WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 222


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


MALIA


“Hai...”


Sapaan yang keluar dari mulut Rei ketika ia sudah berada di hadapanku setelah sebelumnya ia sudah melihatku sedang berjalan dari lorong lift.


Aku balas sapaan Rei dengan kata yang sama sambil kutelisik wajah Rei dengan seksama namun dengan pandangan yang biasa, guna membaca raut wajahnya.


Karena aku menduga Rei rasanya akan marah karena aku sudah membuatnya kebingungan dengan keberadaanku yang sepertinya terbaca jelas jika aku menghindarinya hari ini.


Tapi alih-alih kutemukan ketidaksukaan atau aura kekesalan di wajah Rei, nyatanya raut wajah suamiku itu nampak biasa saja. Hangat, lembut menyapaku dengan senyum tipis namun tetap saja menawan.


Hish! Bukan waktunya untuk memuji suami yang sudah membuatku kesal.


“Pulang sekarang? –“


“Iya...”


Aku menyahut seraya mengangguk samar.


---


Aku menduga jika wajah bersahabat Rei saat di lobi gedung tadi hanya sebuah kamuflase dari kekesalan hatinya padaku yang ia sembunyikan di hadapan orang – orang yang ada di sekitar kami tadi.


Lalu setelah di mobil, Rei pastilah mencecarku dengan sangat.


Huh coba saja. Jika dia mencecar dan mendikte diriku, maka akan aku lakukan hal yang sama padanya.


Lebih panjang kalau perlu.


“Tadi pagi sama siang kamu makan, Yang?”


Eh?


Alih – alih mencecar apalagi menceramahiku, Rei malah bertanya dengan lembut padaku.


Malah satu tangan Rei mengusap kepalaku dengan lembut pula. Beneran ga marah sama sekali itu dia?...


Apa nunggu sampe di apartemen?


“Udah.”


Aku menjawab datar kemudian.


***


“Jangan ngadu apa – apa soal si Cantik ke Pak Andra. Aku yang suruh dia bohong kalau kamu telfon ke kantor...”


Malia angkat bicara kala Reiji telah menyalakan mesin mobilnya.


Reiji menoleh lalu mengulas senyuman.


“By the way Dra, lo dimana?”


“Kantor.”


“Sibuk?”


“Engga, Cuma lagi nunggu perwakilan dari salah satu calon investor aja. Kenapa?... mau ngajak kongkow?...”


“Atur deh, tapi jangan hari ini.”


“Iya ga juga. Seminggu ini gue juga agak hectic..”


“Terus bini gue lo bikin hectic juga sama kerjaan?”


“Masa bos sibuk karyawan santai? –“

__ADS_1


“Emang aja lo ogah rugi.”


“Haha...”


“Pantes gue hubungi susah itu bini gue.”


“Paling lagi meeting divisi pas lo telfon kali. Ini sih udah selesai. Barusan aja dia kasih gue laporan hasil meeting. Lo telat telfon guenya.”


“Iya udah, ga apa – apa. Oke, Dra. Thanks ya,”


***


“Jangan ngadu apa – apa soal si Cantik ke Pak Andra. Aku yang suruh dia bohong kalau kamu telfon ke kantor...”


“Emang aku punya tampang tukang ngadu ya? –“


“Ya siapa tau.”


***


REIJI


Aku yakin jika Lia berpikir aku akan marah – marah padanya, untuk mempertanyakan sikapnya yang menghindariku hampir seharian ini.


Ya, aku sedikit kesal pada Lia yang katakanlah sedikit merepotkanku hari ini. Bahkan membuatku hilang selera makan, selain kurang istirahat.


Tapi aku pikir ulang jika harus marah – marah pada Lia, karena kurasa tidak ada gunanya. Toh sedikit banyak, aku tahu mengapa Lia bersikap seperti itu padaku.


Lagipula, melihat tampang Lia yang sepertinya malas – malasan bertemu denganku yang mungkin tidak dia sangka – sangka akan datang ke kantornya meski Lia menyuruh resepsionis di kantornya itu berbohong perihal keberadaannya di kantor --- jika aku marah – marah atau bersikap ketus saja pada Lia sekarang ini, yakin --- dia akan lebih marah dan ketus dariku.


***


Enggan ribut dan bertengkar, yang mana hal itu akan menyita waktu dan energinya serta Malia, Reiji tak mau memperpanjang masalah Lia yang menghindarinya hampir seharian. Reiji anggap angin lalu saja hal itu.


Toh sedikit banyak, Reiji sadar ada salahnya juga mengapa Malia menjadi menghindarinya begitu.


“Aku ga ngadu apa – apa soal resepsionis kalian yang bohong ke aku pada Andra –“


“By the way, kamu –“


“Menghindari kamu. Iya.”


