WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 232


__ADS_3

Selamat membaca....


🕕🕚🕗🕔🕑


REIJI


Hampir sekitar 4/5 jam aku berada di sebuah rumah sakit jantung, bersama ketiga sahabatku demi menemani Irly yang nampak terguncang sekali akan kondisi Argan yang harus ditangani dengan cukup serius karena sakit yang bocah menggemaskan itu miliki, yang baru aku ketahui hari ini.


Begitu juga tiga sahabat lelakiku yang lain, karena memang Irly sama sekali tidak pernah cerita kalau Argan memiliki kelainan jantung bawaan.


Ya Allah, anak sekecil itu kenapa diberikan penyakit yang begitu berat?...


Aku sungguh mencelos ketika mendengar tentang satu fakta itu, dan kenapa Irly tidak pernah berbagi tentang hal tersebut?


-----


Aku tidak tahu apakah orang yang menderita kelainan jantung bawaan dapat disembuhkan atau tidak, namun jika Irly cerita kan----setidaknya aku dan tiga sahabat lelakiku lainnya dapat bertukar pikiran mencari solusi mengenai kondisi Argan.


Kalau sudah seperti ini, dimana Argan sampai collapse----hatikupun mencelos juga dan was-was menunggui bocah yang sudah aku anggap sebagai anak sendiri bahkan telah juga menganggapku sebagai ayahnya dan memang sangat dekat padaku sebelum Irly menarik diri selama beberapa waktu----selesai di tangani.


Aku sempat teringat akan Lia dan hendak mengabarinya jika aku akan datang terlambat untuk menemuinya.


Namun untuk sementara aku harus mengarang alasan tentang aku yang akan terlambat datang, makanya aku tidak langsung menghubungi Lia.


Rasanya tidak mungkin aku mengatakan padanya tentang alasan yang sesungguhnya pada istriku itu, karena Irly ada hubungan dengan alasanku yang akan terlambat menemui Lia.


Ngamuk pasti Lia bisa-bisa.


Tapi sampai aku tiba di rumah sakit tempat Argan dibawa, aku belum menemukan alasan yang akan aku katakan pada Lia. Dan lagi, ponselku benar-benar sudah mati total. Dan bodohnya aku malah tidak membawa serta ponselku itu, karena aku keburu melihat Abbas yang baru keluar juga dari mobilnya dimana aku lantas keluar dengan cepat dari mobilku untuk memanggil Abbas.


Lalu aku benar-benar melupakan janji dan acaraku dengan Lia, karena kemudian aku dibuat fokus untuk mengikuti prosedur penanganan Argan untuk dilakukan dengan segera bersama tiga sahabat lelakiku yang lain.


Irly sendiri nampak hilang fokus karena sudah didera oleh ketakutannya sebagai ibu yang anaknya memiliki penyakit yang serius, jadi aku-Abbas-Irfan dan Aldo yang lebih banyak bergerak sampai kemudian keputusan Argan harus melakukan yang namanya kateterisasi jantung telah diambil sebagai salah satu opsi tindakan pertolongan untuk bocah menggemaskan itu.


Dimana aku dan semua yang menunggu Argan ditangani Dokter beserta para asistennya itu tak lama merasa lega ketika melihat Dokter yang menangani Argan, keluar dari ruangan tempat bocah lelaki itu di tangani.


-----


Banyak hal yang aku lakukan di rumah sakit tempat Argan ditangani karena penyakitnya, hingga waktu berlalu dan tahu-tahu aku sadari sudah sekitar jam 3 pagi.


Aku sempat ingat akan janjiku pada Lia di saat waktu yang aku lihat telah lewat satu jam dari acaraku dan Lia. Namun aku tidak sempat menghubunginya, karena aku tidak sempat pergi ke mobil untuk mengambil ponselku.


Sampai aku teralih lagi oleh urusan Argan, lalu jatuh tertidur di ruangan Argan setelah ia dipindahkan ke ruang rawat.

__ADS_1


Dan setelah aku terbangun itu aku benar-benar merutuki diriku karena aku telah mengabaikan Lia.


Tak bisa aku bayangkan murkanya Lia padaku, yang ingkar janji bahkan tidak memberi kabar padanya.


Yang mana kemurkaan Lia tidak sampai aku dengar membentak atau memakiku, namun kekecewaan jelas terbaca di nada suaranya ketika aku telah menghubunginya.


Hanya saja, aku mempertahankan kebohonganku dengan tidak mengatakan padanya alasan yang sebenarnya mengapa aku sampai tidak datang. Demi kebaikan, karena aku tidak ingin bertengkar lagi dengan Lia.


