WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 31


__ADS_3

Selamat membaca..


***


CROATIA


Reiji sudah kembali mengenakan seragam pilotnya. Seragam yang menambah pesona visualnya seorang Reiji Shakeel yang dapat menyita perhatian banyak orang, dimana kebanyakan orang itu ya kaum hawa tentunya. Mungkin juga kaum setengah hawa.


“Jadi gimana Kroasia?...”


“Not bad ( Lumayan )...”


“Ada apa aja disana? ...”


“Kalo itu sindiran buat nanyain oleh-oleh, aku belum sempet keliling ...”


“Yeee... Siapa juga yang nyindir soal oleh-oleh?. Orang gue beneran nanya juga!”


“Iya ... iya ...”


“Kayak apa itu Kroasia jadinya?...”


“Belum sempet keliling...”


“Oohh...”


“Tapi kayaknya lumayan juga buat tujuan honey moon.”


“Ih kesitu aja pikiran lo ...”


Terulas senyuman di bibir Reiji, mengingat pembicaraannya pada sambung telepon dengan Malia tadi pagi.


‘Kebayang muka malu-malunya Malia jadinya,’ Reiji membatin sembari menggeret koper miliknya untuk keluar dari kamar hotel yang ia tempati sendiri.


Biasanya Reiji sekamar dengan co pilot-nya.


Namun karena co pilot yang sekarang ikut dengannya sudah menikah dan istrinya adalah pramugari di maskapai yang sama dengan co pilot yang mendampingi Reiji dalam penerbangannya kali ini.


Dan kebetulan juga jadwal sepasang suami istri itu sedang dalam penerbangan yang sama, jadi Reiji dengan legowo memberikan kamar yang seharusnya ia tempati untuk sang co pilot dan istrinya itu.


Sementara Reiji menyewa kamar lain dalam hotel yang sama, yang ia bayar dengan uangnya sendiri.


Mengingat penghasilan Reiji yang cukup besar sebagai seorang pilot, kiranya menyewa satu kamar standar hanya untuk waktu yang tak sampai satu hari rasanya tak masalah.


Meski kenyataannya, kamar hotel yang Reiji sewa dengan uang pribadinya itu tidak sampai satu hari ia tinggali.


Reiji kembali me-non-aktifkan ponselnya dan menyimpannya didalam saku celana. Untung saja dia tidak jadi membeli nomor baru dengan provider yang tersedia di Kroasia, karena ia ingat jikalau tidak lama dia berada disana.


Panggilan telepon masih bisa ia lakukan lewat telepon hotel, meski Reiji harus membayar ekstra.


Tak apa bagi Reiji, daripada ribet.


Lagipula, dia paling menghubungi mama atau papanya, atau Avi, jika kedua orang tuanya sedang sulit dihubungi.


Hanya sekedar memberi kabar, kalau Reiji sudah sampai dengan selamat setiap kali ia bekerja mengarungi angkasa selama beberapa jam.


Semata-mata agar keluarganya merasa tenang saja.


Dan sekarang tambah satu kayaknya yang akan menjadi alasan Reiji untuk dihubungi setiap kali ia sampai di tujuan saat ia tengah bekerja.


Malia, sang calon istri.


Yang seperti Reiji sempat katakan pada Malia, jika Reiji sudah mulai merindukannya, dan yah, itu memang benar adanya.


****


MALIA


“Kayak apa itu Kroasia jadinya?...”


“Belum sempet keliling...”


“Oohh...”


“Tapi kayaknya lumayan juga buat tujuan honey moon.”


Aku kembali dibuat gagal fokus oleh Reiji karena ucapan Reiji saat kami mengobrol di telpon tadi.


Dasar cowo, pikirannya ga jauh-jauh amat dari gituan. Kan aku jadi kepikiran lagi soal ‘tujuan utama’ nya honey moon.


Bicara tentang honey moon, apa Reiji sudah mengatur rencana untuk itu?. Karena jujur saja, itu tak sedikit pun terbersit di pikiranku.


Nah urusan pernikahan aja mamaku dan mamanya Reiji termasuk juga si Avi yang ngurusin.


