WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 283


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


“Kenapa?”


Malia yang bertanya pada Reiji, ketika suaminya itu beringsut dari ranjang dan celingukan setelah mengiyakan untuk melakukan syarat yang Malia minta sebagai penebus kesalahan Reiji yang ia anggap sebagai sesuatu yang menggores harga diri Malia sebagai istri Reiji, dengan Reiji yang menafkahi Shirly.


“Lupa naro hp dimana.”


Reiji langsung menjawab pertanyaan Malia.


“Tadi kan kamu dari ruang serbaguna?” cetus Malia setelahnya.


“Oh iya. Aku ambil dulu ke sana,” sahut Reiji.


“Ngomong-ngomong Avi mana, Rei?....”


“Ada di luar.”


“Aku ke luar aja deh kalo gitu.”


“Terus syarat kamu tadi?.... Mau minta aku melakukannya depan Avi juga?....”


“Kalau ga keberatan. Ada saksi lebih bagus, kan?----“


“Noted----“


“Noted buat?”


“Jadiin Avi saksi. Kalau kamu akan berjanji melakukan apa yang aku minta tadi kalau aku menjalankan syarat dari kamu. Fair enough untuk kita berdua.”


***


Reiji melangkah keluar dari kamarnya bersama dengan Malia.


Membuat Avi yang sedang nampak bicara dengan seseorang di seberang ponselnya dengan televisi yang menyala di hadapannya----menoleh ke arah kamar Reiji dan Malia, kala ekor matanya menangkap pintu kamar tersebut terbuka.


Lalu Avi mengulum senyumnya, ketika ia dapat merasakan aura perdamaian di antara Reiji dan Malia saat dua orang itu nampak muncul dari dalam kamar mereka. Dimana Reiji yang melangkah ke lain arah dengan Malia yang melangkah menuju ke arah Avi duduk, sempat mengacak pelan rambut Malia sebelum ia melangkah. Dan Malia nampak tersenyum pada Reiji walau tipis saja.


Jadi Avi yakin, keduanya kini sudah akan baik-baik saja tanpa lagi membuatnya berada di perang antara suami dan istri.


“Udah oke, dah?”


Avi langsung bertanya pada Malia, selepas ia mengakhiri pembicaraannya di ponselnya itu.


“Hum,” dehem Malia sambil menggerakkan dagunya seraya mengambil tempat di sofa panjang yang sama dimana Avi duduk.


Avi pun tersenyum kemudian. “Apa ada perjanjian Linggarjati?....” Selorohan Avi langsung membuat Malia terkekeh kecil.


“Ga ada yang gratis di dunia ini, ya kan? Apalagi soal suami yang udah ngebohongin istri plus nafkahin bibit pelakor----“


“Makanya gue bilang, lo jangan kasih julukan si Shirly begitu. Kejadian kan itu pere jadi bibit pelakor diantara lo sama abang gue? Terus begini jadinya. Lo kalo ribut sama Bang Rei pasti gegara dia.”


Avi mengeluarkan sedikit protes dan gerutunya pada Malia.


“Ya abis menurut gue itu julukan yang cocok buat dia,” sahut Malia.


“Terus btw lo berdua bikin perjanjian apaan?....”


“Gue kasih abang lo syarat lebih tepatnya.”


“Syarat apaan?“ tanya Avi langsung.


“Bentar lagi juga lo paham,” jawab Malia.


Lalu Malia dan Avi langsung sama-sama terdiam saat melihat penampakan Reiji yang sedang melangkah mendekati keduanya.


***


Reiji langsung menyelempitkan dirinya diantara Malia dan Avi setelah ia keluar dari ruang serbaguna dan melangkah mendekati dua perempuan yang sedang duduk bersama di sofa panjang pada ruang santai yang merangkap ruang tamu dalam apartemen Reiji dan Malia.

__ADS_1


Dimana gerutuan Avi terus terdengar. “Ya ilah Bang, itu ada dua sofa nganggur. Ngapain nyempil di sini sih??—“


“Tempat gue, suka-suka gue—“


“Ck—“


“Btw telfonan sama siapa lo tadi jam segini?”


“Pacar gue lah. Emang gue si Shirly yang suka nelponin laki orang?—“


“Udah adem nih. Ga usah jadi kompor....”


Reiji menukas ucapan Avi sambil mendelik tajam pada adiknya itu.


Avi pun langsung menunjukkan cengirannya pada Reiji. “Iya sorry, sorry....” kata Avi kemudian.


“Lama banget ngambil hp? ‘diamanin’ dulu?....” lalu suara Malia terdengar, tak lama setelah Avi berujar cengengesan pada Reiji barusan.


“Hpnya ketelisut di pinggiran sofa, jadi aku cari dulu makanya agak lama. Jangan curiga lagi dong? aku udah kapok, Yang. Kamu udah sempet nyeremin kayak tadi ga mungkin aku coba cari perkara lagi—“


“Ya kali....” tukas Malia sambil menahan gelinya karena kata-kata Reiji yang mengatakan dirinya menyeramkan.


