
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
REIJI
Bahagia, kiranya adalah tujuan hidup dari semua manusia yang ada di dunia.
Lalu bagaimana manusia itu ingin bahagia dan sebesar apa takarannya, aku rasa semua itu kembali kepada masing-masing manusianya.
Dan pastinya, bahagia pada setiap orang berbeda versinya.
Layaknya aku yang kini sedang merasakan bahagia versiku.
Dari mulai Lia yang membalas cintaku padanya, hingga sampai saat ini.
Dimana bahagiaku kian membuncah. Kala pernikahan atas perjodohan antara aku dan Lia berjalan dengan sukses---katakanlah begitu.
Ada kesulitan dan rintangan dalam awal pernikahan memang. Namun tak lama dan tak banyak.
Karena nyatanya sudah ada rasa diantara aku dan Lia sebelumnya. Rasa sayang sih. Yang mungkin rasa sayang antara kakak beradik, walau aku dan Lia juga tidak dekat-dekat amat.
Hanya saja kami cukup terbiasa dengan keberadaan masing-masing dalam hidup kami. Yang kiranya menjadi pertimbangan orang tuaku dan Lia untuk menjodohkan kami berdua. Dimana aku langsung menerima---entah kenapa dengan mudah sekali aku mengiyakan kalau aku ingat-ingat.
Tapi lama kelamaan aku bernostalgi tentang saat aku dan Lia dijodohkan, aku yang langsung mengiyakan perjodohanku dengan Lia yang dicetuskan orang tua kami---adalah karena aku sudah memiliki rasa juga pada Lia sebenarnya. Hanya selama sebelum perjodohan itu, aku---katakanlah menahan diri, atau juga masih tidak yakin jika aku sebenarnya telah jatuh hati pada Lia sebagai seorang laki-laki.
Lalu setelah Lia tak memberikan penolakannya atas perjodohan kami walau aku tahu jika dia agak enggan, dan aku menghabiskan cukup banyak waktu dengannya, aku meyakini perasaanku yang sudah memang jatuh hati padanya tanpa aku tutupi lagi. Walau sempat ‘makan hati’ saat aku tahu jika Lia menaruh hati pada laki-laki lain. Bahkan mimpinya adalah hidup bersama dengan laki-laki itu.
Bukan aku.
Namun begitu, ketulusanku pada Lia dan murninya cintaku padanya, membuat mata Lia terbuka.
Begitu juga hatinya, yang kemudian diutarakan oleh Lia bahwa dirinya telah mencintaiku setelah sebelumnya ia berkomitmen untuk menerimaku sebagai suaminya.
Meski setelahnya rumah tanggaku dan Lia sempat sedikit terguncang, tapi aku mempertahankan ‘kapal’ ku agar tak sampai karam.
Tak juga sudi melepaskan perempuan yang sangat aku cintai dan sudah juga mencintaiku hanya untuk sebuah masalah yang rasanya tidak perlu memintaku untuk memilih, karena pilihanku sudah begitu aku yakini. Lia, tentu saja.
Walau aku kiranya dihadapkan pada situasi dimana aku tidak memiliki teman seorang pun karena memilih Lia, aku tidak peduli. Ada Lia yang mencintaiku. Yang pastinya dia akan menjadi temanku seumur hidup.
Meski jodoh adalah rahasia Tuhan.
Namun doaku agar aku dan Lia tetap seperti sekarang ini bahkan bisa lebih mesra lagi, tak pernah putus aku panjatkan kepada Sang Khalik---selain usahaku untuk menjadi seorang suami yang kiranya tak ada cacat di mata Lia, dan tentu memandikannya dengan cinta kasih serta perhatianku untuknya.
Untuk wanita yang aku cintai yang juga berstatus sebagai istri, dimana sekarang Lia membuat hidupku layaknya musim semi dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran. Yang membuatku kian mensyukuri kebahagiaanku memiliki Lia dan hidup bersamanya sebagai suami istri, dengan dirinya yang memberikanku hadiah yang menambah keindahan dalam hidupku selain bahagia.
Hadiah yang berupa sosok mungil berjenis kelamin perempuan yang wajahnya kiranya adalah perpaduan wajahku dan Lia yang telah hadir di tengah kami. Anakku dan Lia. Harta berhargaku selain Lia. Namun juga sumber yang akan membuat cinta dan kasih sayang serta perhatianku pada Lia, jadi terbagi.
