
Selamat membaca....
***
Malia langsung masuk ke dalam kamarnya dan Reiji, setelah Reiji mengendurkan cengkraman tangannya pada lengan Malia.
Mengabaikan sang suami yang memandangi nanar punggungnya saat Malia melangkah tergesa ke dalam kamar.
Serta tanpa berpikir lagi, Malia pun mengunci pintu kamarnya dan Reiji itu tepat setelah ia memasukinya.
Dimana Reiji tetap terdiam di tempatnya selama beberapa saat, meski ia menyadari bahwa Malia telah mengunci pintu kamar mereka dari dalam.
Seolah itu adalah sebuah pemberitahuan dari Malia pada Reiji, bahwasanya Malia tidak ingin Reiji berada didekatnya.
Reiji hanya bisa menghela nafas frustasinya saja, namun tidak berniat untuk menyusul Malia ke kamarnya, karena Reiji pikir Malia pasti sedang ingin sendiri.
Toh Reiji sendiri pun merasa perlu untuk meredam emosinya.
‘Thanks God gue ga sampai kelepasan,’ batin Reiji yang merasa lega. ‘Lia, Lia.... sejak kedatangan lelaki impian kamu itu, kamu berubah banget....’
Menghela nafasnya lagi, lalu Reiji pergi ke pantri apartemen karena ia merasakan perutnya sedikit lapar.
****
MALIA
Dadaku terasa sesak, itu saja yang dapat aku katakan. Dan aku terisak di dalam kamarku dan Reiji. Aku merasa sesak dan kesal disaat yang bersamaan.
Tentang Reiji dan Irsyad kini aku rasa menyesakkan dadaku. Reiji yang adalah suamiku, dan Irsyad yang adalah lelaki yang aku cintai.
Kenyataan tentang Reiji yang kini telah tahu siapa Irsyad, membuatku merasa sedikit kesal pada Avi.
Karena jika memang Avi memberitahukan soal Irsyad pada Reiji, seharusnya dia menanyakan persetujuanku dahulu.
Aku yang ingin mengatakannya pada Reiji, namun aku sedang mencari waktu yang tepat.
Setidaknya disaat hubunganku dan Reiji membaik setelah perseteruan kami. Tidak sekarang, yang malah semakin membuat hubunganku dan Reiji menjadi kian buruk.
****
“Li, lo sama Bang Rei apa kabarnya?....”
“Gue baik. Kakak lo juga baik.”
“Hubungan kalian juga baik, kan?....”
“Maksud lo nanyain hubungan gue dan Rei?”
“Sorry sebelumnya, Li. Bukan gue mau ikut campur ranah pribadi lo terlalu dalam—“
“.......”
“Tapi kan sekarang Irsyad udah balik lagi dalam kehidupan lo?—“
“Terus?”
“Gue kepikiran.”
“Soal?”
“Ya antara lo dan Irsyad..”
“Kenapa dengan gue dan Irsyad?..”
“Dia kan, lelaki impian lo?”
“.......”
“Yang datang lagi setelah lo menikah—“
“.......”
“Dan gue perhatiin kayaknya lo kusut banget sejak Irsyad balik lagi, Li ...”
“Susah ya Vi----“
“.......”
“Satu sisi, lo itu sahabat gue-tempat gue curhat untuk hal apapun ...”
“.......”
“Satu sisi, lo itu juga adik ipar gue.”
“.......”
“Kalopun gue sedang ada masalah sama Rei, apa pantes gue curhat ke elo?”
“Jadi hubungan lo sama Bang Rei lagi bermasalah sekarang?”
“.......”
“.......”
“It’s okay kalo lo ga mau cerita, Li.”
“.......”
“Gue ngerti.”
“.......”
“.......”
“Nantilah Vi, ada saatnya gue cerita sama lo tentang gue dan Rei saat ini.”
“Iya Neng. Gue tungguin lo siap buat cerita sama gue. Tapi yang jelas gue yakin lo sama Bang Rei akan baik-baik aja.”
“.......”
“Btw, Li, lo dah cerita sama Bang Rei soal Irsyad? ...”
“Belum.”
__ADS_1
“Ya udah itu sih hak lo. Yang jelas gue dukung lo selalu, dan lo tahu itu, Li. Dan gue yakin, lo akan mengedepankan akal sehat lo untuk mengambil keputusan dan bertindak –“
**
MALIA
Tapi jika aku mengingat percakapanku dengan Avi kala itu, aku jadi ragu jika Avi yang menceritakan soal Irsyad secara mendetail pada Reiji. Avi yang aku kenal memang tidak akan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan ranah pribadiku, tanpa ia bicara dulu denganku, atau bertanya.
