WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 69


__ADS_3

Selamat membaca....


***


Malia telah memasukkan semua barang yang sekiranya tidak akan dibuang dari dalam kotak berwarna biru milik Reiji, yang tadi telah ia sortir.


Hanya majalah-majalah iyuh yang masuk ke dalam plastik sampah berwarna hitam yang masih ada di dekat Malia saat ini. Reiji telah muncul kembali saat Malia telah bangkit dari posisinya, dan meletakkan kotak tersebut ke atas ranjangnya dan Reiji.


“Udah selesai, Yang?” tanya Reiji yang melihat istrinya itu meraih handuk yang ada di atas ranjang, setelah meletakkan kotak miliknya di atas ranjang juga.


Raut wajah Malia nampak biasa saja kala ia menyadari kehadiran Reiji yang telah selesai mandi itu, dan kini sudah berada didekatnya. “Udah.”


Malia menyahut singkat.


Istri Reiji itu sedang membuat dirinya untuk tidak terganggu dengan foto dengan pesan kaki yang kalimatnya terasa ambigu untuk Malia.


Foto yang Malia temukan tadi dalam kotak berwarna biru milik Reiji.


Fotonya Reiji dan Shirly yang nampak begitu dekat.


“Yang ada di dalem kantong plastik sampah itu, Cuma majalah-majalah unfaedah kamu yang tak berakhlak itu.”


Reiji pun mendengus geli atas ucapan Malia barusan.


“Selain itu ga ada yang aku buang. Cek aja kalo ga percaya....”


“Iya, aku percaya.”


Reiji menarik sudut bibirnya, lalu mengusap pelan kepala Malia.


“Ga kamu periksa dulu barang-barang  kamu yang ada di kotak itu? ....” tanya Malia, karena Reiji langsung mengangkat kotak tersebut dari ranjang dan sepertinya hendak Reiji kembali simpan ke tempatnya.


“Engga,” jawab Reiji. “Kenapa memang? ... Kalo aku periksa lagi, itu tandanya aku ga percaya sama kamu ...”


Sembari Reiji berlalu dari hadapan Malia, dan berjalan menuju walk in closet mereka.


****


‘Reiji udah ga inget soal foto itu apa ya? ...’


Malia membatin, karena sepertinya memang Reiji tidak memeriksa lagi kotak miliknya yang telah suami Malia itu bawa masuk ke walk in closet mereka.


‘Atau memang Reiji nganggep itu bukan hal yang penting lagi? .....’ batin Malia berbisik lagi. Bertanya-tanya sendiri.


Reiji keluar dengan cepat dari walk in closet dengan melenggang santai, sepertinya Reiji memang tidak memeriksa lagi barang-barang dalam kotak berwarna biru miliknya itu.


Seperti tidak ada yang Reiji coba sembunyikan, atau khawatirkan dari barang-barang yang ada di dalam kotak miliknya itu.


“Ga jadi mandi, Yang?....”


‘Jadi, mereka itu sebenarnya pernah pacaran ga sih? ...’


Malia masih sibuk dengan pikirannya, padahal Reiji barusan bertanya padanya.


“Yang!”


“Heu? ....”


“Ada apa?”


“Hah?”


“Ga jadi mandi?...”


Reiji sudah berada didekat Malia kini, dan tadi menyadarkan istrinya itu dengan menggoyangkan lengannya.


“Ya jadilah!...” sahut Malia.


“Terus kenapa bengong? .....” tanya Reiji.


“Siapa juga yang bengong?”


“Ya kamu tadi aku tanya ga jawab. Aku goyangin tangan kamu baru kamu ngeh .....”


“Aku ga bengong. Cuma inget sesuatu aja.”


“Apa? ......”


“Paket data aku abis.”


Malia menjawab sekenanya.


“Haiyaah! ....” Reiji mendengus geli kemudian.


“Beliin!”


“Iya nanti aku beliin.”


“Duit?”


Malia menadahkan tangannya di hadapan Reiji yang terkekeh karenanya.


“Iya nanti aku kasih,” kekeh Reiji.


“Kasih duit buat beli paket bulanan paling mahal loh ya?”


“Nanti aku beliin paket yang buat setahun kalo perlu!”


“Ada gitu?...”


Malia dengan tampang polosnya.


Dan lagi-lagi membuat Reiji terkekeh kecil.


“Dah, mandi dulu sana! ...”


Reiji memegang bahu Malia, lalu membalikkan tubuh istrinya itu seraya mendorong kecil agar Malia segera pergi ke kamar mandi.


“Engga, duit dulu! Nanti belaga lupa lagi!” sergah Malia yang menahan tubuhnya, lalu ia pun berbalik lagi menghadap Reiji.


