WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 185


__ADS_3

Selamat membaca...


***


REIJI


“Bikin tanda...“


Aku memepetkan Lia di pinggiran wastafel setelah ia selesai mengecek tubuh bagian atasku, atas nama kecurigaan-katanya.


Seketika Lia pun melirik sebal sambil mengerucutkan bibirnya padaku.


“Ga mau.”


Lia memberikan penolakan dengan wajahnya yang memberengut.


“Ogah rasain keringet di lidah aku...”


“Siapa suruh curigaan sama suami yang setianya bukan main ini?...”


“Siapa suruh bikin gelagat aneh!-“ sambar Lia atas ucapanku. “Biasanya paling anti bawa handphone ke kamar mandi-“


“Kan dibilang lupa...”


Gantian aku yang menyambar ucapan Lia.


Lalu menyambar bibir Lia yang dimonyongkan olehnya.


Gemas!.


Ingat Lia waktu SMP dulu, yang suka merungut tajam kalo aku cuekin.


Manja ga ketulungan padaku waktu SMP, terus jadi judes pas SMA, jauh saat dia kuliah.


Tapi jodoh ga kemana ya kan?...


Gedenya jadi milik Abang Reiji juga, mau sejudes apa, mau sejauh apa Lia melangkah.


Mau sebagaimana Lia pernah memproklamirkan betapa dia mencintai satu sosok pria dalam hidupnya selain aku-pernah, tapi pada akhirnya Malia Leonard jadi milikku.


Walau pernah dia antipati pada pernikahan kami yang dilandasi perjodohan ini.


Tapi itu sudah berlalu, Lia sudah jadi milikku bulat-bulat, baik raga dan hatinya.


Yang beberapa saat lalu mencurigaiku ada main dibelakang, hanya gara-gara aku bawa ponsel ke kamar mandi.


Emang lupa beneran, bukan ada apa-apa.


Abang setia Dek, Astagfirullah.


Ga minat sama perempuan diluar sana, kalo di rumah udah ada yang lebih dari cukup adanya.


“Nih periksa lagi handphone aku kalo curiganya masih ada sisa... passwordnya ga pernah aku ganti kok...” ucapku pada Lia yang masih saja memberengut manja.


‘Serang’ juga nih?!.


***


Ekspresi Lia yang menggemaskan di mata Reiji membuat pria itu rasanya tak tahan ingin ‘mengobrak-abrik’ tubuh istrinya itu.


Yang Reiji tahan untuk lakukan, karena sadar jika di pagi hari yang terang-dimana akan tiba dalam beberapa jam lagi, Malia akan pergi ke kantor untuk bekerja.


“Kamu terusin istirahat gih?. Nanti masih kerja kan kamunya? Lumayan tidur sampe subuh. Nanti aku bangunin pas azan-“


“Iya kali suami baru pulang kerja aku tinggal tidur gitu aja?”


Malia berujar.


Reiji tersenyum sambil mengusap pelan puncak kepala Malia dan surainya sekalian.


“Kalau suami kamu kerjanya di kantoran dan pulang macem orang kerja normal macam kamu dan sesekali lembur, ucapan kamu bisa dipake, Yang,” ucap Reiji. “Tapi ini aku kerja dengan waktu kerja yang beda, pulang dini hari gini. Yang ada malah ganggu waktu istirahat istri.”


“Aku ga merasa terganggu, Rei...”


Malia memberikan responsnya dengan senyuman.


“Kamu udah makan?” Lalu Malia bertanya pada suaminya itu.


“Udah-“


“Bener?...”


Malia menukas memastikan, dan Reiji mengangguk-angguk kecil. “Iya bener...” ucap Reiji kemudian.


***


Tidak ada godaan menuju sawadikap subiduppappaw dari Reiji pada Malia seperti seringnya.


Karena Reiji tidak ingin merepotkan Malia yang akan masih pergi bekerja nanti, sementara dirinya bisa beristirahat seharian karena Reiji akan libur selama dua hari ke depan.


“Aku tadi beli sate dan masih ada, aku simpen di kulkas. Kalo kamu mau aku panasin. Bukan sisa kok. Yang ditempatnya ga aku udek-udek. Bumbu juga kepisah,” tutur Malia sebelum ia keluar dari kamar mandi.


