
Selamat membaca...
***
REIJI
Rasanya tidak salah jika aku sedikit penasaran dengan sejauh mana Lia berhubungan dengan si bibit pebinor itu.
Karena apa yang dilakukan si bibit pebinor bernama Irsyad itu, dengan menemuiku lalu memberikan foto – foto yang memperlihatkan kedekatannya dengan Lia dan nampak sedikit mesra di mataku itu ---- membuatku jadi berpikir akan satu hal.
Bukan karena aku berpikir jika Lia berbohong padaku mengenai sejauh mana hubungannya dengan si bibit pebinor itu, tapi aku aneh saja jika Lia bilang mereka hanya sekedar berteman --- kenapa laki – laki itu bersikap seolah tidak terima karena kekasihnya memilih orang lain untuk bersama, dan ketidakterimaannya itu membuatnya bersikap jadi seperti ini.
Melakukan satu usaha provokasi untuk membuatku dan Lia bertengkar dengan membuatku salah paham pada foto –foto yang si bibit pebinor itu berikan padaku.
Jadi rasanya wajar saja jika aku menanyakan lagi pada Lia tentang sejauh mana hubungannya dengan laki – laki dari masa lalunya, karena usaha provokasi laki – laki itu untuk membuat hubunganku dan Lia kian renggang.
“Ada yang mau aku tanyain lagi soal kamu dan si bibit pebinor itu,” ucapku pada Lia terkait apa yang sedang aku pikirkan.
-----
Aku mengusap lembut kepala Lia yang rambutnya ia bundel dan ikat ke atas secara asal itu, namun tetap saja Lia terlihat menarik di mataku.
“Seperti yang tadi sempet aku bilang, aku perlu tahu kamu itu selama ini gimana sama dia. Karena dengan itu, seenggaknya aku bisa pikirin apa yang kemungkinan akan dia perbuat lagi kalau dia tahu kita fine-fine aja setelah usaha dia yang ini buat bikin aku salah paham terus kita berantem. Selain aku kan juga bisa mikirin cara buat antisipasi ....“
Dan aku pun bicara dengan lembut juga pada Lia, menjelaskan kenapa aku kembali lagi menyinggung soal sejauh mana hubungannya dengan si bibit pebinor itu. Karena setelah aku bertanya tadi, Lia nampak sedikit terlihat terganggu oleh pertanyaanku itu, hingga ia mengatakan jika aku sebenarnya masih meragukan kejujurannya.
“Hhhh ----“
“Aku percaya sepenuhnya sama kamu, Yang.”
Segera aku berucap lagi untuk menenangkan Lia saat ia menghembuskan nafasnya yang kudengar sedikit berat.
-----
Sebesar apapun rasa penasaranku pada bagaimana sebenarnya hubungan Lia dan si bibit pebinor itu hingga laki – laki tersebut sebegitu niatnya untuk membuatku salah paham hingga sampai ia mencoba suatu hal yang mungkin si bibit pebinor itu pikir, jika dengan memberikan foto – foto kedekatannya dengan Lia yang nampak mesra itu padaku---akan membuatku marah besar hingga meninggalkan Lia.
Cih!
Aku tidak sepicik dan sebodoh itu juga melepaskan Lia begitu saja.
Jika tidak ada penyangkalan dari Lia soal kepalsuan tanggal – tanggal yang tercantum pada foto – fotonya dan bibit pebinor itu yang laki – laki tersebut berikan padaku dengan tangannya sendiri pun, aku tidak akan sampai meluapkan emosi yang berlebihan pada Lia.
Mungkin aku kecewa andai Lia tidak menyangkal jika dia menjalin hubungan khusus dengan si bibit pebinor itu, tapi tetap saja aku akan mengajak Lia bicara tentang hubungan kami yang sudah sampai ke jenjang pernikahan ini.
Dan lagipula, Lia sudah terang – terangan sekaligus bersumpah jika dia sudah mencintaiku.
Bahkan kami sudah membahas soal memiliki momongan dengan wajah Lia yang nampak senang.
__ADS_1
Makanya, andaipun jika benar Lia sempat memiliki hubungan khusus dengan si bibit pebinor itu saat aku dan Lia belum sampai ke tahap sekarang---aku tidak akan membesarkannya.
Aku hanya akan menganggap, Lia sedang gamang saat itu. Begitu saja. Lalu akan aku pertemukan mereka berdua dengan aku yang juga ada di tengah mereka, untuk meluruskan segalanya.
Tapi kan penjelasan Lia dengan ekpresi sungguh – sungguhnya padaku itu menyangkal jika ia pernah ada hubungan khusus dengan si bibit pebinor itu. Dan aku mempercayai Lia.
Aku bertanya lagi hanya untuk memastikan saja. Mungkin saja ada sebuah kesalahpahaman sikap dan ucapan Lia hingga membuat si bibit pebinor itu ke-geeran, hingga merasa jika Lia mencintainya dan mau meninggalkanku untuk bersamanya.
Namun walaupun aku cukup penasaran tentang sejauh mana hubungan Lia dan si bibit pebinor itu, aku tidak ingin Lia merasa tidak nyaman hingga menjadi murung karena pikirannya yang menganggap aku tidak mempercayainya.
