WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 28


__ADS_3

Selamat membaca..


***


Rumah Orang Tua Malia


“Assalamu’alaikum ..”


Reiji tahu-tahu datang selepas Malia, kedua orang tuanya serta Avi selesai makan malam.


“Wa’alaikumsalam ..” Empat orang tersebut pun langsung menjawab salam Reiji, yang orangnya sudah masuk ke ruang tamu rumah orang tua Malia tersebut.


“Wah, panjang umurnya ..”


“Serta mulia ..”


Reiji menimpali celotehan dari papanya Malia saat ia datang dan menyalim takdzim pada calon papa mertuanya itu.


“Baru gue mau telpon lo.”


“Kenapa, kamu kangen sama aku?” Ucap Reiji dengan santainya.


“Paa—“ Malia hendak menimpali selorohan Reiji padanya itu barusan.


“Sama, aku juga kangen tiba-tiba.”


Namun Reiji segera menyambar dengan pede dan santainya.


“Kek Dilan yang kangen sama Milea. Kalo ini Reiji yang kangen sama Malia.”


“Ca ilah ..” ledek mamanya Malia. Sementara itu Reiji cekikikan dan papanya Malia terkekeh geli bersama Avi yang membatin geli atas kelakuan sang kakak.


Malia hanya mendecih geli pada ucapan receh Reiji barusan.


**


MALIA


“Sorry ya, kalo ganggu lagi.”


Reiji yang duluan berbicara saat ia dan aku memisahkan diri untuk berbicara berdua di teras halaman belakang rumah orang tuaku ini.


Sementara kedua orang tuaku dan Avi duduk-duduk di ruang santai sembari menonton televisi. Selain mengobrol santai juga dengan topik yang sepertinya tak jauh-jauh dari pernikahanku dan Reiji.


“Mama ngingetin lagi soal pesta pertunangan sama foto pre-wed. Nyuruh aku buru-buru telpon dan bicarakan itu sama kamu,” ucap Reiji selanjutnya.


Akupun manggut-manggut menanggapinya. “Iya gue juga sama. Disuruh Mama ngomongin itu buru-buru sama lo,” kataku kemudian.


“Itu dua ibu hebring bisa saling bertelepati kayaknya ya? Kompak banget bisa barengan nyuruh hal yang sama kayak gitu,” Tukas Reiji sambil mendengus geli.


Akupun tersenyum kecil mendengar candaan kecilnya Reiji barusan.


“Berhubung besok pagi aku harus ke Bali dan akan terbang ke Kroasia dari bandara sana, jadi aku putusin buat dateng langsung aja ke kamu malam ini juga.”


Aku manggut-manggut lagi aja menanggapi ucapan Reiji.


“Karena kalo lewat telpon kayaknya kurang sreg aja menurut aku,”sambung Reiji.


“Iya sih.”


Aku mengamini pendapat Reiji tersebut.


“Jadi sorry kalo aku ganggu kamu, dan bikin kamu bosen ngeliat aku yang ga kelar-kelar wara wiri depan kamu dari kemaren.”


Reiji kemudian menampakkan senyum gelinya dan aku juga mendengus geli aja. Lalu, untuk sesaat aku dan Reiji sama-sama terdiam.


“Besok kamu kerja?..”


“Iya.”


Aku sekaligus mengangguk.


Kemudian Reiji menyesap kopinya.


“Jadi gimana udah kamu pikirin?”


“Soal?” Aku balik bertanya pada Reiji yang bertanya padaku.


“Soal pesta pertunangan,” kata Reiji. “Kalo soal foto pre-wed kayaknya kan ga perlu dibahas karena kamu ga mau.”


Deg.


Kok aku ngerasa gimana gitu jadinya.


Namun Reiji kemudian menampakkan senyumnya.


“Toh memang ga penting-penting amat kan itu foto pre-wed kan?” Reiji lanjut berbicara.


Dan aku hanya tersenyum tipis saja.


“Lo ga lagi nyindir gue kan?”


Pertanyaan itu lolos dari mulutku kemudian.


“Lia.. Lia..” Reiji terkekeh kecil. Lalu ia tersenyum lagi sambil menatapku. “Kamu ini.”


Reiji menggelengkan kepalanya dan nampak tersenyum geli.

__ADS_1


“Mikirnya kebanyakan negatif ..” selanjutnya Reiji berkata begitu.


“Ya wajar gue mikir begitu..” balasku. “Terakhir kita ngebahas itu kemarin pas di bandung kan belom ketemu titik temunya.”


