WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 114


__ADS_3

Selamat membaca....


***


Sejak pertengkarannya semalam dengan Malia yang kemudian istrinya itu mengurung diri di kamar mereka-dan tidak ada tanda-tanda Malia akan keluar kamar sampai Reiji merasakan kantuknya, Reiji akhirnya memutuskan untuk beristirahat di ruang baca dalam apartemen ketimbang tidur di sofa ruang tamu.


Mata Reiji perlahan terbuka, saat suara alarm yang berasal dari ponsel miliknya terdengar.


Lalu Reiji mengangkat tubuhnya setelah benar-benar tersadar, lalu meraih ponselnya untuk mematikan alarm.


‘Lia udah bangun belum ya?’ batin Reiji sambil melirik ke arah kamarnya, saat ia telah keluar dari ruang baca tempatnya tidur semalam.


Namun Reiji tidak mengayunkan langkahnya untuk mendekat pada kamarnya dan Malia.


Hanya melirik saja, lalu Reiji memasang telinga di daun pintu kamar mandi.


Dan setelah merasa tidak ada suara dari dalam kamar mandi, Reiji pun membuka pintunya yang tidak terkunci.


‘Berarti Lia belum bangun....’ batin Reiji. Setelah ia mendapati kamar mandi kosong dan juga kering. Lalu setelahnya, Reiji bergegas untuk menyikat giginya sebelum ia berwudhu.


**


“Aiyaa –“


Reiji berkesah dalam gumaman.

__ADS_1


“Sajadah mana di kamar lagi?—“


Kemudian Reiji berdecak sambil menyugar rambutnya yang basah selepas berwudhu.


Lalu Reiji sedikit menundukkan kepalanya.


“Untung gue pake celana panjang.” Gumam Reiji lagi.


Setelahnya Reiji segera melangkahkan kaki untuk keluar dari apartemennya dan Malia, menuju Mushala yang ada dalam satu lantai di gedung apartemen tempat Reiji dan Malia tinggal.


Mau tidak mau Reiji pergi ke tempat ibadah umum yang ada di gedung apartemen mereka, karena rasanya ia enggan untuk mengetuk pintu kamarnya dan membangunkan Malia.


‘Biar kaos, paling engga masih panteslah. Urgent pula kan ini?’ batin Reiji yang bermonolog mengomentari pakaiannya yang ia pakai untuk beribadah itu.


Kemudian Reiji menyegerakan dirinya untuk pergi ke Mushala yang ada di area gedung apartemen tempat tinggalnya dan Malia itu.


*


Reiji tak lama-lama juga berada di Mushala yang tersedia di gedung apartemen tempat ia tinggal-karena Reiji terbangun tepat suara sayup-sayup Adzan terdengar dari kejauhan, karena Reiji membuka jendela pada ruang baca dari semalam. Jadi tidak terlalu tepat waktu jika Reiji datang untuk berjamaah, karena Mushala nampak sepi.


Kalau yang Reiji pikir sih, tidak ada yang berjamaah disana. Karena Reiji yakin para penghuni gedung apartemen amat sangat jarang ada yang menggunakan Mushala yang tersedia di salah satu lantai gedung apartemen dan berukuran tak seberapa besar itu. Tapi Reiji tak mau ambil pusing. Tak mau juga sibuk dengan amal ibadah orang lain. Ga guna juga buat dirinya.


Toh kalau bukan karena Malia mengunci diri dalam kamar sampai dengan Reiji selesai berwudhu, ia pun rasanya tidak menggunakan Mushala tersebut. Karena biasanya Reiji menjalankan ibadah di dalam kamarnya jika sedang berada dalam unit apartemennya dan Malia, dan terkadang bak keluarga Samara, ia dan Malia ibadah dengan berjamaah.


***

__ADS_1


‘Ga subuh apa Lia? ---‘


Reiji membatin saat ia telah kembali ke dalam unit apartemennya dan Malia, dan mendapati pintu kamarnya dan Malia itu masih tertutup rapat, serta dari celah pintu nampak lampu kamarpun belum menyala.


‘Apa dia lagi PMS? ..’ Reiji kembali bertanya-tanya dalam hatinya.


Reiji kemudian menimbang-nimbang apa dia perlu membangunkan Malia.


‘Ah ga usah deh.’


Kemudian Reiji beralih ke pantri.


‘Mending gue cari sarapan di luar deh.’


Reiji kemudian masuk ke dalam ruang baca, untuk mengambil ponsel dan dompetnya, yang untung saja tidak tertinggal di dalam kamar karena Reiji membawanya setelah ia berganti pakaian sebelum Malia pulang.


**


‘Apa semalam, Rei pergi dan ga pulang?....’


Malia yang tidak melihat Reiji dalam unit apartemen mereka itu pun bertanya-tanya dalam hatinya.


‘Ke tempat si Shirly jangan-jangan....’ kemudian Malia membatin sinis. Namun tak lama kemudian, ia segera menolehkan kepalanya, kala mendengar pintu apartemen terbuka, dan Reiji pun muncul dengan membawa bungkusan di tangannya.


“Aku beli sarapan..” kata Reiji yang melihat Malia berdiri di dekat pantri. Namun Malia tak menyahut. “Lelaki impian kamu hebat—“ cibir Reiji. “Sampai membuat kamu lupa dengan pembagian tugas yang bahkan kamu sendiri yang atur..”

__ADS_1



**Bersambung..


__ADS_2