WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 289


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


“Gue Harus Ikut Campur!”


Seruan seorang pria yang kini sedang saling beradu tatapan tajam dengan Reiji, yang membuat keduanya terlihat seperti saling tantang.


“Karena Ini Soal Persahabatan Kita Termasuk Soal Kejamnya Lo Sama Argan Yang Rusak Gara-Gara Lo Bucin Mampus Sama Istri Lo Yang Cemburuan....“


Pria tersebut yang merupakan salah seorang sahabat lelaki Reiji, menyambung ucapannya.


“Anj**g!“ umpatan langsung keluar dari mulut Reiji.


BUGH!


Bersamaan dengan tinju Reiji yang melayang ke wajah salah seorang sahabat lelakinya itu.


Sontak, tiga perempuan yang ada di dekat dua laki-laki yang bertikai itu memekik bersamaan.


***


MALIA


“REI!....”


Aku sontak menjerit saat Rei menghantam wajah salah seorang sahabat lelakinya yang datang bersama Shirly berikut anaknya, termasuk satu orang perempuan yang tidak aku kenal—namun aku tak asing dengan wajahnya.


Perempuan itu—setahuku, adalah pasangan dari salah seorang sahabat Rei yang sedang bertikai dengan suamiku itu. dan aku mengenali wajahnya, karena dia datang disaat pernikahanku dan Rei bersama salah seorang sahabat lelaki Rei yang baru saja mendapatkan bogem mentah di wajahnya dari Rei.


---


Irfan, salah seorang sahabat Rei itu—langsung terhuyung ke belakang selepasa tinju Rei menghantam wajahnya. “Cih!” lalu Irfan langsung meludah geram dan langsung kembali memandang nyalang pada Rei.


“Gue Bilang Lo Jangan Ikut Campur Sialan!” Didetik yang sama Rei berseru lagi dengan kencang, sambil menunjuk tajam pada Irfan yang aku dengar mengumpat kesal, walaupun tidak lantang ucapan itu Irfan katakan—tapi aku masih bisa mendengarnya.


“Bangst....*” begitu umpatan pelan Irfan yang aku dengar.


“Sekali Lagi Lo Menghina Istri Gue, Ngebunuh Lo Pun Gue Sanggup!”


Seruan marah Rei terdengar lagi, dengan tatapannya yang nyalang kepada Irfan sambil juga menunjuk tajam sekali lagi pada salah seorang sahabat lelakinya itu.


Dimana aku menjadi agak bergidik setelah mendengar seruan Rei yang barusan, dan suasana menjadi kian panas saat Irfan mengeluarkan ucapan tantangannya pada Rei. “Maju lo!”


Dan Rei sudah akan lagi mendekati Irfan dengan gurat kegeraman yang begitu nampak jelas di wajah suamiku itu. Gurat yang cukup mengerikan, dimana selama ini aku tidak pernah sekalipun melihat Rei yang seperti itu.


“Rei, udah.... please....” namun aku dengan cepat menahan Rei agar jangan meladeni tantangan si Irfan itu.


---


“Maju Gue Bilang!” seruan profokatif Irfan terdengar dibelakangku yang sedang berdiri untuk menahan Rei. Namun orangnya nampak ditahan tubuhnya oleh Shirly dan pasangannya Irfan. Dan atas seruan tantangan Irfan kali kedua itu, Rei nampak terpancing dimana aku dengan kuat menahan tubuh suamiku itu yang sudah nampak begitu geram.


“Jangan dilayan Rei, please....”


Aku langsung berucap begitu pada Rei.


“Aku ga terima dia menghina kamu,Yang—“


“Rei....”


***


Malia berucap lembut--yang lebih kepada lirihan pelan,  saat Reiji emosi berkata setelah mendengar tantangan dari mulut Irfan untuk yang kedua kalinya, sambil Malia menangkup wajah Reiji hingga mau tidak mau—suami Malia itu berhadapan wajahnya dengan Malia, yang berucap sambil menggeleng dengan tatapan yang agak memelas—memandang pada Reiji.


“Udah ya?—“


“Tapi—“


“Udah, please—“


“Hhhh.” Reiji lalu menghela berat nafasnya.


***


Reiji memilih untuk mendengarkan permintaan Malia.


“Najis banget gue punya sahabat yang ga kalah sama istrinya!”


Namun sayangnya, Reiji yang sebelumnya sudah mencoba tenang itu, terprovokasi oleh ejekan Irfan.


