WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 86


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Sorry agak lama Kak....”


Malia sudah sampai di sebuah Kedai Kopi Kekinian yang ada dalam sebuah Mal Besar di daerah Jakarta.


Mal tempat pertemuan Malia dan Irsyad memang usulan dari Malia.


Namun Kedai Kopi yang kini Malia sambangi adalah gagasan Irsyad.


Irsyad yang melihat kedatangan Malia, berdiri dan melemparkan senyumnya pada Malia. “Aku juga belum lama sampai, kok.”


Malia tersenyum balik pada Irsyad, “Aku pesen dulu -----“


“Biar aku aja yang pesankan, Li.” Irsyad memotong ucapan Malia dan segera mengajukan diri untuk memesankan apa yang ingin Malia pesan.


“Ga apa-apa, Kak. Biar aku sendiri aja yang pesen minuman buat aku.”


Malia menolak dengan halus, dengan tersenyum kecil.


“Oh ya udah....”


“Kak Irsyad mau ada tambahan pesenan lagi?” Malia berbasa-basi, karena ia sudah melihat satu gelas plastik di atas meja tempat duduk Irsyad.


“Engga, Li. Ini udah cukup.”


Irsyad menunjuk pada gelas plastik miliknya.


“Ya udah.”


Malia kemudian melangkahkan kakinya menuju konter pemesanan dalam Kedai Kopi tersebut, sementara Irsyad kembali duduk di kursinya.


*


MALIA


Aku sudah memegang minuman pesananku di tangan.


Segelas varian kopi kekinian yang sebenarnya cukup sering aku nikmati kopinya.


Yang nama tempatnya tak pernah aku pusingkan, karena yang aku incar adalah varian minuman yang ada di sebuah gerai kopi kekinian tersebut.


Tapi saat Irsyad mencetuskan tempat ini sebagai tempat ‘mengobrol’ kami, nama gerai kopi ini, seolah sedang menyindirku. Terlebih varian kopi pesananku ini.


Varian kopi di gerai tersebut karena keseimbangan Espresso dan susu, sehingga menghasilkan rasa yang kuat. Menurutku pendapat pribadiku.


Tapi nama varian-nya yang sebelumnya berarti biasa-biasa saja bagiku, bahkan tidak aku indahkan. Tapi karena aku sedang bersama Irsyad, nama menu kopi pesananku ini membuatku rasa ingin mengumpat.


‘Kopi Kenangan Mantan’.


Sialan!.


Meski laki-laki yang ada di depanku ini bukan seorang mantan pacar atau sejenisnya, tapi tetap saja,


Sialan!.


Nama menu kopinya, maksudku. Nama menu, tujuan umpatan ku.


Dan sialannya kenapa aku memesan varian yang ini, sehingga aku jadi kesal tak jelas sendiri.


---


Lupakan varian kopi pesananku yang menyebalkan sekali namanya bagiku sekarang ini. Kopi menyebalkan yang rasanya enak.


Aku telah duduk berhadapan dengan Irsyad.


Menyesap kopi yang terasa menyegarkan di tenggorokanku, selain Irsyad di depan mata. Yang aku rasa kadar ketampanan nya di mataku masih sama seperti dulu.


Oh Tuhan Malia!


“Jadi, siapa laki-laki beruntung itu?”


Irsyad melontarkan satu kalimat pertanyaan kala aku sedang menyesap kopi kenangan mantan pesananku ini.


Tidakkah seharusnya Irsyad berbasa-basi dahulu sebelum dia menanyakan hal itu?....


“Reiji Shakeel....” jawabku. “Kakaknya Avi.”


“Avi, sahabat kamu dari kecil itu ya?....”


Dan aku mengangguk. Ternyata, dia juga mengingat soal aku yang memiliki Avi sebagai sahabat satu-satunya dalam hidupku.


Ternyata, ada ceritaku yang masih Irsyad ingat.


Aku terdiam kemudian sambil memutar-mutar cincin kawinku. Irsyad juga terdiam.


“Sudah berapa lama?” Irsyad bertanya lagi, setelah selama beberapa saat kami saling terdiam.


“Tiga bulan kurang lebih....” jawabku.  “Aku dan Rei dijodohkan oleh orang tua kami yang sudah bersahabat sejak lama....”


Dan kulihat Irsyad tersenyum setelah aku mengatakan hal barusan. Namun senyumannya.... Ah, sudahlah.


Tapi kenapa aku harus memberi tahu Irsyad jika pernikahanku adalah sebuah perjodohan?.

__ADS_1


Yah, terlepas aku yang memiliki perasaan spesial pada Irsyad, kami memang berteman baik. Kelewat berteman baik, sampai kami sering sekali berbagi cerita, sebagaimana aku dan Avi, namun dengan bahasan yang berbeda.