“Ga usah, nanti kamu repot,” sahut Reiji.


“Manasin doang ga repot kelles, Rei...” timpal Malia.


“Buat nanti sarapan aja itu sate campur sama nasi goreng-“


“Beneran tapi kamu ga laper, Rei?” Malia memastikan. “Jangan karena kamu ngerasa aku bakal repot, terus laper kamu , kamu tutup-tutupin...”


“Bener, Sayaang-“


“Ya udah... Aku bikinin minum aja ya?”


Malia kembali memberi penawaran.


“Ga boleh nolak,” tegas Malia dengan lembut.

__ADS_1


Reiji tersenyum.


“Ya udah.” Reiji mengiyakan, walau sebenarnya memang dia ingin Malia meneruskan tidurnya saja.


Namun berhubung Malia sedikit memaksa, ya sudah Reiji iyakan saja satu tawaran Malia itu.


“Kopi apa teh?”


“Kopi aja, buat sekalian aku nunggu subuh.”


***


Malia segera turun ke dapur untuk membuatkan Reiji kopi, setelah ia meninggalkan Reiji memanfaatkan waktunya di kamar mandi. “Gue bikinin mi goreng aja, dimakan ga ya sama Rei kira-kira?” gumam Malia sambil tangannya bergerak mengambil segala rupa benda untuk membuatkan kopi hitam kesukaan Reiji.


“Dan aku akan membuat kamu mengakuinya sekarang-“


Namun disela Malia berpikir untuk membuatkan satu makanan untuk Reiji, sekelebat ingatan muncul di pikiran Malia yang merupakan ucapan Irsyad dan apa yang dilakukan pria dari masa lalunya dengan menciumnya secara paksa itu, hinggap lagi di kepala Malia.


‘Gue salah ga ya, kalo nyimpen kebenaran soal apa yang Irsyad lakuin ke gue dari Rei?’


Dan didetik berikutnya Malia bertanya sendiri dalam hatinya.


‘Engga deh! .. Rei ga perlu sampe tau soal itu. Dia pasti murka .. selain gue takut Rei berpikiran buruk sama gue ..'


Kenapa menghindari aku, Lia? Berhentilah berkorban untuk orang lain. Ada aku yang mencintai kamu dan siap menerima kamu apa adanya.


Lalu Malia mengingat pesan chat dari Irsyad yang dia terima beberapa jam lalu ketika dia sampai di rumah orang tuanya.


‘Ah iya!’


Malia memekik dalam hatinya.


‘Gue harus hapus itu chat dari Irsyad..’


Lalu Malia gegas menyelesaikan membuat kopi yang diperuntukkan untuk Reiji, dan langsung buru-buru melangkah untuk kembali ke kamarnya dan Reiji.


***


‘Eh?’ batin Malia yang terkesiap kala melihat pintu kamar mandi sedikit terbuka. ‘Rei udah selesai mandi?..’


Malia bertanya-tanya dalam hati sambil menutup perlahan pintu kamarnya dan Rei, lalu matanya kembali ke arah kamar mandi.


‘Rei yang mandinya kilat, apa gue yang kelamaan bikin kopinya?’


Malia membatin lagi, sambil berjalan menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan walk in closet.


“Rei?..” panggil Malia yang langsung masuk ke walk in closet dengan masih memegang cangkir kopi di tangannya, setelah ia mendengar suara dari dalam sana.


***


“Kamu udah selesai mandi?..”


Malia yang sudah masuk ke dalam walk in closet itu lantas bertanya pada Reiji yang masih handukan, dan nampak sedang mencari sesuatu di dalam lemari pakaian.


“Ga kecium emang ini wangi banget suaminya?-“


“Cepet banget mandinya?” sahut Malia.


“Sepuluh menit cukup lah buat laki mandi-“


“Emang udah sepuluh menit ya dari kamu mandi tadi?-“


“Nih pasti ada bengongnya pas bikin kopi?-“ tukas Reiji, yang membuat Malia sedikit terkesiap.


