
Selamat membaca....
****************
“Alamak, jam berapa ini???!!!...”
Seorang wanita nampak bangun tergesa dari tidurnya.
“Haaaahhh. Untung masih subuh,” ucapnya dengan lega ketika melihat jam dinding yang ada di salah satu bagian tempatnya berada sekarang.
Kemudian ia mengambil ponsel yang terletak tak jauh dari posisinya yang telah duduk bersandar di atas sebuah ranjang.
‘Gara-gara mau menghindari Rei, gue matiin ponsel tanpa setting alarm dulu semalem...’
Dialah Malia, wanita itu.
‘Eh ngomong-ngomong soal Rei... Dia ada hubungi pihak sini dan tanya soal keberadaan gue ga ya?’
Malia bermonolog dalam hatinya.
Lalu ia melirik ke sebuah pesawat telepon yang ada di atas nakas tempat tidur tempatnya berada saat ini.
***
Sementara itu di tempat lain,
Karena mendapatkan informasi jika Malia telah check out dari hotel yang Malia pilih untuk mengajaknya melakukan candle light dinner serta menginap semalam di sana atas dasar merayakan ulang tahun dirinya secara kecil-kecilan, Reiji pun berpikir jika Malia sudah kembali ke apartemen mereka.
“Tapi Pak Reiji aman sih sekarang, kalo takut diambekin sama Bu Malia kalo pulangnya ga tepat waktu ..”
Seorang resepsionis yang sebelumnya menyapa serta mengobrol ringan dengan Reiji untuk berucap, dimana ucapannya itu membuat Reiji sedikit mengernyit.
Lalu Reiji sontak bertanya dengan spontan pada seorang resepsionis yang sedari tadi mengobrol ringan dengannya itu. “Amannya? ..”
“Ya Bu Malia kayaknya belum balik ke sini ..”
“Heu? ..”
“Rasa – rasanya sih seingat saya, memang saya belum melihat bu Malia kembali ke sini sejak kemaren pagi deh pak.”
***
MALIA
Aku melirik ke sebuah pesawat telepon yang ada di atas nakas tempat tidur tempatku berada saat ini ketika aku mengingat soal Rei yang tidak aku kabari apakah aku akan pulang ke apartemen atau akan stay di hotel yang sudah terlanjur kupesan secara eksklusif.
Dan sampai dipagi yang masih kelabu pemandangan di luar, aku memang tidak mengabari apa – apa pada Rei.
Kecewa bercampur kesalku membuat aku langsung menonaktifkan ponselku selepas Rei menghubungiku semalam.
Memikirkan sih, pasti Rei akan menjadi sangat khawatir padaku jika ia pulang ke unit apartemen kami lalu dia tidak menemukanku di sana.
Karena aku memang tidak kembali ke unit apartemen, tempat tinggalku dan Rei itu. Aku bertahan di hotel yang sejak sore aku bersiap dan berdandan cantik untuk suami yang tidak datang di acara perayaannya sendiri, walau hanya perayaan kecil – kecilan buatanku saja.
Tapi aku merencanakan perayaan ulang tahun Rei yang kecil – kecilan itu dengan begitu apiknya, hingga saat Rei tidak datang bahkan tanpa kabar sampai dua jam aku menunggu lalu membatalkan reservasi restoran untuk sebuah candle light dinner yang sudah aku atur sedemikian rupa itu ----- aku merasa kecewa.
Kecewa yang bertambah, ketika aku menyadari jika Rei berbohong padaku tentang alasan dirinya tidak datang bahkan sampai tidak menghubungiku hingga lewat dua jam waktu reservasi candle light dinner kami di hotel yang sudah aku tentukan itu berlalu.
Entah apa alasannya Rei membohongiku seperti itu, yang jelas aku ingin meredam kekesalanku dulu dan tidak bertemu muka dengannya untuk sementara waktu walaupun selepas pulang kerja nanti aku mau tidak mau kembali ke unit apartemenku dan Rei. Entah kalau ia pergi ke suatu tempat lalu membohongiku lagi.
Ugh Rei, kebohongannya membuat beberapa persepsi di otakku yang tentu saja mengganggu moodku. Fuuuuuhh.