Nanti.


Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Lia.


Tapi mood Lia yang amburadul, membuatku kian urung mengatakan padanya tentang alasanku tidak sampai datang ke acara kami yang sudah Lia persiapkan dengan sangat apik.


Hingga kebenaran itu tetap aku simpan rapat-rapat. Dan seterusnya, aku diam-diam menengok Argan di rumah sakit, sampai ia diperbolehkan pulang oleh Dokter yang menanganinya.


Salah memang sikapku ini pada Lia, tapi sekali lagi aku berpikir jika kebohonganku ini demi kebaikan. Selain aku menyayangi Argan, aku simpati juga pada Irly yang biar bagaimanapun dia pernah berjasa padaku.


Kondisi Argan, dan Irly yang finansialnya tidak stabil, membuatku tak sampai hati untuk menjauhi mereka sekarang ini.


Jadi aku diam-diam menanyakan kabar dan mengunjungi Argan serta Irly dengan mencuri-curi waktu saat aku hendak berangkat atau pulang dinas.


Seperti hari ini.


Aku juga sudah mengatakan pada Lia jika aku tidak dapat menjemputnya, jadi rasanya aku bisa mencuri waktu sebentar untuk menengok bocah itu lagi dan membawakannya mainan untuk bahan bujukan bocah itu meminum obat agar Irly tidak kesulitan membujuk anaknya itu yang sulit sekali untuk diminta meminum obatnya.


Tapi jika aku yang membujuknya, Argan mau tanpa sulit.


Kemarin aku membawakan coklat untuk Argan, dan sebuket bunga untuk menghibur Irly yang kulihat terbebani wajahnya.


Hanya atas alasan itu saja aku membelikannya bunga. Dan juga aku berikan bunga itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang jatuh di bulan yang sama denganku.


Hanya sebatas itu.


Sebatas simpati pada seorang sahabat.


Yang pastinya, berat Irly rasa menjalani hidup sebagai single parent tanpa keluarga dekat. Ditambah harus menghadapi kenyataan dengan anak yang memiliki penyakit yang mengkhawatirkan dan membutuhkan biaya ekstra.


Hanya sepasang om dan tante saja yang Irly punya, namun keadaan perekonomiannya standar saja.


-----


Irly single parent yang tegar, makanya aku bersimpati pada sahabat perempuanku itu yang aku harapkan dapat menjalin hubungan yang baik dengan Lia.

__ADS_1


Tapi Lia sudah menampakkan gelagat dengan amat jelas jika istriku itu amat sangat tidak menyukai Irly, hanya karena perkara dia sering berkomunikasi denganku.


Kutengarai jika Lia cemburu dan mungkin juga khawatir perasaanku yang sudah lama hilang pada Irly akan tumbuh lagi, yang sudah aku pastikan itu tidak akan terjadi.


Tapi Lia sungguh sulit sekali mempercayainya.


Bagaimana mau percaya, jika usahaku mengajak Lia agar lebih mengenal Irly selalu Lia tolak mentah-mentah.


Jadi untuk sekarang, keputusanku adalah tidak mengatakan soal ini dulu pada Lia. Toh aku juga bukannya selingkuh dengan Irly.


Aku hanya membantu sahabatku dalam masa sulitnya. Namun mengingat Lia begitu antipati pada Irly, aku terpaksa menyembunyikan ini darinya.


Tapi nanti, aku pasti cerita pada Lia tentang hal ini.


Aku akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini pada Lia.


Agar sekiranya Lia dapat menerima.


Dan mungkin saja, Argan dapat menumbuhkan simpati di hati Lia lalu dapat menerima persahabatanku dengan Irly.


Atau lebih baik lagi, seperti halnya istri Irfan dan tunangannya Aldo, Lia juga dapat berteman dengan Irly.


Yang mana, aku yakin hal itu tidak akan pernah terwujud setelah apa yang terjadi ini.


“Oh, kantor maskapai kamu sekarang udah pindah ke apartemen janda anak satu ya, Bapak Reiji Shakeel?...”


Aku membeku di tempatku, ketika suara itu terdengar berikut sosoknya yang muncul setelah pintu kamar Irly dibuka dengan agak kasar.


Suara dan sosok yang amat sangat aku kenal.


Lia.


Yang rahangnya mengetat, menatap penuh permusuhan padaku dan Irly.


“Y-Yang...” ucapku dengan tergugu, karena memang aku sangat terkejut sekali dengan kedatangan Lia.


Kemudian lontaran perkataan yang membuat hatiku tercubit keluar dari mulut Lia.


“Laki-laki munafik.”


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2