Jadi urusan honey moon, ya ga sampe aku pikirin. Kalo Reiji emang punya rencana untuk itu dan sudah mengaturnya, ya sudah, aku mau bilang apa?.


Masa mau aku hindari?. Apa bisa?.


Dengan membuat perjanjian sebelum menikah begitu?.


Dengan satu pasal yang menjelaskan, bahwa tidak ada interaksi fisik antara pihak A dan pihak B selaku mereka yang dijodohkan.


Hihi. Jadi geli sendiri. Novel banget kalo begitu sih ya?. Gegara si Avi nih, aku jadi ketularan baca novel roman di aplikasi. Dah gitu soal perjodohan-perjodohan dengan perjanjian lagi.

__ADS_1


Tapi bisa jadi ga begitu kira-kira?. Yah, siapa tau sikap Reiji yang kayaknya terima-terima dengan senang hati dijodohin sama aku itu Cuma kamuflase aja?.


Terus tau-tau nanti Reiji ajak aku ketemuan secara pribadi dan nyodorin kertas perjanjian pernikahan kontrak. Aish, sepertinya aku harus mengurangi baca novel yang alurnya seperti itu.


Rasanya ga mungkin kalo sampai begitu antara aku dan Reiji.


Satu, Reiji bukan CEO. Dua, kayaknya kalo sikap Reiji yang nrimo itu Cuma kamuflase, dia ga akan bilang dengan serius,


“Because, I do, missing you already, Malia....”


“(Karena, aku rasanya, sudah merindukan kamu, Malia)....”


Ah ya Tuhan, jadi beneran kata Avi soal Reiji yang memang sudah punya rasa sama aku?.


Tapi sejak kapan?. Dan, apa perlu aku pastikan dengan tanya langsung ke Reiji?.


***


MALIA


Destinasi bulan madu.


Yang sedang aku lihat dan baca-baca di internet.


Menjadi satu kegiatan baruku, yang membuat aku seolah sibuk mempersiapkannya.


Hingga aku lupa untuk bertanya perihal seseorang yang bernama Shirly pada Avi. Dan akhirnya aku abaikan saja.


Aku pikir-pikir ngapain juga aku masih kepo soal Shirly.


Kesannya malah aku kayak pacar yang lagi cemburu buta.


Jadi soal Shirly, aku tutup saja. Ga penting juga aku kepo soal sosok yang memiliki nama itu, dan apa hubungannya dengan Reiji.


Kalo seinget aku, Reiji bilang kalau Shirly itu temannya. Ya mungkin aja sih. Teman dekatnya Reiji kali, macam aku sama Avi.


Saking deketnya sampe Reiji hafal kesukaan itu cewe sama carrot cake. Fix, aku ga akan mau makan carrot cake lagi.


Eh, kenapa aku jadinya kek pacar yang lagi cemburu sama mantannya pacar begindang coba?. Dasar Malia, udah mulai suka ya sama Reiji?.


Oke, Shirly ga perlu aku inget-inget lagi. Bye. Fokus ke ini aja nih, Dua Puluh Destinasi Honey Moon Di Indonesia Yang Tak Ada Habisnya.


Aish, fitting baju penganten aja beloman. Udah mikirin bulan madu aja kok aku?.


***


Tiga hari berlalu


Panggilan penggalan dari namanya membuat Malia serta merta menoleh ke area dalam rumah saat dia sudah menapakkan kaki di teras depan rumah kedua orang tuanya.


Ralisa, mamanya Malia yang memanggil sang putri semata wayang.


“Ya, Ma?..” ucap Malia pada sang mama.


“Besok libur kan?..”


“Iya ..” jawab Malia. “Kenapa, Ma?..”


“Itu soal katering buat nikahan kamu sama Reiji..”


“Kenapa? Ada masalah soal katering?..” tukas Malia.


Mamanya Malia menggeleng. “Ga ada masalah kalo soal itu. Udah Mama sama Mama Alice urus.”


“Nah terus?”