Ah ya, aku jadi ingat ingin menelpon. Jadi aku sedikit bergeser dari posisiku lalu meraih gagang pesawat telepon yang ada di atas nakas samping tempat tidur.
Tempat tidur hotel.
Hotel yang sejak semalam aku berada di dalam sebuah kamarnya.
Kamar yang aku pesan atas nama perayaan kecil – kecilan yang aku buat untuk Rei yang mana percuma, karena sesi romantis dan mesra yang aku bayangkan akan aku lakukan bersama Rei gatot adanya.
Ah sudahlah, kesal lagi aku kalau mengingatnya. Tapi aku juga ingin mencari tahu tentang satu hal.
“Halo, selamat pagi,” sapaku pada seseorang di ujung telepon yang sedikit aku kenali suaranya. Yang kemudian aku ajak bicara setelah aku mengatakan nama dan nomor kamarku.
Dan pria yang adalah seorang resepsionis hotel itu nyatanya masih mengingatku, atas dasar aku menitipkan pesan padanya semalam.
Pesan jika suamiku yang bernama Reiji Shakeel datang atau menghubungi hotel tempatku berada sekarang ini, aku memintanya mengatakan jika aku telah check out dari hotel ini.
Kekanakkan ya?....
Masa bodohlah. Setidaknya aku merasakan sebuah kepuasan yang bisa meredam kesalku sedikit saja.
Lalu aku tersenyum ketika mendengar jawaban dari resepsionis tersebut.
“Suami ibu semalam menghubungi ke sini dan kebetulan saya yang menerima. Lalu saya katakan padanya apa yang ibu pesankan sebelumnya.”
__ADS_1
Satu lagi kepuasan menyeruak di hatiku.
Durhakim deh aku sama suami kalau begitu.
Tapi aku hanya manusia biasa, dengan segala kekurangannya.
Jadi pembalasan spontan yang aku berikan pada Rei ----- meskipun aku tahu kemungkinan besar itu adalah hal yang salah dan tidak baik, tetap aku lakukan.
Agar ia merasakan apa yang aku rasakan semalam, menunggu dengan khawatir dengan perasaan tak menentu juga. Tapi apa Rei sekhawatir aku semalam dengan tidak menemukanku di apartemen lalu sulit menghubungiku sekarang ini, entahlah.
Untuk sekarang aku masa bodoh saja. Lalu bergegas bangun dari tempat tidur setelah aku selesai berbicara dengan resepsionis yang telah membantuku itu.
Nanti akan aku berikan tips untuknya andai saat aku check out yang bersangkutan masih ada. Eh, tapi boleh ga ya dia terima tips bila aku memberikannya di meja resepsionis?
Ah sudahlah, lihat nanti saja. Sekarang lebih baik aku bangun dan melaksanakan kewajibanku dulu.
Aduh, aku ingat tidak membawa mukena di dalam tas kerjaku.
Karena satu mukena aku tinggal di kantor, dan satu cadangan ada di dalam mobilku yang aku tidak memang bawa kemarin.
Pihak hotel bisa ga ya menyediakan mukena jika aku memintanya?....
Aku tanya saja deh pada resepsionis yang tadi. Mungkin dia bisa membantuku lagi.
Dan jika ada, aku akan memintanya mengantarkan sendiri agar aku bisa memberikannya tips secara langsung.
Iya, ya. Begitu saja.
--
Permasalahan soal mukena sudah selesai.
Di hotel bintang lima ini tidak ada toko khusus peralatan yang berhubungan dengan muslim.
Namun resepsionis yang membantuku menyampaikan pesanku untuk menutupi keberadaanku yang masih stay di hotel yang aku reservasi, membantuku sekali lagi dengan meminjamkan mukena teman kerjanya padaku.
Yang aku gunakan kesempatan itu untuk memintanya mengantarkan sendiri ke kamarku.
Dan kebetulan si resepsionis tersebut hendak berganti shift bekerja, jadi dia tidak melanggar SOP dalam pekerjaannya.
Lagipula si resepsionis itu pada konteksnya membantu tamu bukan?....
Hotel ini akan aku beri ulasan bintang lima nanti. Berikut akan aku puji – puji deh stafnya dalam ulasan.
