WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 47


__ADS_3

Selamat membaca..


***


“Rasanya sayang aja bagi aku, kalau aku meminta hakku di kamar hotel yang ga akan kita tempati seterusnya ini. Aku mau kali pertama kita melakukannya, di tempat dimana kita, terutama aku, punya akses untuk akses masuk dengan bebas ke tempat kita akan mengukir kenangan soal malam pertama...”


“.......”


“Jadi setiap kali aku memasukinya, bibir aku akan otomatis tersenyum untuk mengingat hal itu ...”


“Dimana emangnya? ...”


“Kamar aku ...”


“Humm...”


**


“Ya udah kita tidur sekarang deh. Besok pagi kita harus nyempetin sarapan bareng yang lain juga soalnya...” Ucap Reiji.


Malia pun menganggukkan kepalanya. “Iya,” sahut Malia.


“Mau tidur sambil meluk kamu, boleh? ...” Tanya Reiji, sembari tersenyum pada Malia.


Malia mendengus geli kemudian. “Kok segala nanya?... Kan kamu udah jadi suami aku, Rei.”


“Ya meskipun begitu, aku tetep harus mempertimbangkan kenyamanan kamu kan, Yang.” Ucap Reiji. “Biar gimana—“


Namun kalimat Reiji tak berlanjut karena ada yang menelusup mendekat pada dadanya. “Sstt ... Dah bobo!...” Ucap Malia seraya bergerak melingkarkan satu tangan di tubuh Reiji, hingga posisi keduanya terasa berbahaya bagi Reiji.


‘Tahan Ji...’ Batin Reiji. ‘Sabar kan hati sama junior lo sampe besok pas di kamar sendiri...’ Batin Reiji berkata lagi.


Pasalnya, tubuh Malia itu memang sintal adanya. Dan dengan posisi mereka yang rapat begini, dimana Malia memeluk dirinya itu, apa yang menyembul di bagian atas Malia, menyentuh dada Reiji, hingga rasanya ada debaran yang tak santuy di jantung Reiji.


‘Tidur Ji ... Tidur!...’ Hati Reiji bermonolog.


“Met istirahat ya, Rei ...” Malia berucap dengan mendongakkan sedikit wajahnya untuk menatap Reiji, yang sedang mendekap tubuhnya itu.


“Met istirahat juga buat kamu, Lia... my wife...” Balas Reiji.


Lalu sebuah kecupan Reiji daratkan di kening Malia. Dan Malia menerima kecupan di keningnya itu sembari mengulas senyuman yang ia tunjukkan pada Reiji sebelum ia memejamkan matanya.


Namun alih-alih hendak langsung memejamkan matanya, wajah Malia tertahan kala ia kembali sedikit mendongak lagi menatap Reiji, yang juga sedang menatapnya itu, satu tangan Reiji yang menahan wajah Malia agar tidak buru-buru berpaling darinya.


Dimana Reiji menatap Malia tanpa kata, namun dengan tatapan mata yang sarat makna, lalu Reiji kian mendekatkan wajahnya dengan wajah Malia. Membuat hembusan halus nafasnya menyapa wajah Malia, yang jantungnya sedang bertambah berdebar.


Mata Reiji dan Malia saling mengunci dalam tatapan, hingga kemudian saling terpejam, kala bibir Reiji sudah pria itu daratkan dengan lembut di bibir Malia. Lalu ******* lembut bibir rasa cherry yang mulai Reiji gilai itu. Hingga tahu-tahu tangan Reiji sudah berada di tengkuk Malia, dan saat Malia tak hanya diam seperti sebelumnya saat Reiji menciumnya, Reiji mendorong tengkuk Malia hingga ciuman mereka menjadi semakin dalam.


Tidak seperti kali terakhir saat Reiji menciumnya dimana Malia katakanlah begitu pasif, bahkan Malia sampai terbatuk karena tidak bisa mengimbangi ciuman Reiji, tapi kali ini berbeda.


