WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 53


__ADS_3

Selamat membaca..


***


Enjoooy!..


***


Jakarta, Indonesia


“Wadidaw! Pengantin baru mentang-mentang, pagi-pagi udah maen gendong-gendongan ae!”


Tepat seperti dugaan Malia, jika ledekan akan sampai dengan segera dari mulut Avi saat melihatnya muncul dengan posisi dalam gendongan Reiji.


“Jones sirik nih ye???” Reiji langsung saja membalas ledekan Avi dengan ledekan juga.


“Idiiihh ngapain amat iri sama pilot bucin!...”


Avi kembali membalas ledekan sang kakak yang sedang terkekeh itu.


Dan ledekan lain keluar dari orang tua Reiji, seperti yang juga sudah Malia duga.


Hingga akhirnya Malia memukul-mukul punggung Reiji agar segera menurunkannya dari gendongan.


***


Reiji dan Malia berangkat untuk berbulan madu keesokan harinya.


Malia sudah lebih segar dihari dia dan Reiji akan pergi berbulan madu, karena malamnya Reiji tak melakukan penyerangan di atas ranjang atau di kamar mandi saat mandi pagi seperti kemarin.


Jadi tubuh Malia terasa fit, tidak merasa lemas sama sekali seperti kemarin setelah malamnya diserang dua kali dan paginya diserang lagi walau sekali. Engsel tubuhnya terasa copot kemarin itu.


Tapi tidak sekarang, karena Malia merasa cukup segar untuk melakukan perjalanan udara bersama Reiji ke tempat tujuan bulan madu mereka yang masih di dalam negeri.


Hah, Malia tidak tahu saja rencana Reiji saat mereka tiba di daerah tujuan bulan madu mereka nanti. Bisa-bisa Malia akan merasa engsel tubuhnya copot berkali-kali karena Reiji yang sudah punya rencana matang untuk lebih banyak tinggal di kamar.


Malia dan Reiji memang lebih menyukai pergi ke tempat-tempat indah di dalam negeri ketimbang luar negeri.


Karena menurut keduanya, di Indonesia masih banyak tempat-tempat indah yang bisa dikunjungi sebelum plesiran ke luar negeri.


****


Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat.


Menjadi pilihan Reiji dan Malia untuk berbulan madu.


Usulan Reiji sebenarnya, namun Malia menyetujuinya, karena ia belum pernah ke Pulau yang bernama Moyo itu.


Pulau yang sepertinya memang diperuntukkan bagi pasangan, karena tempat yang akan Reiji dan Malia habiskan untuk berbulan madu adalah hunian tengah hutan, namun begitu, tempat tersebut adalah sebuah Resort yang memang dibuat sedemikian rupa untuk menciptakan suasana romantis bagi pasangan.


Jadi Reiji dan Malia akan minim bertemu dengan orang lain selain dari petugas dari Resort tersebut nantinya, dan tentunya waktu untuk berdua, untuk berjalan-jalan di hutan tropis dan sunyi, bermain di air terjun dan pantai sampai ke candle light dinner ditemani suara debur ombak ataupun pasir dikaki, dan selanjutnya terserah Reiji dan Malia, akan lebih syahdu adanya.


****


Bersuamikan seorang pria yang berprofesi sebagai Pilot ternyata cukup menguntungkan Malia rasa. Dari mulai ia berangkat menuju Bandara, sudah ada yang menjemputnya dan Reiji dari rumah. Komplimen dari kantor Maskapai Penerbangan tempat Reiji bekerja katanya, karena Reiji termasuk Pilot yang cukup berdedikasi serta mempunyai track record penerbangan yang bagus.


Tiket pesawat pun mudah saja didapatkan untuk pulang pergi, selain Reiji tahu persis rute yang diambil untuk mencapai daerah tujuan bulan madunya dan Malia.


Meskipun bukan menaiki jet pribadi macam wanita-wanita beruntung dalam novel CEO, tapi rasanya mendapat bagian untuk duduk di first class dalam pesawat pun tidak kalah menyenangkannya dengan naik jet pribadi bagi Malia.


Yah, meskipun Malia juga belum pernah sih merasakan naik jet pribadi. Cuma suka liat aja seleb indo yang suka terekspose dengan kendaraan kaum jet set itu. Tapi berada di first class saat ini untuk menuju sebuah kota di Negeri tercinta, sudah luar biasa wah-nya bagi Malia.


