
Selamat membaca..
***
REIJI
Kurang lebih setelah subuh aku baru sampai ke rumahku.
Rumah orang tuaku yang aku dan adikku tinggali selama ini.
Aku langsung saja menghampiri papa dan mamaku di kamarnya, yang aku tau jika mereka selalunya akan berjamaah setiap kali ada kesempatan untuk melakukannya.
Dan memang benar dugaanku, mereka baru saja selesai menunaikan sholat subuh berdua. Lalu aku langsung menghampiri dan menyalimi mereka dengan takdzim, selain seperti biasa mengecup pipi mama jika aku ada tugas dan setelah beberapa hari baru pulang ke rumah.
Minus si Avi, adik kandungku.
Jangankan subuh berjamaah, bangun subuh aja susahnya minta di siram aer.
Well, tanpa lagi mengobrol, aku segera keluar dari kamar orang tuaku setelah menyalimi keduanya dan memberi
kecupan singkat di pipi mama. Lalu bergegas untuk pergi ke kamarku, yang berdekatan dengan kamar Avi.
Dimana kulihat sepertinya belum ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Yang berarti si Avi belum bangun.
Biasanya jika aku kembali di jam seperti ini ke rumah, dan aku belum melihat si Avi bangun, aku akan masuk tanpa
permisi ke kamar adikku itu dan membangunkannya tanpa jeda sampe matanya bener-bener melek dan rengekan panjang akan si Avi lolong kan dari mulut ceriwisnya itu.
Tapi kali ini aku urung untuk mampir dulu ke kamar Avi, karena merasakan tubuhku yang sangat letih. Jadi aku
langsung saja masuk ke kamarku. Bersih-bersih badan sedikit, ambil wudu, sholat, terus tidur. Selagi ga lupa, atau sengaja dilupa-lupain, aku akan melakukan kewajiban sebagai umat dalam agamaku.
Meskipun aku ini bukan orang yang alim-alim amat sih. Masih suka ngumpul bareng pilot yang lain di drink society
kami, selain kadang hang out dengan teman-teman dekatku ke klub malam. Itu dulu tapi, sebelum kami disibukkan dengan profesi kami masing-masing. Jadi kalau untuk beberapa waktu belakangan, paling sering gabung sama drink society sesama pilot.
Walaupun aku juga ga selalu ikut jika para rekan sejawatku mengadakan kumpul-kumpul kami para pilot, yang kadang ada juga dari beberapa pramugari ikut gabung di drink society para pilot tersebut.
Tapi hanya sebatas itu saja untukku. Hanya sebatas kumpul pertemanan.
Sedangkan bagi beberapa rekan pilotku yang lain, ya taulah. Jadwal drink society akan merangkap pada sesuatu yang kami sama-sama tau.
Tapi aku tak mau masuk campur mau bagaimana brengsek nya beberapa dari rekan kerjaku sesama pilot, namun terkadang aku mengingatkan.
Terutama pada mereka yang memiliki pasangan. Karena bagiku, sebuah ikatan yang telah di lakukan dihadapan
banyak orang dengan yang namanya ijab kabul, lalu disahkan oleh negara, akan menjadi pertanggung jawaban dihadapan Tuhan.
Yah, walau aku masih suka kadang melenceng dari apa-apa yang menjadi larangan dalam agama yang aku anut, tapi sebuah ikatan yang namanya pernikahan itu sakral adanya.
Dan jika aku sudah berkomitmen untuk menikah serta hidup berpasangan, kesetiaan itu yang utama, selain saling
menghargai antara suami dan istri. Bersyukurlah calon istriku nanti, karena walaupun aku ga alim-alim amat, tapi babang Reiji bukan seorang fucekboy.
Eh ngomong-ngomong soal calon istri.
Kan aku udah punya. Ah jadi kangen sama Malia.
Pengen banget telpon dan denger suaranya pagi-pagi begini.
***
Aku tertidur beberapa jam lamanya setelah aku menunaikan salah satu kewajiban lima waktuku sebagai seorang umat dalam agama yang aku anut.
Bahkan terbangun, saat waktu untuk kewajiban di waktu siang akan datang. Bersamaan dengan kedatangan mama ke kamarku yang memang hendak membangunkanku untuk makan.
