
Selamat membaca...
***
Malia rasanya lega ketika dia telah sampai ke gedung perkantoran tempatnya bekerja, dimana area lobinya sudah ramai dengan para karyawan yang telah kembali dari makan siang mereka.
Karena kondisi yang ramai itu, Malia harus pasrah menunggu giliran mendapatkan jatah masuk lift agak lama untuk sampai ke lantainya bekerja. Dan selama menunggu gilirannya itu, sesekali mata Malia terarah ke pintu masuk lobi.
Khawatir jika Irsyad menyusulnya, lalu akan ada drama yang aneh – aneh terjadi.
Namun berkali – kali Malia meyakinkan hatinya jika hal itu tidak akan terjadi. Karena Irsyad, Malia tahu bagaimana pribadinya.
Yah, sedikit banyak.
Yang jelas, Irsyad tidak akan sampai bersikap norak dengan menyusulnya lalu membuat drama laki – laki yang tidak menerima penolakan dari wanita yang ia inginkan jadi miliknya.
Toh Malia yakin kalau apa yang ia katakan pada Irsyad saat di Restoran tadi, sekaligus sikapnya sudah cukup jelas dapat laki – laki itu mengerti.
Meskipun hati kecil Malia merasa tidak enak pada Irsyad, jika mengingat alasan yang dikemukakan oleh laki – laki dari masa lalunya itu, tentang mengapa dia sampai mengorbankan cita – cita dan mimpinya di London kemudian kembali ke Jakarta hanya demi Malia.
Belum lagi, Malia sadar jika dirinya sempat seolah memberi ‘angin segar’ pada Irsyad atas kelanjutan hubungan mereka dengan sikap Malia yang selalu menerima ajakan Irsyad untuk bertemu setiap harinya, lalu bercerita tentang pernikahannya yang berdasarkan perjodohan dengan gurat tertekan di wajah Malia.
Yang seolah gurat wajah tertekan itu, mengharapkan Irsyad untuk membebaskannya dari beban hati atas pernikahan Malia yang berdasarkan perjodohan itu.
Ditambah Irsyad juga mengatakan - jika laki – laki dari masa lalu Malia itu, mencintai dirinya dan memang kembali atas cintanya pada Malia.
Tapi mau bagaimana?...
Kalau tahu – tahu Malia jatuh cinta pada Reiji pada akhirnya.
Pernikahan dengan Reiji yang Malia pikir tidak ada masa depannya itu, sekarang justru ingin Malia pertahankan dengan sekuatnya.
Salahkan Malia yang PHP – in Irsyad – istilahnya.
Tapi salahkan Irsyad yang datangnya begitu terlambat.
Begitu, pikir Malia.
****
MALIA
Setelah menunggu agak lama untuk mendapat giliran masuk lift, akhirnya aku bisa sampai juga di lantai tempat kantorku – divisi kerjaku lebih tepatnya.
Hanya aku yang tertinggal di dalam lift yang tadi pas kapasitasnya, karena lantai tempatku bekerja termasuk ke bagian lantai, dari lima lantai teratas pada gedung.
Hah, untung saja aku tidak phobia pada ketinggian.
---
“Mba Lia!”
Seorang perempuan cantik jelita yang kecantikannya ngalahin si Jelita itu sendiri memanggilku dari balik meja penerimaan tamu di lobi kantor lantai tempatku bekerja saat aku telah melewati pintu kaca otomatis yang memisahkan bagian kantorku dan area lift.
“Iya cantik? ..” sahutku sambil aku mendekat pada si cantik yang merupakan resepsionis di kantorku ini. “Aya naon?”
“Aya Guest cari Mba Lia,” kata si Cantik yang memberitahuku jika ada tamu untukku.
“Siapa? ..”
“Suaminya.”
“Hah?!”
__ADS_1
Aku tak sadar langsung memekik kaget setelah mendengar si Cantik mengatakan ada tamu yang menungguku, dan tamu itu adalah suamiku.
Jika kata si Cantik tamu yang menungguku adalah suamiku, maka itu berarti Rei ada di kantorku?! ..
Sekarang?! ..
“Iya, udah nungguin dari tadi pas Mba Lia keluar maksi.”
Ga mungkin! ..
Rei bilang sore baru sampai Jakarta.
Ga mungkin tengah hari bolong gini dia tau – tau udah ada di Jakarta, dan di kantorku pula.
Terlebih kata si Cantik udah nunggu dari tadi saat aku pas keluar maksi.
Kok ga papasan denganku? .. selisih jalan dan waktu? .. bisa jadi ..
Tapi kenapa Rei ga telpon kalau nyatanya dia pulang lebih cepat dari jadwal? ..
Mau bikin kejutan gitu? ..
Kalau begitu ya Rei sukses bikin aku terkejut setengah mati. Soalnya, tadi aku ketemuan sama Irsyad kan? .. Dan bisa gawat urusan kalau sampai Rei tahu hal itu.
Bagaimana kalau aku yang tidak melihat Rei - yang sudah ada entah di sudut mana lobi gedung perkantoran, lalu Rei menghentikan dirinya untuk menghampiriku karena melihatku dengan Irsyad?
Lalu Rei mengikutiku, kemudian ia lihat adegan Irsyad memegang tanganku dan hendak mencium kedua tanganku ini.
Dan terciptalah kesalahpahaman pada Reiji yang melihat adegan itu lalu pergi tanpa melihat kelanjutannya. Lalu setelahnya aku dan Reiji ribut besar.
