WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 160


__ADS_3

Selamat membaca...


Semoga bahagia selalu...


***


MALIA


Aku sungguh malu hati setelah mendengar penuturan panjang lebar saat kami bicara selepas Isya tadi.


Sungguh takjub pada cara berpikir Rei sebagai laki-laki dan suami.


Aku benar-benar beruntung memiliki Rei sebagai suamiku. Laki-laki itu benar-benar paket komplit.


Disaat aku yakin jika laki-laki lain berada di posisi Rei saat istrinya kekeh menemui laki-laki lain, yang diketahui adalah laki-laki yang istrinya cintai, pasti aku sudah dicap sebagai perempuan yang tidak tahu malu oleh suaminya.


Tapi Rei?


Tidak.


Mungkin ada marah dan geram di hati Rei padaku, atau pada Irsyad. Tapi Rei tidak berapi-api menunjukkannya, terlebih padaku.


Bahkan, saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri aku pergi dengan Irsyad siang tadi-walaupun Rei mungkin tidak yakin itu Irsyad dan akupun tidak sengaja janjian dengan Irsyad, tapi Rei membiarkan.


Semata-mata menghindari keributan yang mungkin terjadi, hanya untuk menjaga nama baikku di lingkungan tempatku bekerja. Dan sekali lagi, aku merasa malu padanya. Pada Rei yang begitu sabar hatinya padaku.


Begitu sabar dan pengertiannya, sampai ia mempercayai ucapan yang merupakan alasanku untuk membela diri-yang mana memang itu kebenarannya, jika aku tidak janjian untuk bertemu dengan Irsyad siang tadi.


--


Rei tidak menunjukku untuk memberi tuduhan tentang pertemuanku dengan Irsyad tadi, adalah seorang suami yang patut aku syukuri.


Tidak kalimat tudingan keluar dari mulut Rei, seperti,


‘Alah! Bilang aja kalian memang udah janjian karena aku yang kamu pikir masih belum balik kan?!’


Atau,


‘Kamu masih main belakang kan sama dia?!’


Nyatanya, tidak ada sama sekali lontaran tudingan buruk dari Rei padaku.

__ADS_1


Rei percaya padaku-itu yang ia katakan dengan seulas senyuman teduh saat mengatakannya.


“Dari waktu ini, kita mulai semua dari awal ya? ---“


Lalu, hal tersebut yang Rei katakan padaku.


Yang mana, tanpa butuh waktu lama aku iyakan permintaan Rei itu.


Aku tidak akan berpikir dua kali, jika memang Rei maunya begitu. Aku pun rasanya berpikir sama seperti Rei.


Malah, aku maunya tidak ada cerita soal aku dan Rei yang menikah karena dijodohkan. Dan aku sampaikan itu pada Rei secara gamblang.


Yang kemudian Rei iyakan dengan guratan tak percaya, namun bahagia setelahnya.


Akupun bahagia.


Dengan melihat Rei bahagia aku merasa lega.


Aku sudah merasa banyak menyakitinya, dan aku sungguh ingin menebus hal itu.


--


“Ngomong-ngomong, kamu tadi makan dimana pas maksi?” Rei bertanya padaku saat aku dan dia sudah keluar dari unit apartemen kami.


Aku menjawab sekaligus bertanya balik pada Rei.


“Ga apa-apa, nanya aja...”


Rei menjawab santai dengan mengulas senyuman.


“Ga mau nanya aku ngomongin apa sama dia?” tanyaku seraya iseng.


“Kamu mutusin dia?” sahut Rei dan aku tersenyum geli.


“Dibilang aku ga pernah pacaran sama Irsyad.”


“Bibit pebinor!”


Reij dengan segera menukasku.


“Jangan sebut namanya didepan aku.” tambahnya kemudian.

__ADS_1


Lalu aku terkekeh kecil, dan Rei melirik sebal padaku.


“Aku ga cemburu ya?...” ucap Rei kemudian lagi, dan aku makin terkekeh melihat wajah Rei yang macam anak kecil sedang ngambek.


Yang baru ini aku lihat wajah merajuk Rei yang menggemaskan itu. “Cemburu juga ga apa-apa kok,” sahutku. “Aku seneng kok dicemburuin sama kamu. Tandanya kamu padaku kan? –“


Cup.


“Rei ih!” sungutku pada Rei karena dia enteng saja mencium bibirku saat kami sudah berjalan menuju gerai makanan tujuan kami.


“Itu bukti kalo aku padamu,” tukas Rei, sambil ia memencet gemas hidungku.


--


Aku dan Rei telah berada di gerai makanan yang menjadi tujuan kami, karena katanya Rei sedang ingin makan satu varian makanan di tempat yang sudah kami masuki ini.


Aku biarkan Rei yang memesankan makanan yang sudah aku pilih dimenu, dan aku berdiri di samping Rei dengan memandang ke sekitar. Lalu pandanganku iseng saja menatap bagian luar gerai makanan tempatku berada, dari sebuah kaca besar transparan yang ada di sampingku.


Lalu sepersekian detik aku menyadari sesuatu.


Dan aku sedang memastikan pandanganku pada sebuah mobil yang terparkir agak pojok pada barisan parkir luar gedung apartemen, tak jauh dari gerai makanan tempatku dan Rei berada.


Hingga aku tak memperhatikan Rei lagi untuk sesaat.


“Kamu ada tambahan lain ga?”


Suara Rei berikut sentuhan kecilnya membuatku terhenyak dan membuatku mengalihkan pandanganku padanya.


“Oh – Itu aja dulu Rei ....”


Aku yang terkesiap itu langsung menjawab pertanyaan Rei dan ia pun mengangguk padaku, kemudian beralih lagi pada pramuniaga gerai.


Sementara aku kembali menoleh ke arah parkiran dimana aku merasa jika aku mengenali mobil yang tadi aku perhatikan, dan kemudian sudah tidak ada ketika aku menoleh ke tempat aku mengira-ngira untuk memastikan jika dugaanku tidak salah.


Tapi aku sungguh yakin jika dugaanku tidak salah, karena mataku masih sangat normal untuk melihat pada jarak mobil tadi berada. Mobil yang aku yakini dengan sangat, jika itu adalah mobil Irsyad. Yang mana tentunya aku kenali, karena aku sudah beberapa kali menaikinya.


Pertanyaanku adalah, untuk apa Irsyad berada di gedung apartemen tempat tinggalku dan Rei pada jam seperti ini? ....


Apa .... Irsyad sedang menguntitku? ....


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2