WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 180


__ADS_3

Selamat membaca...


***


“Aku bilang menjauh dariku, atau aku teriak sekencang mungkin agar banyak orang yang datang kesini dan menghajar kamu habis-habisan karena aku akan bilang kalau kamu sudah melecehkanku!”


Malia yang sudah berhasil melepaskan diri dari Irsyad dan keluar dari mobil pria itu, kemudian melayangkan kalimat ancaman pada Irsyad dengan tatapan yang nyalang.


“Lia, dengerin aku dulu-“


“Aku ga main-main dengan kata-kataku!” ancam Malia. “Aku rasa banyak tukang ojek disana yang bisa denger teriakan aku. Mau coba?!”


Malia semakin nampak kian serius mengancam Irsyad yang kemudian nampak terpengaruh dengan ancaman Malia itu, hingga Irsyad sedikit celingukan.


♠♠


MALIA


“Aku minta maaf untuk apa yang tadi aku lakukan ke kamu, Lia.”


Laki-laki yang kini sudah membuatku muak itu berucap setelah ia sedikit celingukan setelah aku mengancam akan berteriak.


“Go to hell! (Pergilah ke neraka!)” balasku pada Irsyad, dengan tetap menatap nyalang pada Irsyad dari tempatku berdiri yang berjarak dengannya.


“Lia –“


“Tetap di tempat kamu!” Sekali lagi aku menegaskan pada Irsyad dengan wajah yang menunjukkan kegeramanku padanya.“Enyah! Dan jangan pernah lagi berani muncul dihadapan aku!”


“Tapi Lia, bagaimana kamu pulang?...”


Irsyad berucap dengan lirih, namun aku sungguh tidak peduli.


Aku berbalik dengan cepat dari hadapan Irsyad, dan melangkahkan kakiku menuju jalan besar.


“Lia, please –“


“Aku bilang Enyah!”


Aku berhenti sejenak, kala aku dengar suara Irsyad mulai mendekat.


“Atau aku akan berteriak sekaligus melaporkan Kakak pada Polisi karena sudah melecehkanku!”


Dan aku tidak main-main dengan ucapanku itu. Ya, akan aku lakukan itu, jika Irsyad kekeh mengejarku. Untung saja saat di dalam mobil Irsyad aku tetap memegang tas kerjaku, dan tidak mengeluarkan ponselku.


Jika Irsyad tetap nekat aku akan segera menghubungi orang tuaku, karena Rei kupikir belum bisa untuk aku hubungi.


Tidak langsung menghubungi Polisi, karena otakku sedang nge-blank untuk mengingat nomor pengaduan pada instantsi tersebut.


Yang terbersit di otakku adalah orang tuaku, yang pasti dengan cepat akan menolongku.


Setidaknya, papa memiliki kenalan di kepolisian-setahuku.


---


Aku berbalik pergi setelah melontarkan ancaman terakhirku pada Irsyad barusan.


Aku melangkahkan kakiku dengan cepat dan lebar hingga sampai ke jalan besar yang terang dan lumayan ramai lalu lintas.


Aku tidak mau menengok ke belakang lagi tanpa mau peduli apapun lagi tentang Irsyad yang sepertinya terpengaruh oleh ancamanku yang membawa – bawa nama polisi dan berteriak memanggil massa.


♠♠

__ADS_1


Malia telah berjalan jauh dari Irsyad yang membeku di tempat pria itu berdiri, selepas Malia mengancamnya dengan sangat bersungguh – sungguh, selain Malia yang menatap nyalang padanya.


“Kalau dia tetap kekeh ngejar aku, aku akan minta bantuan sama orang-orang itu,” gumam Malia yang kakinya sudah mencapai pinggir jalan besar yang lumayan ramai dengan lalu lalang kendaraan.


Tapi Malia menghela nafas lega, karena ternyata Irsyad tidak mengikutinya. Lalu Malia menghapus jejak air mata di pipinya karena rasa marah dan kesalnya pada Irsyad, berikut perih yang Malia rasa dalam hatinya atas perlakuan kurang ajar Irsyad yang begitu lancang mencium bibirnya.