Tapi itu dulu.


Dulu, sebelum aku menjadi istri Reiji.


Dulu, sebelum Irsyad yang lebih dulu menjauh, tak lagi membalas E-mail dan pesan di Messenger ku.


Dan aku, memutuskan untuk tidak lagi menghubunginya duluan.


**


“Jadi, siapa laki-laki beruntung itu?” Pertanyaan Irsyad membuat Malia tersenyum getir dalam hatinya.


Tapi Malia menjawab pertanyaan Irsyad dengan menunjukkan sikap yang tidak gimana-gimana.


“Reiji Shakeel.... Kakaknya Avi.” jawab Malia.


“Avi, sahabat kamu dari kecil itu ya?....”


Dan pertanyaan yang merupakan tebakan dari Irsyad barusan, Malia jawab dengan anggukkan.


Untuk beberapa saat, keduanya terdiam.


“Sudah berapa lama?” Irsyad bertanya lagi, setelah selama beberapa saat ia dan Malia sama-sama terdiam dalam kecanggungan.


“Tiga bulan kurang lebih....” jawab Malia.  “Aku dan Rei dijodohkan oleh orang tua kami yang sudah bersahabat sejak lama....”


Malia memberitahukan pada Irsyad alasannya menikah.


Pria itu tersenyum, lalu menelengkan kepalanya ke kiri. Malia memperhatikan gerak-gerik Irsyad tersebut.


“Tiga bulan....” Irsyad menggumam.


Tersenyum, namun senyuman Irsyad tampak seperti senyuman pahit dalam pandangan Malia.


Dan gumaman Irsyad, Malia seolah mendengar nada penyesalan di dalam gumaman Irsyad itu. ‘Kenapa ekspresi Irsyad begitu?’ batin Malia. Dan Malia menjadi sedikit salah tingkah sekarang.


Lalu kembali, keheningan diantara Malia dan Irsyad kembali tercipta. Mata Malia terus memperhatikan gerak-gerik Irsyad, sembari sesekali ia menyesap minumannya.


Sedang terheran sendiri, sambil mencoba menemukan jawaban dalam hatinya tentang sikap Irsyad saat ini.


Irsyad yang terdiam dan menundukkan kepalanya terlihat seperti seseorang yang sedang merasakan kekecewaan yang besar dalam hatinya.


Membuat Malia bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, mencari jawab yang bisa ia pahami kemudian.


**


MALIA


Aku, hatiku.... sedikit mulai lagi terusik melihat gelagat Irsyad saat ini berdasarkan ekspresinya saat ini.


Dan kenapa hatiku menjadi terganggu karenanya?....


Sungguh, aku tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan di hatiku saat ini.


Ada pertanyaan-pertanyaan dalam hatiku mengenai sikap Irsyad ini.


Pertanyaan yang sulit untuk aku temukan jawabannya yang sekiranya dapat membuat aku berhenti bertanya-tanya sendiri dalam hatiku seperti ini.


“Aku ga sangka kita bisa ketemu lagi setelah sekian lama, Kak....” akhirnya aku yang memecah keheningan diantara aku dan Irsyad.


Tepatnya, duduk berdua seperti ini. Walaupun saling berhadapan. Tidak seperti dulu, dimana aku dan Irsyad selalu duduk bersebelahan, setiap kali kami makan di sebuah tempat makan, atau duduk santai di sebuah kedai kopi seperti ini.


“Iya.” Irsyad menjawab dengan suara yang datar. “Aku juga tidak menyangka kalau kamu sudah menikah....”


Lalu nada suara datar Irsyad, kenapa terdengar menjadi bernada lirih di telingaku?.


**


Kecanggungan diantara Malia dan Irsyad kembali lagi menyelimuti keduanya. Malia sering mengalihkan pandangannya ke arah selain Irsyad, begitu juga Irsyad, sembari laki-laki itu sesekali menggigit bibir bawahnya sendiri.


Namun sejenak kemudian Malia menghela nafasnya. “Kak....”


Bersuara memanggil Irsyad, memecah kesunyian yang mereka berdua buat.


Membuat Irsyad memfokuskan matanya pada Malia. “Ya?....” tanggap Irsyad.


“Jadi kemana aja?.... Kemana aja selama ini sampai Kakak berhenti balas E-mail aku dan juga ga pernah balas pesan di Messenger?” tanya Malia.


Malia jadi bertanya seperti itu, karena ia mulai tidak bisa menahan diri karena rasa penasarannya.


“Maaf, Lia....”


Irsyad menjawab pelan.


“Aku rasa aku ga perlu umbar alasannya. Aku hanya.... sangat sibuk!”


Sambungan jawaban Irsyad membuat Malia terkekeh getir dalam hatinya.