“Astogeee,” kekeh Reiji.


“Cepet ah!”


Malia masih berdiri di tempatnya.


“Duit! Jangan pelit sama istri!”


Malia cengengesan.


“Mandi dulu, nanti aku transfer!”


“Transfer dulu, baru aku mandi!”


“Ampun deh!.....” Reiji geleng-geleng, namun ia terkekeh lagi.


Reiji celingukan mencari ponselnya, yang kemudian ia raih setelah menemukannya.


“Tuh, udah aku transfer .. tau aja kalo suaminya abis gajian ..” ucap Reiji, yang telah selesai ketak-ketuk-ketik di ponselnya.


“Oh kamu abis gajian, Rei?!...”


Malia nampak antusias.


Reiji pun manggut-manggut.


“Wah, pas banget berarti feeling aku?!....”


“Hmmm.”


Reiji hanya berdehem malas, tapi geli juga dengan tingkah istrinya yang lucu di mata Reiji itu.


“Cek dulu itu transferan!.....” titah Reiji.

__ADS_1


“Okeh!” sahut Malia antusias, dan ia juga celingukan mencari ponselnya yang dengan cepat ia temukan.


Dan dengan cepat juga Malia membuka aplikasi mobile banking miliknya, dalam ponselnya itu.


“Hah?! Ini ga salah kamu transferin uang ke aku Rei?!...”


Malia rasanya tak percaya sampai menganga setelah ia melihat jumlah saldo dalam rekeningnya, setelah Reiji mengatakan telah mentransfer sejumlah uang ke sana.


“Kenapa, kurang?” Reiji balik bertanya.


“Ye, justru ini banyak banget sih!”


“Nanti kalo aku transfer dikit, protes,” tukas Reiji. “Dah, mandi sana.”


“Emang gaji kamu berapa sih Rei? ...”


Istri yang mendapat transferan banyak dari suaminya itu malah jadi kepo.


“Kenapa emang? ......”


“Ya ga apa-apa, pengen tau aja. Wajar dong istri tau gaji suaminya?”


“Takut ya, suaminya membagi gaji ke istri yang lain?”


Reiji berkelakar.


“Emang kamu sebajingan itu ya?”


“Wow, ini mulut, perlu disumpel lama-lama pake bibir aku kayaknya.”


Reiji mengapit bibir Malia dengan dua jarinya.


“Ya lagian ngomongnya begitu!”


“Aku ga sebajingan itu, oke?!”


Reiji meluruskan dugaan Malia.


Tampangnya sedikit sebal melirik Malia. “Satu aja ga abis-abis! ....”


Kemudian Reiji menggerutu dan menggumam.


Malia terkekeh kecil.


“Itu yang aku transfer ke kamu, setengah dari gaji aku sebagai Pilot ... nanti hasil dari usaha aku kalau sudah selesai hitung-hitungan, aku transfer semua ke kamu ...”


“Ih!”


Malia berdecih.


“Beneran?!” Kirain mau menolak, Malia malah memastikan ucapan Reiji.


Membuat Reiji kembali terkekeh.


“Cewe matre dasar!” canda Reiji.


Malia juga terkekeh.


“Biarin!” sergah Malia. “Matre sama suami sendiri, weee!”


“Ya, ya ...”


Reiji pun manggut-manggut saja.


“Udah mandi sana!”


“Okeee!!!!”


Malia menyahut dengan riang.


“Itu sampah tak berakhlak kamu jangan lupa dibuang.”


“Iyaaa Lia sayangg ....”


“Oh iya, Rei!” Malia menyembulkan kepalanya di pintu kamarnya dan Reiji yang terbuka, setelah sebenarnya Malia sudah hampir masuk ke kamar mandi.


Tapi langkah Malia untuk masuk kamar mandi ia urungkan sejenak, karena ingin mengatakan sesuatu pada Reiji.


“Apa?... mau minta ditambahin transferannya?”


“Iya kalo boleh...” sahut Malia, yang terkikik kemudian.


Reiji yang tadinya hendak lagi merebahkan dirinya, berjalan mendekati Malia.


“Kenapa?. Mau dipesenin makanan?...”


“Engga, bukan itu...”


“Trus apa?...” tanya Reiji.


“Makasih transferannya...” jawab Malia.


“Makasih aja?... harusnya dapet cium di bibir yang banyak ini akunya.”


Reiji berseloroh dan Malia mendengus geli.


“Pamrih banget sih...” Malia mencebik guyon.


“Namanya juga usaha...”


Tangan Reiji menggapai kepala Malia, lalu mengusapnya pelan.


“Dah mandi sana.”


“Oke, Bapak Pilot yang royal sama istrinya!”