“Bangs*t!....” dan Reiji sudah kembali memajukan tubuhnya dengan satu tangannya yang mengepal kuat dan sudah hendak melayangkan kembali tinjunya pada Irfan yang juga sudah terlihat siap untuk baku hantam dengan Reiji.


Yang tentu saja sikap murka Reiji itu membuat Malia langsung menjerit panik di tempatnya. “REI UDAH!—“


“REIJI! IRFAN!....” Suara seruan Shirly yang juga kencang pun terdengar didetik setelah Malia menjerit.


Dengan tambahan tangisan kencang dari Argan.


***


Reiji sedang begitu diselimuti amarah. Namun Malia tetap kembali mencoba menahan Reiji, agar suaminya itu tidak sampai baku hantam dengan sahabatnya sendiri.


“Lepas Yang! Dia harus dikasih pelajaran!—“


“Ya Tuhan, Rei! Udaahhhh—“

__ADS_1


“WOO! Berhenti lo berdua!—“


“Minggir lo Do!”


“Minggir lo Bas!”


Reiji dan Irfan yang sudah nampak siap untuk baku hantam itu, sama berseru ketika seorang laki-laki yang sebelumnya berlari bersama satu laki-laki lainnya, datang dengan cepat dan berdiri diantara Reiji dan irfan.


Dua laki-laki itu--yang keduanya adalah sahabat Reiji yang lain, memposisikan diri mereka masing-masing di depan Reiji dan Irfan. Dimana keduanya kini tengah menahan dua tubuh sahabat lelaki mereka di sisi yang berbeda.


***


Kehebohan di depan lobi gedung apartemen Reiji dan Malia terjadi karena pertikaian dua laki-laki yang saling tak terima atas sikap dan perkataan.


Menjadi tontonan orang-orang yang ada di sekitaran tempat sedang terjadinya pertikaian dua laki-laki tersebut, meski tidak banyak dan hanya memandang sepintas lalu.


Yang kini sudah mendekat dan bertahan di tkp adalah dua petugas keamanan gedung yang tadinya hendak menegur selain melerai, namun urung buka suara karena mereka mengenali Reiji dan sungkan pada bapak pilot yang mereka kenal ramah orangnya-selain suka ngasih tips kalo pas Reiji sedang berpapasan dengan mereka.


Jadi mereka hanya bisa bertanya, “Pak Reiji ada apa?”


Namun belum sempat Reiji menjawab suara salah seorang sahabat Reiji terdengar berseru.


“Lo berdua apa-apaan, hah?!”


Ini Abbas yang berseru, sambil menatap geram Reiji dan Irfan bergantian.


Hawa panas masih mendominasi di antara Reiji dan Irfan yang sama-sama masih saling menatap nyalang, dengan tubuh yang kini tidak ditahan—namun keduanya tidak lagi mencoba untuk saling maju satu sama lain.


“Harus lo berdua berantem gini kek bocah???!!!....” Abbas lagi berseru sambil bertolak pinggang kini dan masih menatap bergantian Reiji serta Irfan. “Norak!” seru Abbas lagi. “Lo inget ga hubungan lo berdua???!!!....” tambahnya.


“Inget umur woy!” satu sahabat Reiji yang bernama Aldo menimpali ucapan Abbas kemudian. Dan sama seperti Abbas, ia berbicara sambil menatap geram pada Reiji dan Irfan dengan ketus suara. Sementara dua laki-laki yang seolah sedang dimarahi itu sama diam dengan masih nampak mengatur emosinya masing-masing.


Reiji sendiri, sedang ditenangkan Malia yang merengkuh Reiji dengan satu tangan Malia yang bertengger di pinggang belakang Reiji, dan satu tangan Malia yang lain mengelus-elus dada kiri Reiji yang menyempatkan untuk menoleh dan tersenyum tipis pada Malia, kemudian mengelus puncak kepala Malia dengan lembut.


***


“Kamu balik duluan ke unit aja ke unit ya,Yang?....” ucap Reiji pada Malia setelah ia bicara sebentar pada dua petugas keamanan gedung seraya Reiji meminta maaf atas keributan yang terjadi karena ia terlibat langsung dalam keributan tersebut.


“Ga. Harus sama kamu baliknya.”


Malia dengan cepat menjawab bujukan Reiji padanya.