Hanya saja, tidak ada orang lain selain Avi yang tahu persis kisahku dengan Irsyad, meski lewat cerita-ceritaku saja. Aku memang harus bicara dengan Avi untuk meminta penjelasan darinya, serta mungkin menceritakan yang sebenarnya aku alami saat ini.
Dan lagi, aku ingin menanyakan juga soal kalimat Avi yang membuatku ambigu, tentang mengedepankan akal sehat untuk mengambil keputusan dan bertindak. Tapi tunggu dulu ... Apakah maksud Avi itu, tentang aku yang dilema mengambil keputusan dan bertindak dengan Reiji dan Irsyad????? ...
Apa aku akan dihadapkan dengan hal itu?.
Memilih antara Reiji atau Irsyad.
**
“Dengan hanya bertemu seperti ini saja – meski aku tahu kamu sudah menikah, aku sudah merasa bahagia, Lia. Namun aku sungguh berharap dapat lebih berbahagia lagi, jika seandainya kamu menikah denganku --“
“Kak, sejak Kakak pindah ke London, hubungan kita Cuma sebatas chatting. Hanya bertemu sekali, itupun setelah dua tahun Kakak tinggal disana. Lalu setelahnya, Kakak sibuk dengan dunia Kakak, sampai kita benar-benar tak lagi saling berkomunikasi-Oh ralat, Kakak yang tak pernah lagi menghubungiku ----”
“Aku sudah bilang kalau aku kehilangan ponselku kan Lia? ----“
“Oke. Tapi apa setelah kehilangan ponsel Kakak ga beli ponsel yang baru, lalu bertanya padaku lewat chattingan nomor kontak aku lagi? ...”
“.......”
“Oke, forget it. Anggaplah untuk menelepon, aku bisa terima alasan itu. Mungkin biaya telpon yang mahal, sementara Kakak harus struggle disana. Tapi chatting? ... itu ga butuh biaya tambahan selain jaringan internet yang notabene andai pun Kakak ga punya jaringan internet di tempat tinggal Kakak disana-which is ga mungkin ... Kakak masih bisa menggunakan jaringan internet di kampus atau di kantor Kakak kan?”
“.......”
“Terus sekarang tahu-tahu Kakak balik kesini-dan kita baru beberapa kali bertemu, lalu Kakak bicara seperti itu? ... Mengatakan ingin menikah denganku? ----”
“Kamu naif, Lia ...”
“.......”
“Kebersamaan kita saat kuliah ga cukup membuat kamu sadar tentang perasaan aku ya? Bahkan saat aku ga ada jadwal kuliah, aku sering tetap bela-belain dateng kalau kamu ada jadwal kuliah, ajak kamu keluar, aku bahkan gandeng tangan kamu ... Kamu ga peka, Lia ---”
“Kenapa, Kak? ...”
“Kenapa apanya? ...”
“Kenapa Kakak baru mengatakan ini sekarang? ...”
“Karena aku menunggu waktu yang tepat, Lia ... Saat aku sudah merasa pantas untuk memberikan masa depan yang baik buat kamu ---“
“.......”
“Andai kamu tahu Li, aku berpikir keras sebelum aku memutuskan untuk pergi ke London ... Batin aku berperang antara memikirkan masa depan dan meninggalkan kamu disini. Tapi ya itu, aku ingin benar-benar siap saat waktunya telah tiba. Waktu untuk meminta kamu untuk berjalan bersama dengan aku, yang aku pikir jika kamu akan menunggu aku ----“
“.......”
“Tapi ternyata aku terlalu asik dengan dunia aku, sampai aku melupakan jika aku mempunyai seseorang yang aku pikir sedang menungguku. Dan saat aku menyadari itu, aku benar-benar serius mempersiapkan diriku, Lia ----“
“.......”
“Dan saat aku sudah merasa siap, hingga aku tinggalkan karirku di London. Nyatanya ... Akupun naif ... Dengan mengira kamu akan terus menunggu aku.”
“.......”
“.......”
“Hidup bersama orang yang tidak kamu cintai, apa itu tidak menyiksa kamu, Lia? ...”
**
MALIA
Aku dan Irsyad terdiam lama setelah percakapan kami yang sedikit menguras emosi dari getir yang aku dan dia sama-sama rasa. Hatiku rasanya sakit, setelah mendengar penjelasan Irsyad.
Hingga perasaan menyalahkan diriku sendiri, tahu-tahu menelusup ke dalam hatiku.
Berandai-andai ...