Malia sudah bisa membalas ******* bibir Reiji.


Bahkan tangan Malia yang melingkar di pinggang belakang Reiji, sedikit meremat kaos yang Reiji gunakan.


Posisi Reiji dan Malia kini semakin rapat, dengan bibir yang masih bertaut dengan ritme ciuman yang mulai intens dari sebelumnya. Berikut debar jantung keduanya yang mulai terasa semakin tak  beraturan.


Reiji dan Malia sama-sama terbuai dengan sesi ciuman mereka yang sangat intim itu.


Hingga kemudian tautan bibirnya pada bibir Malia ia lepaskan, namun tangan Reiji masih berada di tengkuk Malia, dan bibirnya masih menempel di wajah Malia, sembari menyusuri dengan pelan wajah Malia, sampai ke leher Malia.


Membuat bulu halus di tubuh Malia meremang seketika karena sentuhan perlahan Reiji yang membuatnya seolah tubuhnya tersengat aliran listrik, terlebih saat Reiji sedikit menghisap kulit leher Malia, meski tak lama.


Hampir saja rasanya Reiji hilang kendali, saat ia mulai terlena untuk menyusuri wajah dan leher Malia. Namun pada akhirnya Reiji mendapatkan kesadarannya kembali, meski matanya sudah sedikit berkabut.


Jangan tanya besarnya keinginan Reiji sekarang untuk ritual malam pertamanya dengan Malia. Dirinya mulai tersulut api gairah akibat kelakuannya sendiri.


Namun pada akhirnya kesadaran Reiji kembali. Hingga Reiji pun menarik dirinya dengan perlahan dari leher Malia, bahkan bibir Reiji sudah tanpa permisi membuat satu tanda kepemilikannya di leher Malia.


Rasanya berat bagi Reiji untuk melepaskan Malia saat ini. Namun keinginan Reiji untuk melakukan malam pertamanya dengan Malia di kamar pribadinya, agar senantiasa ingatan dan bayangan akan malam pertama itu nanti dapat sering-sering ia nikmati dalam ingatan setiap kali ia masuk ke kamar pribadinya yang ada di rumah orang tuanya itu.


Terkesan lebay, namun Reiji hanya ingin membuat segala hal yang berkesan antara dirinya dan Malia, tak lekang dari ingatannya.


Reiji menarik dirinya dari Malia dengan perlahan, namun tidak bergerak menjauh. “Sisain buat besok....”


Reiji berkelakar sembari mengulum senyumnya, kelakar yang ia lontarkan demi menetralkan sesuatu yang tadi sudah berkobar dalam dirinya.


‘Demi mencetak memori di kamar gue besok, gue rela kentang deh ini malem.’ Kata Reiji dalam hatinya.


***


Bagaimana Reiji mencoba menurunkan sesuatu yang tadi sudah menjalar dan menaikkan gelora kelakian dalam dirinya, seyogyanya Malia pun sama.


Malia memang merasa jika ia belum mencintai Reiji saat ini. Namun dirinya adalah wanita dewasa normal yang pastinya bergejolak jika berada dalam posisi seperti beberapa saat lalu, saat Reiji mulai mencumbui dirinya dari mulai bibir, meski baru hanya sebatas leher.


Namun hal itu cukup membuat Malia sempat terbuai hingga hampir pasrah jika Reiji tetap melanjutkan ke tahap yang lebih jauh.


Toh sah-sah saja, karena mereka sudah sah sebagai suami-istri. Lagipula meski tak cinta, Malia mengakui sudah mulai menyayangi Reiji, bahkan berjanji untuk mencoba menjadi istri yang baik untuk suaminya itu.


Jadi dimulai dengan menerima setiap perlakuan Reiji pada tubuhnya, adalah hal yang Malia harus terima demi menjadi istri yang baik bagi Reiji.