“Trus tiba-tiba Kakak datang ke kantorku, dan mengajak aku bertemu seperti ini?....”


Malia kembali bertanya.


“Apa karena kita ga sengaja ketemu beberapa hari lalu di Groove?....”

__ADS_1


“......”


“Maksud aku, kedatangan Kakak di Jakarta ini ga mungkin sengaja buat nemuin aku kan?”


Malia jadi blak-blakan.


“Dan karena kita ga sengaja ketemu di Groove hari itu, Kakak jadi rasa ga enak sama aku, hingga bela-belain dateng ke kantor aku untuk menebus rasa ga enak itu?”


“Ga, Lia.” Sergah Irsyad.


Pria itu menggeleng pelan.


“Sorry untuk aku yang ga sempat membalas E-mail – E-mail kamu.”


Sudut bibir Irsyad sedikit menyungging miring.


“Aku ngerti....” lanjut Irsyad. “Mungkin kamu marah....”


Malia kembali terkekeh getir dalam hatinya. ‘Marah? Apa perlu aku marah?....’


“Anggaplah aku sok sibuk selama ini. Tapi....”


“Ya udah Kak. Maaf mengenai sikap aku tadi. Aku Cuma penasaran.”


“Ga apa, Li.... Aku ngerti kalau kamu sampai bersikap seperti itu....”


Irsyad tersenyum, bukan lagi menyungging miring.


“Aku Cuma berpikir mungkin kamu udah ga mau temenan sama aku lagi-----”


“Ya enggalah, Lia.”


Irsyad menukas ucapan Malia.


“Ga mungkin aku memutus pertemanan kita....”


Lalu Irsyad menyambung kalimatnya.


“Let me tell you this ( Biar aku kasih tahu kamu ini )....” Irsyad kemudian menegakkan tubuhnya, dan menatap intens pada Malia.


Dan Malia memposisikan dirinya untuk mendengarkan apa yang ingin Irsyad beritahu padanya itu. Irsyad nampak menghela nafasnya terlebih dahulu, sebelum ia melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan pada Malia.


“Dihari terakhir kamu mengirimkan pesan di Messenger, dihari itu aku telah memutuskan sesuatu....” ucap Irsyad. “Aku memang sengaja ga balas pesan kamu itu, karena sedang ada yang sedang aku persiapkan.” Sambung Irsyad.


“Apa—“ sela Malia. Ia spontan hendak bertanya pada Irsyad sehubungan dengan ucapan pria itu barusan.


“Boleh aku menyelesaikan perkataanku dulu?....”


Dan Irsyad segera memotong selaan Malia tersebut.


“Sorry....” ucap Malia. Lalu Malia kembali mengatupkan mulutnya.


“Tapi disela aku yang tengah mempersiapkan sesuatu itu, aku dihadapkan oleh satu pekerjaan penting sebelum aku....”


Irsyad menggantung kata-katanya.


“Yah pokoknya aku dihadapkan oleh satu pekerjaan yang cukup menyita waktuku dimana setelahnya aku menyadari bahwa aku telah terlalu menunda apa yang sudah aku persiapkan buat kamu. Sebuah kejutan.”


‘Dia mempersiapkan kejutan buat aku?’


Malia bertanya dalam hatinya.


“Kejutan?....” Namun akhirnya pertanyaan itu tercetus juga dari mulut Malia.


Irsyad pun mengangguk.


“Kejutan.... apa?”


Malia kembali bertanya.


Irsyad hanya tersenyum tipis sambil menelengkan singkat kepalanya.


“Tapi sudahlah.... “ ucap Irsyad kemudian. “Justru aku yang mendapat kejutan dari kamu.” Sambung Irsyad yang kemudian nampak menarik sudut bibirnya dan senyuman getir yang terbaca oleh Malia. Membuat Malia jadi berspekulasi dalam hatinya.


‘Apa maksud ucapan Irsyad tadi?....’


Hati Malia kembali bertanya-tanya.


‘No, Lia! Jangan mikir kalo kejutan yang dibilang Irsyad adalah pernyataan cintanya ke elo!’


Malia menepiskan dugaan naifnya itu.


‘Terus sekarang dia kecewa mengetahui fakta kalau lo ternyata udah nikah ...’ Tapi hati Malia masih tetap menduga-duga. ‘No, Lia! Singkirkan pikiran naif lo itu!’


Malia berseru pada hatinya sendiri.


‘Ingat Lia, lo itu udah jadi istri seseorang!’


Malia mengingatkan dengan keras dirinya sendiri.


Malia menghela nafasnya dengan pelan kemudian.


‘Kenapa kita tidak berjodoh ya, Irsyad?’


Kemudian Malia melirih dalam hatinya.

__ADS_1


**


Bersambung....


__ADS_2