
Selamat membaca...
***
REIJI
Aku mempercayai Lia.
Yah, setidaknya aku mencoba untuk itu. Selalu.
Jadi, walau Lia sedang bersama laki-laki lain dipandanganku, aku tidak melebarkan langkah untuk menarik Lia dari lelaki yang aku duga kuat, adalah lelaki dari masa lalu Lia, yang pernah istriku cintai itu.
Jika dipikir-pikir, aku sedang dilangkahi sekarang oleh laki-laki itu. Seperti pernah satu waktu aku menyambangi Lia di kantornya untuk menjemput dan pulang bersama, atau pernah sesekali datang untuk mengajak makan siang, dikala aku tahu jika lelaki dari masa lalu Lia itu telah kembali.
Dan disaat itu, aku mendapati Lia sudah pulang atau sudah lebih dulu pergi makan siang dengan seseorang yang aku yakini adalah si bibit pebinor itu. Bahkan mereka rasanya bertemu setiap hari sejak lelaki itu kembali dalam kehidupan Lia.
Tapi dimasa itu aku mencoba tahan untuk tidak menjadi emosional. Berpikir positif jika Lia tentu masih sadar batasan dan norma meski ia masih mencintai lelaki dari masa lalunya itu. Jadi, aku percaya pada Lia.
Bodoh?..
Iya mungkin aku bodoh sebagai lelaki, terlebih sebagai suami yang terkesan diam saja mengetahui istrinya sering menghabiskan waktu dengan laki-laki lain.
Bodoh juga membiarkan Lia pergi begitu saja untuk menemui lelaki itu, bahkan sudah sampai tahap terang-terangan mengatakan padaku. Dan aku tetap diam saja.
Jika aku curhat pada para sahabat lelakiku, yakin betul jika mereka akan geregetan untuk menghajar si bibit pebinor itu.
Tapi tidak, aku tidak mengatakan apapun tentang kondisi rumah tanggaku dan Lia pada siapapun. Tidak juga pada Avi dan orang tuaku. Aku menelannya sendiri.
Namun aku diam bukan karena aku pasrah, apalagi takut pada si bibit pebinor yang dari sekilas penampilannya yang kulihat, macam pria cantik.
Daripada aku buang tenaga dengan marah-marah bahkan sampai menghajar si bibit pebinor itu, lebih baik aku memenangkan Lia dengan fokus pada sikapku terhadapnya. Menyadarkan Lia dari kesemuan cinta masa lalunya, selain aku memang ingin mempertahankan pernikahanku dengan Lia.
Aku mencintai Lia, dan ingin membuatnya jadi milikku sepenuhnya.
Tapi aku juga tidak ingin egois, dengan memikirkan kebahagiaanku saja.
Tak mau juga bersikap norak dengan membuat keributan di tempat umum dengan si bibit pebinor.
Well, selama si bibit pebinor itu tidak benar-benar memancing emosiku.
Mencium bibir Lia, misalnya.
--
Kembali pada Lia dan lelaki yang bersamanya itu.
Aku tetap bergeming di tempatku menatap kepergian keduanya dari tempatku berdiri, yang tidak disadari oleh mereka berdua.
Aku sedikit terbakar sih. Tapi aku tetap mencoba untuk bersikap tenang. Kembali mensugesti diri, jika Lia memang sudah benar-benar mencintaiku.
Dan untuk itu, aku menempatkan kepercayaan yang tinggi pada Lia. Jadi aku biarkan saja Lia pergi dengan lelaki yang bersamanya itu, yang aku yakini adalah si bibit pebinor.
Jika Lia mencintaiku, mungkin Lia mau pergi dengannya untuk menyelesaikan urusan masa lalu mereka.
Jadi, lebih baik aku berikan saja dulu mereka ruang sebentar. Dan aku akan menunggu Lia kembali disini, baru kemudian menyapanya.
Aku mengalah untuk menang saat ini. Dan aku yakin memang akulah yang pada akhirnya menjadi pemenang atas Lia dan hatinya.
Aku percaya itu.
Dan lagi, jika mataku tidak salah tangkap, Lia sepertinya terlihat sedikit terkejut kala lelaki itu muncul dihadapannya.
Jadi kemungkinan, sebenarnya Lia tidak janjian lebih dulu dengan lelaki itu.
Aku sungguh berharap seperti itu.
--
Sedikit gelisah, aku menunggu Lia di sebuah kedai kopi kekinian yang ada di area lobi gedung perkantoran istriku itu.
Aku belum makan siang, namun perutku belum merasa lapar. Jadi segelas dark cappucino aku pesan sambil aku menunggu Lia kembali.
Aku tahan saja kegelisahanku itu sambil duduk diam dalam kedai kopi kekinian yang tidak terlalu besar dan loss tanpa pintu, dan mengambil tempat duduk yang sekiranya langsung menangkap setiap orang yang keluar-masuk disana.