--
Waktunya aku mandi untuk berangkat ke kantor, lalu baru akan mengaktifkan ponselku di sana. Untung aku sudah mempersiapkan satu pakaian yang bisa berfungsi double.
Pakaian semi formal, namun tetap pantas jika aku gunakan ke kantor yang mana rencananya aku mau membolos hari ini jika acaraku dan Rei berjalan sebagaimana seharusnya. Tapi berhubung acaraku dan Rei gatot, jadi lebih baik aku ke kantor saja.
Ketimbang aku kembali ke apartemen dan bertemu Rei di sana, lalu pasti dia akan bertanya ini itu kemudian mengganggu stabilitas moodku lagi yang sedikit lebih baik sekarang ----- lebih baik aku ke kantor saja, bertemu dengan para rekan kerjaku yang sebagian besar gokil dan kocak itu.
Atau apa aku tetep bolos kerja dan pergi kemana gitu?....
***
REIJI
Aku telah membuat Malia kecewa, aku sadar itu.
Dan aku tidak ada maksud untuk membohonginya juga.
Tapi ada satu alasan kuat mengapa aku berbohong padanya, yang nanti akan aku ceritakan jika aku bisa memastikan mood Lia yang moody banget orangnya plus sensitif.
Terlebih untuk satu hal yang spesifik yang menjadi alasan mengapa aku tidak bisa datang ke hotel dimana candle light dinner romantis telah Lia siapkan untuk merayakan ulang tahunku.
Sebenarnya, aku ingin mengejutkannya juga dengan datang lebih awal ke hotel dan menyambut Lia saat dia tiba makanya aku berbohong soal jam kepulanganku dari Denpasar.
Tapi telepon yang menyampaikan satu berita, membuatku urung melakukan itu karena aku keburu panik.
Ingin mengabari Lia, tapi ponselku benar-benar sekarat dan mati tak lama aku menerima panggilan atas sebuah kabar yang sulit untuk aku abaikan.
Lalu banyaknya hal yang aku urus, membuatku jadi lupa tentang acara candle light dinnerku dan Lia dimana aku baru tersadar ketika waktu telah lewat lebih dari satu jam dari jadwal acara itu.
Dan lagi ponselku aku tinggal di dalam mobil.
Tidak aku segerakan ambil, karena ada jeda hal yang aku lakukan selama sekitar setengah jam.
Baru setelah aku benar – benar sedikit bebas, aku setengah berlari menuju mobilku untuk mengambil ponsel yang tidak kepikiran aku charge di dalam mobil selama perjalananku semalam ke sebuah rumah sakit.
Setelahnya, aku dengar nada kekecewaan di suara Lia.
Maaf ya, Yang?
Yang aku juga utarakan berkali – kali pada Lia atas penyesalanku yang mengecewakannya, mengingat betapa Lia sudah mempersiapkan dengan sangat acara candle light dinner romantis kami untuk merayakan ulang tahunku.
__ADS_1
Tidak hanya kecewa, aku yakin Lia pun marah meski dia tidak mengakuinya.
Tapi jika melihat dari beberapa kali dia memotong ucapanku dan menjawabnya dengan nada suara normal memang, tapi aku menangkap kekesalan di ucapan Lia itu.
Aku paham.
Jadi saat Lia menunda untuk menjawab pertanyaanku perihal kemana dia akan pulang lalu aku memintanya untuk stay di hotel saja biar aku menyambanginya di sana, karena toh jam check out hotel kan pada jam 12 siang sementara aku bisa sampai di jam 6 pagi ke hotel ----- dan mengatakan dia akan mengabariku nanti dengan penekanan, aku pun diam lalu mengiyakan.
Lia kecewa, dan aku yakin betul ada kekesalannya padaku dalam kekecewaannya itu yang membuat acara candle light dinner yang telah ia persiapkan kemudian gagal karena aku tidak bisa datang, plus tanpa kabar. Dan aku ingat ucapan papaku, “Kalau perempuan yang sedang kesal itu baiknya diiyain aja omongannya, jangan sedikitpun dibantah”
Jadi aku iyakan saja Lia yang katanya nanti akan mengabariku kemana dia akan pulang.
