WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 268


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


MALIA


Aku hanya berniat untuk bergegas mandi saat aku memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar penthouse tempatku berada ini, selepas Rei melangkahkan kakinya untuk keluar kamar guna menanyakan tas bed cover yang aku yakini terjejaki oleh bekas percintaanku dan Rei. Namun saat melihat dua potong pakaian Rei yang terlipat di sudut wastafel, aku berniat membawa pakaian Rei itu keluar dari kamar mandi.


Lalu aku satukan dengan pakaianku yang akan kami bawa ke Jakarta untuk dicuci sendiri, berikut bed cover kamar penthouse milik salah seorang bosnya Rei ini atas dasar ketidak - enakanku meninggalkan bed cover tersebut dalam kondisi yang seperti itu, terjejaki oleh bekas percintaanku dan Rei. Sekaligus aku rasanya malu pada pengurus penthouse jika merapihkannya nanti.


Karena pasti, dia akan mengetahui kelakuan mesumku dan Rei di ranjang majikannya itu. Yang aku takutkan ia sampaikan pada si empunya kamar.


Kan tidak enak jadinya? ...



Kembali ke niatanku sebelumnya.


Aku yang hendak membereskan sekaligus memindahkan pakaian bekas pakai Rei itu, melihat ponsel Rei yang tergeletak di atas pakaiannya itu.


Aku ingat Rei meletakkannya di sana, saat aku sedang mencurigainya sebelum kami turun makan dan aku berkenalan dengan Ammar --- dimana sebelumnya Rei telah menenangkanku terlebih dahulu.


Lalu melihat ponsel Rei itu, aku jadi ingat Rei yang sempat bilang kalau dia telah menyambangi rumah orang tuaku dan mereka tahu tentang aku yang tiba – tiba menghilang dua hari lalu, dan aku berpikir untuk menggunakan ponsel Rei itu untuk menghubungi mereka.


Karena aku mengingat ponselku yang aku rasa tidak ada di dalam tas kerjaku yang tadi aku terima dari salah satu orangnya Ammar. Yang mana seingatku, Irsyad mengatakan secara tidak langsung jika ponselku itu telah ia singkirkan. Entah dia buang atau dihancurkan. Yang mana aku sih berhatap ponselku itu dihancurkan saja oleh Irsyad, agar tidak ada resiko ada orang yang menemukannya jika Irsyad membuang ponselku tersebut, lalu segala hal di dalamnya disalah gunakan.


Namun apapun yang Irsyad lakukan pada ponselku, aku harus cepat – cepat mengurus segala yang berkaitan dengan ponselku yang isinya banyak hal penting dan sensitif itu, yang berkaitan dengan hal – hal pribadi dan finansial juga --- saat aku tiba di Jakarta nanti.


Huh!


Aku jadi merasakan kekesalanku lagi pada Irsyad yang kurang lebih dua hari terakhir ini amat sangat menyulitkanku. Dan aku lebih baik tidak lagi memikirkan dia, ataupun merasa kasihan dan sekedar prihatin pada Irsyad yang aku rasa sudah diserahkan oleh Ammar kepada pihak yang berwajib.


Atau jika ingat ucapan Ammar yang sempat membuatku agak bergidik --- Irsyad sudah berada dalam tawanan pribadinya itu keluarga super sultan yang katanya punya tempat khusus untuk orang – orang yang pernah berusaha jahat pada mereka.


Tapi aku sih berpikir itu hanya sebuah guyonannya Ammar saja, karena rasanya keluarga macam itu hanya ada di film – film atau di novel – novel mafia saja.



Lupakan tentang Irsyad, kini aku telah meraih ponsel Rei yang masih dalam keadaan aktif itu --- ingin menghubungi rumah orang tuaku dan membuat mereka merasa tenang setelah mendengar suaraku. Serta mengatakan jika diriku sudah baik – baik saja.


Namun, niatanku itu terjeda ketika aku melihat sebuah pesan baru dari sebuah nomor yang tak dikenal. Tapi aku tahu identitas pengirimnya dari pesan yang ia kirimkan sebelumnya ke nomor ponsel Rei tersebut, yang mana itu adalah nomor barunya si bibit pelakor bertopeng sahabat bernama Irly.


Ji, please. Sebentar aja tolong telepon. Argan nanyain lo terus.



Tadinya, aku setelah melihat ada balon notifikasi dari nomor barunya si bibit pelakor itu, aku yang memang sudah berpikir sebelumnya --- ingin memblok nomor baru si bibit pelakor itu, dan akan aku lakukan lagi hal itu jika dia mengirimkan Rei pesan chat dengan nomor baru lagi --- pokoknya akan aku cut aksesnya untuk menghubungi Rei bagaimanapun caranya, dan aku rasa Rei tidak akan keberatan untuk itu.

__ADS_1


Kan Rei juga sudah memblok nomor si bibit pelakor yang sebelumnya juga?


Jadi kalau nomor barunya si Irly ini aku blok lagi, pastinya Rei tidak akan mempermasalahkannya.



Aku yang sudah bulat berniat untuk memblok nomor baru si bibit pelakor itu mau tidak mau harus membuka ruang chat pribadinya dan Rei di ponsel suamiku itu.


Yang mana setelah aku ruang chat pribadi tersebut itu terbuka, aku tidak langsung memblok nomor si Irly karena ada pesan baru darinya yang penasaran ingin aku baca.


Dan membuatku langsung berdecih sinis saja membaca chat di baris pertama pesan barunya si bibit pelakor bertopeng sahabat itu. Anak dipake buat alibi godain suami orang. Sinisku dalam hati. Bertambah saja ketidaksukaanku pada perempuan itu sekarang, karena sikapnya mulai aku rasa berbeda dari cerita Rei padaku tentang itu si bibit pelakor.



