WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 140


__ADS_3

Terima kasih masih setia...


***


Selamat membaca...


***


REIJI


Mendung yang beberapa saat menaungiku telah dihilangkan oleh matahari yang sedang tertidur lelap dipelukanku saat ini.


My Sunshine, my only sunshine.


Istriku, Malia Leonard.


Yang kini begitu bangga menyandang nama belakangku di belakang namanya.


Malia Shakeel.


---


Pada kenyataannya, Lia tak main-main saat mengatakan jika akulah sekarang pemilik hatinya, meski sisa rasa untuk si bibit pebinor itu masih ada di hati Lia.


Tapi Lia meyakinkan diriku, jika itu bukan lagi cinta yang ia punya seperti dulu pada si bibit pebinor itu.


Hanya sebuah perasaan akan kenangan aja, kata Lia.


Dan aku mempercayainya.


Aku sendiri tidak menuntut Lia untuk cepat-cepat menghilangkan sisa rasanya yang ia punya pada si bibit pebinor.


Karena aku pernah berada di posisi Lia juga saat aku telah melepas rasa cintaku pada Shirly dulu.


Cintaku pada Shirly memang sudah aku terbangkan ke angkasa. Tapi seperti yang Lia katakan, sisa rasa masih ada yang membekas di hati.


Namun waktu membuat sisa rasa cinta di hatiku pada Shirly akhirnya hilang dengan sendirinya.


Dan aku yakin hal itu akan terjadi juga pada Lia.


Sisa rasa cintanya pada si bibit pebinor itu akan hilang dengan sendirinya seiring waktu berjalan hingga benar-benar hanya ada aku di hati Malia Leonard, a.k.a Malia Shakeel.


--


“Bangun Nyonya Reiji –“ aku mengecup pipi Lia dengan lembut.


“Eenngg...”


Lia bergumam, sudah mulai terganggu karena kecupan-kecupan ringan yang aku lakukan di wajahnya.


“Bangun istriku sayang, my sunshine, bentar lagi subuh...” ucapku yang kini mengelus pipinya dengan ibu jariku dengan lembut.


Sebenarnya waktu subuh masih sekitar empat puluh lima menit lagi, tapi aku sengaja membangunkan Lia sedikit jauh waktu karena kami harus mandi besar, setelah pergulatan panas kami semalam yang sudah teramat sangat rutin kami lakukan sejak saat Lia mengatakan jika dia sudah mencintaiku.


Aku bukan umat yang patuh-patuh amat, tapi setidaknya aku harus menjadi imam yang baik bagi Lia. Dan kelak, untuk anak-anak kami. Meski biar bagaimanapun aku hanya manusia biasa, yang kadang lalai atau apalah-tapi yang jelas bukan main cewe untuk senang-senang di ranjang.


Kekuranganku sebagai manusia masih banyak, tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi Lia. Imam dan kepala keluarga yang baik untuk Lia dan keluarga kecil kami nantinya, jika Reiji dan Malia junior dihadiahkan oleh Yang Maha Kuasa untuk kami berdua.


Dimulai dari memperbaiki kewajiban beribadah yang wajib untuk lima waktu Nya.


Yang lain biar saja mengikuti, yang penting tetap berada di jalan yang lurus.


Jadi ya dimulai dari setiap pagi, aku akan memasang alarm agar subuh tidak terlewat, seletih-letihnya tubuhku.


**


Reiji dan Malia sedang berada di parkiran basement komplek gedung apartemen tempat tinggal mereka.


“Ada juga aku nungguin kamu dulu di lobi sampe mobil jemputan kamu dateng Rei –“ Malia sudah berada di samping pintu mobilnya yang masih tertutup, dengan Reiji yang berdiri di hadapannya.


“Aku laki lah.”


Reiji dengan cepat menyambar ucapan Malia.


“Ga perlu ditungguin –“ tambah Reiji. “Ada juga harusnya aku anter kamu dulu ke kantor, mastiin kalo istri aku itu sampai di kantornya dengan selamat.”


“Ribet Rei.”


“Ribet dari mananya sih?-“


“Ya ribet kalo kamu harus anter aku ke kantor, terus kamu balik lagi kesini. Belum lagi macet. Yang ada kamu telat sampe Bandara. Kalopun kamu berangkatnya dari kantor aku, itu akan nyita waktu kamu buat sampe Bandara karena lebih jauh -”


“Ga ada yang ribet kalo soal memastikan keselamatan istri –“


Reiji memotong cerocosan Malia.


“Lagian aku berangkat santai kok. Bisa naik ojek juga dari kantor kamu kalo emang harus balik kesini dulu, naik ojek langsung ke Bandara juga ga masalah.”


“Emang ojek bisa masuk Bandara?” tukas Malia seraya bertanya.