Reiji masih mempertahankan senyumnya. Senyum yang nampak teduh dengan sedikit lesung pipi yang ia punya. Pemanis alami wajah Reiji yang udah tercetak ganteng begitu.


Duh!


“Kan aku udah bilang sama kamu Li. Aku akan menghargai setiap keputusan kamu. Jadi kalo kamu ga mau foto pre-wed, that’s not a big deal for me kok.. Toh ga wajib dan memang ga penting-penting amat, kan? ..”


Iya sih memang, ga penting-penting amat itu foto pre-wed.


Tapi hari gini hal itu seperti sudah menjadi sebuah hal wajib dalam pernikahan. Meski ada juga sih yang ga pake gitu-gituan. Tapi kalau ga ada foto-fotoan ala pasangan mesra dalam pernikahanku, apa orang ga berpikir aneh ya?.


“Lagian ada juga yang ga majang foto pre-wed saat pernikahan mereka,” Reiji menyambung ucapannya, kala otakku ini sedang menimbang-nimbang. “Jadi kita bahas soal pesta pertunangan aja,” tambah Reiji. Lalu ia menyesap lagi kopinya. Tapi aku diam tak menyahut. Aku sedang memikirkan soal foto pre-wed yang ga penting itu, tapi cukup mengganggu hati dan pikiranku.


Apa yang sebenarnya Reiji mau soal itu?.


Meski Reiji mengatakan terserah maunya aku, emang dia ga punya keinginan gitu soal hal-hal yang menyangkut pernikahan kami?.


Kalo aku tanyain nih, gimana maunya Reiji soal foto pre-wed, pasti dia bilangnya,


‘Aku gimana kamu.’


“Jadi gimana Li?..”


Suara Reiji membuyarkan lamunanku.


“Kalo soal foto pre-wed..”


“Soal foto pre-wed ga usah dibahas lagi gimana?” Reiji memotong ucapanku.


“Jadi beneran ga apa-apa kalo kita ga foto pre-wed?”Aku sontak saja bertanya.


“Ga masalah kalo engga pake menurut aku..” sahut Reiji.


“Nanti Mama Alice sama Mama protes ga yah?” Aku dengan kekhawatiranku.


“Li, Yang mau nikah kan kita.”


Reiji menatapku dengan tatapan teduhnya, yang baru sejak kemarin sering Reiji tunjukkan padaku.


Kalo aku perhatikan.


Tatapan yang dulu tidak pernah kulihat dari mata Reiji setiap kali aku dan dia bertemu.


Sebelum aku dan Reiji dijodohkan.


Maklum, aku dan Reiji seringnya berdebat kalo ketemu, atau Reiji seringnya melengos dan mencibir kalo aku sedang membahas sesuatu dengan Avi didepannya.


Tapi sejak kemarin, tatapan mata Reiji yang teduh seperti sekarang ini mulai sering ia tunjukkan padaku. Membuat aku memikirkan ucapan Avi waktu sore tadi.


Apa benar begitu?..


“Lia”


“Hmmm?....”


Aku spontan menoleh dengan lengosan polos saat aku dengar Reiji menyebut nama panggilanku.


Dan si Reiji nampak mendengus geli sembari menatapku.


“Sekarang hobinya bengong ya?” kata Reiji padaku seraya ia bertanya.


“Ck, paan sih ......”


Aku mencebik.


“Gue bukannya bengong, tapi lagi mikirin sesuatu.”


Aku membela diri. Reiji mesam-mesem.


“Mikirin apa emang?”tanya Reiji.


Mikirin soal perasaan lo ke gue.


Eh.


Untung ga keceplosan depan Reiji.


“Bukan apa-apa..” sahutku.


“Jadi soal pesta pertunangan gimana?” Akhirnya Reiji bertanya lagi soal itu.


Dan jujur, aku bingung.


Kalo ikutan maunya aku sih, tetep aku males segala ada acara pesta pertunangan segala.


Kalo soal biaya, aku ga terlalu mikirin juga.


Seperti yang dibilang orang tuaku dan orang tua Reiji, untuk itu aku ga perlu pusing karena mereka memang jelas mampu untuk menggelar pesta pertunangan untuk aku dan Reiji.


Aku lebih mikirin ribetnya ketimbang soal biaya.


Lamaran begini aja seperti yang digelar tadi pagi udah ribet banget perasaan. Apalagi pake segala bikin pesta pertunangan begitu?.


Udah mana pernikahanku dan Reiji aja tiga bulan lagi. Cepet kan itu. Printilan buat itu acara aja masih belum rampung semua.

__ADS_1


Jadi males lah kalo nanya pendapatku soal pesta pertunangan. “Terserah lo deh kalo soal itu, Rei,” tapi kalimat itu yang kemudian keluar dari mulutku.