Hingga sampai beberapa jam dan aku bisa meninggalkan hal yang membuatku tidak bisa menemui Lia, namun kabar itu tidak aku terima dari Lia.
Fix, Lia ngambek. Ponselnya pun jadi ga aktif.
Jadi aku kembali ke apartemen, karena ketika aku menghubungi pihak hotel yang ditunjuk Lia ----- resepsionisnya mengatakan jika Lia sudah check out dari semalam. Dan ya aku yakin pasti Lia kembali ke apartemen.
Tapi ketika aku sampai di apartemen kami dan melewati lobi utama kemudian bertegur sapa dengan resepsionis yang hendak berganti shift kerja, aku dibuat terkejut dengan ucapannya yang dengan yakin bilang kalau Lia belum kembali ke apartemen sejak kemarin pagi.
“Bisa jadi kamu ga liat istri saya dateng karena barengan waktu kamu ke toilet kali?....”
Aku menyergah ucapan resepsionis laki – laki yang bernama Eka itu.
“Atau bisa jadi istri saya langsung parkir di unit F,” tambahku, yang berpikir ya seperti itu.
Lia langsung parkir ke area parkir yang aksesnya langsung ke lantai tempat unit apartemen kami berada.
Tapi aku ingat - ingat lagi, Lia kan ga bawa mobil saat berangkat kerja kemarin?....
“Oh iya ya Pak. Bisa jadi begitu....“ ucap Eka yang membuyarkan sedikit lamunanku.
Mungkin dia juga ga ingat jika kemarin aku dan Lia berangkat bareng.
“Ya udah kalo gitu, saya naik dulu....”
Aku berpamitan pada Eka lalu mengayunkan langkahku untuk masuk ke dalam lift.
“Yang?....” kupanggil Lia setelah aku mengucapkan salam saat aku telah masuk ke dalam unit apartemen kami, dimana sapaanku itu tidak terjawab.
Hingga kemudian aku didera rasa yang tidak menentu dalam hatiku, karena Lia tidak ada dalam unit kami ini. Penasaran, aku baru ingat CCTV yang aku pasang di depan pintu apartemen kami, dan beberapa sudutnya.
Dan ya, aku tidak melihat Lia pulang ke unit kami dari rekaman CCTV yang monitornya terhubung di ponselku selain ponsel Lia.
Ya Tuhaan.... Kemana Lia?....
Aku panik. Tentu saja!
Selain khawatir sekali.
Kian khawatir saat ponsel Lia juga tidak aktif.
Semakin didera panik dan khawatir, saat setelah aku menghubungi rumah orang tuanya bahkan orang tuaku dan mendapatkan keterangan jika Lia tidak ada di sana atau sekedar mampir.
Kulirik jam di ponselku, berpikir jika mungkin Lia sudah berangkat ke kantor.
Tapi rasanya tidak mungkin, karena ini baru jam setengah tujuh pagi.
Namun tak ada salahnya mencoba.
Dan ya, nihil. Jam segitu kantor masih kosong.
Bahkan cleaning service yang menerima teleponku ke kantor Lia.
Kuputuskan untuk menunggu waktu aktif bekerja, maka aku akan menghubungi lagi kantor Lia sambil aku mengecek ponselku termasuk keaktifan ponsel Lia dengan seringnya. Terjeda sesaat pada saat aku mandi dan berpakaian saja.
Jam 7.30, aku hubungi lagi kantor Lia. Seorang perempuan yang menerima panggilanku mengatakan Lia belum datang.
Kutitip pesan jika Lia datang, agar segera dia menghubungiku ----- tapi sampai setengah jam ponselku senyap adanya.
Sampai aku jatuh tertidur, lalu bangun dengan kaget dan melihat jika waktu menunjukkan pukul 9.30 WIB ----- chatku masih belum berubah menjadi dua centangnya.
Kuhubungipun belum aktif juga.
Jadi aku menghubungi lagi kantor Lia.
“Mba Lianya ijin ga masuk hari ini, Pak.”
Namun jawaban itu yang aku dapat.
Aarggh!!
****
Bersambung.....
__ADS_1