
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca...
***
MALIA
Setelah dua kali meracau, Reiji nampak kembali nyenyak dalam tidurnya.
Racauan yang keduanya berhubungan denganku, dan membuatku jadi menatap Reiji lekat – lekat.
Mudah bagi laki-laki untuk memulai bercinta, dan mudah juga bagi mereka untuk mengakhirinya dengan puas.
Sementara perempuan sebaliknya.
Perempuan biasanya butuh waktu lebih lama untuk terpuaskan. Hingga terkadang laki-laki pasangan bercintanya sudah terlanjur keletihan, sampai tak sabar, lalu tak memperdulikan jika perempuan yang menjadi pasangan bercintanya itu juga butuh kenikmatan.
Lalu pikiran hanya menjadi pemuas syahwat saja akan hadir dalam otak para perempuan yang pasangan laki-lakinya ‘egois’ dalam hal bercinta.
Tapi tidak Reiji. Reiji bukan satu dari laki-laki yang bersikap ‘egois’ pada pasangannya saat bercinta. Dia justru mementingkan kepuasanku terlebih dahulu saat kami bercinta.
“Kamu udah sampai, Yang?...” pertanyaan Reiji tentang kepuasanku saat pertama kali kami bercinta dimalam pengantin kami.
Kesini-kesini, setelah bercinta menjadi kegiatan rutin kami pun meski Reiji telah paham jika aku telah ‘sampai’ dari ekspresiku, Reiji masih menyelipkan pertanyaan yang sama.
Satu waktu saja yang sulit bagiku untuk berbohong pada Reiji.
Disaat aku bercinta dengannya.
Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi, karena pelepasan yang aku selalu dapat dari Reiji bukanlah sebuah pelepasan palsu-yang kadang ditunjukkan oleh beberapa perempuan saat bercinta untuk alasan tertentu.
Reiji pandai membuaiku, untuk dapat mencapai kepuasan dalam bercinta, sekalipun aku sedang dirundung beban pikiran.
Beban pikiran akan suatu keputusan untuk memilih antara laki-laki yang mendampingiku, atau laki-laki yang aku cintai. Yang keduanya sama-sama mencintaiku.
Tapi kini aku telah memutuskan, setelah aku coba tenang berpikir.
-
Aku jatuh terlelap setelah aku menuntaskan dahagaku, setelah aku memakai kembali piyamaku, lalu kembali lagi ke kamarku dan Reiji setelah aku mengambil minum di pantri unit apartemen kami.
Reiji nampak masih tertidur dengan sangat nyenyaknya di tempat tidur kami.
Jam di ponselku menunjukkan jika waktu berada di pukul setengah dua malam. Dan disaat itu, aku melihat ada satu pesan chat dari Irsyad di layar apungku.
‘Lia, kamu dan suamimu sedang apa?’
Yang tertulis dalam pesan Irsyad itu membuatku mengernyit.
Namun kemudian aku ingat, tentang Irsyad yang kemungkinan besar mendengar desahanku, kala Reiji menghisap leherku saat aku sedang terhubung pada panggilan telepon dengan Irsyad.
Tapi kenapa Irsyad harus bertanya seperti itu?...
Apa... Irsyad cemburu karena mendengarku mendesah yang pasti ia terka Reijilah penyebabnya.
Aku tidak tahu harus membalas pesan Irsyad dengan jawaban apa, dan aku rasa itu tidak penting untuk aku jawab, dan seharusnya Irsyad tidak perlu juga bertanya seperti itu.
Biarpun aku dan dia saling mencintai, tapi Reiji suamiku.
Dan aku rasa aku juga tidak memberikan harapan pada Irsyad, sekalipun aku sering pergi dengannya dan bertengkar dengan Reiji.
Aku pun belum memberitahukan pada Irsyad bagaimana perasaanku terhadapnya.
Aku tidak ingin memberi harapan palsu pada Irsyad, karena aku juga belum tahu kemana hubunganku dan Reiji pada akhirnya bermuara.