“Giliran udah dikasih duit aja, baru ditoel-toel suaminya!” ucap Reiji dan Malia terkikik. Reiji berseloroh, karena memang Malia sempat menoel dagunya.


Namun senyuman tetap terpatri di wajah Reiji. Tak sedikitpun mempermasalahkan jika memang benar Malia menjadi nampak sangat senang setelah ia mentransferkan sejumlah uang yang merupakan setengah gajinya sebagai pilot pada Malia.


Toh memang sudah kewajibannya menafkahi Malia kan?.


Reiji hanya memberikan setengah dari penghasilannya sebagai pilot bukan karena ia tidak ingin memberikan semuanya pada Malia.


Reiji memang sudah berencana akan memberitahu dengan detail pada Malia setiap penghasilan yang ia dapat.


Baik sebagai pilot maupun uang yang Reiji dapat dari bisnis kecil-kecilan yang sudah ia rintis dari jaman ia kuliah.


Nanti jika Malia memang meminta semua uangnya dan menawarkan diri untuk mengelola keuangan mereka dari penghasilan Reiji, ia akan dengan senang hati melakukannya.


Terserah saja jika Malia juga nanti akan menjatahinya.


Tak apa jika jatah lahirnya diambil Malia semua. Yang penting jatah batin Reiji dari Malia lancar jaya.


Ga Cuma sekali aja kalo main.


Cup!.


Reiji sedikit terhenyak kala sebuah kecupan mendarat di pipinya dengan cepat.


“Makasih ya, suami...”


Malia tersenyum di hadapan Reiji.


“Makasih buat nafkah lahir pertama dari kamu sebagai suami!”


Kemudian Malia berlalu untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.


Meninggalkan Reiji yang mematri senyuman di wajahnya dengan masih berdiri di posisinya.


‘I love you, Lia.’


****

__ADS_1


Beberapa hari telah berlalu dari sejak penemuan Malia atas sebuah foto yang menjadi tanda tanya besar untuk dirinya tentang hubungan seperti apa yang pernah terjalin antara Reiji dan perempuan bernama Shirly, yang Reiji akui sebagai temannya.


Teman dekat.


Macam Abbas dan dua atau tiga orang lainnya yang tidak begitu Malia perhatikan. - Kata Reiji, yang Malia ingat.


Persahabatan, kalau yang Reiji katakan pada Malia tentang Shirly, karena perempuan itu satu geng, katakan saja begitu dengan Reiji dan Abbas.


Tapi kenapa foto yang Malia lihat, dimana Reiji sedang mengelus kepala perempuan bernama Shirly dengan tatapan yang teduh dengan saling melempar senyum.


Berikut tulisan di belakang foto tersebut, seolah menggambarkan jika apa yang ada diantara Reiji dan perempuan bernama Shirly itu, bukan sekedar persahabatan biasa.


Malia masih enggan membahas.


Malia tidak mau dianggap jika dia sedang cemburu.


Dan Malia meyakinkan dirinya sendiri, kalau ia tidak sedang cemburu pada perempuan bernama Shirly itu.


Malia hanya penasaran.


Itu saja.


Setidaknya itu yang Malia yakini, atas perasaan tidak nyaman yang sedang ia rasakan akibat foto yang membuatnya kepikiran tersebut. Berikut note kecil di belakangnya.


Ingin sekali Malia menanyakannya, tapi selalu ia urungkan saat hatinya mengatakan untuk tanyakan saja pada Reiji mengenai hubungan Reiji dan perempuan bernama Shirly itu dulu.


Kalaupun pernah pacaran memang kenapa?.


Toh Reiji memang pernah punya beberapa pacar kan?.


Tapi tak ada jejak foto perempuan lain, selain keluarga Reiji dan keluarga Malia di album foto yang Reiji bawa, terutama di album teman-teman Reiji, bahkan tidak ada juga di foto yang berserakan.


Namun perempuan bernama Shirly itu banyak sekali fotonya terselip di dalam banyak foto di album Reiji. Belum lagi foto yang hanya mereka berdua saja.


Apa perempuan bernama Shirly itu sangat spesial untuk Reiji?.


‘Duh, kenapa juga gue harus mikirin soal itu juga, coba???...’ batin Malia bermonolog.


Malia sedang berada di dalam mobil, dan duduk di kursi penumpang dalam mobil Reiji yang menjemputnya saat pulang kantor, dimana sang suami juga sudah selesai bertugas sebelum waktu kerja Malia selesai.