Dan Reiji mengulas senyumannya, melihat Malia nampak sumringah saat ini, kala mereka sudah berada dalam pesawat yang sudah lepas landas untuk pergi menuju ke provinsi Nusa Tenggara Barat untuk berbulan madu selama lima hari, karena cuti mereka hanya sepuluh hari saja.


Dan disepanjang perjalanan, Reiji tak henti memandangi Malia yang sesekali menatap padanya dengan tersenyum tipis, namun manis. Bikin Reiji rasanya ingin menyambar bibir merah muda rasa cherry Malia, dan mengemutnya lama-lama lalu lanjut mengemut yang lain. Ah, Reiji jadi tak sabar ingin segera sampai ke tempat tujuan.

__ADS_1


****


“Wow!” Kalimat takjub langsung keluar dari mulut Malia kala ia dan Reiji sudah sampai ke tempat destinasi bulan madu mereka.


Sebuah Resort dalam satu pulau yang terletak sejauh dua koma lima kilometer dari utara Pulau Sumbawa itu begitu mencengangkan mata Malia, saking indahnya di mata Nyonya Reiji itu.


Dan Reiji tersenyum lebar melihat ekspresi Malia saat ini. Hatinya rasa puas karena merasa memilih tempat yang tepat untuk destinasi bulan madunya dan Malia.


Reiji dan Malia pun segera diantarkan oleh dua orang petugas Resort ke sebuah resort private yang memang sudah Reiji pesan khusus untuk menghabiskan lima hari waktu berbulan madunya dengan Malia.


Dengan bersemangat, Reiji dan Malia berjalan bersisian, dengan Reiji yang memeluk pinggang Malia posesif, lalu sekali mencuri ciuman di bibir Malia, seolah ingin menunjukkan pada mereka yang berpapasan dengannya, bahwa wanita cantik disebelahnya ini, adalah miliknya seorang.


**


Malia benar-benar dibuat takjub dengan apa yang telah dipersiapkan Reiji untuk bulan madu mereka ini.


Pulau tempat mereka berbulan madu yang berada di utara Sumbawa, NTB ini, Malia memang pernah mendengarnya.


Namun yang Malia tahu, pulau yang menjadi destinasi bulan madunya dengan Reiji ini adalah sebuah destinasi eksklusif untuk para horang kayah yang setahu Malia juga tidak bisa dikunjungi oleh sembarang orang.


Tapi Reiji sanggup membawanya kesini. Ke sebuah pulau dan ke sebuah Resort yang menurut Malia, super eksklusif.


Dan Reiji juga sudah memesan satu tempat khusus dalam Resort tersebut, yang dikelilingi hutan rindang dan pemandangan laut Flores yang indah.


Resort berkelas dunia yang berada di pulau terpencil, dimana privasi para tamu benar-benar terjamin. Begitu tenang dan nyaman tentunya.


Malia merasa benar-benar harus berterima kasih untuk ini. Karena membawanya ke suatu tempat yang begitu indah dalam suatu pulau yang memiliki akomodasi eksklusif ini.


‘Gila banget kerennya ini sih!’ Malia membatin super takjub.


“Gimana, suka?....”


Reiji bertanya pada Malia, kala mereka sudah berada di dalam penginapan yang akan mereka tempati selama masa bulan madu mereka.


Sebuah penginapan yang dapat dikatakan sebagai tenda glamping dengan ukuran besar, dan bukan sekedar tenda glamping biasa tentunya. Meskipun berada di kawasan terpencil.


“Ih, pake nanya!. Ga liat nih muka aku sumringah begini dari kita sampe tadi?!...”


Reiji pun tersenyum mendengar sahutan Malia, lalu ia dan Malia merapihkan barang bawaan mereka ke tempat penyimpanan dalam penginapan.


*****


Setelah Malia dan Reiji mengistirahatkan diri mereka, kini keduanya berencana keluar dari penginapan untuk berjalan-jalan melihat pemandangan sekitar penginapan mereka disore hari yang cukup cerah ini.


“Mau kemana kira-kira?”


Itu Reiji yang bertanya pada Malia.


“Yah, aku aja jangankan ke ini Resort, ke NTB aja baru ini, Rei...” sahut Malia dan Reiji tersenyum sembari mengacak pelan rambut Malia, kemudian mengambil tempat untuk duduk di samping istrinya itu.


“Selain pantai, disekitar sini ada beberapa air terjun juga ....”


Reiji mengatakan apa yang ia tahu tentang pariwisata sekitar Resort, dan apa yang dapat mereka lakukan juga dengan fasilitas yang disediakan oleh Resort tempat mereka menginap.


