
Selamat membaca...
***
REIJI
“Kamu masih mau disini kan Rei?”
Lia bertanya padaku, ketika kami sudah tinggal berduaan di ruang keluarga rumah orang tuanya.
“Iya, nanggung. Kenapa? .....”
Dan akupun segera menjawab Lia.
“Ga apa-apa, aku soalnya mau ngambil hape dulu di kamar-“
“Ohh-“
“Bulet.”
Akupun mendengus geli, mendengar timpalan Lia barusan.
“Sekalian bawain hape aku juga ya?” ucapku kemudian seraya meminta tolong dan Lia mengiyakan dengan anggukan, sambil ia beranjak dari duduknya-yang bersandar manja padaku.
Dan aku melanjutkan untuk menonton sebuah film yang aku dan Lia pilih untuk kami tonton sambil menunggu kantuk kami tiba, atau yah, menunggu momen untuk ‘menyerang’ Lia.
-
Bicara soal ‘menyerang’Lia, aku melirik ke arah tangga dan Lia masih belum kelihatan batang hidungnya. Sepertinya agak lama Lia sudah berada di dalam kamar?. Padahal jika hanya mengambil ponsel saja, kurang dari lima menit Lia seharusnya sudah kembali kehadapanku di ruang keluarga dalam rumah mertuaku ini.
Jangan-jangan Lia ketiduran?
Atau mungkin Lia sedang mempersiapkan kejutan untukku seperti tadi malam yang tau-tau telah menggunakan lingerie super seksi?
Ah aku jadi penasaran. Sekaligus, jadi penuh pengharapan. Ah, Omes dasar nih otak!
-
Aku pun bangkit dengan bersemangat karena mengingat sambil membayangkan tampilan Lia dengan gaun tidur super hot seperti yang dipakainya semalam. Lalu memantapkan langkah, untuk menyusul Lia ke kamar pribadinya, yang kini telah menjadi kamar kami.
Namun baru dua langkah aku teringat, jika paper bag yang berisikan lingerie Lia yang baru kubeli bersamanya di Mal tadi, tidak ikut kami turunkan saat sampai.
Yang kami bawa hanya paper bag berisi makanan, serta oleh-oleh yang aku bawa dari perjalanan dinasku selama empat hari itu. Itu juga karena Lia melarangku untuk menurunkannya, karena dia malu-katanya.
Soalnya di paper bag tersebut tertulis nama dari toko penjual segala rupa pakaian seksi wanita, terutama pakaian-pakaian profokatif yang bisa membuat akal sehat laki-laki berubah sekejap menjadi sangat tidak sehat dan hilang fokus akibat otak sehat kami-para pria, akan terselimuti sepenuhnya oleh kemesuman akibat membayangkan hal-hal liar karena jejeran pakaian yang rata-rata kurang bahan itu.
Yang membuatku heran, kenapa malah pakaian kurang bahan nan tipis itu bisa mencapai harga jutaan rupiah? .....
Yah, mungkin yang diusung adalah bagaimana seorang perempuan yang memakai lingerie itu, bisa membuat lawan jenis yang melihatnya akan menjadi sangat tergoda dan tak mungkin menolak ‘sajian’ dihadapannya.
Makanya pakaian kurang bahan nan tipis itu jadi mahal harganya. Masuk akal kalau pemikiranku sih, karena aku mengalaminya.
Jika melihat Lia dengan pakaian lengkap yang ‘normal’ saja aku selalu rasanya on jika melihat istriku itu.
Dan rasa sekedar ‘on’ itu menjadi ‘on fire!’ saat semalam aku melihat Lia dalam balutan lingerie seksi yang dibelinya, lalu penampilannya itu dipersembahkannya untukku.
Ah! Jadi makin ngebet kan nih? .....
-
Teringat jika lingerie yang baru dibeli Lia bersamaku tadi masih ada di dalam mobil, aku sedikit berkesah, karena harapanku saat masuk kamar nanti dan melihat Lia udah ‘masang’ pose di tempat tidur tidak akan tercapai. Ya sudahlah!.
__ADS_1
Tapi otak omesku tidak seketika redup, karena masih punya kesempatan untuk membuat Lia mengenakannya, alih-alih aku ingin melihat dia mengepaskan lingerie itu dihadapanku. Selanjutnya, akan aku lepaskan lagi itu lingerie dari tubuh Lia pastinya.
-
Well, bicara tentang lingerie kembali, aku harus mengambilnya di mobil agar bisa menjalankan rencana dari omesku pada Lia.
Akupun melangkahkan kaki dengan ringan untuk menaiki tangga menuju kamarku dan Lia.
Aku ga mau suamiku sampai salah paham, Kak. Jadi mohon Kakak mengerti....
Aku menghentikan langkah saat aku sayup-sayup mendengar suara Lia sedang berbicara.
Tidak juga melangkah masuk ke kamar, melainkan aku merapat pada tembok kamar dan mencari posisi yang tepat agar bisa menguping.
Konyol mungkin. Tapi aku sayup-sayup Lia menyebut kata ‘Kakak’ dan pikiranku langsung tertuju kepada si bibit pebinor itu. Membuat satu sisi otakku diselubungi pikiran yang kurang baik tentang Lia.
