WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 274


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


REIJI


Beep... beep...


Suara dari mesin interkom dalam unit apartemenku dan Lia terdengar.


Dimana aku mengira jika itu adalah Lia yang aku ingat tidak sedang memiliki ponsel saat ini, jadi dia menghubungi resepsionis di lobi untuk minta disambungkan ke unit kami.


Aku yang hendak bersiap untuk pergi menyambangi Lia di kantornya, dengan segera mendekati mesin interkom tersebut dan menekan salah satu tombolnya untuk menerima panggilan yang masuk itu.


“Ya?” ucapku setelah aku menekan salah satu tombol pada interkom.


Kemudian suara seorang wanita yang adalah resepsionis di gedung apartemenku dan Lia terdengar.


--


“Pak Reiji Shakeel?"


"Iya," jawabku Reiji dengan cepat setelah aku dengar resepsionis gedung apartemenku dan Lia itu menyebut namaku dengan lengkap.


Aku pikir resepsionis tersebut adalah resepsionis yang biasa ada di meja resepsionis lobi dari pagi hingga sore, dan aku serta Lia sudah cukup mengenalnya.


Namun ketika aku telaah sedikit suaranya, sepertinya itu bukan resepsionis yang aku dan Lia cukup kenal itu.


Karena resepsionis yang bernama Tari itu, sudah bersikap santai bila bertemu denganku dan Lia. Dan lagi, dia sudah biasa menyapaku dengan Pak Reiji saja. Namun barusan namaku disebut dengan lengkap oleh resepsionis yang sedang terhubung denganku di interkom ini.


Jadi aku yakin itu bukanlah resepsionis bernama Tari yang sudah aku dan Lia cukup kenal selama kami tinggal di apartemen kami ini. Well, Tari atau bukan, yang penting adalah aku ingin segera cepat disambungkan jika memang keperluannya menghubungiku di unit apartemenku dan Lia ini, adalah karena Lia yang menghubungi dan minta disambungkan untuk bicara denganku.


--


"Ini Pak, Ada seorang wanita yang cari Bapak.”


Resepsionis itu berkata, dan aku langsung saja mengernyit.


Masa Lia segala lapor resepsionis dulu kalau dia datang kembali?


Karena lupa akses apartemen mungkin?


Tapi rasanya tidak mungkin.


Lia hanya tinggal bilang dia tinggal di sini, lalu akan ada staf yang membantunya mendapatkan akses lift.


Lagipun, beberapa petugas tersebut mengenalku dan Lia. Jadi aku rasa itu tidak mungkin Lia. Tapi siapa?...


**


‘Siapa perempuan yang cari gue?’


Reiji sontak membatin setelah mendengar ucapan resepsionis wanita yang sedang terhubung dengannya di interkom itu.


‘Ga mungkin Irly kan? Gila aja kalo dia sampe nekat ngejar gue sampe berani dateng ke sini,’ batin Reiji. ‘Asli bisa gue maki Irly kalau memang dia berani dateng ke sini.’


Reiji membatin lagi dengan agak gusar.


“Siapa?---“


**


REIJI


“Avionita namanya Pak.”


Aku spontan menghela nafas lega ketika si resepsionis wanita itu menyebutkan satu nama yang amat aku kenali.


“Tari kemana?”


Aku lalu bertanya terkait resepsionis wanita tersebut.


“Mba Tari di tarik ke back office, Pak.”


“Oh.”


Begitu saja aku menanggapinya.


“Avionita itu adik saya. Suruh langsung ke unit aja. Dia udah tau kok.“ Aku langsung bicara lagi setelahnya.


“Baik, Pak Reiji Shakeel. Saya akan menyampaikan pada Ibu Avionita apa yang Bapak katakan.”


Resepsionis wanita itu kemudian menjawabku dengan formal.


--


Aku langsung membuka pintu apartemen ketika belnya berbunyi.


“Resepsionis baru nyebelin banget...”


Aku disuguhi dengan gerutuan dari Avi---adik perempuanku saat aku membuka pintu unit apartemenku dan Lia.

__ADS_1


“Dateng tuh ucap salam!”


Aku langsung saja menyambar sambil menoyor kepala Avi.


Dan adik perempuan kandungku itu langsung cengengesan.


“Abis tuh resepsionis rese banget. Pake segala nahan gue di lobi.”


Setelahnya Avi menggerutu lagi, sambil ia menyalim tanganku---lalu celingukan ke arah belakangku.


“Bestie gue di kamar?” tanya Avi setelah celingukan. Lalu bertanya tentang keadaan Lia. Dan aku menjawabnya sesuai dengan kenyataan.


Bahwasanya memang Lia baik-baik saja. Meski hampir diperkosa Irsyad. Dan darahku mendidih jika mengingatnya.