Seandainya saja aku berterus terang pada Irsyad mengenai perasaanku padanya dulu,
Seandainya, Irsyad mengutarakan perasaannya padaku sebelum ia pergi ke London-walaupun untuk waktu yang lama,
Mungkin yang bersanding sebagai suamiku adalah dia dan bukan Reiji.
Dan mungkin, aku dan Irsyad sudah hidup berbahagia sebagai suami dan istri saat ini.
Tapi, Irsyad pun tidak bisa disalahkan dalam hal memilih waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya padaku yang tak peka ini.
Sayangnya, dikala Irsyad telah merasa memiliki waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya padaku, justru ia sudah terlambat.
Aku telah menjadi istri seorang Reiji Shakeel. Seorang yang tidak pernah aku inginkan untuk menjadi suamiku, meskipun aku menyayanginya dan aku menerima Reiji sebagai suamiku dengan penuh kesadaran.
Kesadaran, yang rasanya kini mulai aku sesali.
Karena kenyataannya, aku benar-benar menyadari, jika Irsyad masih mendominasi hatiku ini.
Dan laki-laki yang mendominasi hatiku ini, telah datang kembali. Telah juga mengungkapkan perasaannya yang telah aku tunggu sejak lama.
Perasaan yang sama dengan yang aku rasakan padanya.
Jadi, haruskah aku memilih?.
Disatu sisi adalah orang yang aku cintai, dan kini bisa dikatakan, kami saling mencintai.
Disisi lain ada orang yang sudah aku sayangi, dan telah mengaku sudah mencintaiku bahkan sebelum pernikahan kami.
Tapi aku tidak mencintainya.
Namun begitu, Reiji tak bisa aku tepiskan begitu saja.
Sedari dulu aku menghormatinya.
Bahkan sering aku membiarkan saja Reiji melempar pendapatnya padaku, dan memang terkadang apa yang disampaikannya adalah benar.
Disela air mata tak deras yang turun ke pipiku, aku melirik pintu kamarku dan Reiji yang aku kunci dari dalam.
__ADS_1
Aku baru menyadari, jika Reiji tak mengejarku, atau tidak mengetuk pintu dan memaksa aku membukanya.
Mungkin Reiji marah.
Makanya ia enggan membujukku.
Apalagi dalam situasi sekarang ini, memang aku yang salah.
Aku memilih untuk menghabiskan waktu dengan lelaki lain, bukan dengan Reiji, dan Reiji mengetahuinya.
Aku kagum pada kesabaran Reiji – Yah, meskipun tadi aku menangkap ekspresi geram di wajah Reiji saat aku menantangnya dengan mengatakan jika memang aku lebih peduli pada Irsyad lalu Reiji mau apa.
Namun begitu, Reji nampak mengontrol emosinya untuk tidak sampai berlaku lebih kasar padaku, baik lewat perbuatan ataupun ucapan. Meski ia menatap tajam padaku, yang tadi juga menatap tajam padanya, namun Reiji tetap bergeming di tempatnya.
Dan Reiji yang tidak mengejarku ini, mungkin sedang menenangkan dirinya, meredamkan emosinya padaku, entah dengan apa dan bagaimana.
Haahh memang apa yang aku harapkan?.
Aku jelas sudah mengecewakan Reiji, jadi tak seharusnya aku berharap dia akan membaikiku apalagi merayuku seperti sebelum kisruh masa lalu mengganggu hubungan kami.
Terlebih dengan kehadiran Irsyad dan tudingan Reiji padaku yang berselingkuh dengan lelaki dari masa laluku itu. Untuk itu, Reiji mungkin sudah ilfeel padaku sekarang.
Jadi Reiji membiarkan saja aku yang masuk ke kamar kami, dan masa bodoh walau aku mengunci pintunya.
Mungkin, Reiji sekarang sudah muak melihat wajahku.
Ya, mungkin saja begitu.
Aku yang sebelumnya merasa terganggu dengan perasaan masa lalu Reiji pada Shirly, dan begitu berapi – api mempermasalahkannya, tapi kini malah aku yang terjerat kembali oleh masa laluku.
Aku yang telah mengubur kisah masa laluku, nyatanya saat subjek masa laluku itu datang kembali – aku tak kuasa menolak ajakannya. Bahkan hatiku membuncah senang setiap kali aku bertemu dengan Irsyad.
Nyatanya tekadku untuk melupakan Irsyad dan membuang jauh – jauh segala tentangnya dari hatiku hanya sebuah kesemuan.
Dan aku mengingkari janji yang kubuat sendiri, bahkan aku telah cetuskan pada Reiji untuk menjadi istri yang baik baginya. Aku begitu mempermasalahkan Reiji yang masih berhubungan baik dengan Shirly, sementara aku sendiri? ...
