
Selamat membaca...
Terima kasih masih setia.
***
MALIA
Aku sungguh merasa lega, karena Rei dapat mempercayai semua perkataanku dalam menjelaskan kejanggalan pada foto-foto yang diberikan Irsyad secara langsung pada Rei. Itu yang Rei katakan padaku, bahwasanya Irsyad menemuinya saat pagi tadi sepulang Rei mengantarku ke kantor.
Dan aku percaya perkataan Rei akan hal itu. Karena Rei tidak mungkin bohong. Kecuali dia sedang ingin mengerjai, atau memberi kejutan kecil untukku. Maka akan ada kebohongan sangat kecil yang akan dia akui dengan sendirinya atas dasar dua hal tersebut, yang akan aku tepiskan perihal kebohongan yang Rei lakukan untuk menyenangkanku.
“Aku percaya kamu, Yang ..”
Rasanya satu kalimat itu sudah cukup bagiku, ketika Rei mengatakannya.
“Makasih, Rei ..”
Dan tentunya aku sangat berterima kasih pada Rei untuk itu.
“I love you ----“
Rei berkata mesra kemudian sambil ia tetap mendekapku, lalu mencium pucuk kepalaku.
Demi Tuhan aku tidak akan berhenti mensyukuri betapa beruntungnya aku memiliki suami yang mencintai dan mempercayaiku seperti Rei. Dan betapa menyesalnya aku telah pernah mengecewakannya, meski tidak sampai ke tahap selingkuh.
“Love you too, Rei ..” Dan aku pun tak mungkin segan untuk membalas kalimat mesranya Rei padaku barusan, dengan tak kalah mesra. Selain bahagia.
Namun kemudian aku melonggarkan dekapanku pada Rei, kala aku dengar dia berucap, “Aku harus buat perhitungan dengan dia karena sudah berusaha mengganggu kita dengan membuat fitnah atas kamu.“
Membuatku sedikit bergidik karena melihat wajah serius Rei yang seperti sedang menahan geram itu.
“Mendingan kamu ga usah tanggepin dia deh Rei, buang waktu.”
Aku menyergah Rei yang nampaknya punya rencana untuk mencari Irsyad jika ditelaah dari ucapannya tadi.
Rei langsung berdecak kecil selepas aku menyergahnya barusan. “Tuman, Yang. Dengan dia ngelakuin ini, berarti dia punya niat buruk sama hubungan kita kan? ----“
“Iya sih,” tukasku.
Benar juga yang Rei bilang barusan.
“Tapi yang penting kamunya percaya sama aku, Rei. Jadi ga perlu deh nanggepin dia.”
Aku dengar Rei menghela nafasnya dengan sedikit berat, seolah tidak puas kalau tidak jadi membuat perhitungan dengan Irsyad.
“Ya udah sana, kamu mandi dulu. Biar aku aja yang pesen makanan buat kita.” ucap Rei sembari melepaskan perlahan dekapannya padaku dengan ia yang tersenyum kemudian.
Aku paham sih perasaan Rei sepertinya.
Tapi biar bagaimanapun aku dan Rei sudah seharusnya tidak perlu ada urusan lagi dengan Irsyad dalam hal apapun.
Dan atas pertimbanganku itu selain melihat sikap Rei yang karena foto-foto ini saja sudah nampaknya geram ingin menghajar Irsyad, aku yang tadinya ingin mengatakan tindak perbuatan Irsyad yang pernah bersikap kurang ajar dengan menciumku secara paksa pun aku urungkan. Jika aku menceritakan hal itu, aku yakin seribu persen----Rei akan langsung bangkit dan menanyakan nomor kontak Irsyad padaku, lalu menyambangi pria itu.
Ah iya, aku teringat satu hal.
Sedikit khawatir dengan reaksi Rei, tapi sepertinya untuk yang satu ini aku bagi saja dengan suamiku itu.
Agar lebih mengurangi ganjalan di hatiku perihal Irsyad.
Biarlah masalah Irsyad yang pernah kurang ajar padaku dengan menciumku secara paksa aku simpan rapat-rapat dan aku anggap tidak pernah terjadi.
Toh Irsyad juga sudah meminta maaf padaku secara baik-baik atas hal itu. Eh aku jadi memikirkan satu hal. Baru kemarin malam dia meminta maaf padaku soal sikap kurang ajarnya. Tapi kenapa dia malah menemui Rei dan menyerahkan foto-foto ini?