“Kalau memang rasanya kamu ga nyaman buat membicarakan hal yang aku tanyain tadi, ya kita ga perlu bahas.“
Jadi kalimat itu yang kemudian aku cetuskan dari mulutku, agar Lia tidak menjadi murung karena pertanyaanku yang mungkin Lia anggap jika aku masih mencurigainya.
“Aku ga mau ada sedikitpun keraguan kamu ke aku, Rei ----“
Begitu respons Lia setelah aku mengatakan jika Lia tidak merasa nyaman untuk membicarakan hal yang aku tanyakan soal sejauh mana hubungan Lia dan si bibit pebinor itu, maka tutup buku saja.
Tidak perlu lagi dibahas sampai kapanpun.
Fokus saja pada kehidupan rumah tangga kami dalam lembaran yang baru ini.
“Yang .... Dengerin aku .... Aku, ga ada ragu sama sekali sama kamu ....“
Tapi aku kemudian menanggapi ucapan Lia yang ia katakan dengan sedikit lesu soal ia yang tidak ingin ada keraguan sedikitpun dariku padanya.
*****
“Rei,” Malia memotong ucapan Reiji. “Kayaknya aku yang pernah ngasih dia harapan,“ sambung Malia sambil menatap Reiji dengan gurat rasa bersalah di sorot matanya.
Dimana Reiji menghembuskan nafasnya yang terdengar sedikit berat, selepas mendengar kalimat Malia barusan. “Gitu ya?” ucap Reiji setelahnya.
Gantian Malia yang menghembuskan nafasnya sedikit berat.
Kemudian terduduk lesu dengan kepala yang ia tundukkan, sambil Malia menautkan kedua tangannya.
“Iya, mungkin begitu. Karena rasa – rasanya aku pernah cerita soal aku yang nikah sama kamu karena kita dijodohin ....”
**
MALIA
“Lalu selang beberapa hari kami mulai bertemu, Irsyad menyatakan cintanya ke aku .... tapi aku---meski saat itu aku meyakini jika aku memang mencintai dia, dan aku rasanya bahagia mendengar ungkapan cintanya .... tapi aku ga pernah sekalipun bilang kalau aku punya perasaan yang sama ke dia ....” mengalir begitu saja akhirnya cerita soal hubunganku dan Irsyad sejak kami bertemu kembali setelah sekian lama, lalu intens bertemu---sebelum aku yakini jika Reij yang terbaik untukku.
“Hmm ----“
“Mungkin atas dasar dia tau aku menikah karena dijodohkan, jadinya Ir---dia, merasa punya harapan untuk aku dan dia .... tapi waktu dia menegaskan lagi soal perasaannya, hari itu aku udah meyakini kamu yang menjadi arah tujuan aku .... yakin kalau aku yang udah sayang sama kamu, lebih dari sebelumnya. Lalu hari waktu kamu dateng ke kantor dan aku tahu fakta kalau Pak Andra adalah teman kamu, di hari itu juga, dia kembali mencoba meyakinkan aku untuk meninggalkan kamu semata – mata karena dia yakin kalau aku juga cinta sama dia .... tapi di hari itu aku semakin menegaskan ke dia, kalau aku udah cinta ke kamu ----“
__ADS_1
“Yang ----“
“Karena memang kenyataannya seperti itu .... aku udah cinta sama kamu, Rei .... Aku ....”
Ucapanku terhenti mendadak karena aku terkesiap. Rei dengan cepat menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
Aku pun melingkarkan tanganku di punggung Rei.
“Maaf Rei, maaf ----“
“Sshhhhh ----“
“Aku emang sengaja menyembunyikan semua itu dari kamu, dari sejak hubungan kita sebaik ini, aku memutuskan begitu. Aku takut kamu marah dan ga percaya sama aku, aku pengecut ----“
“No hey ----“
“Aku egois ----“
“Lia, liat aku.”
Rei menangkup wajahku.
“Kamu ga ada salahnya buat aku ....” Lalu berbicara dengan lembut dan meneduhkan sambil menatapku sama teduhnya. “Let’s end this topic ( Kita akhiri topik ini ), oke? ....” sambung Rei.
“Tapi masih ada hal yang aku ingin katakan ke kamu soal dia,” ucapku.
“Ga perlu ----“
“Aku ga mau punya ganjalan lagi di hati aku soal urusanku dengan dia, Rei ----“
“Yang ----“
“Aku cuma mau melepaskan beban hati, supaya ke depannya aku ga merasa was – was soal dia dalam hubungan kita yang seperti kata kamu, mungkin dia akan mencoba sekali lagi untuk membuat kamu meninggalkan aku ----“
“Aku ga akan kemakan lagi sama setiap omongannya dia, Yang .... yang ada aku tampol kali tuh orang kalau dia masih berani nemuin aku lagi, aku bikin babak belur kalo perlu.” sambar Rei yang kemudian sedikit merepet dan nampak juga sedikit geram.
Dimana geramnya yang sedikit itu membuat hatiku cukup berdebar, karena aku sudah memutuskan untuk mengatakan segala hal tentang Irsyad agar tak ada lagi hal yang pernah aku berurusan dengannya akan menjadi bumerang untuk hubunganku dan Rei di kemudian hari --- termasuk ....
“Dia pernah cium bibir aku, Rei ----“
***
Bersambung ........
**Terima kasih masih setia baca.
__ADS_1
Salam sayang,
Emaknya Queen**