WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 230


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


‘Duh, tapi bener ga ya Rei ada di sini? ..’


Ada Malia yang sedang membatin ragu di dalam sebuah mobil, yang merupakan mobil seorang rekan sekantornya yang ia mintai tolong untuk mengantar Malia mendatangi sebuah komplek apartemen, setelah sebelumnya mengantar Malia menyambangi sebuah kantor maskapai yang menaungi Reiji sebagai seorang pilot selama ini.


‘Eh? ..’


Lalu tak lama, Malia terkesiap kala matanya yang sedang jelalatan tidak sengaja sambil ia berpikir dan menimbang-nimbang---menangkap sesuatu yang nampak familiar bagi Malia.


‘Ga salah. Itu mobil Rei!’ seru Malia dalam hatinya kemudian.


“Lo mau turun di lobi depan atau dimana?” tanya Riza, pada Malia yang menatap keluar jendela seperti sedang menegaskan sesuatu.


🔶


“Ya’?”


Panggilan yang disertai ketukan di dashboard menyadarkan Malia yang fokus menatap keluar jendela mobil Riza.


“Eh, iya, Za?” sahut Malia yang kemudian menoleh dan memandang pada Riza. “Sorry ..” ucapnya lagi.


“Lo ngelamun? ..” tanya Riza, dan Malia langsung menggeleng.


“Engga, lagi nginget-nginget unitnya sodara gue.”


🔶


🔶


“Emang lo udah lama ga ketemu sodara lo yang tinggal di sini?.”


Riza langsung bertanya setelah aku perkataanku sebelumnya yang aku cetuskan dengan asal, karena aku sedang sibuk memastikan jika mobil yang aku lihat mirip dengan mobil Rei---adalah memang mobil Rei.


“Itu, sodara gue justru baru pindah ke sini. Gue baru sempet ke sini soalnya, lupa waktu itu dia bilang tinggal di unit berapa ..”


Haish, banyak sekali dustaku pada si Riza ini. Saking aku menyembunyikan darinya alasanku datang ke satu komplek apartemen ini.


“Ya lo tinggal telefon aja kali ..”


Riza berkata lagi. Dan aku mengangguk.


“Iya entar di lobi gue telefon dia,” jawabku kemudian.


---


“Eh iya, Ya’” ucap Riza saat mobil yang dikemudikannya telah mencapai satu sisi pelataran lobi komplek apartemen yang aku sambangi ini.


“Iya, Za? ..”


Akupun langsung menanggapinya sambil membuka seat beltku.


“Laki lo udah ngasih kabar?” tanya Riza kemudian.


Aku mengangguk seraya mengulas senyuman.


“Udah, tadi pas lo lagi mesen minuman dia telfon gue.”


Entah dusta yang keberapa kali ku pada Riza.


“Dia juga otw ke sini, kok ----“


“Syukur deh kalo gitu ..” tukas Riza.


---


“Sekali lagi, makasih banyak ya, Za? Sorry banget bener – bener udah ngerepotin lo.”


Aku memang sungguh – sungguh berterima kasih pada Riza malam ini, karena berkatnya aku tidak harus cape – cape cari taksi dari kantorku-kantor Rei dan tempat yang aku sambangi ini.


“Gue ga ngerasa direpotin, Ya’ ..” ucap Riza seraya ia tersenyum ramah. Aku pun balas tersenyum padanya sebelum aku keluar dari mobil Riza, dan berterima kasih sekali lagi padanya.


Dan mempertahankan senyumku setelah aku keluar dari mobil Riza sambil menatap ke arah Riza melalui kaca depan mobilnya sambil melambaikan tangan ke arah Riza, hingga ia dan mobilnya kemudian berlalu pergi dari hadapanku.


---


Senyumku pudar ketika mobil Riza telah benar – benar menjauh dari tempatku berdiri.


Lalu aku melemparkan kembali pandanganku ke arah mobil Rei yang terparkir di satu bagian carport parkiran outdoor.


Satu tanganku sudah mencengkram erat ponselku, sementara tas kerjaku aku pegang di satu tangan yang lain dengan aku mencengkramnya juga.


Hati dan otakku telah berkecamuk saat aku sudah meyakini jika mobil SUV MP berwarna hitam itu, adalah memang mobil Rei---yang aku hafal betul nomor polisinya.


Dimana sih? Ga ngasih kabar. Chat ga dibales. Telfon ga diangkat.

__ADS_1


Dan aku mengirimkan chat ke nomor kontak Rei, dengan diriku yang masih berdiri di tempatku setelah keluar dari mobil Riza.


🔶


🔶


Aku masih meeting, Yang. Maaf.


Malia menggigit bibirnya menahan gemuruh di dalam dadanya setelah membaca balasan chat dari Reiji.


‘Cih! Meeting! ..’


Malia sontak berdecih sinis dalam hatinya ketika membaca chat balasan dari Reiji. Lalu kemudian Malia terkekeh getir, masih di tempatnya berdiri.


‘Dan foto itu bukan hoax!’