Reiji menarik kembali sudut bibirnya, dan senyuman tipis dari Reiji kembali terbit untuk Malia yang kembali juga ia usap lembut pucuk kepalanya.


Kemudian Reiji kembali menatap ke arah lima orang di hadapannya, dimana empat dari lima orang tersebut—katakanlah sangat dekat hubungannya dengan Reiji. “Lo semua mendingan cabut dari sini.” Reiji buka suara dengan memandang ke arah lima orang di hadapannya itu berada.


“Ya paling engga lurusin dulu masalah lo berdua—“


“Ga ada yang perlu dilurusin antara gue sama dia.”


“Lo mau ngomong apa tentang gue masih gue terima....”


Reiji lalu terfokus pada Irfan sambil menunjuknya.


“Tapi lo udah sembarangan ngatain istri gue dan itu hal yang sulit gue terima....“ kata Reiji lagi pada Irfan yang kemudian disela Shirly.


“Irfan ga ada maksud menghina istri lo, Ji. Dia cuma—“


“Diem lo.”


Reiji menyergah dengan cepat kalimat Shirly. Namun suara Reiji tidak meninggi.


Hanya saja--meski datar suara Reiji, namun kesinisan dapat ditangkap dari ucapannya yang Reiji tujukan pada Shirly itu—selain telunjuk Reiji mengarah tegas pada Shirly.


“Ji....“ suara Abbas dan Aldo terdengar, yang akhirnya paham mengapa Reiji sampai bertikai dengan sahabat mereka sendiri.


Meskipun keduanya datang menyusul ke sebuah komplek apartemen tersebut, karena mendapat kabar Irfan yang mengantarkan Shirly ke tempat tinggal Reiji.


Padahal Abbas sendiri sudah menyampaikan kepada semua sahabatnya termasuk Shirly sendiri, tentang perkataan Reiji padanya terkait Shirly dan juga anaknya. Termasuk Abbas memberikan peringatan kecil kepada semuanya, agar menerima dan menghormati keputusan Reiji, yang sayangnya hanya Aldo yang yang mendengarkan peringatan kecil Abbas tersebut.


“Ya gue cuma ga rela aja kalo Reiji mutusin persahabatannya sama gue termasuk dia bersikap kejam sama Argan yang udah kelewat sayang sama dia, cuma karena—“


“Ngomong jelek lagi tentang istri gue, gue robek mulut lo—“


“Rei....”


“Ji....”


Malia dan Abbas berikut Aldo segera berucap ketika Reiji menukas cepat ucapan Shirly dengan geram memandang pada perempuan itu dan menyertai kalimat ancaman di dalam tukasannya.


Irfan juga seperti hendak menimpali kalimat Reiji yang menukas ucapan Shirly, namun urung karena tak lama Reiji bersuara lagi—memandangi satu per satu sahabatnya.


***


MALIA


Rei yang saat ini ada di depanku, seperti bukan Rei yang selama ini aku kenal.


Ekspresi menyeramkannya dan kalimat yang terdengar kasar keluar dari mulut Rei sungguh tidak pernah aku duga jika Rei bisa menjadi seperti itu.


Pun, memang sebelumnya aku tidak pernah melihat Rei yang seperti itu selama aku mengenalnya. Namun saat ini—seperti yang aku katakan tadi, Rei yang berbeda sempat aku lihat beberapa saat yang lalu meski ekspresi tersebut bukan Rei tujukan padaku.


Tapi tetap saja aku terkejut setengah mati selain takut sekali kala ia meninju wajah Irfan dan sempat hampir baku hantam dengan salah seorang sahabatnya itu dimana gurat kegeraman Rei begitu nampak menyalang pekat, yang untung saja tidak sampai terjadi karena 2 sahabat lelaki mereka yang lain keburu datang dan membuat baku hantam diantara Reiji dan Irfan—yang aku pastikan akan sengit sekali, tidak sampai terjadi.


Dan untung saja Abbas serta satu sahabat Rei lainnya—Aldo, jika tidak salah namanya—datang disaat yang tepat—karena aku rasanya sulit menahan Rei yang tenaganya jauh di atasku itu.

__ADS_1


Ditambah saat emosinya begitu meninggi tadi, tenaga Rei--aku rasa menjadi berdouble-double yang kemungkinan besar tidak dapat aku atasi sendiri.


