
Selamat membaca..
***
“Lo-lo mau apa???” Malia seketika dilanda kegugupan, karena Reiji sedang berada di hadapannya saat ini.
Bukan gugup karena saling berhadapan dengan Reiji, tapi masalahnya mereka berhadapan hanya berdua saja
dan di dalam kamar.
Sementara di bawah kan ada keluarga mereka.
Pikiran Malia sedikit berkelebat agak jauh mengenai apa yang membuat Reiji masuk ke dalam kamarnya dan seolah mengurung Malia hingga berduaan saja dengan Reiji.
Reiji hanya mengambil satu langkah saja setelah menutup pintu kamar Malia, lalu ia tersenyum pada calon istrinya yang nampak sedikit gugup itu.
“Aku udah disini .... silahkan kalau mau tanya-tanya.” Reiji pun bersuara, dengan mensedekapkan kedua tangannya di bawah dada sembari menatap Malia.
“Gue ga ngerti .... maksud lo gimana? ....”
“Bukannya ada yang mau kamu tanyakan ke aku? Soal mantan, misalnya?”
“Engg .... lo nguping pembicaraan gue sama Avi tadi?....” Kata Malia seraya balik bertanya.
Reiji menggeleng kecil. “Engga sih .... Cuma ga sengaja denger aja,” ucapnya masih memandangi Malia.
Lalu Reiji mengurai sedekap-nya dan mengganti posisi kedua tangannya yang ia masukan ke dalam saku celana
panjang kainnya.
“Dan dari apa yang aku denger, ada yang mau kamu tanya soal mantan-mantan aku kalo ga salah.... bener ga?....”
“Itu....”
“Bener yang Avi bilang, kalo mau tanya soal aku, lebih baik tanya langsung sama yang bersangkutan ....”
Reiji masih menatap Malia yang nampak ragu dan juga sedang menatap balik padanya.
“So, ini yang bersangkutan udah ada disini. Jadi silahkan tanya-tanya.”
Reiji menyambung ucapannya.
“Aku akan menjawab dengan jujur....”
“.........”
“Aku kan udah pernah bilang, jika ada yang rasanya mengganjal di hati kamu jangan disimpan, lebih baik diutarakan ....”
“Iya.”
“Li ....” Reiji melangkah untuk mendekat pada Malia.
“Hayoo ngapain berduaan dalem kamar???” Namun belum sempat Reiji menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar Malia sudah terbuka dari luar.
Dan Avi yang kemudian muncul serta langsung berseloroh dengan kalimat godaan pada Malia dan Reiji.
“Ck!”
Reiji berdecak kecil sembari melirik malas pada Avi yang cengengesan itu.
“Sabar, tunggu tiga bulan lagi kalo mau ngamar .... ntar abis nikah mau ngunci kamar tiga hari tiga malem sok dah!”
“Ck apaan sih lo?! ....”
Malia langsung mencebik pada Avi yang sedang menggodanya dan Reiji.
“Bocah sok you know banget!”
Reiji menimpali.
“Enak aja bilang gue bocah! Wanita muda nih!”
Avi berseru pada sang kakak.
“Lagian lo katanya mau balik, malah modus cari-cari kesempatan buat berduaan ama Lia disini....”
“Yang gue modusin juga calon istri. Ga salah dong?” Tukas Reiji pada adiknya itu.
__ADS_1
Avi pun mendengus geli.
“Jadi balik ga lo, Bang?!.... Papa sama Mama udah nungguin tuh!”
“Hmm....” Reiji hanya menyahut dengan deheman saja, lalu berbalik dan melenggang cuek dari kamar Malia.
Malia dan Avi segera mengekori Reiji untuk turun ke lantai bawah.
***
MALIA
Acara lamaranku dan Reiji berjalan dengan lancar.
Pembicaraan beragam hal seputar acara pernikahanku dan Reiji dalam tiga bulan kedepan pun semakin intens
dibicarakan dan dipersiapkan.
Lalu pembahasan soal pesta pertunangan, dan pendapatku ditanyakan, karena Reiji bilang,
“Aku gimana Lia”
Reiji nih, sejak kemarin selalu menyerahkan keputusan ke aku.
Ya meskipun aku punya pandangan sendiri kalo soal pesta pertunangan.
Tapi aku yakin Reiji juga punya keinginannya dan pendapatnya sendiri mengenai pesta pertunangan.
Macam kemarin aja waktu jalan ke Bandung. Reiji menanyakan aku mau kemana, makan dimana, padahal dia udah punya persiapan.
Takutnya soal pesta pertunangan juga begitu. Jangan-jangan si Reiji malah udah mempersiapkan itu pesta buat
gue. Ih, pede banget aku ya?. Hehehe.
“Kalo tanya Lia sih, menurut Lia ga perlu.. satu, repot. Dua, ya sayang biaya..”
Dan jawaban itu yang keluar dari mulutku pada akhirnya.
Kan nanya pendapat aku?.
Ga penting lah soal pesta pertunangan.
Toh ini hari juga Reiji sudah menyematkan satu cincin penanda di salah satu jari manisku.
Udah ke-itung tunangan kan itu?.