Dan mama langsung keluar dari kamarku setelah melihat jika aku sudah terbangun, setelah juga memberitahukan
jika makanan sudah siap di meja makan dan menyuruhku untuk makan bersamanya. Karena Papa sedang pergi bersama Avi ke Perusahaan garmen kecil-kecilan milik keluarga kami.
Jadi di rumah hanya ada mama dan seorang asisten rumah tangga kami saja, serta aku yang bebas tugas menerbangkan pesawat hari ini.
Dan permintaan mama untuk menemaninya makan itu pasti aku iyakan tanpa berpikir lagi.
Jadi aku bergegas untuk bangkit dari ranjang dan sekedar membasuh wajahku saja lalu langsung turun ke lantai
bawah dan pergi ke ruang makan.
Namun sebelum itu aku raih dulu ponselku yang sudah aku letakkan di atas meja kamar, yang tidak sempat aku
hidupkan karena mata udah terasa berat dan badan yang seolah teriak minta direbahkan selepas aku sholat subuh.
Mama sedang menyiapkan piringku saat aku tiba di ruang makan. “Lia tau kamu pulang hari ini?” tanya mama padaku saat aku sudah mengambil duduk di kursi makan. Aku pun mengangguk.
“Tau Ma”
“Udah kabarin kalo kamu udah sampe di rumah?”
“Belom,” jawabku.
Akupun melirik ponselku sembari ku letakkan di atas meja makan.
“Ini aja baru keingetan nyalain hape..” ucapku.
“Ya udah kabarin itu sama Lia , kalau kamu udah sampe rumah..”
Akupun mengiyakan ucapan mama.
“Biasakan mulai dari sekarang, saling berbagi kabar sama Lia. Kalian kan akan menikah, nah komunikasi-komunikasi kecil yang kayaknya ga penting itu, justru hal yang sensitif antara suami istri..”
“Iya Ma, nanti aku telpon Lia habis makan..” jawabku pada mama.
Mama pun mengangguk sembari tersenyum, lalu kami memulai makan siang kami dengan obrolan ringan seputar perjalananku ke Kroasia.
“Terus kamu bawain Mama oleh-oleh juga kan?..”
Meskipun ya pertanyaan itu ujung-ujungnya yang akan terlontar dari mulut mama setiap kali aku ada penerbangan ke luar negeri.
“Iya, bawa Nyaahh ..” selorohku dan mama langsung saja cekikikan.
***
__ADS_1
Aku segera meraih ponselku selepas aku menyelesaikan makan siangku di rumah bersama mama.
Hendak menghubungi Malia, sesuai dengan saran mama untuk memberi calon istriku kabar agar kedepannya akan
terbiasa seperti itu setelah kami menikah nanti.
Sensitif kata mama. Sensitif bisa bikin tenang dan lega bahkan mungkin bahagia, dan terciptanya rasa saling
percaya asal jangan jadikan kebiasaan saling memberi kabar itu menjadi suatu tuntutan yang mana aku paham maksudnya.
Jangan berlebihan, nanti ujung-ujungnya ambek-ambekan kalo ada yang lupa ngasih kabar saat ada kepentingan diluar.
Menjadi terbentuknya satu sisi sensitif yang lain, yakni rasa curiga dan menjadi tidak percaya antar suami-istri. Jadi yah, aku hendak menghubungi Malia.
Walaupun tanpa mama omongin begitu juga aku memang hendak menghubungi Malia cepat-cepat.
Kangen abisnya. Aduh, bau-bau jadi bucin nih aku kayaknya.
Tapi emang asli kangen sama itu calon istri yang masih suka keliatan ogah-ogahan dijodohkan denganku.
Apalagi ga ada satupun chat dari Malia yang sepak-sepik gitu nanya,
‘Udah sampe rumah belum?’
Dasar Malia.
No big deal lah.
Aku tetap suka, sayang, dan ..
Mungkin sudah jatuh cinta pada Malia.
Dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Malia memiliki rasa yang sama dihatinya untukku.
Cinta.
Baru inget Lia aja, detak jantungku jadi labil.