“Reiji Shakeel?....”
Sebuah suara membuatku menoleh ke sumbernya, karena suara itu menyebut namaku.
Aku sedikit mengernyit. “Weh!” namun tak lama aku tersenyum lebar, karena aku mengenali siapa orang yang memanggilku itu. “Andra Salim!”
Aku langsung juga berdiri dari dudukku dan menyalami salah seorang teman lamaku itu, dengan saling menautkan kepalan tangan layaknya sobat lelaki jika bertemu.
Andra Salim, seorang CEO muda yang pernah sama-sama menjadi anggota suatu Klub Mobil beberapa tahun silam. Dulu kami lumayan akrab, namun ketika aku dan Andra sama-sama tidak aktif lagi dalam Klub tersebut, baru ini aku bertemu dengannya lagi.
--
__ADS_1
Andra ikut bergabung di kedai kopi tempatku berada ketika kami telah selesai saling menyalami. Kemudian menawariku untuk pergi ke kantor pribadinya saja, karena Andra merasa lebih nyaman untuk mengobrol disana.
Tadinya aku menolak, karena aku memang sedang menunggu Lia.
Satu jam kan gabut juga kalo ga ngapa-ngapain, walaupun mungkin aku bisa membunuh waktu dengan mengotak-atik apa yang ada di dalam ponselku.
Main game misalnya.
Namun usut punya usut, ternyata dunia pernovelan ini selebar daun kelor.
Dunia ini, maksudnya.
Andra nyatanya adalah atasan Lia, sekaligus pemilik perusahaan tempat Lia bekerja. Yang setelah aku tahu hal itu, akupun mengatakan tentang Lia padanya.
Yang mana membuat Andra cukup terkejut, dan bilang menyesal telah mengabaikan undangan dari Lia untuknya yang kala itu Andra masih berada di Amerika. Padahal kata Andra, dia sudah punya niatan untuk menghubungi para anggota Klub Mobil kami dulu dan merencanakan sebuah reuni.
Dan mungkin setelah pertemuan kami ini, niatan untuk mengadakan reuni dengan anak-anak yang pernah tergabung dalam satu Klub Mobil dengan kami dulu akan aku dan Andra rencanakan dengan matang untuk direalisasikan.
--
Pada akhirnya aku menerima ajakan Andra yang lebih memaksa setelah tau jika salah satu karyawannya adalah istriku, yang memang Andra tahu persis Lia atas kinerjanya dalam Perusahaan milik keluarga Andra yang ia kelola itu. Bahkan Andra sering berinteraksi dengan Lia dalam pekerjaan.
Aku sempat memicingkan mata seolah curiga saat Andra menceritakan soal Lia selama Andra mengenalnya di kantor setelah Andra benar-benar fokus pada Perusahaan keluarganya ini.
Namun Andra tergelak saat aku memicingkan mataku padanya, yang tidak serius juga sih.
“Lo silahkan ngatain gue bulol Rei, tapi gue cinta mati sama bini gue. Saking cinta matinya-kalo gue ga sibuk, dan meskipun sibuk, seengganya satu jam sekali gue chat kek, telfon bahkan VC, Cuma sekedar ngecek keberadaan dia, lagi ngapain-walaupun gue udah pasangin tracker di ponselnya tanpa dia tau.“
Dan begitu setelahnya yang Andra katakan padaku.
Satu server ternyata denganku si Andra.
Bulol!
Bucin tolol.
Cuma belom se-ekstrim Andra yang sejam sekali telfon istrinya, terus dipasangin tracker pula itu ponselnya.
Tapi kayaknya aku akan memikirkan lagi soal masang tracker di ponsel Lia. Hmm?....
Boleh juga tuh sepertinya.
Oke, noted.
--
Lalu Andra menitipkan pesan pada resepsionis itu untuk memberitahukan keberadaanku yang sudah di kantornya ini.
Tadinya Andra mengajakku untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang disebut Lounge, karena ruangan pribadinya sedang dibersihkan.
Namun setelah salah seorang staf kantornya mengatakan jika ruangan pribadi Andra telah selesai dibersihkan, Andra mengajakku ke ruangan pribadinya.
Dan aku menunggu Lia disana.
“Lo ga hubungi istri lo biar dia cepet-cepet dateng kesini?”
“Ga lah. Biarin aja. Gue ga mau dia buru-buru malah makannya.Ga mau juga ganggu waktu dia sama temen-temennya.”
Aku menanggapi pertanyaan Andra.
“Lo kalo sibuk, feel free buat lanjutin kerjaan lo Dra. Gue ga masalah nunggu di ruang tunggu kok –“
Aku harus tahu diri pada Andra yang aku yakin adalah CEO yang sibuk. Akupun tidak mengatakan padanya, jika aku sebenarnya telah melihat Lia tadi.