“Kalau soal biaya yang jadi pertimbangan kamu ya jangan dipikirin Lia, nih calon suami kamu banyak tabungannya”
Tapi Tante Alice kemudian nyeletuk begitu.
Jadi kepo, soal tabungan Reiji yang katanya banyak itu.
Mode matre on.
Hahaha.
Maklum deh perempuan, kalo denger duit suka gimanaaa gitu.
Itu pandanganku yah, mana ada cewe yang ga punya jiwa matre dalam dirinya.
Meski banyak yang mengklaim diri mereka bukan seorang cewe matre.
Tapi apa iya, ada perempuan yang ga punya jiwa matre dalam diri mereka, sementara mereka pasti membutuhkan uang untuk hidup selain nyawa sama nafas kan?.
Pasti para perempuan punya keinginan kan?.
Dan keinginan-keinginan tersebut pasti ada sangkut pautnya dengan urusan finansial.
Ah se-bodo-lah. Kenapa jadi merepet ke bahasan itu juga?.
Kembali soal pesta pertunanganku dan Reiji, yang ditanyakan oleh calon mama mertuaku tadi.
“Iya Lia, untuk pernikahan Reiji atau Avi Insya Allah kami juga sebagai orang tua sudah menyiapkan budget buat
masing-masing mereka dan iya itu bener yang dibilang mama Alice kalo Reiji banyak duitnya..”
Terus Papanya Reiji pun menimpali ucapan Mama Alice- dimana beliau memintaku untuk memanggilnya begitu sekarang. Dan semua orang terkekeh kembali, selepas calon papa mertuaku itu bicara sekaligus sedikit berguyon.
__ADS_1
Juga mengiyakan ucapan Mama Alice yang bilang Reiji banyak duitnya.
Sebanyak apa ya, duit Reiji? ..
Hehehehehe.
Lalu Papa – Papa kandungku maksudnya ikut juga mengeluarkan pendapatnya.
Dan yang lain mengiyakan ucapan orang tuaku dan Reiji soal pesta pertunangan. Sementara aku lirik si Reiji Cuma
manggut-manggut aja.
Percaya sih memang, mungkin Reiji banyak duitnya. Pilot kan gede ya gajinya?.
“Iya Lia percaya kalau soal biaya mah ga bakal neter, cuman Lia itu mikir repot aja kalo segala ada pesta
pertunangan segala”
Begitu jawabku pada mereka yang sedang berada didekatku tadi.
“Itu kan pendapat aku. Nah kalau kamu gimana Rei?..”
Kemudian aku menoleh seraya berbicara pada Reiji, menanyakan pendapatnya.
“Ya tadi kan aku bilang, aku ikut kamu aja maunya gimana .. Mau bikin pesta pertunangan hayo aja ..”
Dan lagi-lagi intinya si Reiji menyerahkan keputusan padaku soal pesta pertunangan kami, yang pada akhirnya
tercetus juga kalau Reiji akan membicarakan dulu tentang hal itu padaku untuk keputusan akan membuat pesta pertunangan tersebut atau tidak.
Kemudian pembicaraan berlanjut ke soal acara pernikahanku dan Reiji saat hari ‘H’ nya nanti, berikut segala macam pretelannya.
Tiba-tiba Avi nyeletuk soal foto Pre-wed.
Aku baru saja hendak melirik Reiji untuk menanyakan bagaimana-bagaimananya, karena waktu di Bandung kami
sekilas membahas tentang hal tersebut namun tidak menghasilkan keputusan ya atau tidak.
Namun belum sempat aku melirik Reiji,
“Ga perlu..”
Jawaban itu sudah keluar dari mulut Reiji.
Jujur, aku sedikit terkejut mendengar jawaban Reiji yang cepat itu dan seketika rasa tidak enak menyelimuti
hatiku, karena saat mengucapkannya wajah Reiji datar saja tanpa menoleh ke arahku.
Jawaban Reiji itu membuat semua orang spontan menatap ke arahnya, seperti halnya aku.
“Ga wajib kan?”
Lalu Reiji menambahkan ucapannya.
Dan akhirnya kembali diputuskan jika aku dan Reiji akan membicarakannya lagi berdua nanti soal foto Pre-wed,
termasuk juga soal pesta pertunangan.
Setelahnya aku dan Reiji saling diam, sementara mereka yang berada didekat kami kemudian membahas ini itu soal keperluan pernikahanku dan Reiji dengan lebih antusias lagi.
Aku dan Avi kemudian memisahkan diri untuk berganti pakaian setelah para kerabat dekat keluargaku dan juga
keluarga Reiji telah pamit undur diri, menyisakan hanya keluarga inti kami saja.
Mengobrol dengan Avi dan saling bertukar pikiran sering sekali aku dan Avi lakukan. Dan ucapan Avi yang bilang
jika dia merasa jika Reiji sebenarnya sudah memiliki perasaan spesial padaku, membuatku merasakan gelenyar aneh di hatiku.
Seperti.. sebuah rasa ..
Senang?
Apakah itu artinya aku juga sebenarnya sudah punya ‘rasa’ pada Reiji tanpa aku sadari?.
****
Bersambung ....
__ADS_1