Hebat juga itu cinta ya? .. padahal cinta yang pernah aku rasa dulu, tak seperti yang aku rasa pada Malia sekarang.
Rasa cinta yang pernah aku rasakan pada ..
Ah sudahlah, masa lalu tak perlu diingat, karena cintaku itu kini rasanya sudah tertuju pada Malia.
Yang ingin sekali aku dengar suaranya saat ini. Dan tanganku sudah hendak menekan nomor kontaknya, saat..
“Ji!”
Mama memanggilku, hingga aku urung menghubungi Malia.
“Ya Ma?” sahutku.
“Tadi pagi orang dari pihak katering telpon Mama”
Mama memberitahukanku hal itu.
“Terus?”
malem ini ada juga mereka open testfood jam tujuh nanti di PG Hotel. Cuma, Mama belom sempet infoin ke Mama Ralisa sama Lia..”
Aku sih manggut-manggut aja dulu, yakin mama belum selesai ngomong.
“Nah kalo...”
Kan?.
“Menurut Mama sih, mendingan ini malem aja kamu ikutan testfoodnya.”
“Hmmm...”
“Kamu ga ada jadwal terbang lagi kan hari ini?...”
“Engga.”
“Nah ya udah, ajak aja Lia ke PG buat testfood katering yang akan kalian pakai buat acara nikahan kalian. Jadi
kan udah bisa di list tuh mau menu untuk prasmanannya apa aja, sama buat yang di gubukan apa aja ...”
“Ya udah kalo gitu...”
“Lagian itung-itung kamu lebih pedekate lagi sama Lia ...”
Dan menurutku ide mama boleh juga.
Dan sebuah ide juga muncul di otakku.
“Lia kerja kan hari ini?...” tanyaku pada mama.
Lalu mama mengangguk.
“Dia ga bawa mobil kan?...”
Mama menggeleng.
Akupun sontak manggut-manggut dan tak jadi menghubungi Malia.
Dan hendak kembali ke kamarku.
“Jadi gimana mau ke PG nanti malem atau besok ke K-Tower buat testfood?...”
“Ke PG aja.”
“Nah gitu gercep!”
“Iya dong!” sahutku antusias.
Mama pun mengulas senyuman.
Rona bahagia aku dapat tangkap dari wajah mama.
Mungkin beliau bahagia melihatku yang nampak bersemangat untuk lebih mendekatkan diriku dan Malia sebelum kami menikah.
__ADS_1
Dan mungkin juga karena melihat aku tidak menolak dan tidak terlihat merasa terbebani dengan perjodohanku dan
Malia. Siapa juga yang keberatan dijodohin sama cewe cakep en bohay kayak Malia?.
Lagian pas banget aku dijodohin sama Malia, saat aku masih menjadi anggota Jojoba dan tidak punya seseorang
spesial dalam hati yang mengisi hari-hari dengan senyuman serta bahagia.
Picisan banget yak?.
Hehe.
“Kamu yang mau kasih tau Lia, atau Mama hubungi Mama Ralisa buat kasih tau Lia kalo kamu mau ajak dia testfood malam ini? ...” tanya Mama.
“Jangan kasih tau Lia deh Ma, aku mau langsung jemput ke kantornya aja. Selain membiasakan berkirim kabar, harus biasain anter jemput istri kalo lagi punya waktu kan? ... Bukan begitu Ibu Alice? ...”
“Ah anak perjaka Mama bakalan jadi bucin kayaknya ...”
“Bucin sama cewe yang bakal jadi istri tiga bulan lagi sah-sah aja dong? ...”
Mama pun terkekeh kecil, dan aku tersenyum geli.
“Ya udah aku ke kamar dulu ...”
Mama pun menganggukkan kepalanya, lalu ia beringsut menuju arah pekarangan belakang rumah kami.
“Eh Ji!”
Namun kembali mama memanggilku yang sudah hampir menapakkan kaki di anak tangga pertama.
“Ntar pas turun, oleh-oleh buat Mama dari Kroasia jangan lupa bawain, ya? ...”
Halah!.
***
Aku berangkat satu jam untuk menjemput Malia di kantornya sebelum jam kerja Malia selesai.