“Ya engga-“


“Nah?” sambar Malia.

__ADS_1


“Jalan aja masuk Bandara dari tempat ojeknya berhenti –“


“Ih, jauh banget kan itu bukannya?” sambar Malia lagi.


“Itung-itung olahraga!” tukas Reiji.


“Alah, bilang aja mau tebar pesona!”


Malia mencebik. Reiji mendengus geli.


“Ga usah ditebar itu pesonanya, suami anda ini memang udah mempesona Nyonya Reiji.” ucap Reiji kemudian.


“Luar biasa percaya diri anda ya suaminya Malia? –“


“Orang ganteng diatas rata-rata, ya harus percaya diri dong.”


“Ya ampun, kenapalah aku bisa cinta sama orang yang narsis bukan main?!”


“Oh jadi nyesel nih?...”


Reiji memasang tampang tak terima, namun tak serius.


“Yaa nyesel ga nyesel sih ---“ tukas Malia sembari mengulum senyum.


Reiji mendengus geli.


Cup.


Lalu satu kecupan singkat melayang ke bibir Malia dari Reiji.


“Sabodo nyesel juga.. yang penting Nyonya Reiji udah cinta ini sama suaminya!---“


Malia pun terkikik mendengar gerutuan Reiji setelah mengecup bibirnya sekilas.


Reiji tersenyum kemudian. Dan satu tangannya terulur ke puncak kepala Malia. “Ya udah berangkat sana. Nanti keburu kena waktu macet.” Ucap Reiji sambil memberikan usapan lembut di puncak kepala Malia.


“Iya.”


Malia pun menyahut lembut.


“Hati – hati, ya?—“ ucap Reiji lagi dan Malia mengangguk.


Lalu Reiji mengambil alih kunci mobil dari tangan Malia, yang kemudian ia tekan satu tombolnya, hingga kunci otomatis mobil tersebut terbuka.


Reiji kemudian membukakan pintu mobil, agar Malia dapat masuk dengan leluasa ke kursi kemudi. “Kamu juga hati-hati ya, Rei?....” kata Malia sambil mengusap lembut satu pipi Reiji yang langsung nampak sumringah dengan perlakuan Malia saat ini.


“Iya, Yang ---“ sahut Reiji seraya mengangguk dan tersenyum.


“Iya, istriku sayang.” Sahut Reiji lagi.


Malia menarik sudut bibirnya tinggi.


Cup..


Lalu Malia mengecup bibir Reiji. Hanya kecupan ringan saja.


Niat Malia memang hanya memberikan kecupan ringan saja di bibir suaminya itu. Tapi yah, Reiji suka tidak mau menyiakan kesempatan kalau Malia udah nyosor duluan.


Ciuman di bibir Reiji yang Malia rencanakan hanya sebuah kecupan saja, nyatanya tidak sesuai rencananya, karena Reiji menahan tengkuk Malia, agar bibir istrinya itu sedikit lebih lama ia nikmati.


Dan Malia pun pasrah saja dengan tindakan Reiji itu.


Sudah sejak dirinya dan Reiji kian harmonis hubungan rumah tangganya, Malia sudah tak lagi canggung pada Reiji. Juga sudah tidak ada lagi yang namanya penolakan dari Malia atas tindakan Reiji yang suka mengumbar kemesraan, tanpa peduli tempat.


Untung saja, para penghuni di komplek gedung apartemen yang Reiji dan Malia tinggali selalunya hidup masing-masing, dan masa bodoh dengan urusan orang lain. Jadi meskipun ada juga yang wara-wiri di parkiran basement gedung apartemen tempat Malia dan Reiji berada saat ini, mereka semua tidak peduli dengan apa yang Malia dan Reiji lakukan.


Meski tak tahu jika Malia dan Reiji adalah sepasang suami istri, namun interaksi keintiman bibir itu dianggap lumrah oleh para penghuni komplek gedung apartemen tersebut.


“Kalo cium suami biasain yang lama.”


“Liat tempat juga kelles—“


Malia langsung menyambar.


“Kalo disini orang juga ga pada peduli Yang.”


“Iya sih emang.” Tukas Malia. “Tapi tetep aja aku agak risih kalo ciuman kayak tadi di tempat umum Rei---“


Reiji pun mendengus geli.


“Aku juga liat-liat tempat Yang—“


Malia tersenyum. “Ya udah aku berangkat dulu ya?---“ sambung Malia.


Reiji mengangguk. “Hati-hati---“ ucap Reiji.


“Iya---“ sahut Malia. Lalu meraih tangan kanan Reiji yang kemudian ia salim takdzim.


“Kabarin kalau udah sampe kantor ya Yang? –“ ucap Reiji dan Malia mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.


“Kamu kalo emang bisa selesai cepet buru-buru balik ya?” pinta Malia. “Aku iseng pasti empat hari tiga malem sendirian di apartemen.”