Yang mana Malia paham jika maksud Reiji tentang dirinya yang ‘nyeremin’---kalau kata Reiji barusan, adalah saat Malia marah-marah dengan mencecar Reiji untuk menjatuhkan talak padanya.


Avi pun terkekeh kecil tanpa suara ketika mendengar kakak lelakinya itu nampak memelas saat bicara pada Malia sekarang---selain merasa geli juga karena kata ‘nyeremin’ yang Reiji katakan soal kemarahan Malia pada kakaknya itu beberapa saat yang lalu.


“Buka WA lo, liat waktu last seen gue.”


Reiji lalu berbicara lagi pada Avi---sengaja memang, agar menjadi bukti pada Malia bahwa alasan mengapa dia agak lama keluar dari ruang serbaguna untuk mengambil ponselnya adalah yang sebenarnya.


***


REIJI


“Aku ga ada maksud nyindir kamu ya, Yang?....”


Aku langsung beralih pada Lia setelah aku meminta Avi untuk mengecek waktu aktifku dalam aplikasi chat di ponselnya.


Tambahan ucapanku pada Lia dengan ekspresi sungguh-sungguh yang sesungguhnya. Lalu Lia sedikit menerbitkan senyum tipisnya padaku.


Bukan tanpa sebab aku melakukan itu, yang mana memang tidak ada maksud untuk menyindir Lia yang begitu curigaan. Karena aku justru ingin membuktikan padanya kalau aku jujur hanya mencari ponsel yang ternyata ketelisut dalam pinggiran sofa di ruang serbaguna yang sempat aku duduki bahkan rebahan di sana.


Dan setelah menemukannya aku langsung keluar tanpa mengutak-atik lebih dulu ponselku itu.


Tapi Lia malah sedikit mencibirku tadi. Makanya aku langsung menyuruh Avi yang kulihat tadi sedang menelepon kala aku dan Lia keluar kamar, untuk melihat waktu aktifku agar bisa Lia lihat kalau aku tidak melakukan apa yang ia kira karena aku lama datang ke dekatnya setelah dari ruang serbaguna dalam apartemen kami.


Aku buka kunci ponselku saja belum, apalagi mengutak-atik chat atau panggilan masuk di dalamnya seperti yang Lia curigai kalau aku lama karena ‘menghapus jejak’---jejak apa tau?


Bahkan chat dari Babas, Aldo dan Irfan berikut Irly saja sudah aku arsipkan.


Mereka mengirim seribu chat pun kalau aku tidak membuka folder arsip itu, tidak akan ada yang terbaca olehku---pun tidak aku ketahui jika ada chat baru dari mereka.


***


Reiji kemudian membuka kunci ponselnya dan jempolnya langsung menyentuh ikon perpesanan instan lintas platform dan secara terbuka membuat apa yang terpampang di layar ponselnya itu dapat terlihat oleh Malia, bahkan juga Avi---menyentuh folder arsip dalam aplikasi tersebut, kemudian menunjukkannya pada Malia dengan lebih menyodorkan ponselnya kepada Malia.


“Aku bahkan arsipin loh nomornya dia, termasuk Babas, Aldo dan Irfan. Jangankan Ir-dia.... bahkan aku menghentikan dulu komunikasi aku dengan Babas, Aldo dan Irfan saking aku mau menyelesaikan dulu masalah kita, meredam emosi kamu. Bahkan dari sebelum kamu marah-marah kayak tadi, Yang—“


“...”


“Sekali lagi aku udah kapok dengan sok peduli tanpa aku berpikir panjang tentang perasaan kamu. Maaf kalo aku ga peka. Gau tau kalo kamu sampe secemburu itu sama Irly—“


“Aku ga cemburu ya sama dia. Jijik,“ sambar Malia pada ucapan Reiji itu.


“Iya iya....” cetus Reiji langsung dengan nada suara yang pasrah.


“Terus ini jadinya lo mau ngapain sih Bang?”


Avi menginterupsi. Adik Reiji itu memandang agak bingung pada Reiji dan Malia.


“Melakukan syarat yang bestie sekaligus kakak ipar lo minta—“

__ADS_1


“Apa tuch?” tukas Avi penuh minat. “Holiday around the world dan sekarang lo mau pesen paket travelling sekaligus ngajak gue? Ajak Marco juga ya?....”


Avi bercerocos kemudian, dimana Reiji lalu memandangnya setengah sinis dan Malia mendengus geli saja. “Bukan itu,” ucap Malia kemudian. “Tapi boleh juga itu ide lo....” tambah Malia.


***


“Kalau emang kamu mau, travelling---walau aku ga janji buat keliling dunia\, nanti kita omongin lagi.”


“Asik—“


“Gue ga ngajak lo ya.”


Reiji menukas cepat sorai kecil kegirangan Avi.


