
Selamat membaca ..
......................
"Malam ini gue ga mau tidur seranjang sama lo--"
"Yang ...." tukas Reiji sambil menahan lengan Malia yang baru saja keluar dari kamar mandi, lalu melengos acuh tak acuh padanya.
Malia mengabaikan panggilan Reiji barusan.
"Aku akan tidur di sofa."
Lalu Reiji kembali berkata.
"Kalau kamu ga ngebolehin aku tidur di kamar kita pun aku terima."
Dengan Reiji yang masih memegangi lengan Malia dimana istrinya itu masih saja bersikap acuh padanya.
"Asal dengerin dulu aku ngomong--"
"Gue ngantuk."
Malia menukas ucapan Reiji dengan sikap acuh tak acuhnya yang masih nampak jelas pada suaminya itu.
"Maaf...."
Lalu Reiji yang mendapat tanggapan dingin dari Malia itu kemudian langsung menarik tubuh Malia dan mendekapnya erat.
Seolah takut Malia berontak karena keberatan jika Malia dipeluknya, Reiji memanglah mendekap Malia dengan eratnya.
Namun kekhawatiran Reiji atas penolakan Malia yang mungkin akan meronta karena masih kesal dan enggan untuk ia peluk, nyatanya tidak terjadi.
Hanya saja, meski Malia tidak meronta ataupun menunjukkan kekesalan dengan emosi pada Reiji, namun Malia juga tidak membalas pelukan Reiji padanya itu.
Malia diam saja.
Reiji pun kian tak tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf kalau kiranya reaksi aku berlebihan soal perkataan kamu tentang Irly tadi, Yang--"
"Seperti kamu yang muak mendengar nama Irsyad, sekarang aku juga sama.... aku muak mendengar kamu menyebut nama sa-ha-bat perempuan kamu itu--"
"Oke. Aku ga akan sebut namanya lagi di depan kamu, ga akan bahas soal dia lagi di depan kamu--"
"Ga usah berhubungan dengan dia lagi juga...."
Malia mengurai pelukan Reiji padanya.
__ADS_1
"Bisa?--"
"Bisa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malia menatap lekat manik mata Reiji setelah suaminya itu menjawab cepat pertanyaannya Malia yang berupa permintaan itu.
Reiji pun sama menatap Malia yang ekspresinya nampak datar menatap padanya. "Ta--"
"Yakin bisa?...." tanya Malia bersamaan ketika Reiji ingin mengatakan sesuatu padanya.
Reiji mengangguk. "Yakin," jawab Reiji yang sekali lagi menjawab dengan cepat ucapan Malia.
Bukan apa. Reiji mengingat emosi Malia yang tersulut ketika dirinya seolah membela Shirly----padahal sama sekali bukan seperti itu.
Reiji hanya mencoba memberikan penjelasan bagaimana pribadi sahabat perempuannya itu pada Malia, yang sama sekali jauh berbeda dengan tudingan Malia.
Namun Malia memberikan penolakan dengan keras dan cepat dengan sikapnya, sekaligus kalimat nyelekit yang tadi Malia tujukan ada Reiji itu sungguh mengganggu perasaan Reiji.
Makanya sekarang ini, setelah tadi Malia sempat hengkang dari hadapan Reiji dengan emosi yang nampak pada ucapan dan sikapnya----Reiji tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Dimana keharmonisan rumah tangganya dan Malia terusik.
Jadi untuk itu Reiji mengiyakan dengan cepat pertanyaan yang berupa ucapan sekaligus permintaan dari Malia soal Shirly padanya.
Agar hubungannya dengan Malia tidak runyam hanya karena praduga Malia yang sulit untuk Reiji patahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malia menjadi prioritas seorang Reiji Shakeel sejak mereka menikah.
Namun bukan hanya sekedar rasa tanggung jawab Reiji pada Malia hingga Reiji memprioritaskan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Reiji mencintai Malia dengan segenap jiwa raganya. Sudah berjanji akan memberikan kenyamanan dan akan melakukan apapun untuk membahagiakan Malia.