--


“Mau kemana lo?...”


Aku menarik pelan rambut Avi yang ia kuncir itu saat ia meloyor dari hadapanku.


“Nyamperin bestie gue lah---“


“Bestie lo ga ada...” tukasku cepat, dan Avi langsung mengernyit kecil. “Gawe...” tambahku.


**


“Kerja?...”


Avi mengulang ucapan Reiji dengan menggunakan persamaan kata dari kata yang Reiji katakan saat Avi hendak meloyor ke kamarnya dan Malia.


“Hum...”


Reiji menggumam seraya mengangguk sekali.


**


“Lo gimana sih, Bang? Lia abis dapet musibah gitu lo biarin kerja?!...”


Avi lalu berbicara dengan agak sewot setelah mendengar jika Malia pergi bekerja.


“Lo kan bisa mintain ijin sama bosnya Lia biar dia dapet libur?! Gimana sih lo?”


Agak ngegas juga. Membuat Reiji mendengus karenanya.


**


“Yeu! Pantes Lia ngambek berat sama lo!” cetus Avi, setelah pada akhirnya Reiji menceritakan sebab akibat Malia yang kabur darinya, lalu berakhir dengan diculik Irsyad.


“Kalo lo ga janji sama Lia, baru deh, Lia ada salahnya ngambek begini. Nah elo katanya janji mau ngejauhin si Shirly, tapi lo malah ngurusin anaknya. Plus bohongin Lia lagi!...” oceh Avi, dan Reiji menghela nafasnya sedikit berat.


“Iya gue sadar gue salah. Gue mau minta maaf bener – bener sama Lia. Mau ajak dia ngomong baik – baik pake kepala dingin. Tapi asal ngambek gini, hindarin gue. Kenapa ga Lia ngomong, maunya dia apa? Gue harus gimana buat nebus kesalahan gue sama dia?---“


“Ya namanya orang emosi---“


“Ya ngerti gue, Lia marah sama gue sekarang. Tapi gue tuh maunya duduk bareng, ngomong dari hati ke hati. Dia mau nyolot kenceng ke gue pun gue terima. Bukan hindarin gue kayak gini... ntar diemin gue berhari – hari---“


“Salah lo sendiri cari perkara!” ketus Avi.


**


“Bae sih bae. Tapi liat – liat juga kebaikan lo itu lo salurin kemana. Kalo mau nolong jendes, tolong jendes yang udah uzur, bukan yang modelan mamah muda kek si Shirly itu. Jelas aja si Lia ga senang hati! Belom lagi tuh mahmud pernah lo harep – harep, Bang!---“


“Itu masa lalu, oke?!... sekarang gue nolongin dia murni sebagai sahabat. Selain emang gue care sama anaknya! Jadi ga perlu lo bahas lagi tentang gue yang pernah punya rasa sama Irly!---“


“Bodo ah!” Avi yang barusan berketus ria itu, jadi mulai malas bicara dengan kakak lelakinya. “Dah lah! Gue mau telfon Lia dan bilang sama dia kalo gue ada di sini, biar dia cepet balik...”


Avi lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


“Eh iya, hp gue lowbat!...” gumam Avi kemudian.


“Kalo lo ga bawa charger, ada di laci bawah tivi.”


Reiji yang mendengar gumaman Avi itu kemudian berujar.


“Hp lo kan sama kek hpnya Lia yang lama,” ucap Reiji. “Lagian lo ga bisa hubungi Lia karena hpnya ilang pas kejadian.”


Reiji yang lupa jika ia telah mendapatkan pesan chat dari Malia yang menggunakan nomor baru, mengatakan hal itu pada Avi.


“Yaah---“


“Lo ga buru-buru kan?”


“Engga.”


“Gue mau ke kantor Lia.”


“Kalo dia ga mau nemuin lo?---“


“Gue tunggu sampe dia selesai kerja.”


“Ya udah. Gue tungguin deh sampe kalian balik ke sini. Tapi gue numpang istirahat di kamar lo sama Lia ya?...”

__ADS_1


“Hm...”


**


MALIA


Tak ada panggilan telepon dan balasan chat dari Rei setelah aku memberitahukan padanya, jika aku telah mengirimkan semua uang yang pernah Rei berikan padaku selama kami menikah---dengan jumlah yang aku kira-kira saja, itupun setelah benar-benar aku pergunakan uangnya untuk membeli ponsel baru, traktir plus belanjaain si Nanda.


Tadinya aku ingin mengajak rekan satu divisiku untuk karokean sepulang kerja, di KTV yang paling bagus di Jakarta. Sekali lagi, aku ingin membalas dendam atas Rei yang menafkahi bibir pebinor sialan itu dan memberikannya juga uang dengan jumlah yang fantastis---dengan menggunakan uang Rei sebanyak-banyaknya untuk aku pakai dengan seenakku.