“Pasti Yang.” Sahut Reiji. “Ini kalo ada yang mau tukeran jadwal juga aku ga mikir biar dapet penerbangan domestik.”

__ADS_1


“Mudah-mudahan ada,” tukas Malia.


“Aamiin.”


“Aku berangkat dulu ya.”


“Iya.”


“Assalamu’alaikum," pamit Malia.


“Wa’alaikumsalam ...” sahut Reiji.


**


Dengan wajah sumringah Malia mengemudikan mobilnya, sambil mendengarkan musik yang terlantun dari audio mobil sambil Malia ikut berdendang mengikuti lirik lagu yang sedang terputar sampai ia tiba di gedung perkantoran tempatnya bekerja.


“Widiihh.”


Teman satu divisi Malia yang kubikelnya tepat berada disamping kubikel Malia, langsung menegur ceria pada Malia yang baru saja tiba di ruangan bagian divisi kerja Malia.


Malia mendengus geli. “Apaan sih lo?”


“Gue perhatiin beberapa hari belakangan muka lo sumringah aja bawaannya ...”


“Sumringah salah, lesu salah.” Sahut Malia.


Teman sebelah kubikel Malia itu pun terkikik kecil. “Yakin sekarang ‘suntikan’ dari Pak Pilot sangat teratur, bahkan ngelebihin minum obat makanya muka lo jadi kian sumringah seperti ini bestih.”


Gantian Malia yang terkikik setelah mendengar celotehan satu rekan kerjanya itu.


“Sok you know lo ah.”


Malia menimpali sambil ia duduk di kursi kerjanya.


“Sok you know tapi bener khaann? –“ goda teman kerja Malia itu.


“Kerja mba!—“ balas Malia. “Pagi-pagi udah ngurusin urusan ranjang orang.”


Lalu Malia mendengus geli dan teman Malia itu terkikik lagi. “Penasaran gue abisan! ...”


“Penasaran kenapa?” tanya Malia.


“Penasaran lo anggurin apa engga itu laki lo? –“ celoteh rekan kerja Malia tersebut.


“Wah bibit pelakor!”


Malia menyambar dan ia kemudian terkekeh bersama satu rekan kerjanya itu.


“Btw lo udah sarapan Ya’?—“ tanya rekan Malia yang bernama Aniel itu. “Kalo belom gue bawa nasgor banyak nih.”


“Thanks Niel, tapi gue udah sarapan—“


Malia menolak tawaran sarapan dari Ainel dengan sopan.


“Lo tawarin yang lain aja.”


“Ya udah.” Sahut Ainel. “Eh iya gue mau ke pantri, lo mau titip gue bikinin sesuatu? ...”


“Duh, bae banget sih Mba Aniel ...” Malia menjawab sambil menoel dagu rekan kerjanya itu yang kemudian mendengus geli.


“Baru ngeh emangnya Mba Malia?”


Gantian Malia yang mendengus geli.


“Seriusan nih, mau nitip gue bikinin teh apa kopi abis gue sarapan?”


“Ga usah. Thanks Niel, lo duluan aja ke pantri nanti gue nyusul.” Jawab Malia.


“Oke deh!—“ balas Aniel sambil bangkit dari duduknya.


‘‘Laporan dulu kalo udah sampe sama Bapak Reiji!’’


Malia menggumam pelan, sambil ia mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas selepas kepergian Aniel.


Namun Malia kemudian nampak terpaku saat ia sudah melihat layar ponselnya. ‘Gue baca sekarang apa entar ya?’


Malia berkata dalam hati, saat ada nomor kontak yang mengiriminya pesan, yang mana nomor kontak tersebut telah baru lagi mengajaknya berkomunikasi, sejak Malia memutuskan untuk kembali pada komitmen dan janjinya pada Reiji.


‘Nanti aja deh ...’ batin Malia, lalu membuka ponselnya dan membuka laman aplikasi pesan chat di ponselnya untuk menghubungi Reiji. ‘Aih stupid!’ namun kemudian dia merutuk. ‘Gue kan klik nomor kontaknya Rei, kenapa jadi kontaknya Irsyad yang kebuka?—‘


Malia dilanda serba salah. Namun begitu, meski kontak dari pengirim pesan yang sudah kurang lebih dua minggu tidak berkomunikasi dengannya itu sudah terbuka dan pasti si pengirim pesan yang adalah Irsyad itu tahu jika Malia telah membaca pesannya-namun Malia memilih untuk mengabaikannya saja dulu.


‘Aduuuhh—‘


Tapi kemudian Malia mengeluh saat membaca pesan berikutnya dari Irsyad yang masuk.


Bisa ketemu siang ini, Lia?.


‘Gimana ya? –‘


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2