WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 213


__ADS_3

Selamat membaca....


*************************


REIJI


"Ini yang terakhir kita bicara soal dia. Silahkan saja kalau mau meneruskan persahabatan kamu dengan dia, aku ga akan ikut campur...."


Ucapan Malia yang membuat aku jadi urung untuk mengajak Malia bicara soal bagaimana Irly sebenarnya.


"Harus...." pungkasku pada akhirnya.


Sambil aku menahan langkah Malia yang ingin menjauhiku setelah ia melengos, dengan memeluknya dari belakang.


"Kamu harus ikut campur, Yang...."


Lia tidak memberikan penolakan atas pelukanku padanya itu.


Namun tak ada balasan pelukan ataupun ucapan dari mulut Lia.


"Seperti yang kamu bilang, kita akhiri pembicaraan tentang hal ini," Aku menyerah. "Aku akan memutuskan hubungan persahabatan aku dengan Irly."


---


Terkadang, ada hal yang memang harus dikorbankan untuk membuat satu hal lain berjalan seperti yang kita inginkan.


Seperti itu kiranya yang aku lakukan sekarang.


Aku dihadapkan pada dua pilihan.


Antara persahabatan dan keharmonisan rumah tangga.


Antara seseorang yang aku pedulikan dan punya jasa untukku, dan antara seseorang yang aku cintai.


Istriku, wanita yang aku inginkan untuk hidup menua bersama hingga ajal memisahkan. Dan untuknya, aku akan memutuskan hubungan persahabatanku dengan Irly sesuai permintaan Lia.


“Jangan kayak begini lagi ya?” pintaku pada Lia yang sudah kubalikkan badannya.


Dimana kami sudah saling berhadapan kini. Dengan aku tersenyum pada Lia, dan berkata lembut sambil menangkup wajahnya.


“Aku minta maaf, jika ada perkataan aku tadi yang menyinggung atau bikin kamu merasa kesal.”


Kembali aku bicara, dengan menatap sungguh-sungguh pada Lia yang juga sedang menatapku. Diam, namun matanya tak lagi nampak emosi.


Sedikit banyak aku merasa lega sekarang.


✳✳✳


“Maafin aku, please?.... Maaf kalau mungkin sampai detik ini, aku masih ada kekurangan untuk memahami kamu,” tutur Reiji dengan kedua tangannya yang masih menangkup wajah Malia. “Tapi kalau bisa aku mohon, jangan lagi seperti tadi. Maaf, tapi kasih tau aku baik-baik kan bisa. Bagaimana kamu maunya aku bersikap—“


“Aku udah minta dengan baik-baik untuk memutuskan persahabatan kamu dengan si bibit pelakor itu, tapi kamu kekeh berupaya mempertahankan dia sebagai sahabat kamu.... Lupa?.... Soalnya aku inget, karena masih anget saat kamu meninggikan suara kamu ke aku gara-gara dia.”


Baru Malia bersuara, menukas ucapan Reiji dengan menatap lekat suaminya itu dengan sorot mata yang tidak lagi diselimuti emosi, namun ada sedikit penekanan dalam kalimat yang barusan Malia suarakan. Membuat Reiji berkesah berat dalam hatinya, namun senyuman ia tunjukkan pada Malia.


“Iya, aku inget. Dan sekali lagi aku minta maaf, untuk yang satu itu dan untuk ucapan atau sikap aku lainnya ke kamu tadi....” ucap Reiji kemudian.


Malia belum lagi berkomentar.


“Maafin, please?.... janji ga akan terulang lagi. Ga akan aku belain orang lain lagi di depan kamu.”


“..........”

__ADS_1


“Karena aku sadar, buat sampai dititik ini sama kamu, berat banget perjuangan aku supaya kamu bisa bener-bener menerima aku dalam hidup kamu, sebagai suami kamu.... terlebih bisa membuat kamu cinta sama aku....”


Reiji masih mendominasi pembicaraan.


“Makanya aku bilang sama kamu sekarang. Kalau apapun yang kamu minta dari aku, Insya Allah akan aku sanggupi....”


Reiji masih bicara, dan Malia kini hanya terdiam memperhatikan serta mendengarkan suaminya itu mengatakan apa yang ingin Reiji katakan.


“Sekali lagi aku minta maaf. Janji, ga akan aku ulangi lagi, dan kamu, please.... jangan begini lagi....”


✳✳✳


“Ngomong dong Yang,” tutur Reiji memelas. “Dan maafin aku.... ya, oke?—“


“Maksa....” tukas Malia dan Reiji mendengus geli.


“Bukan maksa, tapi usaha,” timpal Reiji sambil menggoyang pelan wajah Malia yang masih dalam tangkupan tangannya itu. “Supaya aku ga sampai mengalami sindrom suami yang stres karena di musuhin istri tercinta.”