“Mama Cuma mau bilangin, tadi perwakilan kateringnya telpon Mama dan infoin besok mereka ada test food di K Tower. Nah, kalo kamu mau tau kualitas katering yang Mama sama Mama Alice pilih, mending besok kamu sama Reiji kesana deh..”


“Ya udah liat nanti deh,” tanggap Malia.


“Ck kamu ni Lia, selalu gitu tanggapannya.” sang mama merungut kecil.


“Gitu gimana, Ma? ..”


“Ya gitu! Cuek bebek!”


Mamanya Malia mengeluarkan protes kecil kemudian.


“Males-malesan ngurus nikahan sendiri .. Kamu ga ikhlas dijodohin sama Reiji?”


Malia langsung saja menoleh dan fokus menatap pada sang mama.


“Kok Mama ngomongnya gitu?” cetus Malia.


“Ya soalnya kamu keliatan ogah ngurusin hal-hal soal pernikahan kamu dan Reiji, Li.”


“Loh, kan katanya semua urusan soal nikahan aku sama Rei, Mama sama Mama Alice yang mau urusin?”


“............”


“Ya Lia Cuma tinggal nunggu aja kan gimana-gimana nya?” sambung Malia. "Sejauh ini kan begitu?"


Mamanya Malia terdengar menghela nafasnya pendek namun sedikit berat.

__ADS_1


“Li,” mamanya Malia kemudian memegang pundak putrinya itu. “Kalau memang rasanya kamu berat nerima perjodohan ini, kamu lebih baik ngomong sekarang. Sebelum semuanya sudah benar-benar rampung. Mama, sama Papa Insya Allah ngerti. Mama Alice sama Papa Tino, Avi, bahkan Reiji pasti nerima keputusan kamu, andai perjodohan kamu dan Reiji mau kamu batalin.”


“Ma ..”


“Mama sama Papa itu berpikir kalau Insya Allah, Reiji itu laki-laki yang tepat buat kamu. Tapi Mama sama Papa juga ga mau kamu merasa terpaksa dan akhirnya nanti kamu tertekan, terbebani sama keinginan kami para orang tua ..”


“Ma, Lia sama sekali ga merasa terbebani apalagi tertekan sama perjodohan Lia dan Reiji. Jadi Mama ga usah mikir yang gimana-gimana,” ucap Malia.


Kemudian Malia memegang satu tangan mamanya.


“Lia ikhlas, bukan karena terpaksa ..”


“Beneran?” Mamanya Malia menatap lekat wajah putrinya itu.


“Bener, Mamaku sayaanngg ..” jawab Malia seraya tersenyum.


“Mama lega kalo gitu,” ucap mamanya Malia, lalu ia juga menampakkan senyumnya pada Malia.


“Ya udah, Lia berangkat dulu ya? ..” pamit Malia, saat sebuah taksi berhenti di depan pagar rumah orang tuanya tersebut, dan nada notifikasi di ponselnya tak lama terdengar.


Malia sekali lagi meraih tangan sang mama untuk ia salim dengan takdzim, setelah sebelumnya ia lakukan sebelum ia melangkah keluar dari dalam rumah.


“Iya udah, hati-hati,” sahut mamanya Malia.


“Soal test food besok nanti Lia tanya Rei dulu ya? Soalnya dia kan abis tugas ke Kroasia. Takutnya masih cape..”


“Ya udah kalo gitu ..” tukas mamanya Malia. “Kamu bilang sama Reiji, jangan dipaksain kalo emang dia masih cape..”


“Iya ..”


“Eh iya Li..” panggil sang mama pada Malia.


“Apa?..”


“Reiji ada ngomongin soal bulan madu kalian ga?..”


‘Bulan madu lagi ..’


***


MALIA


Aku meletakkan tas ku di atas meja kerja sesampainya aku di kantor tempatku bekerja.


Ucapan Mama sebelum aku berangkat kerja tadi, berputar di kepalaku sepanjang perjalananku dari rumah sampai aku tiba di kantor.


Tapi untungnya deadline laporan keuangan yang harus aku serahkan pada meeting pagi ini, membuat pikiranku soal perjodohan yang sebenarnya memang sedikit membebaniku teralihkan.