Malia melirik Reiji yang sedang fokus menyetir di sampingnya. Selain ia penasaran sekali dengan masa lalu Reiji dengan Shirly, Malia juga sedang mempertanyakan dirinya sendiri, atas dasar rasa penasarannya itu pada apa yang pernah terjadi diantara suaminya dan seorang perempuan yang katanya sahabat lamanya Reiji itu.


‘Tapi gue penasaran sama hubungan mereka!’ batin Malia.


“Kenapa, Yang?”


Suara Reiji membuyarkan lamunan Malia.


“Kayak lagi ada yang kamu pikirin?...” tanya Reiji lagi.


Karena tanpa Malia sadari, Reiji memperhatikan dirinya yang tadi sedang melamunkan soal hubungan yang pernah terjalin antara Reiji dan Shirly.


“Eum...” Malia menahan kalimatnya di dalam mulut.


Sedang menimbang-nimbang.


“Rei, boleh nanya ga?...”


Malia memfokuskan pandangannya pada Reiji.


“Yang, Yang...” kekeh Reiji yang sekilas menoleh pada Malia. “Nanya tinggal nanya aja, pake ijin segala...”


“Yaa siapa tahu kamu lagi ga mood buat ditanya-tanya.”


Malia menanggapi ucapan Reiji, yang orangnya mendengus geli kemudian.


“Mau nanya apa sih?...”


Satu tangan Reiji terulur ke puncak kepala Malia lalu mengusapnya pelan dan sebentar, setelah itu kembali lagi ke persneling mobil.


“Soal mantan?”


“Heu?...”


“Mantan kamu sebenarnya ada berapa orang?”


“Ada angin apa kamu tiba-tiba nanyain soal mantan-mantan aku?”


“Ya ga apa-apa, lagi pengen tau aja...”


“Abis ngegibahin aku sama Avi, ya?...” tuding Reiji tak serius.


“Engga...”


“Atau abis ngegibah sama temen-temen kantor kamu dengan hashtag mantan, jadi kamu insecure?...”


“Ih, kenapa jadi bahas soal insecure sih?! Orang aku nanyain doang soal mantan kamu, malah dibilang aku insecure!”


Malia jadi nyolot.


“Ya aku ga ada maksud bilang kamu insecure. Cuman aku ngerasa aneh aja, kamu tiba-tiba nanya soal mantan-mantan aku.”


“Ya kamu, aku Cuma nanya. Tadi katanya nanya, nanya aja. Giliran ditanya, malah belibet nanya aku abis gibah sama Avi lah, sama temen-temen kantor aku pake hashtag mantan lah!.”


Nada suara Malia kian terdengar ketus.


“Pake nyinggung-nyinggung aku insecure segala!. Ngapain amat aku insecure sama mantan-mantan kamu?!.”


Malia menyandarkan punggungnya dengan sedikit rasa kesal di sandaran kursi penumpang yang ia duduki.


“Kurang kerjaan banget...” Malia terdengar menggumam.


“Kan udah aku bilang, aku ga ada maksud bilang kamu ngerasa insecure sama mantan-mantan aku, Yang... Aku...”


“Udah sstt!. Aku udah ga mau bahas!. Anggap aja aku ga pernah nanya!” ketus Malia. Lalu ia memalingkan wajahnya ke arah jalanan sembari bersedekap.


‘Ini efek PMS apa gimana sih?...’ batin Reiji sambil melirik Malia yang cemberut disampingnya itu. ‘Tapi kan katanya udah mau selesai PMS nya Lia?.’


Reiji mendengus pelan.


‘Sindrom hormon yang bikin mood cewe naik turun kalo lagi PMS bukannya saat menjelang sama awal-awal aja, ya?. Kalo udah mau selesai bukannya itu hormon udah harusnya normal, kan?...’


Reiji membatin lagi.


“Yang...” panggil Reiji.


“Aku mau tidur. Bangunin kalo udah sampe!”


‘Ya elah, lima menit lagi juga sampe apartemen ini...’


Reiji mengajukan protes memang, tapi hanya dalam hatinya saja.


“Ya...”


Namun mulutnya berkata lain, demi menghindari debat kusir yang unfaedah dengan Malia gegara satu kata.


Mantan.


‘Ngapain sih Lia tiba-tiba ngebahas soal mantan-mantan gue juga?!’


Reiji membatin sebal.


‘Hah!’


Pun Reiji berkesah.


Dihatinya saja tapi. Karena kalau dia keluarkan itu kesahan, nanti Malia malah berpikir dirinya ngajak berantem.


Karena sepertinya mood Malia sedang awut-awutan saat ini, dan Reiji pun heran. Padahal pas jemput tadi senyum Malia masih mengembang.


‘Gue kan Cuma nanya, bukan nuduh dia insecure. Salah gue dimana coba?...’


♦♦♦♦

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2