Aku merasakan bahagia saat bersama Irsyad. Dan kedatangannya kembali seolah membuatku sedang membalas dendam atas kebahagiaanku yang hilang, serta pada waktu dan keadaan yang memisahkanku dengannya.
Meski entah bagaimana ujungnya nanti-aku pun masih sulit untuk membayangkan, belum penuh dapat mengambil keputusan.
Sungguh, aku terkadang tidak mengerti pada diriku sendiri.
Saat bersama Irsyad, aku tak mau memikirkan Reiji, bahkan apapun konsekuensi dari aku yang bertemu Irsyad dengan intens. Tapi setelah melihat Reiji, aku langsung dilanda perasaan bersalah padanya.
Malu hati – mungkin.
Karena aku sadar aku telah mengingkari janjiku untuk menjadi istri yang baik bagi Reiji , yang waktu itu, dengan percaya dirinya aku cetuskan sendiri.
Tapi kemudian egoku sudah mendominasi lagi saat ini.
Aku telah berhenti merenung dan terisak.
Telah berganti pakaian dan membersihkan wajah, walau hanya dengan make – up remover.
Enggan untuk pergi ke kamar mandi, yang mana aku harus keluar kamar.
Masih enggan bertemu Reiji, entah antara aku kesal atau aku yang memang pengecut.
Entahlah, pikiranku rasanya semrawut.
Namun saat aku sudah siap untuk tidur, ponselku berbunyi, tanda notifikasi pesan masuk yang mana langsung aku raih ponselku itu dan mengecek pesan yang barusan masuk itu.
Sudut bibirku tertarik, dan kesal berikut sesak yang rasakan tadi, terasa menguap saat aku mendapatkan pesan dari Irsyad. Selain pesan selamat beristirahat, dua foto yang Irsyad kirimkan padaku-dimana satu foto yang menangkap gambar kami berdua.
Bukan pose mesra, tapi hatiku menghangat melihatnya. Aku mencintai Irsyad, dan Irsyad pun mencintaiku, walau entah kemana nanti hubungan kami bermuara. Aku seharusnya bahagia, karena kekosongan hatiku yang dingin seolah telah terisi dengan kehangatan kembali dengan kehadiran Irsyad dan kebersamaan kami dalam pertemuan-pertemuan yang intens kami lakukan sejak Irsyad kembali ke Jakarta.
Namun begitu, kenapa ada rasa kehilangan saat melihat ruang kosong di sebelahku, pada tempat tidurku dan Reiji?.
**
Hari sudah terang kala Malia membuka matanya, dan terjaga dari tidurnya.
“Kelewat subuh gue ...” gumam Malia, yang bangun tanpa kepanikan, walau ia menyadari jika hari telah terang benderang.
Malia ingat ini hari minggu, karena sabtu kemarin ia menghabiskan waktu dengan Irsyad.
Malia hendak beringsut dari ranjang, namun sebelumnya, entah refleks atau bagaimana, Malia segera menengok ke sisi ranjang di bagian Reiji biasa tidur.
Kosong.
Dan setelahnya, Malia mengingat perseteruannya dengan Reiji semalam.
Lalu Malia juga menyadari jika ia mengunci rapat pintu kamarnya dan Reiji.
Malia merasa masih enggan untuk keluar kamarnya.
Tapi selain perutnya yang ia rasakan kelaparan, Malia juga memikirkan Reiji.
Kepikiran, apakah Reiji ada jadwal terbang hari ini dan itu membuat Malia buru – buru meraih ponselnya untuk melihat jadwal kerja Reiji, yang diberikan suaminya itu padanya.
“Untung sore jadwalnya....” Malia menggumam lega.
Malia ingin bertahan di dalam kamar, tapi perutnya terasa keroncongan.
Jadi, meski setengah hati, Malia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, lalu keluar untuk mencuci mukanya, kemudian sarapan, yang belum dia pikirkan akan sarapan dengan apa.
‘Apa Rei tidur di ruang baca?....’
Malia membatin saat ia tak melihat Reiji yang ia pikir tertidur di sofa di ruang tamu apartemen mereka.
Penasaran, Malia mengendik ke arah ruang baca, dan Reiji tidak ada juga disana.
Pantri pun rasanya sunyi dan pintu balkon masih tertutup rapat. Jadi Malia yakin Reiji pun tidak ada di dua tempat tersebut.
‘Apa semalam, Rei pergi dan ga pulang?....’
**
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejak.
LIKE, jika berkenan.
__ADS_1
Thank you, and salam enjoy selalu.