Yang mana setahuku, jam kerja kantor itu kan biasanya dari jam delapan atau sembilan pagi sampe jam lima sore.
Jadi aku berangkat jam empat sore dari rumah untuk menjemput Malia yang sebenarnya letak kantornya itu tidak
terlalu jauh dari kawasan rumah kami.
Namun kantor Malia itu berada di kawasan segi tiga emas perkantoran, yang hampir tak pernah bebas dari macet,
kecuali saat hari sabtu atau minggu.
Jadi karena rencananya mau kasih Malia kejutan dengan aku menjemputnya di kantor untuk yang pertama kali, aku
tahan-tahan untuk tidak menghubungi Malia dulu sampai nanti aku tiba di gedung tempat kantornya berada.
Meski aku tahu gedung kantor tempat Malia bekerja sejak ia magang di kantor tersebut sampai akhirnya diangkat menjadi karyawan disana, aku belum pernah sekalipun antar jemput Malia selagi kami masih berstatus abang-abangan sama ade-adean.
Jadi ya, ini kali perdana aku menjemput Malia di kantornya, dengan status sebagai calon suaminya.
Jam lima kurang lima belas menit, akhirnya aku sampai di gedung kantor tempat Malia bekerja.
Yang sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari dua puluh menit kalau jalanan lengang.
Tapi ya itu, dihari kerja, jalanan menuju kantor Malia dan dari daerah tempat tinggal kami pasti padat adanya.
Dah lah, yang penting dah sampe gedung kantor Malia sebelum waktu kerja calon istriku itu selesai.
Dan aku bergegas mencari parkiran di lahan parkir bagian depan gedung tersebut.
Dan untungnya juga ada satu space kosong parkiran di area luar yang bisa digunakan oleh siapapun, jadi aku tidak
repot membawa mobilku masuk atau mungkin menanjak ke parkiran dalam gedung perkantoran tersebut.
Lalu aku segera masuk ke dalam lobi gedung setelah memarkirkan mobil untuk menunggu Malia turun dari kantornya yang jika tidak salah berada di lantai tujuh belas gedung tersebut.
Pukul lima teng sudah.
Itu kemungkinan Malia sedang bersiap-siap untuk pulang.
Yah mudahan aja Malia ga ada acara lembur di kantornya sekarang.
Jadi aku putuskan akan menunggu sepuluh menit sampai Malia muncul dari balik lift lobi dalam gedung tempatku
berada sekarang.
Baiklah, lima menit sudah berlalu dari pukul lima tepat.
Dentingan suara lift sudah terdengar mulai bersahutan dari tempat yang cukup lumayan berjarak dariku.
Banyak juga karyawan-karyawan yang kantornya berada di gedung tersebut yang teng-go.
Dan diantara para karyawan yang teng-go itu kuharapkan juga ada Malia disana. Tapi hingga sepuluh menit berlalu, Malia tak kunjung muncul juga.
Oke, lima menit lagi, kalau Malia tidak muncul juga, mau tidak mau aku harus meneleponnya dan memberitahukan jika aku sudah berada di gedung perkantoran tempat kantornya berada.
Aku melirik arlojiku setelah beberapa saat, dan lima menit yang kutentukan sebagai tambahan waktu untuk
menunggu Malia bahkan sudah lewat.
Jadi kurogoh saku celana, untuk mengambil ponsel dan menghubungi Malia.
Dan saat aku sudah meraih ponsel dalam saku celanaku untuk segera aku keluarkan, mataku menangkap sosok yang sedang aku tunggu-tunggu.
Aku refleks menarik sudut bibirku saat Melihat Malia yang sedikit tertutupi beberapa ciwi-ciwi yang sepertinya
sedang intens memperhatikanku. Mataku juga secara otomatis menatap ke arah Malia, ingin lihat ekspresinya saat melihatku saat ini.
Eh, tapi tunggu-tunggu! Ada pemandangan yang sedikit mengganggu mataku rasa-rasanya.
Malia berjalan dengan seorang cowo yang nampak akrab dengannya. Saking akrabnya, sampe itu tangan cowo enteng banget bertengger di pundak calon bini gue!.
Kampreto!.
***
__ADS_1
Bersambung ....