Ah Ya Tuhan, aku sepertinya jangan lagi membaca novel online yang bercerita tentang istri yang dibenci suaminya karena salah paham saat iseng. Mungkin kalo iseng cari bacaan aku akan mencarinya di koleksi buku – buku Rei deh!.
“Mba Lia?-“
Aku terkesiap karena kibasan tangan di depan wajahku, berikut suara merdu yang mengiringi kibasan tangan itu.
“Malah ngelamun?---“
Akupun nyengir kuda pada si Cantik.
Duh, bisa-bisanya aku jadi malah ngelamunin hal-hal yang membuatku jadi paranoid sekarang gara-gara kedatangan Rei ke kantorku bersamaan dengan kehadiran Irsyad lalu aku jadi mau tidak mau pergi maksi dengannya.
Ah iya, Rei!
Kata si Cantik ada suamiku yang udah nunggu dari sejak aku pergi makan siang tadi.
Berhubung suamiku cuma satu, ya pastilah Rei tamu yang si Cantik maksud. Tapi apa iya beneran, kalau Rei yang dateng itu?
Aku ga percaya ah.
Orang Rei bilang sore baru sampai Jakarta!
Dan lagi jika memang Rei sudah datang dari tadi, seharusnya dia menghubungiku dong? ..
Masa sih Rei rela gitu nunggu lama demi ngebiarin aku maksi? ..
Bukan Rei kali ah!
Tapi kalo bukan Rei, masa iya ada laki yang ngaku-ngaku jadi suamiku? ..
Kalo iya, siapa? ..
Lagian si Cantik ini pasti tahu tampang Rei karena satu lantai ini aku undang saat pernikahanku dan Rei. Duh, Rei bukan sih?! ..
__ADS_1
“Suami Mba Lia tuh makin ganteng kalo pake seragam Pilot gitu-“
Haduh! Beneran itu Rei kalo begitu sih! Si cantik kan tau pasti tampang suamiku?
Dan lagi si Cantik bilang pake ‘seragam pilot’.
Dah ga diragukan lagi, itu fix Rei!
Membuatku jadi merasa panik sendiri bak istri yang ketakutan kalo ketauan selingkuh sama suaminya.
“Kok Rei ga bilang sih kalo dia disini?”
Aku menggumam.
“Aku tadi udah bilang telepon aja, soalnya Mba Lia baru aja jalan sama temen-temennya .. Tapi kata suami Mba Lia, ga apa-apa saya tunggu aja-“
Si Cantik ternyata mendengar gumamanku.
“Terus kenapa kamu ga hubungi aku Say?” ucapku seraya bertanya pada si Cantik.
“Dilarang juga sama suami Mba Lia .. Ga usah katanya ganggu Mba Lia lagi maksi sama temen-temennya-“
Aku manggut-manggut saat si Cantik menjawab pertanyaanku tadi.
“Ya udah,” potongku, sambil aku celingukan. “Terus dimana sekarang suami aku?”
Aku bertanya pada si Cantik seraya menggumam, karena aku tidak melihat Reiji di sofa tamu dalam lobi.
“Oh itu di Lounge, Mba-“
Dan jawaban pemberitahuan dari si Cantik itu membuatku mengernyit.
Sekaligus membuatku terheran, lalu panik.
Masalahnya Lounge di kantorku itu hanya dipergunakan untuk acara, ataupun menjamu tamu penting Perusahaan.
Kenapa si Cantik malah nyuruh si Rei nunggu di sana sih?! .. Apa karena Rei kelewat ganteng makanya disuruh nunggu di Lounge sama si Cantik?
“Ihh, kenapa ga kamu suruh tunggu di sofa tamu aja sih? .. Kalo Pak Andra tau ada tamu pribadi yang di taro di Lounge, abis nih sama dia! ..” gumamku seraya menggerutu sambil berjalan cepat meninggalkan si Cantik yang entah ngomong apa dia.
Aku tak menoleh lagi, karena aku harus buru-buru mengeluarkan Rei dari Lounge kantorku.
***
Malia menderapkan langkahnya dengan tergesa menuju Lounge kantornya, yang mana tempat tersebut hanya dapat digunakan untuk momen-momen tertentu, selain hanya orang-orang tertentu saja juga yang boleh menggunakan ruangan tersebut.
Ada rasa berdebar-debar di hati Malia saat ini saat ia bergegas menuju Lounge kantornya itu. Bukan karena ia takut dimarahi atasannya yang meski laki-laki tapi cerewet itu, melainkan Malia ingin tahu sejak kapan tepatnya Reiji sudah ada di kantornya.
Dimana Malia merutuki dirinya yang ia rasa apes hari ini, karena momen Reiji datang ke kantornya bersamaan dengan kehadiran Irsyad juga.
Malia bahkan tidak mau memedulikan jika sekarang sudah mulai dirinya harus berada di kubikel kerjanya untuk melanjutkan kewajibannya sebagai karyawan.
‘Bodo kehilangan kerjaan, daripada gue kehilangan suami!’
Malia berseru dalam hatinya.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Malia langsung saja membuka pintu Lounge dengan tergesa.
“Rei!” panggil Malia begitu saja saat ia membuka pintu Lounge dalam kantornya itu.
Alih-alih menemukan Reiji di dalam Lounge dalam kantornya tersebut, nyatanya ruangan itu kosong tanpa seorangpun di dalamnya.
‘Mana Rei? Kok ga ada disini? .. Jangan bilang yang gue pikirin terjadi???’
__ADS_1
***
Bersambung ..