“Kalo gitu kita ke pantai aja dulu kali ya? ...”


“Oke!”


*****


“Kita sekalian snorkling atau diving ga Rei? ...”


Malia menjeda langkahnya untuk mengganti pakaian yang ingin ia sesuaikan karena akan pergi ke pantai.


“Terserah kamu sih Yang, tapi menurut aku, kalo mau snorkling atau diving, mending besok pagi aja...” jawab Reiji.

__ADS_1


Dan Malia pun manggut-manggut.


“Ya udah kalo gitu ... aku ganti baju dulu ya?”


Reiji mengiyakan dengan anggukan Malia yang hendak mengganti bajunya karena memang belum sempat berganti pakaian sejak mereka tiba di Resort tempat mereka berada saat ini. Hanya Malia saja sih yang tak sempat berganti pakaian karena lelah efek perjalanan yang cukup menyita waktu menuju Resort.


Sementara Reiji sudah lebih dulu mengganti kemeja santainya dengan kaos dan celana pendek santai. Jadi Reiji sudah siap jalan. Hanya tinggal menunggu Malia berganti baju saja.


“Aku tunggu di luar ya, Yang? ...” ucap Reiji.


“Iya!....” sahut Malia.


*****


“Yuk, Rei...”


Suara santai Malia yang terdengar membuat Reiji yang sedang menyesap sebatang nikotin di teras penginapan itu segera membalikkan badannya kala mendengar Malia yang mengajaknya untuk berangkat itu.


Namun, alih-alih langsung mengiyakan, Reiji malah langsung terbatuk kala ia melihat penampilan Malia saat ini. “Uhuk! Uhuk!”


“Hey, Rei, are you okay? ( kamu ga pa-pa? ) ....”


Malia yang melihat Reiji terbatuk itu segera mendekat dan menepuk-nepuk pelan punggung Reiji seraya bertanya.


“Kurangi sih, nge rokoknya....” ucap Malia, yang kini mengusap-usap dada Reiji. Tapi Reiji sungguh ingin bilang pada Malia, kalau bukan rokok yang membuatnya terbatuk tiba-tiba.


Melainkan penampilan Malia yang membuat Reiji terbatuk saking terkesima pada penampilan istrinya itu.


Bagaimana tidak terkesima, jika Malia hanya menggunakan kain sebagai penutup bagian atasnya, dimana kain tersebut menyerupai penyangga dada, dan lagi lumayan terbuka, baik bagian atas dan bawahnya, dimana perut ramping Malia terekspose dengan indahnya.


Belum lagi sembulan di bagian atas yang sama bentuknya itu, seolah hendak menyembul keluar dari penutupnya.


Lalu celana pendek yang terlalu pendek kalau menurut Reiji, yang sedang dikenakan Malia saat ini, rasanya terlalu mengekspos paha indah nan mulus milik istrinya itu.


Jadi penampilan Malia saat ini yang tak kalah seksi dengan atasan yang macam bikini dengan kain yang sepertinya hanya diikat saja, serta celana pendek yang terlalu pendek hingga membuat Reiji jadi ingat arah terusan itu pangkal paha Malia kemana, menyebabkan asupan udara di paru-paru Reiji terasa sedikit tersumbat hingga ia terbatuk.


“Sebentar aku ambilin minum dulu ya? ....” ucap Malia lagi, sembari hendak melangkah masuk ke dalam penginapan. Tapi kemudian langkah Malia terjeda, karena Reiji meraih pergelangan tangannya.


“Ga usah...” kata Reiji.


“Biar tenggorokan kamu ga kering, Rei ...”


‘Aku pengen minum susu aja, Yang!’ kata hati Reiji.


“Tunggu bentar ya?....”


“Ga apa aku ambil sendiri aja.”


Kembali Reiji menahan Malia.


“Lagian kita batal ke pantai, Yang ...”


“Loh kenapa?.... kamu sakit? ....”


Reiji menggeleng.


“Tadi waktu kamu ganti baju ada petugas Resort kesini... dan dia bilang kita jangan ke pantai atau kemana-mana sore ini, soalnya mungkin hujan ....”


“Heu?...” Malia mengernyit. “Hujan? ....”


Reiji pun mengangguk dengan wajah yang dibuat serius pada Malia.


Biarlah dia jadi pendusta saat ini pada Malia, kalau soal adik kecilnya sudah mulai agak gelisah di bawah sana.


*****

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2