Malia membuka tasnya yang ia syukuri selalu ia pegang erat di dalam mobil Irsyad tadi, bahkan saat Irsyad mencium bibirnya dengan paksa dan cenderung kasar. Lalu mengambil satu pack tisu basah yang selalu Malia bawa dalam tasnya.


“Menjijikkan! ...”


Malia menggumam geram sambil mengusap kasar bibirnya dengan selembar tisu basah yang sudah ia keluarkan dari kemasannya.


Dan tak henti – hentinya juga Malia menggeram dan merutuki Irsyad dalam gumamannya.


Sesekali juga Malia melirik ke arah belakangnya, karena sedikit banyak – Malia masih agak paranoid pada Irsyad sekarang ini.


Malia mengambil lagi selembar tisu basah dan kembali lagi mengusap kasar bibirnya seolah bibir itu sangat kotor, serta juga mengambil satu lembar tisu basah kembali dan mengusap seluruh bagian wajahnya – bahkan kedua tangannya.


Malia menghela nafas lega, ketika di pinggir jalan setelah dia kabur dari Irsyad – masih ada beberapa orang disana yang tampak menunggu sesuatu.


Entah menunggu orang yang menjemput mereka, atau mungkin menunggu taksi kosong yang lewat.


Jadi Malia melesakkan dirinya di dekat orang – orang itu, walau berjarak. Namun tak lama kemudian Malia bergerak dari tempatnya berdiri untuk menunggu taksi kosong seperti beberapa orang tersebut, yang mana penampilannya seperti orang kantoran.


Malia beringsut, karena lagi – lagi paranoid pada Irsyad. ‘Nanti tau – tau dia berenti di depan gue dan maksa gue ikut dia, terus entah pake alibi apa buat maksa gue! ...’


Monolog Malia dalam hatinya.


‘Engga! Engga! ... Gue ga boleh ada disini lama – lama!’


Jadi Malia menggerakkan kakinya untuk pergi dari tempatnya sekarang.


‘Duh, tapi apartemen lumayan banget kalo jalan kaki dari sini ...’ batin Malia.


Barangkali ia beruntung ketemu taksi yang kosong dan mau mengangkutnya. Namun sayangnya bukan taksi kosong yang Malia lihat dimana kendaraan itu Malia butuhkan sekarang, namun sebuah mobil yang tadi sempat Malia tumpangi.


‘Sial!’


♠♠


Beberapa jam kemudian...


Terhitung sudah esok hari, walau pagi masih agak jauh dari terangnya mentari.


Ada wajah yang dihiasi senyum lebar, yakni Wajah Reiji yang telah menginjakkan kakinya kembali ke bumi Indonesia.


Pada sebuah Bandara yang tak sedikit jauh dari Jakarta, namun tidak sulit juga untuk sampai ke Jakarta dari Bandara tersebut.


Gurat lelah nampak sekali di wajah Reiji memang - namun begitu Reiji nampak juga merasa senang, karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Malia.


‘Kalo gue telfon sekarang, nanti ganggu tidurnya Ayang Beb? .. Kasian juga kalo gue telfon dan Lia bangun lalu ga tidur lagi karena nungguin gue sampe ke apartemen, sementara dia masih harus kerja kan hari ini? ..’


Monolog Reiji dalam hatinya.


‘Ga usah gue telfon deh. Mending gue langsung cus aja ke apartemen ..’


Reiji memasukkan kembali ponsel yang telah ia keluarkan dari navy bagnya, tanpa ia nyalakan ponselnya tersebut.


♠♠


REIJI

__ADS_1


Selama di perjalananku menuju apartemen dengan menggunakan fasilitas yang diberikan oleh Bos Besarku sebagai Pilot Pribadi mereka, dimana aku mendapatkan fasilitas antar jemput yang wah sekali – yakni sebuah mobil mewah yang disediakan sebagai sarana antar jemput para pilot pribadi mereka setelah bertugas langsung melayani keluarga Bos Besarku itu.


