WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 262


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


Di dalam sebuah kamar hunian yang biasa disebut penthouse--yang mana penthouse tersebut adalah milik salah seorang dari satu keluarga yang mempekerjakan Reiji sebagai pilot pribadi mereka, ada Malia yang sudah mendudukkan dirinya dengan tegak di atas ranjang--dalam sebuah kamar tidur.


Dimana Malia masih menyembunyikan tubuhnya  yang masih polos dari dada hingga kaki, di dalam selimut pada ranjang tempat Malia duduk itu.


“Kalo ga salah tadi Rei bilang ini kamar penthouse? Tapi penthousenya siapa?”


Malia bertanya dalam gumaman, setelah sebelumnya ia menyisir kamar tempatnya berada itu, dengan pandangannya.


“Pantes mewah gini ini kamar,” gumam Malia lagi, setelah ia melihat tiga orang yang jelas menggambarkan jika ketiganya adalah keluarga kecil bahagia. “Punya salah satu dari keluarga sultan toh.”


Dan setelahnya, Malia tertegun sejenak memandangi sebuah figura foto yang sepertinya adalah figura foto yang ia gunakan saat menyerang Reiji yang ia kira Irsyad itu. Dan Reiji lah yang meletakkan figura foto itu kembali ke tempatnya.


***


‘Bikin ngiri aja ini foto.’


Malia lalu membatin saat ia tengah memandangi foto keluarga kecil bahagia dalam pandangannya itu.


Sepasang orang tua dan seorang gadis kecil imut, lucu dan cantik jelita.


Namun setelahnya, Malia membuang pandangannya dari foto tersebut.


‘Liat foto itu, gue jadi keingetan anak laki-laki yang udah jelas anaknya itu si bibit pelakor Irly.. jadi kepikiran lagi, apa itu anak Rei atau bukan.. yang gue harap-harap jangan! Coy! Coy!.. karena gue ga tau harus gimana kalau ternyata anak laki-laki itu nyatanya anak Rei yang dia sembunyikan.. Oh Tuhan, mudah-mudahan apa yang aku sangat takutkan itu ga kejadian—‘


***


Setelah bermonolog was-was dalam hatinya itu, kemudian Malia menggeleng. Lalu ia sedikit merutuki dirinya, ‘Berhenti berpikiran buruk sama suami lo sendiri, Lia! Harusnya lo berterima kasih sering-sering sama dia karena dia tepat waktu nyelametin lo dari si biadab Irsyad!.. Bukannya malah mikir yang engga-engga rentang suami lo itu!..’


Sambil Malia coba beringsut dari tempatnya.


Kemudian Malia celingukan, mencari pakaiannya.


Dimana pakaian yang sebelumnya Malia kenakan itu, tercecer di lantai kamar tempatnya berada.


Malia kemudian menyunggingkan senyum gelinya, sambil ia memunguti pakaiannya tersebut.


Karena Malia sedang mengingat kembali sikap binalnya pada Reiji akibat obat perangsang yang disuntikkkan Irsyad padanya.


“Tapi biarpun gue yang diberi obat perangsang terus jadi sebinal itu, tetep aja gue kayaknya kewalahan menghadapi Rei..” gumam Malia. “Ga kebayang kalau Rei yang konsumsi obat perangsang. Bisa diopname gue gegara digempur tanpa henti.“


Sekali lagi Malia mengulum senyum gelinya, sambil ia kemudian mengenakan setiap potong pakaian yang sebelumnya ia kenakan. Lalu berhenti setelah ia selesai memakai penutup dadanya—dan menggumam lagi, “Masa gue pakai jaket ini lagi?“

__ADS_1


Malia kembali menggumam, sembari memperhatikan jaket kasual yang Malia yakini jika itu bukan milik Reiji.


Lalu Malia melirik kemejanya yang tidak berkancing.


“Ga mungkin juga gue pakai itu kemeja macem outer bikini—“


***


MALIA


Aku sejenak berada pada posisiku yang tengah berdiri selepas aku berpakaian--dan setelah aku mengulet guna mengendurkan ototku yang rasanya kaku, serta mengumpulkan tenagaku yang aku rasa hilang karena ‘pertempuran’ ku dengan Rei sebelum kami sama-sama jatuh terlelap.


Namun aku belum berpakaian lengkap, karena aku sedang menimbang-nimbang untuk memakai kembali jaket kasual yang sebelumnya aku gunakan atau tidak.


Karena jaket tersebut cukup kebesaran di tubuhku.


Tapi tidak ada lagi pakaian selain itu yang bisa aku pakai untuk menutupi tubuh bagian atasku.


---


Aku memutuskan untuk menggunakan kembali jaket kasual yang jika tidak salah adalah milik seorang laki-laki yang datang bersama Rei ketika ia menyelamatkanku dari Irsyad, karena aku ingin menyusul Rei saja yang tadi sudah keluar dari kamar tempatku berada ini.