Iya. Aku minta maaf, jika Kakak tersinggung. Tapi aku harap, Kak Irsyad paham posisiku.
Aku mengernyit. Bertanya-tanya apa maksud ucapan Lia itu-yang tepat seperti dugaanku, jika dia sedang bicara dengan si bibit pebinor-karena Lia menyebut nama Irsyad.
Dan sekali lagi maaf, aku harus mengakhiri sambungan telepon kita sekarang.
Jadi Lia dan si bibit pebinor itu masih berhubungankah dibelakangku?....
Lalu ‘cintanya’ yang Lia bilang padaku, kek apa kebenarannya?....
Kamuflase untuk menutupi hubungannya yang masih jalan dengan si bibit pebinor itukah?....
Ya Tuhan, semoga aku salah mengira....
Iya Kak, kenapa?....
Aku belum tau, Kak....
Membuatku jadi berprasangka macam-macam aja.
Aku harus tanya suami aku dulu.
Eh, ‘tanya suamiku dulu?’....
Apa tuh maksudnya?
Ah, aku jadi penasaran.
Yuk, Kak. Assalamua’laikum....
Tapi Lia sudah mengakhiri sesi teleponnya dengan si bibit pebinor itu.
-
Aku langsung beranjak dari posisiku dan langsung memasuki kamar.
Kulihat Lia menghela nafas panjang, seperti baru melepaskan beban yang berat.
Tanpa Lia sadari jika aku sudah berada dibelakangnya.
Lalu Lia segera menyambar ponselku di atas nakas dan berbalik cepat dari posisinya itu.
“Telfonan sama siapa?” aku langsung saja bertanya pada Lia, kala Lia telah berbalik dari posisinya.
“Astagfirullah!”
__ADS_1
Malia langsung terkesiap kaget sambil memegang dadanya.
“Kok kaget gitu?.... Apa ada sesuatu?....” tanyaku lagi.
“Engga, ada apa-apa kok, Rei....”
“Terus kamu habis telfonan sama siapa barusan? Kayaknya agak lama? Dan serius, sampe muka kamu tegang begitu?-”
“Itu, aku....” Lia nampak kikuk.
Dan aku diam menunggu kejujuran Lia.
Menampakkan senyum sekilas-meski tipis, dan Lia memandangiku masih dengan kekikukkannya. Kemudian Lia menundukkan kepalanya, sambil mengutak-atik sebentar ponselnya.
“Jangan marah tapi ya?”
Aku mengulas senyuman lagi. “Marah kan harus ada alasannya Yang?. Lagian apa aku pernah marah-marah sama kamu tanpa sebab?”
Aku berucap santai.
“Ada alasan pun, emang aku pernah marahin kamu sampe gimana-gimana?”
“Iya emang ga pernah....” Lia pun menyahut. “Tapi takutnya abis ini kamu marah.”
Lia memandangiku lagi. Ada sorot kekhawatiran saat dia memandangiku sekarang.
Aku mengulas senyuman, sambil tanganku terulur untuk mengusap lembut pucuk kepala Lia.
Lia membalas senyumanku.
“Ini –“ ucap Lia sambil menyodorkan ponselnya padaku.
Yang kemudian aku terima dan log panggilan terpampang di layar ponsel Lia.
“Irsyad yang telefon aku barusan.”
-
“Thank you –“
Aku tersenyum setelah aku mendengar ucapan Lia, yang sebelumnya memberikan ponselnya padaku.
“Buat apa?” tanya Lia.
Aku membawa Lia dalam pelukan.
“Karena udah jujur sama aku, Yang.”
Aku berucap tulus, karena kelegaan yang aku rasa. Karena Lia benar-benar mewujudkan semua ucapannya padaku. Membuatku keyakinanku kian bertambah, jika Lia memang benar-benar sudah mencintaiku.
“Kamu ga tanya soal pembicaraan aku sama dia?”
“Kalau kamu mau cerita silahkan, engga pun ga apa-apa.... Karena dengan kamu yang jujur begini aja, aku udah seneng.”
Jujur, memang aku merasa demikian. Tak perlu Lia cerita tentang apa yang ia bicarakan dengan si bibit pebinor itu, karena dengan Lia yang jujur sampai menunjukkan log panggilannya padaku saja, itu memang sudah kurasa cukup membuatku yakin jika Lia tidak akan pernah gamang lagi atas laki-laki yang bernama Irsyad itu.
Well, aku akan lebih memastikan hal itu. Akan aku pastikan istriku tidak menjadi mangsa buaya-buaya kelaparan diluar sana yang sudah mengincarnya. Terlebih satu buaya yang punya bakat jadi pebinor itu.
Dengan posisi pekerjaanku yang baru sebagai seorang Pilot Pribadi, rasanya aku akan lebih bisa mengeksekusi hak prerogatifku sebagai suami Lia dengan tidak memberikan kesempatan lebar buat para bibit pebinor di luar sana, terlebih yang namanya B*ngsad-eh Irsyad.
**
__ADS_1
Bersambung....