tuan Alvarend bicara dan bilang agar aku datang ke kediamannya dengan segera.


Yang mana aku kemudian mengatakan secara tidak langsung jika aku tidak bisa kemana-mana sebelum aku mendapat informasi terbaru tentang Lia.


Namun kemudian Tuan Alvarend bilang,


“Datang ke kediaman keluargaku sekarang jika kau ingin cepat menemukan istrimu.”


Dimana ucapan Tuan Alvarend yang terakhir itu, membuatku tak lagi berpikir panjang untuk melesat ke rumahnya, yang ia sebut sebagai kediaman keluarganya.


Dan di tempat itulah aku berada sekarang.


Di sebuah hunian mewah, bahkan megah pada satu komplek elite Jakarta.


Dimana kini, aku telah duduk berhadapan bersama Tuan Alvarend dan segelintir anggota keluarganya, serta beberapa orang yang nampak jelas adalah bodyguard.


“Istrimu ada di sebuah Villa di satu daerah di Puncak.”


Yang diucapkan Tuan Alvarend padaku hanya kurang belasan menit aku memberitahukannya nomor ponsel Malia.


Gila!


Secepat itu bisa dia dapatkan informasi tentang keberadaan Lia, padahal dari aparat yang membantuku---aku menghabiskan beberapa jam untuk menunggu kabar soal Lia.


Dan itupun sebatas Lia yang menaiki taksi di lobi gedung apartemen Irly. Yang bahkan nomor polisinya masih diselidiki, walau saat aku berangkat ke kediaman para bos besarku ini, plat nomor taksi berikut nomor taksi yang digunakan lia itu sudah diketahui.


Tapi Tuan Alvarend dan orang-orangnya ini, mendapatkan informasi itu hanya dalam beberapa menit saja.


Bahkan dari penjelasanku, mereka bisa mendapatkan rekaman beberapa CCTV dengan mudah tanpa harus pergi ke apartemen Shirly seperti para polisi anak buah kerabat orang tua Lia yang datang kesana untuk meminta rekaman CCTV dari sejak waktu keberadaan Lia di gedung tersebut.


Dan lebih gilanya lagi, Tuan Alvarend bisa dengan cepat menemukan track taksi yang Lia naiki sampai tahu keberadaan Lia saat ini. Bahkan sampai wajah supir taksi dan data pengemudi itupun ia bisa dapatkan hanya dengan duduk saja.


Wow, amazing sekali!


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2