“Idih. At least lo kasih gue ucapan terima kasih karena udah bikin Lia mau dengerin lo—“


“Ngelakuin sesuatu itu yang ikhlas,” tukas Reiji pada Avi lagi yang langsung memonyongkan bibirnya.


Malia pun mendengus geli lagi.


***


“Nah terus jadinya syarat yang lo kasih apaan emang, Neng?....” tanya Avi yang memandang pada Malia.


“Minta balik semua uang yang dia kasih sama itu si jendes bikin gue jijay.”


“Daebak! Buat gue duitnya nanti kalo dia balikin ya, Bang?—“


“Mata duitan dasar,” sungut Reiji lalu ia fokus lagi pada ponselnya.


“Di loud speaker jangan lupa....” ucap Malia kemudian, kala Reiji telah mengeluarkan kolom chat yang sempat dia masukkan ke dalam folder arsip pada aplikasi perpesanan instan di ponselnya itu.


"Iya, Yang."


Dimana Reiji sudah hendak menyentuh ikon telepon pada satu kolom chat hanya angka tanpa nama yang merupakan nomor kontak Shirly. Namun sedetik setelah Malia bicara, layar ponsel Reiji berubah dan nampak ada sebuah panggilan telepon yang masuk ke ponselnya tersebut.


“Aku terima ga?” tanya Reiji sambil menoleh pada Malia yang juga melihat nama pemanggil orang yang sedang menghubungi Reiji itu pada ponsel Reiji. Dan Malia langsung menjawabnya.


“Terima aja—“


“Oke,” tukas Reiji.


***


MALIA


Abbas lah yang menghubungi Rei, ketika Rei sudah akan menyentuh ikon panggilan di nomor kontak Shirly setelah Rei mengeluarkan kolom chat pribadi yang ada di folder arsip pada aplikasi di ponselnya. Dan aku tidak menduga, jika Rei akan mengaktifkan pengeras suara di aplikasinya setelah ia menggeser ikon untuk menerima panggilan setelah aku mempersilahkan Rei untuk menerima panggilan dari satu sahabatnya yang merupakan satu selebriti tanah air yang aku senangi itu.


Namun begitu, aku memilih diam dan mendengarkan saja percakapan Reiji dengan Abbas. Begitu juga Avi yang sama tutup mulut sepanjang percakapan antara Rei dan salah satu sahabat lelakinya itu berlangsung.


Yang mana percakapan itu adalah hal yang membuat aku menjadi sedikit kesal, karena membahas soal Shirly.


Tapi ujungnya aku tersenyum dalam hati, setelah mendengar ucapan Rei pada Abbas sebelum sambungan telepon mereka terputus.


“Intinya gini, Bas. Gue masih bersedia buat jalin persahabatan dengan lo, Aldo dan Irfan. But Irly, no. Gue ga seharusnya deket sama dia seperti dulu lagi sekarang karena gue punya istri. Kedekatan dan perhatian gue sama Irly walaupun cuma sebatas sahabat nyatanya menggores perasaan istri gue dan gue ga nyaman untuk itu. Istri gue ga suka sama Irly termasuk kedekatan gue dengan dia. Gue rasa lo paham sampai sini. So---tentu, gue pilih istri gue karna gue cinta sama dia.“


Lalu,


“Dan gue harap tentang gue dan Irly, next---kalau lo masih ingin jalin persahabatan dengan gue, jangan pernah dibahas lagi. Termasuk kalo mau ajak ketemuan dengan gue, lo jangan undang Irly. Pun gue minta soal Argan jangan lo sangkut pautkan lagi dengan gue, karena dia udah gue anggap bukan urusan gue lagi.”


Ada ketegasan dalam kalimat Rei itu. Lalu Rei bicara lagi lebih panjang lebar setelahnya.


“Entah saat ini lo lagi sendiri atau ada Aldo dan Irfan bahkan mungkin Irly, ini udah jadi keputusan gue. Kalo lo sendirian, tolong lo sampaikan pada mereka tentang apa yang gue omongin ke elo sekarang. Karena gue ga akan ulang apa yang gue omongin ke elo sekarang pada yang lainnya. Kalo Aldo dan Irfan tanya, gue akan suruh mereka hubungi lo. Dan intinya sekali lagi, My wife is my priority because I love her that much. Dan gue akan melakukan apapun yang dia minta selagi gue mampu. Dan sekalipun gue ga mampu, akan gue mampu-mampuin.”


Dan bunyi dari tiga kalimat Rei yang terakhir itu, membuatku cukup takjub serta melambung disaat yang sama.


Termasuk kalimat Rei yang ini, “Dan please jangan menilai buruk istri gue karena dia minta gue buat mengakhiri persahabatan gue dengan Irly. Karena kalau lo, Aldo, Irfan bahkan Irly mengatakan hal yang memojokkan Lia---mencibir atau bahkan merendahkannya, kalian berhadapan langsung sama gue—“


❇❇❇❇❇❇❇❇


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2