“Bos, ngapain gue ngoyo banget sama kerjaan,” seloroh Andra. Dan aku mendengus geli. “Btw, lo kalo ga janjian sama istri lo, kenapa lo repot banget dateng kesini abis narik?-“
“Lo pikir gue supir angkot, narik?!”
Andra pun tergelak selepas aku berseloroh.
“Sama-sama supir kan?.... beda kendaraan doang....”
Dan aku terkekeh mendengar celotehan teman lamaku itu.
--
“Kalo lo ga ada niatan maksi bareng istri lo, ngapain lo langsung kesini abis tugas? Bukannya langsung balik ke apartemen lo dan istirahat then dateng kesini buat jemput Malia pas jam pulang kantor?....”
“Kangen berat sama bini Mabro!”
“Bucin mampus kayak gue juga lo?!”
Lalu aku dan Andra pun terkekeh geli bersama.
“Terus lo rencananya abis ketemu Malia?-“ tanya Andra lagi. “Balik?....”
__ADS_1
“Mungkin gue tungguin sampe waktu kerjanya selesai Dra.... nanggung mau balik. ga masalah kan? Gue nunggu di luar aja....”
“Alah! Apaan sih lo?!” sergah Andra. “Mau tebar pesona sama karyawati gue lo duduk di ruang tunggu?!”
Aku terkekeh lagi.
“Lo disini aja. Gue juga santai udah sampe sore. Malah rencananya gue mau balik cepet karena lagi longgar urusan Perusahaan.”
“Ya lo kalo mau balik, balik aja.... woles lah,” tukasku.
“Ga lah-“
Andra menyergah lagi.
“Ada temen lama, masa ga gue manfaatin pertemuan kita ini? Lagian besok-besok gue yakin kita bakal harus ngepasin waktu kalo mau kumpul lagi.... Jadwal terbang lo sama jadwal urusan gue di Perusahaan ke depan bisa jadi susah sinkronnya.”
“Iya sih....”
Aku pun manggut-manggut.
“Ya udah kita maksi bareng aja nanti.”
Aku mengiyakan ajakan Andra tersebut. “Lo atur aja.”
“Bentar-“ ucap Andra saat interkom di atas mejanya berbunyi.
“Take your time,” sahutku.
“Malia udah sampe. Bentar, lo tunggu disini aja, sekalian gue ada perlu sama sekertaris gue di depan....”
Aku mengangguk untuk mengiyakan Andrea.
Dimana tak berapa lama kemudian, ponselku bergetar.
Ada chat dari Lia.
Yang tidak langsung aku buka, namun pesan chatnya yang singkat dapat terbaca dari layar apung ponselku.
Rei, kamu di kantor aku?
Begitu bunyi pesan Lia yang sengaja aku abaikan, karena aku ingin memberi kejutan padanya.
Lebay emang nih, suaminya Lia.
Hahaha.
--
Dan tak lama berselang, aku mendengar suara dari sosok yang aku rindukan, yang masuk ke kantor Andra dengan pandangan lurus ke depan, dengan sikapnya yang profesional.
Yang kemudian nampak sangat terkejut sampai memekik kecil, ketika Lia mendengar suaraku, sekaligus menoleh ke arahku.
Terheran-heran kenapa aku bisa ada di ruang kerja pribadi atasannya itu, yang kemudian aku katakan pada Lia jika aku dan Andra sudah kenal lama.
Lalu aku memang menunggui Lia yang aku suruh untuk kembali bekerja saja seperti biasa, sementara aku menunggu jam kerjanya selesai.
Ga apa, demi istri tercinta.
--
Singkat kata, aku tetap pergi makan siang bersama Andra.
Setelahnya kembali lagi ke kantor teman lamaku itu-dan betapa pengertiannya si Andra itu, dengan memberikan ijin Lia untuk pulang sedikit lebih cepat dari waktu pulang kantor yang seperti biasanya. Maka aku dan Lia akan terhindar dari hecticnya jalanan saat waktu pulang kantor.
Dan disinilah sudah aku dan Lia sekarang. Di unit apartemen kami.
Setelah sempat Lia memicing curiga padaku ketika kami berpapasan dengan seorang wanita di lorong menuju unitku dan Lia.
Padahal aku tidak kenal sama sekali dengan wanita itu, pun aku memang tidak peduli.
Yang aku pedulikan hanya istriku seorang saja, istriku Malia.
Yang tadi sempat aku lihat sedikit gelisah saat di parkiran kantornya.
Apa ada si bibit pebinor itu disana?.
Apa mereka janjian pulang bersama sebenarnya?.
Well, aku hanya menunggu Lia jujur padaku, tentang pertemuannya tadi dengan si bibit pebinor itu.
Karena jika Lia tidak jujur padaku tentang hal itu yang mana sudah aku tahu dan lihat dengan mata kepalaku sendiri, maka....
--
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih masih setia.