Saat Reiji mencumbui dirinya tadi, Malia sungguh dibuat terbuai oleh ciuman dan kecupan-kecupan kecil yang Reiji berikan. Dan leher Malia, adalah memang salah satu titik sensitif Malia yang Reiji sentuh.

__ADS_1


Yang tak ayal membuat Malia cukup terlena dibuatnya.


Hendak pasrah, karena tak mau munafik, jika Malia menginginkan juga perlakuan ‘lebih’ dari Reiji.


Namun saat Reiji menarik dirinya perlahan dari leher dan wajahnya, Malia rasanya malu karena sudah menduga wajahnya yang kini pastilah sudah merona akibat cukup mulai terbakar api gairah yang disulut Reiji.


Jadi waktu Reiji menarik diri dan berkelakar sembari menatap wajahnya lekat, Malia mencoba menetralkan diri dan jantungnya.


Memang itu juga yang sebenarnya yang terlihat dalam pandangan Reiji yang tahu jika Malia pun sama menginginkan hal yang sama dengan yang ia inginkan.


Pasalnya Reiji menyadari wajah Malia yang merona saat sedang ia tatap seperti ini.


Namun Reiji tak ingin menggoda Malia yang seolah nampak mendamba namun ditinggal pas mau on – on – nya.


Karena Reiji sendiri juga sedang sekuat tenaga menurunkan apa yang sedang berkobar dalam dirinya. Jadi setelah sebaris kelakar Reiji lontarkan tadi dan menatap sebentar wajah dan mata Malia, Reiji memberikan kecupan di kening dan bibir Malia sekali lagi.


“Nitey nite, my lovely wife,” ucap Reiji kemudian lalu membawa Malia dalam dekapannya.


“Nitey nite, Rei,” balas Malia. Sembari ia memposisikan dirinya senyaman mungkin dalam dekapan Reiji.


Hingga keduanya kemudian terlelap dengan saling mendekap satu sama lain.


**


Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi.


Alarm penanda yang dipasang Reiji di ponselnya belum berbunyi, namun Reiji sudah terbangun dari tidurnya. Bahkan dirasa Reiji, saat bangun matanya tidak terasa berat sama sekali.


Malah rasanya Reiji begitu bersemangat bangun di waktu yang masih terbilang dini hari ini.


Meski tidak terlalu aneh juga jika Reiji bangun di jam empat pagi seperti ini. Karena kadang-kadang sang Papa mengajaknya untuk beribadah di Masjid kala Subuh, dan Reiji akan memasang alarm di jam empat pagi, agar dapat bersih-bersih dulu sebelum berangkat ke Masjid untuk melakukan ibadah berjamaah.


Namun ya itu, Reiji akan butuh suara alarm untuk bangun tepat di waktu yang ia harapkan dapat membuka matanya tepat disaat itu.


Dan kali ini berbeda. Subuh yang baru bagi Reiji, karena saat terbangun, tidak hanya bantal dan guling saja didekatnya, tetapi juga ada seorang wanita cantik, yang baru kemarin dinikahinya, sedang bersandar dengan mata yang masih terpejam di dadanya.


Membuat bibir Reiji secara otomatis melengkungkan bibirnya ke atas, kala mendapati pemandangan indah saat ia membuka mata lalu Reiji memperhatikan setiap inci wajah yang ada dalam dekapannya itu.


Wajah ayu khas Indonesia, dengan bulu mata lentik, hidung mancung dengan kulit yang bersih nampak terawat, merebut perhatian Reiji secara keseluruhan saat ini.


Jangan lupakan bibir sensual rasa cherry yang sudah mulai Reiji gilai sejak pertama kali menciumnya.


Tangan Reiji telah terangkat untuk mengusap pipi Malia, namun masih sedikit ragu, karena takut mengganggu tidur Malia meskipun ada keinginan Reiji untuk membangunkan Malia nanti saat waktu Subuh akan tiba sekitar tiga puluh menit lagi.