Oh **1*!.
Ponselku berdering, dan Irsyad yang menghubungiku.
Ya Tuhan, apa Irsyad tidak tidur karena memikirkan aku sedang apa dengan suamiku?...
****
REIJI
__ADS_1
Tidurku yang benar – benar aku rasakan nyenyak - setelah bercinta sebanyak tiga kali dengan Lia dalam kurun waktu jeda yang tak lama, terusik karena mendengar suara dering ponsel.
Aku terjaga seketika, namun tidak langsung bergerak dari posisi tidurku yang membelakangi sisi ranjang pembaringan Lia. Karena dering telepon yang aku dengar berbunyi itu aku kenali berasal dari ponsel Lia.
Aku dengar Lia mengumpat, namun pelan - sepertinya panik juga, jadi aku sudah dapat menduga itu panggilan telepon dari siapa.
Yakin, pasti dari si bibit pebinor itu – Irsyad!.
Dan aku penasaran, apa yang akan dibicarakan Lia dengan si bibit pebinor itu di telepon.
Aku tidak tahu pasti ini sudah jam berapa, tapi aku yakin ini masih tengah malam.
Benar – benar tidak tahu diri itu bibit pebinor, menelpon istri orang di tengah malam buta.
Tapi aku coba tenang, dan bergeming di posisiku – namun memasang telingaku untuk mendengar pembicaraan Lia dengan si bibit pebinor itu.
-
Beruntung posisiku sedang membelakangi Lia, saat ponsel Lia berdering itu.
Jadi aku dapat dengan mudah bersikap selayaknya orang yang masih nyenyak tertidur.
Meski begitu, aku tetap memejamkan mataku.
Geram sebenarnya hatiku, mengetahui Lia masih berkomunikasi di tengah malam buta begini dengan si bibit pebinor itu.
Padahal kami telah bercinta tiga kali banyaknya malam ini.
Tidakkah ada kesan walau sedikit di hati Lia atas percintaan kami?.
Tidak bisakah cinta hadir karena bercinta?....
Sungguh pikiran yang konyol.
-
Ngomong – ngomong, kenapa aku tidak mendengar Lia bersuara ya?.
Dan aku menajamkan lagi telingaku.
Ah, bodoh!. Pasti Lia meminta si bibit pebinor itu untuk berkomunikasi lewat chat aja. Karena aku yakin sekali jika Lia takut aku terbangun jika mendengar dia berbicara di ponsel walau dengan berbisik.
Besok, aku akan mencuri – curi kesempatan untuk membaca chat Lia dan si bibit pebinor itu. Membuatku juga penasaran, apa Lia yang tadi katanya ingin ikut besok ke acara Family Gathering Maskapai tempatku bernaung, akan berubah pikiran lagi gara – gara telfon dari si bibit pebinor itu sekarang ini?.
Aku merasakan pergerakan di sisi ranjang Lia.
Apakah Lia baru saja mengecek diriku – masih terlelap atau tidak, lalu baru mengendik – ngendik untuk bertelfon ria dengan si bibit pebinor bernama Irsyad itu?...
Ugh, geramnya aku! Rasanya ----
Eh?....
Kenapa aku merasakan ada sepasang tangan yang menempel di dadaku? ....
***
“Oh **1*!” Malia mengumpat pelan saat ponselnya berdering, hingga membuatnya panik.
Bahkan saking paniknya, tangan Malia sedikit gemetar hingga sulit untuk menggulirkan satu tombol di layar sentuh ponselnya.
Lalu Malia menghela nafas lega, setelah ponselnya tak lagi berdering.
Bukan karena Malia menerima panggilan yang adalah dari Irsyad, namun karena Malia menekan ikon telepon berwarna merah.
Ya, Malia menolak panggilan dari Irsyad.
Saat dirinya terjaga dari tidur karena merasakan haus, Malia sempat merenung sendirian di pantri unit apartemennya dan Reiji.
