WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 218


__ADS_3

Selamat membaca....


*************************


Kebohongan.


Telah Reiji lakukan.


“kamu di mana sekarang? ..”


Pertanyaan yang Malia ajukan saat Rei pada akhirnya menghubunginya, setelah suaminya itu tidak datang ke acara ulang tahunnya sendiri yang dibuatkan oleh Malia sebuah perayaan kecil dengan sebuah candle light dinner romantis di sebuah hotel bintang lima yang telah Malia atur sedemikian rupa.


Berikut tambahan ‘hadiah’ lain yang juga telah Malia persiapkan secara spesial.


“Aku .. masih di Denpasar, Yang ..“


Namun sayangnya, ‘hadiah spesial’ Malia itu juga sama tidak tersentuhnya seperti acara makan malam romantis yang sudah Malia atur dengan sangat apik disela kesibukannya bekerja.


Kecewa sebenarnya Malia, tapi tidak mau mengedepankan emosinya. Mungkin Rei berhalangan karena pekerjaannya.


Jadi Malia memilih menelan sendiri saja kekecewaannya atas---katakanlah kerja kerasnya untuk menyenangkan Reiji di hari ulang tahun suaminya itu.


Ada sebongkah harap jika apa yang sudah ia lakukan demi memberikan momen spesial di hari ulang tahunnya Reiji setelah suaminya itu pada akhirnya menghubungi Malia sesudah sempat membuat Malia begitu was-was dan khawatir atas nama pekerjaan Rei yang sangat beresiko.


Namun harapan Malia harus ia terbangkan ke udara, termasuk dengan dirinya yang menelan kecewa berkali lipat. Kerja kerasnya benar-benar terbuang percuma. Dimana yang pertama, Reiji melewatkan candle light dinner yang telah Malia persiapkan dengan sangat apik begitu saja.


Yang kedua---Malia yang berpikir walau tidak jadi candle light dinner di tempat utama, namun dengan Reiji menghubunginya---setidaknya ia dan Reiji masih bisa menciptakan momen di kamar hotel yang sudah Malia persiapkan dengan apik juga. Tapi ya itu, harapan untuk poin kedua pun buyar juga.


“Malam ini aku bener – bener ga bisa susul dan nemuin kamu ..”


Sepenggal ucapan Reiji yang menciptakan satu kekecewaan lain di hati Malia.


Kian kecewa setelah, “kamu di mana sekarang? ..” Malia mempertanyakan keberadaan Reiji yang ia pikir sudah dalam perjalanan untuk menyusul ke hotel tempat dirinya berada sekarang.


Dan jawaban Reiji,


“Aku .. masih di Denpasar, Yang ..“


Sementara ..


Iya Ibu Malia. Jadwal itu adalah jadwal terbaru yang sama dengan jadwal sebelumnya karena memang tidak ada perubahan apa – apa. Dan sepertinya Pak Reiji sudah menunggu anda di rumah. Toh kebetulan tadi saya ikut dengan Pak Reiji di mobil beliau.


Informasi itu yang Malia dapat dari seseorang di tempat Reiji bekerja.


‘Kamu bohong, Rei.’


********


“Aku .. masih di Denpasar, Yang ..“


“.......”


“Sekali lagi aku bener – bener minta maaf udah bikin kamu kecewa-“


‘Oh ya? Sadar udah bikin aku kecewa karena ketidakhadiran kamu setelah aku mempersiapkan semua yang udah aku siapin, tapi kamu malah lebih mengecewakan lagi dengan berbohong Rei ..’


Malia menanggapi ucapan Reiji barusan. Namun dalam hatinya saja, sembari Malia tersenyum masam di tempatnya.

__ADS_1


********


MALIA


“Yang? ..”


Suara Rei yang memanggilku membuatku terkesiap.


“Ya? ..”


Aku menyahut kemudian.


“Kamu marah ya?-“


“Marah sih engga-“


“Tapi? ..”


Aku bisa menangkap jika suara Rei sepertinya memang benar merasa menyesal.


“Yah, seperti yang kamu bilang tadi,” ucapku. “Kecewa.”


Dua kali.


Kudengar Rei menghela nafasnya dengan berat dari ujung telepon.


“Aku ga tau harus ngomong apa lagi selain, maaf, maaf dan maaf-“


“Ya udah mau diapain,” tukasku.


Dengan menahan kesal dan kecewa di dadaku.


“By the way, Yang .. Kamu stay di sana, atau mau balik ke apartemen?-“


“Liat nanti.”


Aku menjawab cepat.


“Maksud aku, kalo kamu memang mau stay di hotel, aku langsung ke sana-“


“Nanti aku kabarin-“


“Tapi kalo bisa ya kamu di hotel aja, Yang. Ini udah malem banget, aku khawatir kalo kamu nyetir sendiri malem-malem gini walaupun jarak dari hotel ke apartemen kita ga jauh-“


“Nanti aku kabarin.“


********


Diakhiri dengan rasa kecewanya pada Reiji selain ia bertanya-tanya sendiri pada dirinya mengapa Reiji sampai berbohong---tentang suaminya itu yang menurut pengakuan seseorang dari tempat Reiji bekerja, jika Reiji sudahlah ada di Jakarta sejak jam 3 sore waktu setempat.