Malia berkata getir dalam hatinya lagi, saat ia sempat melayangkan pandangannya ke sekitar area tempatnya berdiri itu.


Dimana dia mengenali satu titik yang sama dengan yang berada di dalam foto, yang dikirimkan oleh seseorang yang entah siapa.


‘Oke!’


Malia kemudian bermonolog lagi di dalam hatinya, setelah menghembuskan kasar nafasnya.


‘Aku mau lihat seperti apa wajah kamu saat aku datang ke ‘meeting’ kamu, Rei.’


Lagi, Malia bermonolog dalam hatinya sambil menahan gejolak emosi yang bergemuruh dalam dadanya.


‘Tapi gimana cara gue tau di unit mana Rei berada?’


Malia lalu dilanda kebingungan dalam geram dan gelisah sekaligus rasa penasaran yang berselimut emosi tentunya.


Malia menggigit bibirnya, lalu memandang ke sekitar. Kemudian menatap ponselnya. Lalu membuka satu room chat untuk mengetikkan pesan.


Aku di head office kantor kamu---


‘Engga engga ..’


Malia bermonolog dalam hatinya dengan kepala yang menggeleng.


‘Kalau gue buat Rei keluar sekarang, gue ga akan bisa menemukan sedang apa dia di sini ..’


Malia masih bermonolog dengan memandangi ponselnya.


‘Dan yang paling penting, Rei sedang bersama siapa ..’


Malia menghapus huruf per huruf yang tadi ia ketikkan di room chat pribadinya dengan Reiji.


🔶


🔶


Aku merasa bodoh dan bingung disaat yang bersamaan, ketika aku tidak jadi mengirimkan pesan pada Rei lalu menutup room chat pribadiku dengan nomor kontaknya, serta membuat ponselku kembali ke layar utama.


Aku memperhatikan sekeliling, serta melirik meja resepsionis dalam lobi utama sambil aku memikirkan cara untuk mendapatkan informasi di unit mana Rei berada. Dan siapa yang menempati unit tersebut?


---


Aku belum bergeser dari tempatku, dan sempat berpikir jika aku duduk saja di area berkursi tunggu di sebuah sudut tak jauh dari mobil Rei dan menunggu sampai Rei keluar dari gedung apartemen yang sedang aku sambangi ini. Siapa tahu saja, Rei tidak keluar sendiri dan aku bisa mengetahui siapa yang Rei datangi di gedung apartemen ini.


Meski tebakanku sih, ya bibit pelakor berkedok sahabat yang bernama Shirly itu. Atau dia sudah menjadi simpanan Rei betulan bahkan, entahlah.


Aku sungguh tidak dapat berpikir positif sekarang.


Keberadaan mobil Rei di dalam parkiran sebuah gedung apartemen ini, membuatku berasumsi jika aku bisa saja mengalami kisah seperti drama dalam sebuah opera sabun. ‘Suami yang selingkuh’


Walau satu bagian otak dan hatiku masih mempertanyakan, ‘benarkah Rei sampai melakukan hal rendahan itu?’


Satu sisi hatiku bilang, rasanya tidak mungkin Rei seperti itu. Tapi satu sisi hatiku yang lain, menimpali hati yang pro pada Rei dengan pertanyaan,


‘Terus kenapa dia sampai membohongi kamu, Malia? ..’


‘Dan kenapa sampai suami kamu yang percayai setia itu, membelikan sekaligus memberikan bunga dan cokelat kepada perempuan lain tapi kamu tidak diberikan apa – apa? Yah, meskipun perempuan itu sahabatnya .. ’


‘Mungkin sahabat perempuannya yang itu sedang berulang tahun atau apa?’


‘Yakin masih sahabat, statusnya itu perempuan sekarang? .. Kalo sahabat kok sampe dikasih bunga dan cokelat gitu? .. Sahabat tapi kok kayaknya lebih penting dari istrinya? .. Sahabat kok mesra gitu fotonya?’


‘Sahabat kok dibela-belain ditemuin dengan membohongi istrinya? Kok kamu dihindari Lia? Kok kayak main kucing – kucingan Rei sama kamu dengan mencuri – curi waktu macam sekarang? Kok, kok dan kok ..’


HISH!


Aku mendesis ketus seolah sedang melerai netizen yang sedang nyinyir, pada hatiku yang seperti dua orang yang sedang adu argumen. Dimana satu orang nyinyir yang kemudian mendominasi. Membuat aku benar – benar kian tak karuan.


---


Aku memijat pelipisku.

__ADS_1


Rasanya tidak mungkin aku menunggu Rei seperti yang beberapa saat lalu aku pikirkan.


Bagaimana jika besok pagi Rei baru keluar dari dalam gedung apartemen, karena dia ketiduran akibat ..


Ah sudahlah.


Hatiku geram dan sakit di saat yang sama saat aku memikirkan jika Rei ‘menghabiskan waktu’ di atas sebuah ranjang bersama wanita lain selain diriku.


Ah iya. Aku teringat sesuatu.