Aku tak ada pilihan lain selain mengenakan kembali jaket yang cukup kebesaran di tubuhku ini, karena aku tidak melihat ada pakaian ganti yang tersedia.


Tapi aku tidak mau selancang itu menggeratak tempat orang lain, apalagi menggunakan barang-barang tanpa ijin yang punya—meski aku ingat, tadi Rei menggunakan pakaian yang bukan pakaiannya.


Namun bukan berarti Rei memakai pakaian yang punya penthouse ini dengan sembarang, kan?.. Bisa saja pakaian itu juga pinjaman dari laki-laki yang meminjamkan jaketnya ini saat aku diselamatkan oleh Rei.


Yah, apapun itu. Yang jelas aku ingin menyusul Rei sekarang, karena rasa lapar kian bergemuruh di perutku.


Dan mungkin aku bisa membantu Rei yang sedang menyiapkan makanan untuk kami, daripada aku bengang-bengong ga jelas di kamar ini sendirian.


Jadi aku kemudian mengenakan jaket laki-laki yang datang bersama Rei itu—yang sepertinya juga baru aku lihat.


Tapi aku baru menyampirkan saja jaket itu, karena aku hendak pergi ke kamar mandi dulu—untuk membasuh wajahku yang aku rasa kuyu ini, serta merapihkan diriku sebelum aku menyusul Rei dan keluar dari kamar ini.


Karena sekelebat aku berpikir, jika di dalam penthouse ini tidak hanya ada aku dan Rei saja.


***


Malia baru saja selesai membasuh wajah dan merapihkan rambutnya yang berantakan, lalu mematut dirinya di cermin dalam kamar mandi yang tersedia dalam kamar tempatnya berada itu.


“Eh?..” Malia sedikit terkesiap. Ketika dirinya hendak bergegas keluar dari dalam kamar mandi setelah merapikan penampilannya, ia mendengar seperti suara getaran ponsel tak jauh dari tempatnya berdiri.


Hingga secara spontan Malia celingukan.

__ADS_1


“Suara geter hp kan itu? Hp Rei kah?“ gumam Malia.


***


Yang mana memang adalah ponsel Reiji yang bergetar, karena Malia sudah mendekati pakaian Reiji yang terlipat di atas wastafel.


Dan sedikit tertutup pakaian Reiji yang Malia ingat adalah pakaian yang Reiji gunakan saat menyelamatkannya di villa Irsyad.


“Eum.. Perlu ga ya gue cek isi hp Rei?..”


Terbersit lagi soal Shirly dan bocah lelaki yang Malia yakini adalah anak perempuan itu, Malia jadi memiliki keinginan untuk melihat isi dalam satu aplikasi di ponsel suaminya itu.


“Ga ada salahnya kalo istri ngecek ponsel suaminya kan????.. Daripada gue penasaran, dan gue kan juga butuh bukti kalau Rei memang ga ada apa-apanya sama itu bibit pelakor..“


Malia yang membenarkan pendapatnya sendiri, dengan ponsel Reiji yang sudah ia genggam—lalu Malia buka kunci password ponsel suaminya itu yang ia sangat hafal di luar kepala.


“Masih tanggal ulang tahun gue..” gumam Malia senang dan ada kelegaan yang menjalar di hatinya.


***


Sebuah aplikasi sejuta umat, yang menjadi sasaran pertama Malia yang penasaran dengan isi percakapan-percakapan di dalamnya. Satu jempol Malia langsung membuka pesan dari nomor tak di kenal--yang ada di paling atas area obrolan aplikasi tersebut, dimana kalimat yang terbaca Malia--membuatnya kemudian merasa penasaran, dan langsung mengetuk sebaris pesan dalam ruang obrolan pribadi aplikasi tersebut.


Agar Malia dapat melihat secara keseluruhan pesan dari nomor yang Reiji tidak simpan di dalam daftar kontaknya pada ponsel.


Ji, ini gue Irly.


Yang mana satu kalimat paling atas dalam pesan chat tersebut, membuat Malia otomatis cemberut tajam.


Tapi ada sebaris pertanyaan juga dalam hati Malia, kenapa Reiji tidak menyimpan nomornya Shirly?..


***


Malia pun membaca setiap baris pesan yang dikirimkan oleh nomor yang mengaku jika itu adalah sahabat perempuan Reiji, yang sering menjadi alasan dirinya dan Reiji ribut.


Yang mana ujungnya membuat Malia bertanya-tanya sendiri atas kalimat terakhir pesan chat dari dia yang mengaku adalah Shirly itu.


Tapi inget Ji, lo ada janji sama gue. Dan lo bersumpah akan memegang teguh itu janji, apapun yang terjadi.


“Rei.. Punya janji apa sama dia?..”


Malia yang menggumam bertanya-tanya sendiri kemudian.


*******


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2