Bukannya dia bilang dia akan kembali ke London? ..
Eh bicara soal London, bukankah jika Irsyad kembali itu dia seharusnya kembali ke New York?
Selama ini dia di London atau di New York sih? Duh, kenapa juga aku harus memikirkan dimana Irsyad selama ini?
Sudahlah, aku tidak peduli Irsyad ada dimana sebenarnya selama ini sebelum kami bertemu lagi. Tapi aku sungguh penasaran sekali mengapa Irsyad mencoba membuat Rei salah paham dengan memberikan foto-foto ini?? ..
“Aduh!”
__ADS_1
Aku terkesiap saat merasakan pipiku dicubit pelan.
“Malah bengong ----“ ucap Rei.
“Aku bukannya bengong, Rei ----“
“Terus diem aja sambil cengo gitu? ----“
“Uumm. Ada yang mau aku omongin lagi, karena ada hal yang aku inget dan rasanya kamu perlu tau juga.”
Aku menatap Rei, dan dia pun sama yang segera menoleh selepas aku mengucapkan kalimat barusan. Dimana sontak Rei bertanya.
“Soal? ----“
“Irsyad ----“ jawabku.
“Bilang aja bibit pebinor.”
Reiji menukas dengan wajah sebalnya yang kentara.
“Jangan sebut namanya lagi di depan aku.”
“Iya,” jawabku patuh. “Maaf ----“
“Sorry, aku ga ada maksud ketus sama kamu, Yang ----“
“Iya, ga apa, Rei .. Aku paham kok.”
Aku mengulas senyuman manis pada Rei, yang juga tersenyum lalu mengacak pelan rambutku.
“Tapi sebelumnya, aku mau nanya.”
Rei berujar.
“Kalo foto yang ini asli juga?”
Rei bertanya sambil memperlihatkan foto tanganku dan Irsyad yang bertaut.
--
Rei mendengus geli mendengar jawabanku barusan. “Kamu nih.”
Lalu Rei menjawil hidungku.
“Aku kan udah bilang kalau aku percaya sama kamu?.. jadi jangan kamu pasang ekspresi macam orang yang mau ditetapkan jadi tersangka gitu.”
“Ya abisnya ..”
“Ya udah, Nyonya Reiji Shakeel, apa alibi anda tentang foto ini? ..” tanya Rei dengan terkekeh kecil, sambil mendekapku dari belakang lalu menopangkan dagunya di atas salah satu pundakku.
“Aku sebenernya ga tau loh Rei ada foto ini .. karena seinget aku, waktu Ir –“
“Bibit pebinor!” sambar Rei yang memotong ucapanku dengan cepat saat aku hendak menyebut nama Irsyad.
Aku lantas tersenyum sambil sedikit menolehkan wajahku dan menatap suamiku yang jadi merungut itu.
“Iya, si bibit pebinor maksud aku ..” Aku meralat panggilanku tentang Irsyad.
“Emang ga salah aku sebut dia bibit pebinor kan? .. toh dia sampe ngasih foto-foto ini ke aku pasti dengan tujuan hubungan kita jadi renggang terus dia berusaha masuk lagi diantara kita.”
Dimana setelahnya, Rei langsung merepet tajam. Dan aku terima saja Rei meluapkan kekesalannya pada Irsyad saat ini, karena aku pun merasa sama kesalnya pada laki-laki itu karena perbuatannya yang memberikan foto-foto ini pada Rei serta mengedit tanggal di foto tersebut, dimana sebagian dia bubuhkan dengan tanggal begitu saja.
“Ya udah terusin omongan kamu,” ujar Rei setelah ia merepet tajam tadi.
“Gemesin ih mukanya ..” godaku, sambil memencet gemas hidung Rei yang sempat bersungut ria itu bak anak kecil yang sedang ngambek.
Rei mendengus geli, lalu tersenyum dan mengecup singkat pipiku. Aku menyandarkan kepalaku dengan manja ke kepala Rei sambil meneruskan ucapanku yang sempat disela Rei tadi.
Lalu aku ceritakan pada Rei, jika memang saat itu Irsyad memegang tanganku. Yang mana juga aku biarkan.