Jadi Reiji menurunkan lagi tangannya, dan disaat yang sama, Malia melakukan pergerakan dalam tidurnya.


Tangan Malia yang tadi mendekap Reiji sedikit terurai dengan badannya yang bergerak sedikit hingga pemandangan di mata Reiji tak hanya wajah Malia saja yang jelas.


‘Bahaya nih kalo gue liatin lama-lama!’


Reiji membatin, sekaligus menelan salivanya. Reiji mulai merasa tak tenang.


‘Kayaknya gue mesi check out buru-buru dari sini dan langsung boyong Lia ke rumah, langsung tancep gas ke kamar gue!’


**


Beberapa jam kemudian


“Selamat datang, Nyonya Reiji Shakeel...”


Saat ini, Reiji sudah membawa Malia ke rumah orang tuanya.


Reiji dan Malia akan tinggal di rumah orang tua Reiji untuk sementara waktu, sebelum mereka pindah ke apartemen mereka sendiri.


Mungkin juga akan menyempatkan diri menginap di rumah orang tua Malia, sebelum Reiji dan Malia pindah ke apartemen mereka, yang masih sedang dibenahi.


“Makasih, Bapak Reiji Shakeel ...”


Malia menyahut sembari mengulum senyumnya, kala Reiji yang membawa Malia ke kamar pribadinya itu, sudah membukakan pintunya lebar-lebar.


Malia memindai kamar pribadi Reiji kala ia sudah berada di dalamnya bersama Reiji, saat Reiji meletakkan kopernya dan koper Malia di dalam walk-in-closet pribadinya.


Kamar Reiji, yang baru ini Malia masuki, walaupun sudah puluhan tahun mengenal Reiji. Kamar dengan nuansa khas pria, namun saat ini di berikan sentuhan keromantisan, seperti halnya kamar suite di hotel tempat Reiji dan Malia menginap semalam, selepas resepsi.


Kamar hotel yang menjadi saksi, bahwasanya ritual malam pengantin tidak terjadi disana semalam.


Hanya sebatas bercumbu saja, itupun dalam waktu yang singkat. Hingga keduanya sama-sama lumayan kentang karena cumbuan sebatas leher semalam.


Karena Reiji tidak mau melakukan malam pertamanya dan Malia di Hotel.


Maunya di kamar pribadinya, supaya kenangan soal indahnya malam pertama dengan Malia, akan tersimpan dengan apik di otaknya, dan terputar secara otomatis setiap kali Reiji masuk ke kamarnya, walau mungkin akan jarang-jarang ia masuki setelah ia pindah ke apartemen nanti.


Dan disinilah Reiji dan Malia sekarang.


Keduanya sudah berada di rumah orang tua Reiji, dimana Reiji langsung memboyong Malia ke kamarnya, yang kini telah menjadi kamarnya bersama Malia.


Kamar yang kiranya bernuansa maskulin itu, kini bercampur dengan nuansa romantis yang sedikit feminin karena kamar Reiji telah dihias sebagaimana kamar pengantin di Hotel yang mereka tempati semalam.


“Meskipun kita ga akan tinggal disini, kalo emang kamu mau merubah ini kamar, silahkan aja ya , Yang?....”


Reiji sudah kembali pada Malia, selepas meletakkan kopernya dan koper Malia ke dalam walk-in-closet pribadinya dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Malia manggut-manggut saja, sembari memandangi ke sekeliling kamar Reiji itu.


“Yuk...”


Namun tak lama kemudian, dimana Malia nampak masih asik memindai keseluruhan kamar Reiji yang ada dipandangan Malia dengan matanya, suara Reiji berikut tangan Reiji yang sudah menggenggam tangan Malia terdengar, hingga membuat Malia terkesiap.


“Heu?”


Malia juga tergugu, karena Reiji membimbingnya mendekati ranjang Reiji yang sudah dihias sedemikian rupa menjadi ranjang pengantin.