---


Rei sudah cukup nampak tenang sebenarnya, bahkan ia sudah sempat melemparkan senyuman padaku dan mengusap kepalaku dengan sayang—takut, namun juga aku tersanjung karena kemarahan Rei sampai berapi-api tadi karena ia membelaku—dan itu terjadi karena Shirly dan Irfan menudingku sebagai penyebab Rei menjadi—katakanlah berubah.


Kalau dibilang tersinggung, ya aku tersinggung sebenarnya.


Namun melihat Reij yang menjadi begitu marah, bahkan kemarahannya jauh lebih besar dari ketersinggunganku—tentu saja aku tak menunjukkannya pada Rei, apalagi mengungkapkannya secara gamblang.


Aku akan menyiram bensin di atas api, dan tudingan dua orang tadi akan semakin membuat mereka mengejekku selain sebagai seorang istri yang cemburu buta dan menambahkan ejekan padaku sebagai istri yang suka manas-manasin suaminya—atau apalah sebutannya.


Pokoknya bukan pendapat yang baik, selain aku tidak ingin jika dua orang itu menguatkan dugaan mereka tentang Rei yang secara tidak langsung mengatakan kalau Rei adalah suami anggota ISTI.


Padahal tidak begitu.


Rei pribadi yang tegas sebenarnya.


Aku tahu itu sejak dulu. Karena sebagai kakak, dia tegas pada Avi termasuk juga padaku yang sejak kecil sampai masa sekolah—aku wara-wiri di rumah papa Tino dan mama Alice macam rumah orang tuaku sendiri.


Jadi Rei memperlakukanku, sama seperti dia memperlakukan Avi.


Dan setelah kami menikah, ketegasan Rei masih bisa aku tangkap dalam dirinya.


Hanya saja, Rei tipe orang yang tenang juga—ketegasannya tetap akan ia sampaikan jika ia tidak setuju pada sesuatu, namun tidak Rei sampaikan dengan keras.


Disatu dua kesempatan, ya—Rei pernah tegas dengan keras padaku. Namun ada sebabnya.


Yang mana aku sendiri yang menyebabkan mengapa sampai Rei sempat keras berkata padaku.


Dan aku sudah melupakan itu sekarang.


Aku dan Rei sudah berbaikan.


Sudah sama-sama menyadari kesalahan.


Meski aku tidak mengucapkan maafku secara langsung pada Rei, yang kemungkinan besar tidak mempermasalahkannya—karena dia yang mati-matian mengejar maafku.


Dan seperti pengakuan Rei padaku, dia cinta mati pada istrinya yang suka keras kepala dan labil emosi ini—bucin mampus kalau kata Irfan tadi.


Yang mungkin saja benar ejekan yang Irfan katakan pada Rei yang terdengar agak sarkas dan sinis itu, karena Rei memang menghantam wajah Irfan tepat setelah salah seorang sahabatnya itu mendukung ucapan Shirly dengan menyebutku sebagai istri cemburuan perusak persahabatan mereka.


Dimana setelah Abbas dan Aldo melerai Rei dan Irfan lalu meminta keduanya meluruskan masalah yang menyebabkan keduanya hampir baku hantam, Rei langsung menyergahnya dengan mengatakan tidak ada yang perlu diluruskan dengan Rei yang sebelumnya menyuruh mereka semua pergi dari tempat kami berada sekarang.


Rei yang sempat tenang, nampak mulai kembali gusar. Walau tidak lagi berapi-api.


Lalu menekankan bahwa Rei tidak terima kalimat Irfan dan juga Shirly yang Rei anggap penghinaan untukku. Dan Shirly langsung menyangkal dugaan Rei. Namun langsung disergah Rei yang menyuruhnya untuk diam, dan Shirly pun spontan bungkam. Hanya saja tidak lama, karena setelah gumaman keluar dari mulut Abbas dan Irfan selepas Rei mencetuskan peringatannya dengan datar dan dingin menukas ucapan Shirly, perempuan itu bersuara lagi.


Yang mana suara Shirly yang terdengar kembali itu nampak ia buat seolah sebagai korban dariku yang menjadi penyebab Rei memutuskan persahabatan dengannya—menjijikkan sekali, karena ia membawa-bawa anaknya juga dalam ucapannya itu. Si Shirly itu juga melirikku saat ia bicara lagi itu, yang sepertinya hendak mengatakan lagi secara tidak langsung kalau Rei sampai tega padanya dan anaknya, karena aku. Namun tidak sampai ia selesai dengan kalimatnya, Rei sudah memotong ucapan Shirly.