“Eh iya, jadi aku bawa-bawa ini kopi kesini-“ tutur Malia yang ingat kalau dirinya yang tadi ingin meletakkan cangkir berisikan kopi hitam kesukaan Reiji yang memang ada stoknya di rumah kedua orang tuanya itu, malah jadi tidak sadar ikut membawa masuk cangkir berisikan kopi ke dalam walk in closet saking tadi fokusnya tertuju pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.


Lalu mendengar suara di dalam walk in closet, yang membuat Malia langsung ngeluyur ke dalamnya hingga tak terpikir pada cangkir kopi yang ia pegang.


“Mau dibawa kemana itu kopi?” sergah Reiji saat Malia hendak berbalik.


“Mau aku taro di meja.”


“Siniin,” kata Reiji.


“Masih panas banget, Rei.”


Malia berucap, kala Reiji mengambil alih cangkir berisikan kopi dari tangannya, setelah meletakkan dua potong pakaian yang tadi ia pegang di atas permukaan sebuah buffet kecil yang ada di dalam walk in closet.


“Masih lebih hot kamu..” ucap Reiji sebelum menyeruput hati-hati kopi dalam cangkir yang dibuatkan Malia untuknya.


“Gombal!..” tukas Malia. Dan Reiji tersenyum kecil disela ia menyeruput kopinya.


Lalu Malia bersandar sambil memperhatikan Reiji yang sedang menyeruput kopi buatannya itu.


“Cape banget ya Rei?-“


Malia berucap kala Reiji telah selesai menyeruput sedikit kopi dalam cangkir yang kemudian ia letakkan di bagian kosong buffet.


Reiji tersenyum. “Namanya orang kerja ya pasti ada capenya, Yang-“


Melupakan dirinya yang berpakaian, Reiji mengulurkan tangannya ke puncak kepala Malia yang langsung ia usap dengan lembut.


“Kamu juga kan ngerasain biar kerja banyakan duduk juga pasti ada capenya?” tambah Reiji, sambil masih mengusap lembut kepala yang bersambung ke surai Malia.


Yang mana orangnya,


Cup.


Langsung menangkup wajah Reiji hingga membuat suaminya itu sedikit terkejut karena dipaksa merunduk, lalu Malia langsung menyambar bibir Reiji.


“Kangen..” bisik Malia setelah ia melepas tautan bibirnya di bibir Reiji, yang orangnya langsung tersenyum lebar.


Tersenyum karena Reiji selalunya merasa senang jika Malia nampak sedikit agresif.


“Banget..” balas Reiji. “Nanti malem ya?”


“Apanya yang nanti malem?.. bukannya ini masih itungannya malem?” ucap Malia.

__ADS_1


Reiji terkekeh kecil. “Sekarang ini tuh malem menuju subuh ..”


“Masih lama-“


Malia menyahut lagi, namun sekali lagi Malia membuat Reiji terkejut.


Yang mana istrinya itu kembali menangkup wajahnya, hingga Reiji kembali dipaksa merunduk sebelum Malia menyambar kembali bibirnya bahkan agak liar kali ini.


Reiji terkejut, namun coba mengimbangi. Dan pada akhirnya Malia dan Reiji larut dalam sesi ciuman yang menuntut, sampai membuat nafas keduanya sedikit memburu.


“Yang-“


“Hem?”


“Emh, besok.. kamu kan masih kerja?-“


Reiji sedikit tergugu, karena tangan Malia sedang mengusap sesuatu di bawah sana.


Pusat server tubuh Reiji, yang merespon dengan cepatnya-kala tangan Malia menjadi nakal mengelusnya.


“Heeemmm-“ responnya Malia yang kembali meraih kepala Reiji lalu menempelkan kembali bibir mereka hingga lidah mereka bersalaman.


Reiji pun tak sempat lagi berkata-kata, karena dia kemudian fokus membalas belitan lidah Malia di dalam mulutnya, bertukar saliva.


Hingga..


“Y-Yang..?”


“Kenapa?..” Malia menyahut dengan sedikit mendongak.


Sudah dalam posisinya bersimpuh di hadapan Reiji.


“K-kamu-“ Reiji semakin tergugu, tepatnya dia dibuat sangat terkejut oleh tindakan Malia yang kian agresif, ehm, agak nakal ya?