Tapi sayang ga kesampaian, karena sebagian besar sudah keburu punya janji---termasuk Nanda, rekan kerja terdekatku.


Makanya aku kirim saja uang Rei setelah aku selesai membeli ponsel dan makan serta membelanjakan Nanda.


Uang yang seketika membuatku merasa ogah memilikinya lagi, karena bagiku itu uang sisa. Yang mana walaupun banyak jumlah yang Rei berikan padaku setiap bulannya, namun aku yakin uang Rei itu sudah diganggu gugat dulu dalam pemisahan untuk si Shirly dan juga anaknya.


Lalu atas dasar ketidak available-an rekan-rekan satu divisi untuk aku ajak karaokean dengan aku yang mentraktir semua pengeluaran keseluruhan itu, makanya setelah waktu kerja selesai aku segera saja bergegas---ingat jika aku menulis note pada Rei bahwa aku akan pulang ke apartemen selepas dari kantor, meski sebenarnya aku malas untuk segera sampai di apartemen dan bertemu Rei.


Tapi karena ngeri juga kalau pergi ke tempat lain sendirian macam satu resto dimana aku bertemu Irsyad lalu mengalami kejadian buruk, aku memutuskan untuk langsung saja pulang ke apartemen dengan menggunakan taksi online.


Karena aku tidak ingat untuk menggunakan mobilku yang entah juga aku lupa apakah ada di parkiran apartemen, atau di parkiran gedung perkantoran dimana resto terkutuk tempatku bertemu dengan Irsyad itu berada.


Ah masa bodohlah.


Jika memang ada di parkiran gedung tempat resto terkutuk berada, mungkin ada pihak gedung yang akan mencari tahu tentangku dari plat nomor mobilku.


Nanti sajalah aku pikirkan soal mobilku itu, sambil aku ingat-ingat dimana terakhir mobilku itu terparkir. Otakku seringnya tidak sinkron jika aku sedang kesal.


Dan soal Rei, aku akan bersikap acuh tak acuh padanya saat di apartemen nanti.


Mendiamkannya saja sekalian. Entah sampai kapan.


--


Hanya saja niatku itu tidak kesampaian, karena saat aku mencapai lobi, aku lihat Rei ada di sana.


Dan mulutku rasa gatal untuk tidak mencibirnya.


Kemudian menciptakan alasan spontan saja untuk menghindari aku pulang bersamanya, dengan mengatakan jika aku ingin pulang ke rumah orang tuaku sendirian.


Tapi Rei bilang ada Avi di apartemen kami, dan tentu saja aku tidak mungkin menyiakan kedatangan sahabatku itu yang memang sedang sangat aku butuhkan saat ini.


“Ini, telfon aja kalau kamu ga percaya...”


Rei menyodorkan ponselnya padaku, yang langsung aku tolak dengan ketus.


“Ya udah yuk?...”


Rei mengajakku untuk berjalan kemudian.


Dimana aku menjaga jarak saat berjalan dengan Rei menuju mobilnya yang kebetulan dapat tempat parkir di area luar gedung kantorku yang dapat dicapai dengan cepat dari lobi utama.


**


Sempat sedikit bersitegang di dalam mobil, saat Malia dan Reiji telah dalam perjalanan menuju apartemen mereka.


Lalu Malia dan Reiji sama-sama bungkam seribu bahasa setelah mobil yang dikemudikan Reiji sudah mencapai komplek gedung apartemen mereka.


Dan Malia baru bersuara, ketika ia telah mencapai unitnya dan Reiji. Dimana ada Avi yang sudah menunggu kedatangannya sedari siang tadi.


**


**


“Lo nginep ya, Vi?---“


“Terus gue tidur dimana, Neng?”


“Ya sama gue lah di kamar.”


“Nah itu Pak Suami?”


“Santai dia sih. Kan punya tempat bobo cadangan?---“


**


**


“Actually ya, Neng. Gue ngerasa ga enak sama Bang Rei ngejajah tempat tidurnya gini meski dia Abang gue.”


“Ya abis gimana, gue lagi alergi banget sama dia.”


“Yaa kalo soal itu gue paham deh. Tadi Bang Rei udah cerita sih ke gue soal lo yang menghindari dia karena mergokin dia yang bohong sama lo dan malah ada di apartemen sahabat perempuannya itu terus berakhir dengan elo yang diculik sama si Irsyad---“


“Vi---“


“Hm?...”


“Lo masih mau ga sahabatan sama gue kalo gue resign jadi kakak ipar lo?”


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2