
Selamat membaca...
*************************
Reiji dan Malia pulang ke apartemen mereka setelah selesai berbelanja bulanan, sekaligus makan malam bersama di sebuah kafe bernuansa hangat dan santai yang berada tidak jauh dari gedung apartemen yang menjadi tempat tinggal mereka.
“Biar aku aja yang rapiin ini barang – barang, Rei ...” ucap Malia menawarkan diri.
“Tugas bersama ya dikerjainnya bersama dong, Yang ...” sahut Reiji.
“Iya emang. Tapi kamu nih kan baru selesai kerja ...” ucap Malia lagi.
“Ya kamu? Sama juga baru selesai kerja kan? –“
“Iya,” jawab Malia. “Tapi kan beda kerja kita, Rei ... aku cuma duduk depan komputer sambil ketak – ketik ...”
“Sama –“ tukas Reiji. “Aku juga kerjanya cuma duduk – duduk di belakang kemudi pesawat yang cuma aku pegang sekali – sekali bahkan.”
“Kamu nih, ga pernah mau kalah ...”
Malia menyahut sambil geleng – geleng mengulum senyumnya.
"Memang ga pernah kalah kan aku?" sahut Reiji sambil memainkan alisnya, yang mana Malia paham maksud arah kalimat Reiji itu kemana.
"Ga jauh-jauh, pasti nyambernya ke urusan maen 'kuda-kudaan'"
**
Seminggu berlalu dan Reiji sudah tak lagi mempermasalahkan soal Irsyad yang nomornya tak kunjung aktif.
Mungkin benar yang Malia bilang, kalau si bibit pebinor kurang ajar dan ga tau malu itu sudah balik ke negara tempat dia berada sebelumnya, di saat laki – laki itu belum datang kembali ke Jakarta.
Begitu kiranya yang Reiji pikirkan.
Atau mungkin udah mati? ...
Reiji dan pikiran jahatnya yang terbersit secara spontan, jika ia ingat lagi bahwa Irsyad pernah memaksakan Malia untuk berciuman dengannya --- plus dengan perlakuan yang kasar, walau hanya sedikit --- jika Reiji telaah dari cerita Malia.
“Aku berangkat ya, Yang? ...”
Reiji berpamitan kala ia hendak berangkat bekerja dan akan pergi selama dua hari lamanya.
"Iya ..." jawab Malia sambil menyalim takdzim pada Reiji. "Hati-hati," tambah Malia.
"Kamu juga hati-hati. Ga usah pake mobil kamu, karena aku udah telefon Andra buat kirim supir kantornya buat anter jemput kamu ke kantor selama aku belum pulang."
"Hah?!"
"Antisipasi takut tau-tau itu si bibit pebinor muncul lagi atau mungkin bangkit dari kubur -"
'Ya ampun, Rei -'
**Tiga hari kemudian...
“Reeii!” Pekik Malia yang sedang berdiri di depan sebuah ruangan dalam unit apartemennya dan Reiji.
‘Mati gue!’
Dia yang dipekikkan namanya oleh Malia membatin tajam.
Reiji.
“Comiiiingg!”
Yang orangnya langsung menyahut sembari ia berjalan tergesa ke tempat suara Malia yang Reiji sudah terka sedang berada dimana.
‘Tuh kan!’
Monolog Reiji dalam hatinya.
‘Pasti ngomel!’
Kemudian Reiji menerka yakin dalam hatinya, setelah melihat Malia berdiri sambil bersedekap di depan sebuah ruangan yang menjadi ruang serbaguna dalam unit apartemennya dan Lia --- yang lebih tepat disebut sebagai ruang bacanya Reiji.
**
Berdirinya Malia dengan tangan bersedekap lalu matanya menyipit saat melihat Reiji datang ke hadapan istrinya itu, sudah cukup membuat Reiji sadar akan kesalahannya.
Dengan cengengesan dengan menunjukkan rentetan giginya nan rapih bak model iklan pasta gigi, Reiji langsung masuk ke dalam ruang serbaguna yang lebih condong sebagai ruang baca pribadinya itu tanpa lagi bertanya pada Malia perihal pekikan sang istri yang menyebut panggilannya tadi.
“Semalem keburu ngantuk, Yang –“
__ADS_1
“Ga boleh pergi ke gym sebelum ini rapih.”
Malia menukas ucapan Reiji yang hendak beralasan sebagai alibi ruang serbaguna itu menjadi amat berantakan.
**
MALIA
Huh!
Yang paling menyebalkan bagiku adalah melihat sesuatu yang berantakan hingga membuat mata rasanya jengah untuk memandang.
“Kamu sendiri yang janji kalau habis ngabisin waktu di sini, kamu bakal menjaga kerapihan ini tempat ...”
Pagi ini aku mengomel, lantaran ruang serbaguna yang lebih pantas disebut sebagai ruang baca Rei itu berantakan bukan main.
Bukan hanya buku – bukunya yang tidak kembali pada tempatnya, namun sampah kulit kacang berserakan, selain botol minuman kaleng yang ada di samping sofa landai dalam ruangan tersebut.
“Iya, maaf ... aku keburu ngantuk semalem, Yang –“
“Ngeles aja terus.”
“Bajay kali ah!” celetuk Rei sambil cengengesan.
Dan aku mencebik sebal.
“Emang abis bawa temen semalem sampe berantakan gini ini tempat?” ucapku kemudian.
“Tuh kan suud’zon sama suaminya,” sahut Rei sambil menoel daguku sambil tetap cengengesan.