Jadi fokus ku saat ini, memeriksa ulang laporan yang telah aku buat selama beberapa hari ini agar tidak ada kesalahan yang membuatku harus bekerja lembur, padahal besok tanggal merah. Kalo ga lembur di kantor di malam libur, ya mengerjakannya di rumah saat hari libur.


Demi mencegah itu terjadi, sebaiknya ku fokuskan otakku ke laporan tersebut.


Dan seperti yang aku takutkan, ada revisi yang harus aku lakukan pada laporanku tersebut. Yang untungnya tidak banyak, meski aku harus merelakan jam makan siang untuk makan di luar, jadi makan di meja kerjaku.


Setidaknya itu terbayar, karena satu jam sebelum waktu bekerja ku habis aku sudah bisa berleha-leha, bebas dari kerjaan.


Mengendurkan otot-ototku sebentar, aku beranjak dari kursi kerjaku, dan yah pantry kantor yang ada di lantai kerja divisi ku adalah tujuan saat aku punya waktu senggang dalam kantor, seperti rata-rata karyawan yang bekerja di lantai yang sama denganku.


Kalau para perokok sih, biasanya mereka ngacir ke tangga darurat, atau ke lantai lain dimana ada mushola gedung dengan space outdoor dan kursi panjang tersedia di bagian luar yang terpisah untuk sekedar sebat-alias sebatang, bahasa yang digunakan oleh para penikmat nikotin itu.


Sementara aku dan karyawan lain yang bukan perokok, ya pantry adalah tujuan kami menghabiskan waktu senggang di jam kerja saat kerjaan dah kelar mendekati waktu pulang. Dan berhubung perutku sedikit lapar, jadi kubawa sebungkus jajangmyeon instant yang ada di satu bagian dalam laci meja kerjaku, diantara beberapa makanan instan lain yang memang aku simpan di laci meja kerjaku itu.


Just in case, aku membutuhkan makanan tambahan setelah menguras pikiranku pada kerjaan kantor. Seperti saat ini contohnya.


“Kalau memang rasanya kamu berat nerima perjodohan ini, kamu lebih baik ngomong sekarang. Sebelum semuanya sudah benar-benar rampung. Mama, sama Papa Insya Allah ngerti. Mama Alice sama Papa Tino, Avi, bahkan Reiji pasti nerima keputusan kamu, andai perjodohan kamu dan Reiji mau kamu batalin.”


Dan ucapan Mamaku tadi pagi terngiang kembali, selepas aku telah menghabiskan jajangmyeon yang tadi aku buat. Membuat aku jadi tepekur sesaat, sembari memegang cangkir pribadiku di kantor.


Aku sebenarnya ingin bilang pada Mama,


“Lia bukannya tertekan, tapi Lia masih merasa belum siap.”


Tapi melihat wajah memelas Mama, dan sepertinya memang beliau dan Papa penuh harap atas perjodohanku dan Reiji ini, aku urung mengatakan itu dan menggantinya dengan kalimat yang bisa menenangkan Mama.


Dan yah, gurat kelegaan nampak sekali di wajah Mama saat aku menyangkal dugaan Mama, terkait keterpaksaan dan rasa tertekan atas perjodohanku dan Reiji. Dan wajah lega Mama itu, cukup membuat aku tak mau memikirkan lagi tentang rasa keberatan ku.


Jadi aku memantapkan hati untuk tidak lagi mempertanyakan pada diriku sendiri tentang rasa berat yang aku rasa atas perjodohanku dan Reiji.


Well, secara visual Reiji ga punya kekurangan kan?. Mayan buat dipamerin di kondangan.


Hehehe.


Selain itu, dari sejak kami pergi ke Bandung,  Reiji sudah mulai menampakkan sisi lainnya padaku.


Sisi lain yang selama ini tidak pernah aku lihat, sisi lain yang sudah mulai bisa membuatku senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya.


Meski senyuman tipis saja yang bibirku buat tanpa dikomando.


Contohnya ya, seperti saat ini.


***


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2