
Selamat membaca...
***
Triinngggg! ..
Dengan malas-malasan Reiji merogoh saku celana santainya demi mengambil ponselnya yang sedari tadi berdering tanpa akhlak-kalo kata Reiji, karena mengganggu sesi ‘pembukaan’ menuju ‘pertandingan kuda-kudaan’ dirinya dan Lia di atas ranjang.
“Siapa? ..” tanya Malia pada Reiji saat suaminya itu telah memegang ponselnya.
“Owner maskapai tempat aku kerja Yang,” jawab Reiji sambil mengangkat ponsel dan menunjukkan layarnya pada Malia.
“Oh ..”
“Boleh aku terima? ..”
“Ya terima dong Rei, Bos kamu kan itu?”
Malia lekas menjawab pertanyaan Reiji yang meminta ijin padanya itu.
“Ya udah—“
Reiji menyahut.
“Aku terima panggilan ini dulu ya?”
Malia mengangguk, dan Reiji tersenyum.
“Yah mati.”
“Lagian kamu pake tanya aku dulu. Bukannya langsung diterima aja? ...”
Malia berucap dan Reiji mendengus geli.
“Ya aku kan nunjukin ke kamu dulu siapa yang telfon aku ...”
Reiji berucap setelahnya.
“Biar kamu ga curiga ...”
Reiji memencet gemas hidung Malia.
__ADS_1
“Lagian nanti kalo aku ga tanya, kamu marah? ...”
“Iya kali aku marah kamu terima telpon Rei? ...”
“Ya takut aja ...”
Cup
Reiji menyambar sekilas bibir Malia.
“Soalnya kan tadi kita lagi asyik??? ---“
“Ih apa sih?! ---“ sambar Malia. “Ganjen.”
Reiji sontak terkekeh pada cibiran canda Malia, yang disertai kepretan kecil di lengannya.
“Aku telfon balik dulu Owner Maskapai aku dulu ya Yang? ---“ ijin Reiji.
Malia pun mengangguk.
“Eh iya Rei ---“
“Kenapa Yang?”
“Mau kalo bareng mandinya ...”
Reiji memainkan alisnya pada Malia.
“Ish.”
Malia mendesis sebal.
“Aku serius ih. Kalo kamu mau mandi dan berendem, aku siapin airnya di bathtub ...”
Malia lanjut bicara setelahnya.
Reiji tersenyum.
“Kalo kamu sendiri mau mandi dan berendem, ya udah siapin aja air di bathtub. Tapi kalo kamu ga mau mandi, aku gampang, bisa mandi pake shower.”
“Ya udah kalo gitu ---“
__ADS_1
Malia menyahut.
“Liat nanti deh, masih males buat mandi.”
Reiji pun mengangguk.
“Aku ke kamar duluan ya?”
“Iya ...” sahut Reiji.
Malia tersenyum sekilas.
“Kalau emang udah ngantuk, duluan aja kamu tidur. Takutnya aku agak lama telfonan sama si Bos ---“
Malia pun mengangguk.
*****
Sekitar lima belas menit, Reiji sibuk dengan ponselnya.
Hanya sekitar lima menit saja, Reiji terlibat pembicaraan di telpon dengan pemilik Maskapai tempat Reiji bernaung selama ini.
Sisanya, Reiji gunakan untuk membuka email penawaran peluang kerja yang baru dari Bos besarnya itu, lalu membaca kembali surat penawaran tersebut dengan seksama.
Kemudian menimbang – nimbang lagi apa yang akan jadi keputusannya esok hari, yang sudah harus Reiji berikan jawaban dari penawaran tersebut pada Bos pemilik Maskapai tersebut.
‘Nanti gue omongin sekali lagi sama Lia---‘
Reiji membatin.
‘Eh iya, Lia udah tidur belum ya?’
Lalu bertanya dalam hati, sambil beringsut dari tempatnya, dan berjalan memasuki kamarnya dan Malia.
Lalu mata Reiji seketika membola, dengan jakunnya yang naik turun, ketika ia mendapati pemandangan menggemaskan sekaligus menggiurkan, sekaligus membuatnya ser – ser –an.
Karena tak jauh dari tempat Reiji berdiri, Malia nampak baru saja keluar dari walk in closet dengan pakaian yang membuat Reiji megap – megap di tempatnya.
Bagaimana tidak megap – megap Reiji melihat penampilan Malia saat ini, dengan sebuah pakaian tidur yang sangat kurang bahan, melekat di tubuh istrinya itu namun tidak menutupi bagian – bagian yang meresahkan di tubuh Malia.
Tubuh Reiji meremang sambil menatap Malia dengan intens, selain nafasnya yang sudah mulai memburu.
__ADS_1
******
Bersambung ....