Jadi ingat ucapan Lia soal mereka, yang mana Bos Besarku itu berikut keluarganya gimana cara cari duitnya sampe bisa luar biasa kaya seperti ini? ..


Bahkan Crazy Rich ‘ter’ di negara ini pun aku rasa masih kalah jauh dengan kekayaan Bos Besarku dan keluarganya yang tidak terekspos itu di Negeri ini. Secara hampir setiap personil keluarganya itu memiliki jet pribadi.


Dan ada lima pilot pribadi yang mereka miliki.


Jika dihitung rata dengan penghasilanku di kalikan lima, setiap bulannya mereka menghabiskan uang yang setara untuk membeli rumah yang bukan ratusan juta lagi harganya.


Bahkan rumah keluarganya tempatku menginap itu, aku rasa seluas GBK – yang bahkan lantainya saja begitu hati – hati aku pijaki, saking terlalu bersinarnya itu lantai yang entah apa itu keramiknya bisa sparkling – sparkling kinclongnya kelewatan begitu? ..


Itu rumah kalo di jual aku rasa bisa beli satu pulau di Indonesia, saking kelewat luas dan mewah, megah. Kalah kayaknya Istana Presiden juga sama itu isinya rumah keluarga Bos Besarku yang ada di London.


Yang rasanya tak tepat kalau di bilang sebuah rumah.


Bikin penasaran ..


Kek apa kerjanya itu mereka? ..


Masa iya orang London kenal ‘ngepet’? ..


Kalo iya, ngepet berapa tahun bisa jadi sekaya itu? ..


Mungkin di London bukan Babi yang ngepet, tapi beruang, jadi dapetnya lebih banyak.


Efek cape, jadi ngelindur begini.


Tapi yang jelas aku kangen Lia dan tak sabar ingin bertemu lalu memeluknya.


♠♠


Aku seperti seorang maling yang mengendap-endap saat masuk ke dalam unit apartemenku dan Lia.


Dimana tujuan utamaku sekarang adalah kamar tidurku dan Lia, dimana ‘sasaran’ ku untuk kupeluk dengan eratnya ada di dalam sana.


Walaupun aku sedikit heran, karena lampu ruang tamu dibiarkan gelap oleh Lia.


Soalnya Lia itu suka isengan orangnya jika sendirian di apartemen saat aku sedang jauh darinya.


Dan selalunya lampu bagian depan akan menyala dengan terangnya, bahkan lampu dapur dan ruang serbaguna juga ikut dinyalakan oleh Lia.


Termasuk juga aku berhenti sejenak di depan pintu kamarku dan Lia, karena sedikit kembali merasa heran tidak ada penerangan di dalam sana.


Lagi, Lia itu akan bela – belain tidur dengan lampu menyala kalau ia sendirian.


Kecuali jika Lia sudah benar – benar mengantuk, maka rasa isengnya itu akan tidak ia pikirkan.


Dan aku pikir, Lia cukup lelah hari ini, hingga ia sampai mematikan lampu kamar karena langsung melesak ke alam mimpi tanpa melakukan aktifitas browsing di ponselnya sebelum tidur.


Makanya rasa ‘iseng’ nya karena sendirian itu tidak Lia pikirkan.


Jadi kupikir, rasanya aku akan urungkan niatku untuk mengejutkannya dengan pelukanku pada Lia, sampai nanti waktunya ia bangun.


Aku lebih berhati – hati lagi membuka pintu kamarku dan Lia yang gelap itu saat ini.


Namun aku keheranan ketika aku membuka pintu kamar-yang meski gelap, tapi setidaknya aku masih bisa melihat kondisi kamar pribadiku dan Lia di apartemen kami ini.


“Yang? ..” aku memanggil Lia, yang tidak aku lihat berada di atas tempat tidur kami.


♠♠♠♠♠♠

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2