Malia dengan cepat lagi menukas ucapan Rei.


“Alesannya? Aku masih bete gara – gara semalem.”


***


“Sekali lagi aku minta maaf, Yang... Udah menyia – nyiakan usaha kamu dengan menggagalkan kedatangan aku, yang walaupun konteksnya aku ga sengaja buat sampe ga dateng ke acara kita semalem –“


‘Apa dia bakal jujur sama gue dan meralat alasannya? –‘


“Tapi emang ada kendala mau gimana?”


“Terus kendalanya apa?...” tanya Malia, sambil ia mengarahkan pandangannya pada Reiji.


***


“Ya kayak yang aku bilang semalem di telefon –“


“Apa?...” tukas Malia yang penasaran, seraya ia bertanya.


“Ada kendala dengan pesawat. Jadi jadwal balik ke Jakarta dari Denpasar mundur.”


“Oh...”


Malia menyahut, pada Rei yang tersenyum lurus sambil menoleh ke arahnya.


“Maaf banget ya?...”


Reiji berucap lembut seraya mengelus kepala Malia sama lembut dengan ucapannya. Malia menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


Malia Tersenyum memang, tapi senyumnya terlihat enggan jika Reiji memperhatikan, dimana hati Malia juga sama tersenyum, namun tersenyum masam.


“Dimaafin ga?...”


“Bukan masalah dimaafin atau engganya. Kalo emang ada kendala ya mau gimana? –“


“Aku juga minta maaf banget karena ngabarin kamunya telat banget, Yang –“


“Kendalanya apa sih? Sampai kamu ga sempet buat ngecharge hp?”


“Yaa, mesinnya bermasalah –“


“Lagian juga kalo kamu jam 4 dari Denpasar, jam 6 kamu udah sampe Jakarta loh harusnya? ... Semaksimalnya jam 7 deh. Consider jalanan macet banget, tapi kayaknya jam 9 malem udah bisa sampe hotel? ... tapi sampai ga bisa mampir menyambangi aku, ngapain? ...”


Malia keburu memotong dan lanjut bercerocos sebelum Reiji sempat menyelesaikan kalimatnya.


***


“Kamu ga merhatiin ucapan aku waktu hubungi kamu semalem kayaknya, Yang? ...”


Reiji kemudian bicara selepas Malia mencecarnya.


“Aku awal bilang memang take off jam 4 dari Denpasar. Tapi kan waktu kamu tanya aku di mana, kan aku bilang aku masih di Denpasar?”


Reiji bertutur lembut, sambil membagi fokus pandangannya antara ke jalanan dan Malia.


Dimana Malia berdecih dalam hatinya. ‘Kenyataannya jam 3 sore kamu udah di Jakarta, Rei!’


***


‘Apa yang kamu sembunyikan dari aku sih, Rei?...’


Hati Malia yang bertanya – tanya, dengan dirinya menatap nanar ke arah luar jendela mobil.


Yang kemudian melirik, karena mendengar nada notifikasi ponsel yang bukan bunyi notifikasi ponselnya.


Tapi Malia mengenali bunyi nada notifikasi itu. Yang gatal ingin Malia celetuki, “Ada pesan masuk tuh ke ponsel kamu, Rei.”


Namun Malia urungkan.


“Aku jam 3 pagi baru dari Denpasar. Makanya baru sampai apartemen jam 6 pagi.” Karena Reiji lanjut bicara lagi.


Dimana Malia menunggu jika ada ucapan tambahan dari Rei yang biasanya suaminya itu bubuhkan kalau habis memberi Malia ‘laporan’.


“Kalo ga percaya, silahkan make sure sendiri deh..”


Tapi kalimat itu tidak tersemat, di laporan pekerjaan Reiji pada Malia kali ini.


Membuat otak Malia kembali berkutat, dengan pertanyaan atas dasar apa Reiji membohonginya?


Hingga saat suara yang merupakan dering ponsel pun terdengar, lalu Malia iseng menanyakan. “Kok direject?..”


Karena yang berdering adalah ponsel Reiji, dan suaminya itu dengan cepat menolak panggilan yang Malia tak sempat memfokuskan lirikan pada layar ponsel Reji yang diusap cepat oleh si empunya.


Ingin tahu saja, siapa sih yang menghubungi suaminya tadi?


“Aku kan lagi nyetir, Yang..” jawab Reiji yang nampak biasa.


“Ya udah sini – “


“Gantian nyetir?..”


“Bukan –“


“Terus ya udah apa? –“


“Ya udah sini aku yang pegangin ponsel kamu. Jadi kalo ada yang telfon, aku aja yang terima. Biar kamu ga repot dan kelewatan informasi, karena siapa tau penting?..”


*****


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2