Meski permintaan Malia sedikit berat untuknya.
Memutuskan tali persahabatannya dengan Shirly secara tiba-tiba tanpa angin dan hujan, karena rasanya persahabatan yang ia jalin dengan Shirly memang Reiji rasa fine-fine aja.
Persahabatan yang sehat, karena di mata Reiji, Shirly memanglah wanita baik-baik secara kepribadian. Dan selama ini baik Reiji dan sahabat laki-lakinya yang lain sudah begitu kompak dan saling mendukung dengan Shirly.
Bahkan Shirly sering memotivasi Reiji dan tiga sahabat lelaki mereka yang lain.
Tapi persahabatan yang baik-baik saja itu harus diakhiri karena permintaan istri yang merasa insecure dengan keberadaan seorang sahabat perempuan dalam hidupnya, Reiji dilema.
Merasa jahat pada Shirly yang Reiji pedulikan, jika seandainya Malia tetap kukuh dengan permintaannya agar Reiji menjauhi Shirly.
Bahkan jika menelaah ucapan Malia yang baru saja dicetus oleh istrinya itu, kata-kata Malia bermakna jika Reiji harus memutuskan hubungan dengan Shirly.
__ADS_1
Benar-benar tidak lagi melakukan kontak dalam bentuk apapun dengan Shirly, bahkan sekedar saling bertanya kabar pun ada kemungkinan tidak diperbolehkan oleh Malia.
Jika Reiji boleh jujur, hal itu berat untuk Reiji lakukan sebenarnya. Tapi jika itu sudah menjadi permintaan mutlak Malia, ya sudah Reiji pasrah. Akan Reiji wujudkan permintaan Malia untuk tidak bersahabat lagi dengan Shirly atau bahkan lebih di atas itu.
Demi Malia, istri yang Reiji cintai sepenuhnya.
Namun sekali lagi, Reiji butuh waktu. Waktu untuk memikirkan bagaimana caranya dia membahas ini dengan Shirly.
"Terpaksa?--"
"Terpaksa sih engga...."
"....."
"Tapi ada sedikit pertimbangan untuk itu, Yang."
Reiji berkata dengan hati-hati pada Malia.
"Hubungan persahabatan aku dan Ir----dia.... selama ini baik-baik aja--"
"Oke...."
Malia memutus kalimat Reiji.
"Yang...."
Reiji menahan lengan Malia yang sudah melengos untuk hengkang dari hadapannya.
"Banyak pertimbangan kan?...." ucap Malia dengan tersenyum masam pada Reiji. "Ya udah timbang-timbang aja dulu."
"Yang, bisa ga kita bicara tanpa melibatkan emosi kamu? Jangan berpikir negatif dulu kalau aku menyinggung tentang Ir----dia. Kalau memang mau kamu aku berhenti bersahabat dengan dia, akan aku lakukan permintaan kamu itu, Yang. But At least, sebelum kamu menilai seperti apa dia, kamu kenal dulu sama Ir----"
"Sorry, ga ada waktu dan ga tertarik mengenal sahabat kebanggaan kamu itu...." tukas Malia.
Tenang saja nada suara Malia memang, tapi sikap dan ekspresi Malia beragam maknanya----nampak enggan bercampur jengah. Selain remeh dan sinis.
"Ini yang terakhir kita bicara soal dia. Silahkan saja kalau mau meneruskan persahabatan kamu dengan dia, aku ga akan ikut campur...."
"Harus...." pungkas Reiji yang menahan lagi langkah Malia dengan memeluk istrinya itu erat dari arah belakang. "Kamu harus ikut campur, Yang...."
Malia sekali lagi diam tak meronta. Membiarkan saja Reiji memeluknya seperti itu.
"Seperti yang kamu bilang, kita akhiri pembicaraan tentang hal ini."
Lalu Reiji lanjut bicara.
"Aku akan memutuskan hubungan persahabatan aku dengan Irly."
...----------------...
__ADS_1
To be continue ..