
Selamat membaca..
***
Hari pernikahan...
Disatu hari ini, rasanya kebahagiaan terasa begitu penuh sampai meluap.
Wajah-wajah sumringah mewarnai momen pernikahan Malia dan Reiji, dari sejak acara akad sampai dengan saat resepsi dalam sebuah Ballroom Hotel. Baik wajah kedua mempelai, dan juga wajah-wajah keluarga mereka.
Malia dan Reiji sudah beberapa kali saling melempar tatap dengan senyuman yang terpatri di keduanya. Senyum bahagia, karena memang sudah sepatutnya seperti itu bukan?.
Meski rasa cinta belum hadir di hati Malia, namun setidaknya Malia meyakini jika ia sudah menyayangi Reiji lebih dari sebelumnya.
Yang pasti bukan rasa sayang dari seorang ade-adean pada laki-laki yang selama hidupnya ia kenal dan perduli padanya sebagai seorang adik, serta memperlakukan Malia sama seperti laki-laki yang sudah bergelar sebagai suami Malia itu, sama seperti ia memperlakukan adik kandungnya sendiri.
Pokoknya berbeda dari rasa sayang yang seperti itu, yang lebih pada sebuah kepedulian.
Entah bagaimana mendeskripsikan rasa sayang Malia pada Reiji, namun yang jelas bukan rasa sayang sebagai adik ke kakak lelakinya.
Karena, ade-adean dan kakak-kakak-an tidak mungkin sampai berbagi saliva bukan?.
***
REIJI
“Makasih,” ucapku dengan berbisik pada Malia di hari paling istimewa dan membahagiakan bagiku ini secara pribadi. Kali kedua aku mengucapkan terima kasih pada Malia, atas pernikahan ini, atas kesediaannya menjadi istriku.
Karena meskipun aku dijodohkan dengan Malia, namun Demi Tuhan aku benar-benar bahagia, karena Malia kini telah menjadi istri sah ku.
Malia kemudian menatapku dan tersenyum.
Sungguh Malia nampak sangat lebih cantik dari biasanya.
Manglingin.
Bikin aku mendapat kepretan dari mama sebelum akad tadi, gara-gara tanganku yang otomatis terulur hendak menyentuh wajah Malia, saking aku begitu terpana pada Malia ketika ia muncul dalam balutan kebaya pengantin yang begitu pas ia pakai.
“Makasih karena menerima perjodohan ini, dan sudi menerima aku jadi suami ....” Ucapku tulus pada Malia, yang kubisikkan ke telinganya selepas acara akad selesai tadi.
Lalu Malia menggeleng. “Engga Rei....” Kata Malia.
Malia masih menampakkan senyumnya, senyum yang membuatku berdesir.
“Ga perlu berterima kasih.... Ini udah jadi keputusan kita masing-masing.... Dan aku udah ikhlas menjadi istri kamu ....”
Aku tersenyum. Meski aku tahu Malia belum mencintaiku, tapi aku merasa senang dengan ucapannya itu. Lalu Malia bilang lagi,
“Aku akan belajar menjadi istri yang baik buat kamu, Rei. Meski aku ga tahu apa aku bisa menjadi istri yang cukup baik buat kamu ....” Malia menyambung ucapannya, lalu ia tersenyum dengan cantiknya padaku sekali lagi.
“Kamu pasti akan jadi istri yang baik buat aku, Lia.”
Aku berkata dengan yakin dan tulus. Karena aku memang yakin, Malia akan berusaha untuk itu.
**
Malia dan Reiji baru saja duduk di kursi pelaminan. Sepasang insan yang baru beberapa jam lalu disahkan menjadi sepasang suami dan istri secara agama dan negara itu nampak berbahagia, dengan senyuman yang nampak tak pernah hilang dari wajah keduanya dari sejak acara akad selesai.
Sesekali Malia dan Reiji saling mencuri tatap, dan saat netra keduanya bertemu, Malia dan Reiji saling melempar senyuman satu sama lain. Senyuman bahagia, yang memang sudah seharusnya keduanya rasa saat ini. Dan Reiji akan menautkan tangannya dan Malia sesering yang ia bisa, sebelum pada akhirnya hal itu sulit untuk dilakukan kala para tamu sudah mulai mengular di antrean untuk menyalami Malia dan Reiji.