Sudah bersimpuh di atas kedua lututnya, lalu menarik lepas handuk Reiji yang terlilit dari pinggang ke betis.


“Mau coba..”


Malia berucap dengan juga tergugu.


Pasalnya dia sadar betapa rusuhnya dia saat ini.


Ada suatu hormon yang mendesaknya hingga dia sampai bersikap agresif seperti ini, yang entah hormon apa.


Yang jelas ada keinginan yang mulai meletup-letup dalam dirinya, selain penasaran.


Lebih ke, ingin totalitas memanjakan suami seperti yang Reiji selalu lakukan di setiap inci tubuhnya ketika mereka sedang pemanasan untuk ‘olahraga’ yang bisa membuat tulang seolah lepas dari badan.


Dan kini posisi Malia seperti Reiji yang suka grasak grusuk diantara sela kedua pahanya. Yang mana hal itu membuat Reiji cukup tercengang, selain ia deg-deg-an hebat.


Memang selama ini ia mendapat kepuasan dalam hal keintiman suami istri bersama Malia, tapi banyaknya Reiji yang ‘bekerja’-istilahnya.


Dan tak pernah Malia mencumbunya seperti Reiji mencumbunya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Paling bibir sampai dada, lalu beringsut ke atas Reiji dan memberi ‘ulekan’ sensual.


Sebatas itu, dan itu sudah lebih dari cukup memuaskannya.


Sudah cukup agresif kok Malia kalau sampai mau bergerak naik turun cantik di atasnya.


Tapi sekarang..


Ohmaygat!


Reiji kikuk sendiri dibuat Malia, ditambah Malia sudah sedekat itu dengan..


Ah, sudahlah..


“Y-yang?..” gugu Reiji karena apa yang sedang mulai menegak itu sudah berada dalam genggaman Malia.


“Kenapa? Ga boleh?-“ Malia berucap lirih seraya mendongak, sementara Reiji sudah kian ser-ser-an.


“Aku mau coba ini, ga boleh?-“


“Bu-bukan gitu-“ gugu Reiji dimana gugu itu berubah menjadi ia yang gagap, lalu mendesis dalam.


Mau bicara, tapi udah nyer-nyeran, karena tangan Malia kenapa sih mulai ngurut begitu?


Kan enak Reiji jadinya?


Setelahnya, Reiji limbung sampai ia harus berpegangan di pinggir buffet yang berada di dekatnya.


Tangan Malia yang tadi mengurut-urut lembut telah tergantikan oleh mulut.


Ohmaygat lagi, Reiji tak sanggup..


Tak sanggup untuk menahan suara erangan keluar dari mulutnya, saat ada mulut yang sedang maju mundur cantik di ‘bawah’ sana.


Tak sanggup Reiji untuk tak menuntut agar mulut yang menyangkut milik sang istri gerangan agar terus melanjut, hingga tanpa sadar kepala yang sedang maju mundur cantik itu Reiji remas rambutnya.


Terlalu nikmat Reiji rasakan sekarang, hingga sesekali matanya terpejam dengan kepala yang terbuang ke belakang, berikut mulut yang macam ikan lohan-hanya saja ikan lohan itu membuat suara d*sahan.


Uh.


Malia jago sekali pikir Reiji sampai dia mulai blingsatan seperti ini.


Tak ada suara dari Malia, hanya suara Reiji saja yang sesekali mendominasi di udara dalam walk in closet tersebut.


Gila, ini gila Reiji rasa. Sensasi lain yang ia rasakan ini membuat Reiji ambyar sekali.


Hingga saking merasa gila, Reiji ingin jangan sedikit saja ‘pedang’ nya yang diselusuri oleh mulut cantik perempuan berlabel istri yang sedang bersimpuh sensual dihadapan bawahnya itu.


Membuat tangan Reiji itu tanpa sadar menekan kepala gerangan yang sedang memaju mundurkan cantik kepalanya seirama dengan gerakan mulutnya.


Sampai akhirnya,


“Uhuk-uhuk-“ Ada suara terbatuk yang terdengar, kala mulutnya terasa amat dijejali, membuat asupan oksigen terasa terhenti, oleh benda lunak elastis yang bisa memanjang dan membesar sendiri, sampai jadi keras sekali.


****

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2