“Ya abis berantakan banget gini sih, Rei? –“
“Ya udah sii, ini aku rapiin sekarang –“
“Di vacuum juga ... jangan cuma dikebutin ...”
“Iya, sayangku Maliaa ...” jawab Rei yang suaranya nampak putus asa karena aku belum berhenti mengoceh.
“Jangan iya, iya, aja.”
Aku menimpali perkataan Rei.
“Oh beginilah nasib suami yang punya istri OCD ...”
Membuatku langsung berkacak pinggang dan melotot pada suamiku yang kadang memang suka bersikap konyol.
Tapi sikap konyolnya itu hanya ditunjukkan padaku dan hanya pada orang – orang terdekat Rei saja.
“Sembarangan aja bilang aku OCD –“
“Abis gila kebersihan ...” tukas Reiji. “Apa namanya kalo bukan OCD? ...”
Rei berucap lagi sambil menampakkan ekspresi meledek padaku.
“Ih, siapa juga yang gila kebersihan?” tukasku gantian.
“Kamu?” Rei dengan wajah sok polosnya. “Yang suka ngomel kalo aku suka bikin kopi di cangkir ga pake tatakan siapa?”
Lalu ia berceloteh.
Namun tangannya sudah kembali lagi mulai merapihkan ruangan yang berantakan akibat perbuatannya itu.
Perbuatan dia seorang, tapi berantakannya dah kayak abis nobar beberapa orang.
“Ya kan kalo kamu taro itu cangkir kopi ga pake tatakan di meja, berbekas nanti di kacanya meja malah jadi kerjaan.”
“Ya udaah Nyonya Reiji Shakeel ...” kesah Rei. “Ini kan lagi aku beresin nih yang semalem aku lupa rapiin?” lanjut Rei. “Daripada kamu ngomel, mending kamu bikin sarapan?”
“Orang aku mau yoga?” jawabku.
“Nah terus ngapain masih disitu? –“
“Ya mau ngambil matras tadinya,” tukasku.
“Ya udah nih aku ambilin.”
Rei celingukan.
“Ga usah. Aku udah ga mood –“
“Ngambek –“
“Tau ah. Pagi – pagi udah bikin sebel.”
__ADS_1
“Ululu.”
Rei menjeda kegiatannya yang sedang merapihkan ruang serbaguna itu, lalu mendekatiku.
“Bibirnya minta dibombardir –“
“Udah ah. Aku mau cari sarapan –“
“Eh mau kemana?!” sergah Rei, sambil menahan lenganku.
“Cari sarapan. Aku lagi males bikin sarapan. Lagian kepengen itu sego yang ada di belakang gedung ini.”
“Ya udah tunggu aku kelar ini.”
“Keburu abis nanti kalo nunggu kamu selesai.”
Aku langsung menyahut.
“Cuma sebentar doang juga beresin ini.”
Rei langsung juga menimpali ucapanku barusan. Namun aku menyahut lagi dengan cepat.
“Iya udah mendingan sambil kamu masih beresin ini ruangan, aku sambil jalan beli sarapan buat kita. Jadi pas kamu selesai, kan bisa langsung sarapan.”
“Kita pergi bareng kalo emang kamu mau sarapan di luar,” kata Rei, dimana aku sudah melengos.
Sambil juga aku berkata, “Sarapan sih di sini aja. Biar aku pergi beli itu sego, lagian juga cuma di belakang gedung ini aja,” kataku santai sambil mulai melangkah. Namun aku mendengar Rei memanggil namaku.
“Lia.”
“Iya bentar aku ambil dompet dulu ...”
“Lia,” panggil Rei sekali lagi, dan membuatku menjeda langkah karena aku sepertinya mendengar nada suara Rei itu datar tidak nyeleneh seperti saat aku mulai mengomel dan dia mulai merapikan ruang serbaguna kami.
Jadi aku langsung berbalik setelah menjeda langkahku.
Dimana aku langsung disambut pandangan Rei yang sedikit aku rasa menusuk.
“Kalo kamu mau pergi sarapan di luar, pergi sarapan sama aku.”
Rei berucap, sambil tetap memandangiku dengan wajah agak serius.
Ah iya, aku baru mengingat sesuatu. Sejak Irsyad berusaha memprovokasi Rei untuk mencurigaiku ada main di belakangnya dengan mengirimkan foto – foto yang sudah dimanipulasi tanggal serta satu kejadian yang tidak sengaja namun dibuat seolah itu adalah pertemuan yang disengaja, Rei agak lebih posesif padaku.
“Iya udah, iya –“
“Bajunya ganti –“
“Iya ...” sahutku patuh kalo Rei sudah datar begitu nada bicaranya.
Ngeri – ngeri sedap.
**
Hari berlalu,
“Yang –“
“Hm?” sahut Malia pada Reiji yang memanggilnya kala keduanya belum lama selesai dengan kegiatan ‘bercocok tanam’, kegiatan terfavorit Reiji bersama Malia.
“Ikut ya?”
“Ke?” Malia balik bertanya, karena tak paham arah pertanyaan Reiji yang tiba – tiba memintanya ikut begitu saja. Dan hal itu terdengar ambigu bagi Malia.
“Anak – anak ngajakin ngumpul –“
“Anak – anak? ...” sambar Malia sambil ia mengernyit.
“Hmm –“
“Anak – anak siapa? ...”
“Geng aku ...”
“Yang segala ada Abbas? ...”
Reiji menjawab Malia dengan gumaman.
“Huum.”
“Berarti, ada dia juga? –“
****
__ADS_1
Bersambung ......