“Laaahh.” Reiji menatap heran padaku.


“Jangan pendapat gue terus yang ditanyain,” kataku. “Pendapat lo kan juga perlu. Yang nikah kan elo sama gue. Jadi ya kita harus saling berbagi pendapat kan?”


Aku berkata begitu pada akhirnya. Aku memutuskan kali ini Reiji aja yang menentukan.


Sudah beberapa kali sejak kemarin yang Reiji lakukan adalah hal yang menyangkut keinginanku, pendapatku.


Jadi sekarang giliran aku mendengarkan dan melakukan apa yang menjadi pendapat dan keinginan Reiji.


Kalau Reiji mau berbesar hati menerima pendapat dan melakukan keinginanku, masa aku tidak?. Jadi kali ini aku meminta Reiji saja yang memutuskan bagaimana tentang pesta pertunangan kami.


Meski aku akui, aku terkadang keras kepala.


Yah, maklum saja, anak semata wayang yang cukup dimanja selain tidak pernah kekurangan kasih sayang dari orang tua.


Memiliki orang tua yang selalu memberikan keinginanku, membuat aku kadang sedikit impulsif.


Tapi seperti yang Mama pernah bilang, kalau aku sudah harus bisa mengontrol egoku setelah menjadi seorang istri nanti.


Istrinya Reiji Shakeel.


Yang orangnya masih menatapku dengan tersenyum kecil.


“Sama soal foto pre-wed,” Tambahku. “Kalo emang lo mau pake ada itu sesi foto pre-wed ya gue ikut aja.”


“Pasrah banget,” sahut Reiji lalu mengulum senyumnya. Aku tersenyum tipis saja.


Reiji kemudian diam dan nampak berpikir. Baru kemudian ia berkata lagi.


“Ya udah gini aja, untuk soal pesta pertunangan kamu sendiri maunya gimana?...”


Ye si Reiji nih, orang tadi udah aku bilang aku serahin ke dia keputusannya, malah nanya lagi maunya aku gimana.


“Ya maunya lo gimana?”


Aku balikkan lagi pertanyaan Reiji.


“Bener nih, mau sesuai keinginan aku? ...”


Reiji bertanya kembali untuk memastikan.


“Iya ..” Akupun dengan cepat mengiyakan.


Reiji manggut-manggut.


Lalu di detik berikutnya ia berkata,


“Ya udah untuk pesta pertunangan , aku rasa aku sependapat dengan kamu Lia. Ga usah aja ya?”


“Kenapa emang?.....”


Aku sontak saja bertanya. Hanya sekedar ingin tau aja, kenapa dia punya pendapat yang sama denganku soal n pesta pertunangan.


“Bukan karena tadi gue bilang kalo menurut gue itu ga usah, pas acara tadi pagi kan, Rei?” Aku melanjutkan pertanyaanku yang memang seperti itu dugaanku.


Bukan apa-apa, aku ga ingin kepikiran lagi seperti soal foto pre-wed yang bikin aku sedikit ga nyaman karena takut mikirin si Reiji tersinggung dengan ucapanku. Meski kayaknya Reiji fine-fine aja, tapi kan aku ga tahu apa yang ada dalam hatinya.


“Bukan ...”sahut Reiji tenang.


“Beneran?...”


Reiji menganggukkan kepalanya kemudian.


“Aku rasa juga itu ga perlu sih. Pernikahan kita aja persiapannya hanya tiga bulan, dan masih banyak yang on the way disiapin kan? ...”


Aku mendengarkan penuturan Reiji dan akan membiarkannya sampai ia selesai berbicara.


“Jadi kalo ditambah ada pesta pertunangan lagi, kayaknya ya itu, bakal tambah repot.. dan lagi cuti kita kan juga terbatas.”


Aku manggut-manggut.


“Bukan karena aku pelit ga mau ngeluarin biaya tambahan loh ya? ..”


Aku terkekeh kecil mendengar kelakar Reiji.


“Tapi kalo aku mikir sih, lebih baik dana buat pesta pertunangan di alokasikan untuk hal lain..”


“Apa? buat beli pesawat jet pribadi?” Aku berseloroh. Dan Reiji sontak terkekeh kecil.


“Pengennya sih,” sahut Reiji.“Tapi sayangnya aku ga sekaya itu.”


Akupun mendengus geli.


“Jadi buat apa dong?” tanyaku kemudian.


“Honeymoon?”


Aduh!.


Pikiranku jadi melanglang buana.


****


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa dukungan buat othor receh dan karya recehnya juga yah.


__ADS_2