
Selamat membaca...
***
MALIA
Mataku menyipit saat aku telah berada di koridor apartemen tempat unitku dan Rei berada, dimana didetik berikutnya mataku yang tadinya menyipit itu kini memandang curiga pada satu objek yang adalah seorang perempuan-sedang berdiri di depan pintu unit apartemenku dan Rei.
Seorang perempuan yang aku kenali sebagai salah seorang penghuni di lantai yang sama, tempat tinggalku dan Rei. Mau apa itu dia?..
Jadi curiga. Apa dia baru hendak bertamu, atau baru saja keluar dari unit apartemenku dimana ada Rei di dalamnya?
Tak mau berprasangka, aku pun melebarkan langkah dengan segera. “Heem!”
Lalu sengaja berdehem dengan sedikit keras, sambil aku berjalan menuju unit apartemenku dan Rei.
Perempuan yang sedang berdiri di depan pintu unit apartemenku dan Rei itu pun lantas menoleh, dengan tangannya yang baru ia turunkan dari tombol pada benda pipih yang terpasang di dinding luar unitku dan Rei.
Dia kemudian tersenyum canggung saat aku sudah berada di hadapannya.
Dan aku balas senyumannya, sambil aku melirik tangannya-dimana ada sebuah paper bag dalam genggamannya.
“Ada yang bisa saya bantu?” Aku langsung saja bertanya pada perempuan yang aku yakini memiliki ketertarikan pada Rei dari awal aku berpapasan dengannya. Perempuan itu hendak menjawabku, namun tidak jadi saat mendengar suara Rei dari dalam interkom unit apartemenku dan Rei.
“Yang?”
Reiji berbicara dari balik interkom dengan mengucapkan panggilan sayangnya padaku.
Mungkin dia menangkap suaraku yang bertanya pada perempuan yang sekarang aku masukkan ke dalam kategori Perempuan Gatal ini.
“Iya Rei, ini aku.”
Aku lekas menyahut, sementara perempuan anggota klub Perempuan Gatal didepanku ini diam saja.
**
“Segala pake tekan bel?” Reiji tak lama membuka pintu unit apartemennya dan Malia selepas mendengar suara sang istri menyahut dalam interkom. “Ga bawa kunci sama lupa password memangnya?”
Reiji berceloteh saat ia mendapati Malia yang tersenyum kala ia membuka pintu unit apartemen mereka itu.
“Sorry aku tadi lagi tidur-tiduran di kamar,” ucap Reiji lagi.
“Hai.”
Wanita yang tadi bercakap dengan Malia itu menyapa lembut pada Reiji seraya melemparkan senyuman yang membuat Malia merutuki itu perempuan dalam hatinya.
**
__ADS_1
Malia melirik malas sekejap saat tamu tak diundang itu menyapa Reiji dengan begitu ramah dan lembut di depan matanya. Sementara Reiji hanya sekilas melihat pada orang yang menyapanya itu sambil mengangguk samar, dengan ekspresi datar.
Membuat orang yang menyapa Reiji barusan itu, yang mana adalah tetangga di lantai apartemen yang sama dengan Reiji dan Malia itu nampak tersenyum canggung, karena mendapat balasan yang begitu datar dari orang yang dia sapa dengan ramah dan lembutnya.
“Kamu dateng sama dia?”
Reiji bertanya pada Malia.
“Engga,” jawab Malia. “Justru aku mau tanya-“
“Tanya apa?..” tukas Reiji.
“Mungkin kamu yang janjian sama embanya ini?” sahut Malia.
Dimana Reiji langsung mengernyit sinis pada Malia.
“Kenal aja engga, Yang.”
“Kita pernah berkenalan-“
“Aku masuk ya, Yang?”
Reiji berujar dengan hanya memandang pada Malia.
“Iya.”
“Oh ini, saya ada buah tangan ...“
“Oh iya makasih ...” Malia yang mengambil paper bag itu dari tangan si perempuan anggota Klub Perempuan Gatal yang disematkan Malia pada perempuan tersebut.
Malia mengulas senyuman wajar, walau hatinya merasa jengkel pada perempuan itu yang melirik Malia kemudian ia membalas ucapan terima kasih Malia.
“Iya, sama-sama.”
Dengan juga, perempuan tersebut tersenyum yang nampak dipaksakan pada Malia.
“Tapi mohon maaf, saya ga bisa ngundang Embanya masuk karena suami saya ga suka kalau ada orang asing yang main ke unit kami..... Jadi mohon maaf sekali dan terima kasih untuk buah tangannya ini.....”
“Oh-“
“Saya permisi kalo begitu,” pamit Malia dengan mempertahankan keramahannya pada wanita tersebut.
Namun dalam hatinya, Malia merasa puas sekali setelah melontarkan ucapannya tadi yang pada hakekatnya- Malia mengusir perempuan tersebut secara halus.
***
MALIA
__ADS_1
Aku tersenyum puas saat aku telah masuk ke dalam unit apartemenku, dimana Rei nampak kulihat sedang berkutat di pantri unit apartemen kami tersebut.
Dan aku langsung menyambangi suamiku itu, sambil juga membawa paper bag yang setelah aku lihat isinya seperti beberapa ragam makanan ringan. Yang kemudian aku letakkan di atas meja pantri di tempat Rei berada.
“Lagi bikin apa, Rei?” tanyaku pada Rei.
“Teh buat kamu.”
Rei menyahut, namun wajahnya nampak seperti sedikit tak senang.
“Makasih ya?----“
Akupun mengucapkan terima kasihku pada suami yang penuh perhatian itu, seraya tersenyum manis.
“Ya----“ jawab Rei singkat. Nampak acuh tak acuh.
“Kenapa sih?.....”
Yang kemudian langsung aku lengoskan wajahnya agar menatapku.
Dimana Rei nampak menatapku malas-malasan.
-
“Aku terganggu dengan ucapan kamu tadi, Yang.” Rei berucap menjawab pertanyaanku.
“Ucapan aku yang mana, Rei?----“
Lalu aku bertanya lagi.
“Yang bilang kalau aku janjian sama itu perempuan...”
Aku menarik lurus sudut bibirku.
“Aku ga suka dicurigain gitu...” kata Rei.
“Ya maaf. Aku ga ada maksud----“
“Di maskapai, perempuan yang notabene mungkin lebih cantik dari dia itu banyak banget, Yang. Kalau aku mau curang di belakang kamu, ngapain aku main sama yang istilahnya deket sama mata kamu?“
“Yaaa aku kan----”
“Aku bisa lebih leluasa having affair sama pramugari atau bahkan sama penumpang kalau aku macem laki – laki yang ga bersyukur punya istri yang cantiknya bukan main di rumah...”
Rei memotong ucapanku, lalu ia bicara lagi dengan wajah yang masih terlihat sedikit tidak senang. Dan ucapannya barusan membuatku jadi merasa tak enak hati padanya, padahal ucapanku yang membuat Rei menjadi nampak tak senang seperti ini hanya spontan karena merasa kesal saja dengan perempuan tadi.
Yang seolah kok tahu jika aku sedang tidak ada bersama Rei di unit apartemen kami.
__ADS_1
***
Bersambung .......