Malia pun mengulum senyuman.


“Lebay!....” celetuk Malia.


“Biarin.”


“Ya udah awas.”


“Jawab dulu pertanyaan aku.”


Reiji menyambar pelan kedua tangan Malia, yang tadi menurunkan kedua tangan Reiji hingga tak lagi menangkup wajah istrinya itu.


Malia sedikit mengernyit. “Pertanyaan yang mana?” tanyanya kemudian.


“Aku dimaafin kan?—“


Malia balik bertanya.


“Manja-manjaan lagi?”


✳✳✳


REIJI


Semua hal tentang aku yang menjauhi Irly atas permintaan Lia telah aku lakukan.


Aku tidak sampai menghapus nomor kontak Irly dari ponselku, atau bahkan membloknya.


“Irly -- sang sahabat sejati nelfon tuh!”


Celetukan Lia pada satu saat ketika aku dan dia sedang berada di apartemen kami pada waktu yang sama, ketika Irly menghubungiku.


Tapi nama Irly aku ganti dengan nama aslinya di kontak ponselku karena celetukan Lia itu. Irly yang tadinya tertulis namanya seperti bagaimana aku dan tiga sahabat lelakiku yang lain memanggilnya selama ini, aku ganti dengan nama depannya.


‘Shirly’.


Setelah itu, tidak ada lagi celetukan-celetukan nyinyir dari Lia yang sejak kejadian beberapa waktu lalu hingga ia sampai sempat sangat kesal padaku juga pada Irly, setelah aku mengganti nama ‘Irly’di kontak ponselku menjadi nama depannya Irly.


---


Perempuan....


Perihal nama seseorang di ponsel saja bisa jadi perkara.

__ADS_1


Entah semua perempuan atau semua istri seperti Lia yang mempermasalahkan penulisan nama dari perempuan lain di ponsel pasangan mereka, atau hanya Lia saja?....


“Rei, ngerti cara mengalihkan panggilan telefon yang masuk ke handphone kita ke nomor lain?....” tanya Lia padaku. Dan aku mengangguk, mengiyakan.


Karena memang aku tahu caranya.


“Kalo gitu, nih....”


Lia menyodorkan ponselku yang sedari tadi ia pegang dengan alasan ‘mau lihat-lihat aja’.


“Udah selesai liat-liatnya?”


Aku menoleh seraya menerima ponselku dari tangan Lia, saat aku selesai menyesap kopi hitam dari cangkir yang aku pegang dengan tangan yang lain.


“Sorry, tangan kiri....” ucapku kebiasaan, jika aku menerima sesuatu di tangan yang tidak seharusnya.


“Iya.”


Sahutan Lia sambil ia yang duduk di sampingku itu melipat kakinya dan menghadapkan dirinya padaku.


Dimana di detik berikutnya Lia menggerakkan kepalanya seperti memberi kode, yang aku tidak pahami maksudnya.


Hingga aku sedikit mengernyit. “Apa?” tanyaku kemudian. “Ada pesan masuk?—“


“Bukan....”


Lia menjawab seraya menggeleng.


“Coba itu yang aku bilang tadi—“


“Yang mana?—“


“Soal mengalihkan panggilan telepon ke nomor lain.”


Lia yang menukas pertanyaanku itu lantas berujar.


Aku berdehem samar, sambil lagi menyesap kopi hitam buatan Lia itu. Dimana setelahnya Lia kembali berujar, “Ya udah kamu setting coba...”


Di detik dimana aku langsung tersedak kopi buatan Lia setelah ia melanjutkan kalimatnya.


“Setting handphone kamu supaya setiap panggilan yang masuk ke nomor kamu dialihkan ke nomor aku, karena aku mau antisipasi telfonnya si bibit pelakor itu...”


Oh ya ampun....


Istri yang cemburu itu sungguh luar biasa!


Ada aja permintaannya.


Ya Tuhan, aku tarik kembali permintaanku tentang ingin dicemburui Lia saking ingin yakin kalau dia memang sudah benar-benar mencintaiku kalau ternyata separah ini kecemburuannya – meski hanya pada satu perempuan lain saja.


“Sampe batuk segala?.... ga rela?.... jangan-jangan di depan aku aja telpon itu Miss – Irly dan chatnya ga kamu angkat dan ga kamu bales?....”


Astaga dragon.... astaga dragon....


✳✳✳


Bersambung.......


Makasih untuk kalian yang masih setia nungguin update karya ini, yang slow banget beberapa hari ke belakang.


Harap maklum, karena otornya baru selesai ngurusin adek yang nikahan.

__ADS_1


Salam sayang,


Emaknya Queen.


__ADS_2