Sesuai dengan apa yang tercantum di jadwal Reiji yang Malia terima dari orang yang bersangkutan mengurus perihal tersebut di tempat Reiji bekerja---Malia mengingkari janjinya pada Reiji untuk memberi kabar tentang apakah dirinya akan stay di hotel atau akan kembali ke apartemen.


Hingga sampai pagi tiba, ponsel Reiji senyap saja dan pemberitahuan dari Malia hingga sampai ia hendak pergi dari tempatnya sekarang pun belum ia terima---membuat Reiji khawatir karenanya. Reiji mengingat hotel tempat Malia menginap dan mencoba mencari tahu apa Malia masih berada di sana dan perihal Malia belum memberikan kabar apakah istrinya itu masih di hotel tersebut atau sudah kembali ke apartemen dari pihak resepsionis hotel.


Mungkin saja Malia jatuh tertidur hingga ia lupa mengabari Reiji yang sekarang sedikit mengkhawatirkan Malia, dan kini ia sedikit kelimpungan untuk mencari kabar keberadaan istrinya itu yang tidak memberitahu dimana dia gerangan padanya. ‘Nekat banget sih Lia, dibilang stay aja di hotel. Malah kekeh balik ke apartemen malem-malem,’ ucap Reiji dalam hatinya.


Ketika ia selesai berbicara dengan resepsionis hotel yang menjadi pilihan Malia untuk membuat acara candle light dinner juga menyewa satu kamar di hotel tersebut, dimana si resepsionis hotel mengatakan jika Malia telah check-out dari hotel mereka sejak semalam---setelah Reiji mengatakan nomor kamar hotel Malia pada resepsionis tersebut yang mau memberikan informasi, karena nama Reiji disebutkan Malia dalam note di resepsionis sebagai suaminya.

__ADS_1


Dimana hal itu Malia lakukan untuk berjaga – jaga jika Reiji datang dan ternyata lupa nomor kamar hotel yang sudah Malia beritahukan pada suaminya itu ke hotel yang telah Malia pesan salah satu sudut restoran, juga satu kamar jenis suitenya.


Jadi resepsionis yang mengetahui status Reiji yang menanyakan perihal satu tamunya itu bersedia memberikan informasi mengenai salah satu tamu hotelnya pada Reiji, karena pihak hotel tidak akan memberikan sembarang informasi soal para tamu mereka---meskipun yang ditanyakan adalah keberadaan tamu mereka saja.


“Selamat pagi, Pak Reiji ..”


Sapaan padanya Reiji terima ketika ia memasuki lobi bawah gedung apartemen yang ia dan Malia tinggali.


“Pagi ..”


Reiji menjawab sapaan yang ia terima dari petugas keamanan apartemen yang berjaga di lobi gedung---yang sudah mengenalnya dengan baik.


Termasuk juga satu orang resepsionis berjenis kelamin pria yang ikut menyapa Reiji ketika ia sampai di dekat meja tempat resepsionis gedung bertempat saat bekerja.


“Mau balik Ka?”


“Iya Pak Reiji. Bapak baru pulang tugas juga?”


“Iya nih ..”


“Ya udah Pak, ‘met istirahat kalo gitu ..”


Resepsionis yang hendak bertukar shift dengan rekannya itu berucap.


“Iya Ka. Makasih ..”


Reiji menjawab ucapan si resepsionis dengan ramah.


“Eh iya Ka. Ngomong-ngomong ada toko bunga ga sih di sini? ..”


“Ga ada, Pak-“


“Yaahh ..”


“Pulang ga tepat waktu ya, Pak?” cetus resepsionis bernama Eka itu cengengesan. “Makanya mau beli bunga buat Ibu Malia?-“


“Paham sekali anda anak muda ..”


Reiji menukas ucapan Eka, lalu ia dan resepsionis pria yang umurnya masih di bawah dirinya itu terkekeh bersama.


“Kalo toko bunga ga ada, Pak. Adanya toko souvenir sama aksesoris.”


“Huum.”


Reiji menggumam samar.


“Beliin coklat aja pak di minimarket.” Atas celetukan dari Eka itu Reiji kembali terkekeh.


“Emang istri saya anak SMP yang dikasih coklat aja udah seneng? ..”


Gantian Eka yang terkekeh.


“Tapi Pak Reiji aman sih sekarang, kalo takut diambekin sama Bu Malia kalo pulangnya ga tepat waktu ..”


“Amannya? ..” tanya Reiji dengan spontan.


“Ya Bu Malia kayaknya belum balik ke sini ..”

__ADS_1


****************


Bersambung ...


__ADS_2