****
MALIA
Apa yang aku inginkan, biasanya akan selalu aku dapatkan.
Terkecuali, Reiji.
Aku tidak pernah memimpikan Reiji untuk menjadi suamiku, meskipun secara visual Reiji adalah salah satu ciptaan Tuhan yang indah dipandang mata, hingga bisa terpesona oleh ketampanan wajah yang disertai tubuh atletis nya.
Jangankan bermimpi, berpikir tentang Reiji yang menjadi suamiku pun tidak pernah.
Tapi setelah kupikir-pikir, rasanya sudah tidak penting lagi segala hal yang aku inginkan.
Yang penting itu kan, apa yang sudah harus aku lakukan sekarang adalah menjalani apa yang sudah aku dapatkan saat ini.
__ADS_1
Takdir dan Tuhan telah menunjuk seorang Reiji Shakeel menjadi suamiku, dan hal itu telah terjadi beberapa waktu yang lalu.
Dan kini, aku telah menyandang gelar sebagai Nyonya Reiji Shakeel secara resmi.
Dimana aku, sudah ikhlas menyandang gelar tersebut.
Toh tidak ada yang salah sepertinya, menjadikan Reiji sebagai suamiku.
Reiji tampan dan mapan.
Meski di mataku dia punya sisi menyebalkan saat kami belum dijodohkan, yang aku tahu, jika Reiji bukan tipe ‘Bad Boy’.
Melainkan tipe cowo rumahan.
Tapi nyatanya, Reiji kayaknya cukup pandai bergaul juga diluaran. Ga pernah merhatiin kapan mainnya suamiku itu--
Ehem!.
Karena setiap aku main ke rumah mereka, dan kebetulan Reiji ada di rumah, dari sejak aku datang sampai aku pulang, Reiji tidak pernah keluar dari rumah, bahkan kamarnya.
Yang jelas, sedari tadi aku menyalami banyak sekali orang yang dikenalkan Reiji sebagai temannya. Entah teman apa aja.
Banyak banget pokoknya ini temen-temennya Reiji yang dateng ke resepsi pernikahan kami.
Tapi dari sini aku menilai, walaupun rasanya seumur hidup aku mengenal Reiji, nyatanya aku tidak benar-benar mengenal laki-laki yang sudah menjadi suamiku ini.
Reiji yang kukenal, ya itu cuek, cool, kek freezer frozen food.
Kadang mulut Reiji itu pedes juga kalo lagi nyinyir, kalau ada hal yang aku dan Avi lakukan, dan hal itu tidak dia sukai.
Selain pembawaan dan cara berpikir Reiji yang memang dewasa, dan juga masuk dalam kategori cowo rumahan.
Tapi melihat begitu banyaknya teman-teman Reiji, bahkan teman-temanku saja mungkin hanya setengahnya. Dan mereka tampak memberikan kesan, jika Reiji adalah sosok yang menyenangkan.
Jadi membuatku penasaran tentang sisi lain seorang Reiji Shakeel.
Suamiku.
Suami dari hasil perjodohan antara orang tuaku dan orang tua Reiji.
Semua, sudah aku pikirkan baik-baik.
Dan lagi, sepertinya aku sudah menyayangi Reiji, meski belum dapat aku katakan jika itu adalah ‘Cinta’.
Karena baru sebatas itu, baru sebatas aku menyayangi Reiji lebih dari sekedar kakak, seperti waktu dulu, sebelum kami dijodohkan.
Biar saja waktu yang menjawabnya nanti, untuk sebuah rasa yang disebut ‘Cinta'.
Dariku, untuk Reiji, Suamiku.
Dimana saat ini, dalam pandanganku, Reiji tampak .... sangat bahagia.
**
Para tamu undangan yang tadi mengular sangat panjang di antrian untuk menyalami Malia dan Reiji yang menjadi Raja dan Ratu sehari dalam perhelatan pernikahan mereka itu, kini sudah mulai berkurang.