Lantai 4, unit 406


Macam tahu apa yang ada di otakku, saat aku hendak menekan simbol telepon di nomor kontak misterius yang katakanlah sudah membantuku mendapatkan fakta jika kiranya Rei telah ‘bermain’ di belakangku.


Entah bagaimana fakta yang sesungguhnya, namun yang jelas Rei benar – benar telah telak mempermainkanku.


Yang akan aku benar – benar cari tahu fakta yang sebenarnya atas persepsi negatifku itu. Meski aku juga penasaran dengan informan misterius yang mengirimkanku foto dan chat yang sedikit bersifat provokasi.


Nanti sajalah aku urus soal sosok misterius yang baru saja mengirimkanku satu chat yang sebelumnya hendak aku tanyakan padanya. Tentang kalo ngasih informasi jangan setengah – setengah.


Dan sepertinya sosok misterius itu tahu keinginanku.


Lalu hebatnya, sosok misterius itu cukup detail mengetahui informasi terakurat soal Rei.


Siapakah dia, akan aku cari tahu nanti saja.


Yang paling penting untuk aku lakukan sekarang, adalah pergi ke bagian apartemen yang sesuai dengan informasi dalam chat yang belum lama masuk ke ponselku.


---


Dan disinilah aku sekarang, di lantai 4 dalam gedung apartemen dimana ada mobil Rei yang terparkir di salah satu carport parkiran outdoornya. Yang dengan tanpa susah aku datangi, karena komplek apartemen ini tidak seketat komplek apartemenku yang memiliki akses masuk menggunakan kartu khusus untuk dapat masuk ke dalam liftnya.


1.


Di depan pintu bernomor yang sesuai dengan informasi dalam chat, aku telah berdiri di depannya.


Aku tidak langsung mengetuk pintunya, karena aku sedang menyiapkan diri dengan konsekuensi yang bisa saja membuatku tidak dapat berpikir jernih.


🔶


🔶


“Ada yang bisa dibantu, Bu?”


Tepat saat Malia memutuskan untuk mengetuk saja pintu dari unit apartemen tempatnya berdiri sekarang meskipun ada tombol bel di satu sisi pintunya, pintu satu unit apartemen dengan nomor 406 tersebut terbuka.


‘Aih, kenapa gue ga tanya sama si orang misterius itu nama penghuni ini unit apartemen?’ Malia sontak membatin ketika ia ditanya oleh seorang perempuan yang kiranya berusia 20 tahunan, yang baru saja membuka pintu apartemen tersebut dengan membawa kantung plastik sampah berwarna hitam. “Shirly nya, ada? ..”


Berpikir cepat, juga asal sebut saja Malia pada akhirnya. Toh di foto yang ia terima di ponselnya, foto Rei sedang bersama sahabat perempuannya itu dan spot fotonya telah Malia yakini adalah lobi bawah gedung apartemen tersebut. Jadi nama itu yang langsung Malia sebutkan pada perempuan berusia 20 tahunan tersebut.


“Oh ada, Bu.”


Dimana jawaban perempuan berusia kisaran 20 tahunan itu, membuat Malia tercengang sendiri.


🔶🔶🔶


“Eum, orangnya, mana? ..”


Malia yang sempat tercengang karena tak sangka jika ucapan asal sebutnya itu ternyata tidak meleset, kemudian meneruskan saja sikap seolah jika dia memang mengenal Shirly.


Yang mana sikapnya itu kiranya membuat perempuan berusia 20 tahunan yang sedang menanggapinya itu percaya, jika Malia adalah tamu dari Shirly. Yang entah siapanya perempuan yang ada di hadapannya itu. Malia tidak mau tahu.


Makanya saat dipersilahkan masuk, Malia tak berpikir panjang untuk mengayunkan langkahnya memasuki unit apartemen yang ia sambangi itu. Tak mau peduli juga pada perempuan yang mempersilahkannya masuk, yang Malia nilai agak ceroboh karena tidak bertanya siapa dirinya sebelum mempersilahkan masuk.


🔶🔶🔶


Ceroboh sekali perempuan yang mempersilahkanku masuk, yang bisa jadi adalah seorang art itu. Masa bodohlah siapapun dia.


Yang jelas aku ingin bertemu dengan Shirly, untuk melihat apakah Shirly yang dimaksudkan perempuan yang kemungkinan adalah art itu adalah Shirly yang sama yang aku cari.


“Sebentar, Bu ..”


Perempuan itu berpamitan.


Ingin meletakkan plastik sampah yang ia pegang itu sepertinya.


Dimana aku, samar – samar mendengar suara canda tawa dari dalam satu ruangan.


Dan kepalaku spontan menoleh ke sumber suara, yang sepertinya ada di dalam satu – satunya kamar di unit tersebut.


Lalu mataku mendapati satu benda yang sepasang, yang ada di satu sisi pintu kamar.


Sepatu.


Yang sangat aku kenal.


Sepatu milik Rei.

__ADS_1


🔶🔶🔶🔶🔶🔶


Bersambung .....


__ADS_2