Tapi tentunya Lia tidak akan keberatan untuk itu.
Untuk berbagi cinta kasih sayangku pada sosok mungil titipan Yang Kuasa dalam rumah tangga kami ini.
Yang mana aku berharap, jika Yang Kuasa tidak hanya mempercayakan satu saja buah hati untukku dan Lia.
Aamiin.
🌹🌹🌹🌹
MALIA
__ADS_1
Dari sejak aku diberitahukan oleh Dokter Dewi jika aku sedang hamil, hari-hariku dan Rei diliputi rasa bahagia yang tak terkira.
Dan kehamilan pertamaku ini, nyatanya tidak menyusahkan seperti yang aku bayangkan jika ingat cerita rekan kerjaku yang sudah pernah mengalaminya.
Ada yang ngidam macem-macem, sampai morning sick dan alergi pada makanan atau bau tertentu.
Katanya kehamilanku ini ‘kebo’---apa coba?
- - -
Sedikit tentang masa-masa diawal kehamilanku, aku tidak merasakan hal-hal yang tadi aku sebutkan.
Ga gampang capek, dan ngidam pun rasanya standar aja.
Ya itu, katanya ‘hamil kebo’.
Enak aja bayiku dan Rei di bilang kebo.
Ayah ibunya manusia rupawan gini kok?
Hehe..
- - -
Well, terkait dengan hal itu---jika menurut penuturan Dokter Dewi, atas aku yang tidak mengalami keparahan gejala orang hamil---adalah karena sebuah sindrom yang biasa disebut kehamilan simpatik.
Yakni sebuah masalah yang terjadi pada pasangan prianya si wanita yang sedang hamil, dimana gejala kehamilan berikut apa yang biasanya wanita hamil rasakan---si pasangannya tersebut yang merasakan dan mengalaminya.
Dan katanya sih, kehamilan simpatik itu terjadi kebanyakan karena si pria yang mengalaminya amat mencintai pasangannya yang sedang hamil anak mereka.
Yang mana hal itu menjadi tambahan bahagiaku. Selain aku tersanjung. Serta kasihan juga pada Rei yang diawal-awal sindrom itu menempel padanya, Rei jadi begitu payah.
Yang di menit-menit kelahirannya, menimbulkan kepanikan di rumah mertuaku. “REIII!!!!! INI KAYAKNYA AKU MAU LAHIRAN SEKARANG! KEPALA BAYINYA UDAH NYUNDUL –“
Aku berteriak seperti itu, karena selain mulas dan perutku seolah melilit---aku merasakan hal seperti yang aku teriakkan pada Rei. Yakni bayi dalam perutku, aku rasakan sedang berusaha keluar dari pusat inti tubuhku.
Padahal dibeberapa menit sebelumnya, aku hanya merasakan mulas yang jarang-jarang saja, yang aku pikir kontraksi biasa karena sudah dekat waktu lahiran.
Itu pun masih satu minggu lagi menurut perkiraan dokter, jadi aku santai-santai saja. Namun setelah lama kelamaan mulasku kian menjadi, dan aku semakin gelisah dibuatnya---aku teringat jika prediksi kelahiran bisa tidak pas sesuai jadwal yang diperkirakan.
Baru aku jadi panik, dan kepanikanku menular pada Rei serta mertuaku---dimana saat selepas aku berteriak pada Rei yang sedang berada di walk in closet, Rei langsung berlari dari dalam sana dan menghampiriku.
Dan suamiku itu nampak gelagapan kemudian, melihat aku yang meringis teramat sering---kemudian ada air yang keluar dari pusat intiku dan turun sampai ke kakiku, air ketuban---pertanda jika benar bayiku dan Rei akan segera lahir.
Namun untung saja, disaat waktu yang menegangkan itu, aku dan Rei sedang berada di rumah orang tua Rei dan Avi. Mertuaku. Jadi saat aku berseru dengan sekuat tenaga itu, Rei yang kemudian ngibrit dari walk in closet---lalu tak lama kemudian kedua mertuaku datang dengan sangat tergesa dari arah luar kamarku dan Rei di rumah mertuaku itu.
Yang dengan sigap mengarahkan Rei untuk bergerak cepat membawaku dengan mereka berdua yang membantu kami bersama seorang art di sana.
Dan bicara tentang kepanikan yang tercipta setelah seruanku yang kiranya membuat kehebohan sontak tercipta di rumah mertuaku itu, dan setelah Mama Alice berseru agak heboh--dengan cepat Rei segera menggendongku.