Hal itu membuat Malia dan Reiji dapat mencuri waktu untuk duduk sejenak dan bersantai sambil terlibat obrolan berdua di kursi pelaminan, sementara sebagian besar tamu sedang asyik menikmati hidangan yang disajikan dalam resepsi pernikahan Malia dan Reiji itu.
“Rei....”
“Duh, yang mesra kenapa manggilnya?.... Udah jadi suami istri kan? ....”
Reiji segera menyambar dengan candaan, saat Malia memanggilnya.
Dimana Malia langsung mencebik manja, lalu mendengus geli kemudian, dan Reiji terkekeh kecil.
“Kenapa?.... Udah cape banget ya? .... Mau turun sekarang? ....”
Malia menanggapi cecaran pertanyaan Reiji dengan gelengan.
“Ya masa kita turun sekarang? ....”
Kemudian Malia berucap.
“Ya kenapa emangnya?”
__ADS_1
“Ga sopan ah,” sahut Malia.
“Ya ga apa-apa kali.” Tukas Reiji. “Kalo kamu memang cape, jangan dipaksain. Nanti sakit gimana?”
“Engga, laaahhh,” ucap Malia. “Cuma pegel dikit doang ....” Tambahnya.
“Mau dipijitin sekarang? Aku pijitin kamu, terus kamu pijitin aku” Goda Reiji. “Biar pada ngiri ini tamu-tamu liat penganten pijit-pijitan di atas pelaminan.”
Malia sontak tertawa kecil mendengar selorohan Reiji.
Dimana sebagai seorang pengantin perempuan, Malia seolah punya mode otomatis untuk tidak tersenyum lebar.
“Yang ada kita di viralin!”
“Kayaknya bagus itu, siapa tahu kita bisa jadi trendsetter acara pijit-pijitan penganten di atas pelaminan?....”
“Apa sih Rei, garing banget deh!”
Malia mencebik, namun lagi-lagi ia tersenyum kecil akibat selorohan Reiji. Dan Reiji tersenyum geli.
Sepasang pengantin baru yang nampak bersenda gurau di atas pelaminan itu terlihat bahagia, bahkan mengarah pada kemesraan.
Meskipun baru ada cinta yang nyata hanya pada satu hati saja, setidaknya dapat saling menerima dan berpikir untuk masa depan pernikahan mereka yang diharapkan agar langgeng tanpa masalah berarti.
Jalani saja dulu, saling menyamankan dan saling memegang komitmen.
Malia dan Reiji sama-sama merasa, terlepas dari apapun alasan pernikahan mereka berdua terjadi, itu sudah menjadi takdir keduanya untuk bersama dan terikat.
Tangan Yang Kuasa – yang telah mengaturnya.
Tinggal bagaimana Malia dan Reiji nanti, menjalani kehidupan pernikahan mereka ke depannya.
“Kamu lapar ga, Yang?” Tanya Reiji pada Malia.
“Sedikit.”
“Ya udah turun yuk?....”
“Ih engga ah. Ga sopan tauu.” Malia menolak ajakan Reiji untuk turun dari pelaminan.
“Ga sopan darimana sih? ....” Tukas Reiji. “Mereka juga paham kalo penganten pun bisa laper ....”
“Iya sih.... Tapi tetep aja ga enak banget kayaknya, kan?....”
“Ga enak gimana sih?....” Tukas Reiji lagi. “Ayo ah!”
Reiji mengajak, sekaligus membujuk Malia. Namun Malia menggeleng.
“Katanya mau jadi istri yang baik buat aku? ....” Ucap Reiji. “Istri yang baik harus denger kata suami kan?....”
Reiji meraih tangan Malia.
“Yuk.” Ajak Reiji lagi.
“Tapi kamu juga loh ya?”
“Aku juga kenapa?.... Makan?....”
“Iiiihh, bukan!”
“Terus?” Tanya Reiji.
“Kamu juga jadi suami yang baik buat aku ....”
Reiji tersenyum manis, menatap Malia yang seolah malu-malu mengatakan keinginannya barusan.
“Aku akan berusaha.... Tak hanya menjadi suami yang baik, aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu, Malia....”
**
Bersambung....
Jangan lupa berikan dukungan pada karya ini jika berkenan ....
Loph Loph,
__ADS_1
Emaknya Queen