---


“Ngomong jelek lagi tentang istri gue, gue robek mulut lo.“ begitu ucapan Rei yang ia suarakan dengan nada yang datar, namun terkesan begitu dingin, selain Rei tajam melemparkan tatapannya pada Shirly dengan jari Rei yang menunjuk pada perempuan itu juga.


Dan walau aku rasanya senang jika Rei bersikap sinis pada Shirly, namun tetap saja ucapan Rei yang terdengar begitu sarkas itu membuatku agak bergidik, hingga aku spontan melirih seraya mencoba menenangkan Rei. Termasuk juga Abbas dan Aldo yang menggumamkan panggilan Rei dari mereka disaat yang bersamaan dengan aku melirih menyebut panggilanku pada suamiku itu.


Setelahnya, Rei bersuara lagi dengan memandang fokus pada Shirly juga Irfan bergantian. Mengeluarkan kalimat peringatan untuk keduanya, terkait diriku. Pada Irfan Reiji kemudian bicara terlebih dahulu dengan ketus dan sinis, dimana ucapan Rei membuat Irfan jadi langsung membeku di tempatnya—dan kulihat tatapan Irfan langsung menjadi nanar. Lalu melirik kepada perempuan pasangannya yang memasang senyuman singkat nan nampak getir.


Lalu tak lama kemudian, Rei beralih pada Shirly.


Dimana Rei melontarkan kalimat yang cukup menohok untuk didengar.


“Dan lo....”


Sambil Rei mengarahkan telunjuknya pada Shirly.


“Sekali lagi gue tegaskan kalo gue ga mau bersahabat dengan lo lagi pun gue udah ga ada urusan sama lo lagi. Bukan masalah uang yang gue berikan ke elo yang jadi masalah kenapa istri gue ga suka sama lo. Bahkan gue yang memberikan uang ke elo itu gue lakukan dibelakang dia saking gue peduli sama lo dan Argan. Tapi cukup gue melangkahi kepalanya sampai di 300 juta yang gue kasih ke elo. Ga ada gue salahkan lo dalam hal ini karena ya, itu inisiatif gue. Jadi gue yang salah karena menggores perasaan istri gue tanpa gue peka saking gue kelewat peduli sama lo dan Argan. Dan gue mengutuk diri gue buat itu. Buat gue yang melangkahi kepala istri gue karena lo dan Argan. Dan kalau waktu bisa gue balik, gue ga akan ijinkan Argan panggil gue ‘papi’ karena itu seharusnya jadi hak anak gue dan Lia.”


Duh Rei, habis ini aku akan memeluk kamu lama-lama setelah kita kembali ke unit kita nanti. Aku sungguh tersanjung.


“Seharusnya gue mencegah lo dari awal yang membuat Argan jadi panggil gue ‘papi’....”


Oh, jadi si Shirly yang punya itu gagasan sampe anaknya panggil Rei dengan sebutan ‘papi’?


Udah mulai ada udang di balik batu kayaknya saat dia melakukan itu, ya?


Membuat anaknya memanggil Rei dengan sebutan ‘papi’.


Dasar bibit pelakor!


Dan si bibit pelakor itu kini sudah memasang wajah memelas saat Rei berucap panjang tadi, dengan mata Shirly yang nampak berkaca-kaca.


---


“Andai gue tau, kalau gue akan secinta ini sama Lia dan andai gue ga begitu naif dengan membuat gue merasa bertanggung jawab pada lo dan Argan—bahkan sampai gue menikah dengan Lia. Sampai membuat gue jadi melangkahi kepalanya. Terkait itu, gue menyesal. Sangat. Jadi gue minta sama lo, mulai sekarang jauh-jauh dari hidup gue termasuk jangan lo bawa lagi Argan ke depan gue, karena gue ga akan mempedulikan.”


Rei masih lanjut bicara, tanpa ada yang menginterupsinya. Lalu kalimat Rei berikutnya, bukan lagi sekedar menohok—tapi aku rasa langsung jleb ke hatinya Shirly.


“Apa lo sadar, dengan kehadiran lo sekarang berikut sikap lo?  lo ga tampak seperti sahabat. Dari mulai chat terakhir lo sampai dengan kehadiran dan sikap lo sekarang, lo malah terkesan seperti perempuan yang ga punya harga diri dengan menggunakan anak lo untuk dapatkan perhatian gue....”


Mamam tuh Shirly!


❇❇❇❇❇❇❇❇


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2