Aku menjeda ceritaku, dengan meminta maaf lagi pada Rei. “Never mind, Yang –“
“Maaf ya? ..”
__ADS_1
Aku benar-benar menyesal pernah gamang dengan pernikahanku dan Rei hingga aku menjadi begitu naif ketika Irsyad datang lagi ke dalam hidupku.
“Iya –“
“Love you,” ucapku mesra kemudian.
“Love you, more,” Rei pun menjawabku dengan tak kalah mesra.
Setelahnya aku melanjutkan alibiku tentang foto tangan yang saling menggenggam itu.
“Tapi aku ga tau kalau ini sampe dia abadikan,” ucapku kemudian.
--
“Rei ----“
“Iya sayang, aku percaya,” respons Rei padaku yang menyebut namanya setelah aku mengatakan alibiku tentang foto tanganku dan Irsyad yang bertautan.
Padahal sebenarnya bukan itu alasanku menyebut namanya.
Ada hal lain yang ingin aku katakan pada suamiku itu, namun mungkin nanti saja sehabis mandi.
“Iya makasih ----“ responsku pada ucapan Rei tadi.
“Ya udah mandi sana ----“
“Iya ....”
Aku mengiyakan anjuran Rei untuk mandi yang kedua kalinya seraya aku berdiri dari dudukku, setelah Rei melepaskan rengkuhannya padaku.
“Foto-foto ini aku hancurkan ya?” ucap Rei ketika aku berdiri.
Akupun mengangguk mantap, kemudian Rei membereskan satu per satu foto tersebut.
Namun Rei menjeda apa yang dia lakukan, lalu bangkit juga dari duduknya. “Kamu mau bikin kopi?” Aku lantas bertanya karena melihat Rei berjalan ke arah pantri.
“Engga Yang, mau ngambil tempat sampah......”
“Oh ----“
“Aku bakar aja ini foto-foto sekalian...... Ga pa-pa kan?”
Rei sudah dengan cepat kembali dari pantri dengan menenteng tempat sampah aluminium yang memang diletakkan di area pantri.
“Iya, ga masalah......”
Aku menjawab tanpa beban.
Dimana aku kemudian hendak mengambil tas kerjaku.
“Eh?......”
Aku seketika tertegun ketika aku sedang melirik Rei yang sedang mengumpulkan foto-fotoku dan Irsyad, dimana ada satu foto yang menarik atensiku.
“Kenapa? ----“
“Foto ini......” ucapku sambil mengambil satu foto yang ada di tumpukan paling atas setelah Rei menyusunnya.
Foto yang membuatku terheran-heran karena aku ingat betul pakaian yang aku kenakan di foto yang sedang aku pegang dan perhatikan ini. Bahkan pakaian itu juga masih di dalam tas laundry bersama beberapa potong pakaian kotor lain yang hendak aku bawa ke laundry apartemen malam ini atau esok hari.
Baju yang aku pakai saat Irsyad tiba-tiba muncul di hadapanku saat aku sedang berada di supermarket, dimana dia meminta maaf sekaligus berpamitan padaku. Iya aku tahu betul pakaianku dalam foto yang sedang aku perhatikan ini.
Bahkan sedikit area yang terfoto pun aku masih ingat jika itu area tempat aku memarkirkan mobilku, yang diambil dari arah yang sedikit berjarak dari tempatku dan Irsyad berdiri.
Momen saat Irsyad berpamitan lalu meminta untuk berjabat tangan yang kemudian aku iyakan.
Dan di dalam foto itu tanggalnya benar, yakni tanggal saat Rei akan kembali dari Medan pada keesokan harinya. Hanya satu foto itu saja yang benar tanggalnya.
Tapi, dengan adanya foto ini yang Irsyad sertakan dengan foto-foto lainnya, apa maksudnya ini? ......
Jika foto ini juga Irsyad berikan pada Rei, berarti ada orang lain yang ia minta untuk mengambil foto kami yang seolah sedang saling berpegangan tangan itu --- dengan wajah yang saling melempar senyum dan sekilas nampak seperti seorang kekasih yang sedang mengantar kekasihnya untuk masuk mobil sebelum mereka berpisah jalan.
Jika seperti ini yang Irsyad buat, bukankah ini terkesan jika Irsyad memang sedang benar-benar mencoba untuk menghancurkan pernikahanku dan Rei? ......
__ADS_1
**
Bersambung ..