Karena masalah yang Malia hadapi adalah soal hati, jadi rasanya enggan Lia berbagi dengan orang lain, atau bahkan dengan orang tuanya dan Avi – sahabat karibnya.
Dan lagi, Reiji adalah kakak Avi.
Jadi Malia rasa tidak etis kalau membicarakan hatinya yang Malia rasa tidak pernah tertuju pada Reiji.
Selain Malia takut persahabatannya dengan Avi akan renggang jika Avi mengetahui Malia masih mencintai Irsyad, dan bahkan sering bertemu di belakang Reiji.
Pasti sedikit banyak akan memiliki rasa sakit hati pada dirinya – Pikir Malia.
__ADS_1
Malia ingin bahagia.
Tentu saja.
Siapa di dunia ini yang tidak ingin bahagia?.
Tapi Malia juga menyadari satu hal.
Komitmen.
Komitmen dirinya, saat iya mengiyakan untuk dijodohkan dan menikah dengan Reiji.
Komitmen dirinya, saat ia sendiri yang berjanji untuk menjadi istri yang baik dengan Reiji.
‘Maaf Kak, tidak pantas rasanya Kak menghubungiku di jam seperti ini.’
Malia mengetikkan pesan chatnya pada Irsyad, setelah ia menolak panggilan dari lelaki impiannya itu.
‘Dan maaf, sepertinya kita tidak perlu lagi intens bertemu, karena statusku.’
Malia menghela nafasnya dengan berat namun samar, setelah ia mengetikkan pesan chat kedua yang ia kirimkan pada Irsyad.
‘Rei ....’ bisik hati Malia selepas ia mengetikkan dua pesan pada Irsyad, lalu menonaktifkan ponselnya.
Malia memandang sebentar punggung Reiji yang di mata Malia masih nyenyak tertidur itu.
‘Aku akan mencoba lagi meneguhkan komitmen aku sebagai istri kamu.’
Ragu, namun pada akhirnya Malia beringsut mendekat ke punggung Reiji, lalu memeluk suaminya yang terlelap itu dari belakang.
“Bantu aku Rei, untuk bisa menerima kamu seutuhnya dan mencintai kamu-“
“Kita perlu anak, mungkin?”
Dan Malia membelalakkan matanya, kala suara Reiji terdengar seperti menyahuti ucapannya.
“R-ei?---“ Malia tergagap. Ia sungguh terkejut, namun juga ingin memastikan apakah Reiji itu sedang mengigau?.
Tapi rasanya tidak mungkin.
‘Masa orang ngigo bisa pas banget jawabin ucapan gue? ...’
Monolog Malia dalam hatinya.
Malia hendak menarik tangannya yang mendekap Reiji.
Namun tertahan, karena tangan Malia tergenggam, bersamaan dengan si pemilik tubuh yang kemudian menolehkan kepalanya, dan menatap Malia yang sudah sedikit mengangkat tubuhnya dan dalam posisi miring.
“Kata orang, anak bisa mengeratkan kehidupan pernikahan-“
Reiji melepaskan genggamannya dari kedua tangan Lia, lalu ia membalikkan tubuhnya.
Malia menggigit bibir bawahnya sendiri.
Tak sangka jika Reiji terbangun, bahkan mendengarkan gumamannya.
“Yuk?”
Malia mengernyit, kala kata ajakan keluar dari mulut Reiji.
“Kan tadi minta dibantu, agar kamu bisa menerima aku seutuhnya dan membuat kamu mencintai aku –“
Reiji lanjut bicara.
“Nah, anak kan bisa mempererat ikatan suami istri. Jadi ayuk, kita bikin lagi? ...”
Dimana Reiji tersenyum lebar dan Malia membelalakkan lagi matanya.
"Insya Allah, tiga kali lagi aku kuat ..."
'Mati gue!'
Hati Malia yang merutuk, sekaligus merinding.
***
Bersambung....
__ADS_1