Awal pertama aku melihatnya di resepsi pernikahanku dan Rei, tidak ada yang menonjol dari si bibit pelakor bertopeng sahabat bernama Irly itu.


Bahkan sejak aku pedekate dengan Rei, tidak ada gangguan darinya. Karena memang aku tidak pernah mendapati Rei menerima panggilan telepon dari si bibit pelakor tersebut.


Sampai aku tahu cerita tentang Rei yang pernah mencintainya, dan itu mengusikku, meski kemudian Irsyad muncul dalam hidupku. Membuatku galau sekaligus gamang. Hingga Rei yang membawa sisa kenangannya itu membuatku sering menghabiskan waktu dengan Irsyad.


Selain karena aku merasa masih mencintai Irsyad, itupun sebagai bentuk protesku yang tidak terima tentang Rei yang membawa sisa kenangannya bersama si bibit pelakor bertopeng sahabat itu ke dalam kehidupan kami yang baru.


Dan seiring waktu aku memang tidak pernah sreg dengan si Irly itu, walau Rei seringkali mengajakku ikut berkumpul dengan para sahabatnya untuk lebih memperkenalkan sahabat perempuannya itu padaku. Namun tak pernah aku iyakan.



Rei mulai membohongiku saat berkaitan dengan anak lelaki si Irly yang baru beberapa hari lalu aku tahu jika wanita itu sudah mempunyai anak. Yang sempat aku curigai jika itu adalah anak perempuan itu dan Rei karena anak tersebut begitu akrab sekali dengan Rei saat aku memergoki Rei ada di apartemen sahabat perempuannya itu.


Lalu, anak itu memanggil Rei dengan sebutan Papi.


Dan jujur, itu membuatku sangat tidak senang --- atas dasar panggilan itu sudah aku rencanakan untuk aku bahasakan pada anakku dan Rei nanti, jika program kehamilanku berhasil.


Mami dan Papi. Sebutan itu yang ingin aku miliki dari anak kami padaku dan Rei.


Tapi sudah keduluan oleh anak orang lain. Dan untuk itu, aku memiliki kekecewaanku sendiri.


Ditambah, jika aku ingat lagi kejadian saat aku memergoki Rei berada di apartemen si Irly itu sekaligus Rei berbohong padaku --- meski yah, mungkin aku yang salah --- Rei sempat membentakku karena anak itu. Termasuk, membentakku karena berlaku amat kasar pada si bibit pelakor bertopeng sahabat itu.


Belum lagi bunga dan coklat yang Rei berikan pada dia.


Entah sudah seberapa sering Rei memberikan hadiah pada si Irly itu.


Hhhhh ...


Jadi berkumpul lagi kekesalanku sekarang.


Tak sabar rasanya ingin aku luapkan. Tapi sayang harus aku tahan, karena mempertimbangkan Rei yang sudah menyelamatkanku dari Irsyad.

__ADS_1


Selain aku sedang tidak berada di tempat tinggalku dan Rei. Dan ada orang lain bersama kami di tempat kami berada ini, yang mana membuatku berpikir ulang jika aku memicu adu mulut dengan Rei.


Meski mungkin Rei tidak akan menanggapiku dengan emosi.


Atas dasar dia pasti sadar jika dirinya salah.


Walau juga sedikit banyak aku memiliki kesalahanku sendiri terkait si bibit pelakor itu.


Karena --- mungkin dari awal aku sudah cemburu padanya, jadi aku begitu antipati pada Irly dan semua tentangnya.


Maka aku tidak memiliki informasi banyak tentang perempuan itu, dan sejauh mana Rei memperhatikan dia dan anak lelakinya --- yang Rei sempat katakan, jika dia begitu bersimpati pada anak lelakinya si Irly itu.


Simpati yang teramat besar, yang aku rasa tidak hanya pada anak lelaki si bibit pelakor tersebut. Tapi juga pada ibunya. Walau sekarang, Rei telah lebih dulu benar – benar memutus komunikasi dengan perempuan itu dengan memblok nomornya.


Namun belum lama, Irly coba membangun komunikasi lagi dengan Rei menggunakan nomor ponsel yang baru. Yang membawaku mengetahui beberapa hal finansial yang disembunyikan Rei dariku selama ini.




Reiji dan Malia kini sudah berada di apartemen mereka.


“Besok, kamu ga perlu kerja dulu,Yang. Aku udah telfon Andra dan cerita garis besarnya atas apa yang udah menimpa kamu. Dan Andra bilang ke aku, kalau kamu silahkan aja ambil cuti selama yang kamu mau.”


Reiji yang berujar.


“Ya.”


Begitu saja Malia menyahut.


Sedikit membuat Reiji heran. Namun Reiji berpikir jika Malia mungkin sedang mengingat kejadian tidak mengenakkan yang belum lama menimpa istrinya itu.


“Makan dulu yuk? ...”


Reiji lalu mengajak Malia yang sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan.


“Baru abis itu kamu istirahat lagi,” sambung Reiji. “Tapi nanti habis makan aku mau keluar sebentar –“


“Mau ngunjungin anak laki – lakinya si Irly sekaligus mau nambahin uang buat dia atau mungkin buat ibunya? –“


“Maksud kamu? --“


“Ga ada hubungan spesial ... tapi setiap bulan rajin kasih uang sama janda satu anak yang katanya sahabat itu terus bulat kasih 300 juta. Sekarang mau keluar ... mau kasih uang buat beli rumah? –“


❇❇❇


❇❇❇

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2