“Mumpung ujan!”


Ucapan Reiji hampir membuat Malia tersedak salivanya sendiri.


Dan Malia nampak menjadi salah tingkah karenanya. Namun Reiji mengulum senyumnya.


“Mikir apa hayo????”


Reiji memencet gemas hidung mancung Malia.


“Mikir jorok pasti!”


Membuat Malia seketika mendelik pada Reiji yang sedang cengengesan itu.


“Ih, apaan sih?!”


Malia memalingkan wajahnya.


Ada semu kemerahan disana.


Reiji yang menyadarinya, kemudian terkekeh kecil.


“Pasti mikir macem-macem kan?”


Reiji pun langsung menggoda Malia yang wajahnya sedikit bersemu itu.


“Nih mukanya jadi merah merona gini ....”


Reiji menyentuh dagu Malia hingga wajah istrinya itu menghadap padanya.


Lalu Malia mencebik, sambil menepiskan tangan Reiji dari dagunya. “Apaan sih ah!”


Reiji terkekeh lagi. “Udah ga sabar ya pengen diapa-apain?....”


Dimana Malia melongo dibuatnya, selepas mendengar ucapan Reiji yang setengah berbisik padanya barusan, berikut wajah jahil suaminya itu.


“Reiji ih!!!!”


Malia gemas sekali rasanya dengan keisengan mulut Reiji, hingga tangannya terulur untuk membekap mulut Reiji, yang orangnya terkekeh lagi karena tingkah Malia itu.


Tapi kemudian hal itu dimanfaatkan Reiji untuk menarik Malia dan memerangkap istrinya itu dalam dekapan.


Dan didetik berikutnya Reiji sudah menyambar bibir Malia dengan bibirnya.


Tak hanya sekedar ciuman, namun Reiji mengunci Malia dengan menahan tengkuk istrinya itu, dan menarik Malia agar rapat dengannya.


Hingga ciuman itu menjadi menggebu-gebu bagi keduanya.


Dan tangan Malia tanpa sadar mengalung begitu saja di leher Reiji, dengan bibir yang masih saling bertaut, seolah sedang berlomba hingga nampak seperti tergesa.


Setelah beberapa saat, Reiji mengurai ciumannya. Wajahnya sudah nampak sedang menahan sesuatu didalam dirinya, terlihat dari mata Reiji yang mulai sayu. Sebentar saja Reiji melepaskan bibir Malia, lalu ia sambar lagi, kali ini dengan begitu menuntut.


Sampai pada akhirnya, Reiji tak hanya menciumi bibir Malia, namun sudah mulai menyusuri wajah Malia dari mulai pipi, telinga hingga leher mulus sang istri.


Jika semalam hanya sampai sebatas leher lalu Reiji menarik dirinya, kini pundak Malia yang sedikit terbuka, ikut menjadi sasaran bibir Reiji, dan dihisap gemas oleh Reiji.


Membuat Malia yang tanpa sadar sudah menyusupkan jemarinya ke dalam rambut Reiji itu sampai meremat rambut Reiji. Malia sekali lagi terbuai seperti semalam.


Sampai tiba-tiba...


“Bang Rei, Li.... ASTAGFIRULLAHHHH!!!!....”


Suara yang diikuti pekikan keras kemudian terdengar dan membuat Reiji serta Malia menghentikan kegiatan mereka, sekaligus membuat keduanya terkejut bukan main.


Akibat lupa tutup pintu.


**


Bersambung ..


Thank you, buat kalian yang tetep setia baca karya receh ini.


Loph Loph


Emaknya Queen


Noted: Bagi kalian penikmat Bukan Sekedar Sahabat ( BSS ). Series kedua itu lanjut ke The Smith’s, dan series ketiga bisa kalian baca di Heirs of The Adjieran Smith.


Silahkan cek di profil emak yawgh.


Tenkyu sekali lagi.

__ADS_1


__ADS_2