- - -
Rei nampak begitu khawatir saat aku telah berada di atas brankar pasien dan sudah siap untuk melakukan proses kelahiran.
Dimana akhirnya aku dibawa ke klinik yang berada tak jauh dari area rumah mertuaku atas pertimbangan jika membawaku ke rumah sakit tempat aku dan Rei selama ini memeriksakan kondisi bayi dalam perutku, maka bisa jadi anakku dan Rei keburu lahir di mobil.
Pikiranku sudah dibuat kacau balau atas tahap kelahiran anak pertamaku dan Rei, dan aku yakin Rei pun sama sepertiku.
Bahkan aku rasa sepertinya Rei lebih panik dariku.
__ADS_1
Yang kemudian berlalu, setelah dokter mengangkat bayiku dan Rei selepas aku merasakannya keluar dari pusat inti tubuhku.
Paniknya Rei, dan rasa sakit yang sempat aku rasakan dalam proses kelahiran langsung terbang saat sosok mungil itu kami lihat walau belum didekatkan.
Airmataku meluncur begitu saja setelah bidan yang membantu proses kelahiran bayiku dan Rei itu mengatakan “Selamat, Ibu, Bapak, anak kalian lahir dengan sehat...”
Kemudian aku dan Rei mengucapkan syukur dengan spontan dalam waktu yang bersamaan.
Mataku basah, namun aku tersenyum lebar. Begitu juga Rei, yang malah nampak lebih baper dariku.
Karena setelah bidan mengatakan jika anakku dan Rei akan dibersihkan juga diperiksa kondisinya sebelum didekatkan padaku untuk melakuka IMD, suami bucinku itu langsung melirih mengucapkan terima kasihnya padaku berkali-kali dengan menyertakan kecupan dihampir seluruh bagian wajahku.
Padahal masih ada asisten bidan yang sedang membereskan bekas proses kelahiranku dan menyiapkan proses berikutnya.
Namu begitu, aku tidak memberikan protes pada Reij yang menghujani wajah serta bibirku dengan kecupan-kecupan kecil, karena aku sedang merasakan bahagia yang sama seperti Rei.
Bahagia karena pernikahan kami sudah lengkap rasanya.
Seorang bayi perempuan yang wajahnya jika diperhatikan dengan seksama adalah perpaduan wajahku dan Rei, telah melengkapi pernikahanku dan Rei yang berdasarkan perjodohan ini.
Pernikahan yang semula aku pikir tidak akan berhasil, namun nyatanya malah jadi begitu membahagiakan, dan aku sungguh mensyukurinya. Memiliki Rei sebagai suamiku.
Laki-laki yang sanggup mengorbankan apapun untukku, dan rela melakukan apapun demi kebahagiaanku.
Yang membuatku bisa merasakan kebahagiaan yang aku rasakan sekarang ini. Yakni menjadi seorang ibu, dan lengkap sudah rasanya kebahagiaanku sekarang.
Orang tua yang masih sehat dan aku bisa memberikan kebahagiaan memiliki cucu pada mereka, adik ipar merangkap sahabat yang sayang padaku, kemudian suami tampan nan cukup sangat mapan---pengertian, perhatian, bucin padaku pula.
Lalu ada dia, malaikat kecilku dan Rei yang akan membuat hari-hari kami kian berwarna.
🌹🌹🌹🌹
Semua yang terjadi di dunia hanya masalah waktu, termasuk juga cinta.
Hanya kapan waktu yang tepat saat cinta menghampiri dua insan untuk menjadi pasangan, kiranya tidak bisa dipastikan datangnya oleh yang bersangkutan.
Jalani jika berkenan, lalu genggam dengan erat saat telah yakin waktu untuk saling mencintai itu telah hadir di hati masing-masing.
Namun jangan dipaksakan juga, karena ada Waktu yang akan menjawab---yang merupakan penasihat paling bijak yang pernah ada.
🌹🌹🌹🌹
E N D
💝💝💝💝💝💝💝💝
Sampai disini, emaknya queen ucapkan terima kasih pada kalian semua yang sudah berkenan membaca karya emak yang satu ini.
Terima kasih untuk segala komentar dan dukungan.
Sehat dan bahagia selalu yuaaahhh...
Loph Loph sekebon raya
💝💝💝💝💝💝💝💝
Mampir juga ke karya emaknya queen yang lain jika berkenan
Ma Acih.
__ADS_1