
Selamat membaca..
***
MALIA
Jantungku sudah mulai berdegup kencang saat aku dan Reiji telah memasuki kamar suite yang menjadi kamar pengantin kami.
Sudah deg-deg ser, takut-takut kalau Reiji ngajak mandi bareng, which is hal itu tentunya tidak boleh aku tolak karena dia sudah sah menjadi suamiku.
Dan untuk itu, dia berhak atas diriku, dari ujung rambut sampai ujung kaki secara fisik.
Yang memang sudah aku ikhlaskan, sejak aku memutuskan untuk bersanding dengan Reiji di pelaminan.
Aku pikir akan seperti itu.
Kalau Reiji akan mengajakku mandi bersama, sebelum kami melakukan ritual utama, meskipun rasanya tubuhku ini sudah cukup letih.
Tapi sekali lagi, aku tidak akan menolak jika Reiji memang mengajak untuk mandi bersama.
Namun pada kenyataannya tidak seperti itu.
Reiji malah bertanya padaku, “Kamu mau mandi duluan? ....”
Dan aku mempersilahkan Reiji saja duluan untuk mandi. Karena aku mau melonjorkan kakiku dulu, dan melepas beberapa jepitan rambut yang terselip di rambutku.
Yang mana, hal itu malah di lakukan oleh Reiji.
Melepas jepitan-jepitan rambut kecil yang menyangga tatanan rambutku.
Dan saat Reiji berada begitu dekat denganku, jantung ini berdegup lagi cukup cepat.
Meski aku dan Reiji sudah pernah berciuman, dua kali.
Dimana pada ciuman kami yang kedua, Reiji cukup mendominasi, namun aku tetap saja masih kikuk sendiri bila dalam posisi sedekat itu dengan Reiji.
Terpaan nafas Reiji yang terasa di leherku, membuatku meremang.
Wangi maskulin-nya menyeruak, namun tidak membuat hidungku sakit, malah seolah menenangkan.
Baru ini aku mengendusi Reiji lebih intens.
Dan itu selesai, kala Reiji telah selesai melucuti satu-satu jepitan di rambutku.
Setelahnya, Reiji tetap pergi mandi terlebih dahulu, karena aku ingin mengistirahatkan kakiku dulu.
Hingga setelah beberapa lama, “Aku udah selesai ....” Suara bariton bernada santai, mengejutkanku yang sedang melamun itu.
Melamunkan hal yang membuat jantungku jadi ga santuy karenanya, karena ranjang hotel yang terhias dengan indah dan romantisnya itu, sungguh membuat otak suciku ini seketika berubah berdebu.
Dan hatiku semakin menjadi tidak santuy, saat melihat penampilan Reiji yang sudah keluar dari kamar mandi. Demi apapun, Reiji membuat jantungku semakin tak karuan.
Membuatku kikuk dan salah tingkah sendiri, melihat suamiku itu hanya memakai handuk yang ia lilitkan dari mulai batas pinggangnya.
Dan Reiji nampak santai saja didepanku dengan penampilannya yang seperti itu.
Andai saja Reiji tahu, meski aku baru sebatas menyayanginya saja, tapi aku ini wanita normal yang tidak bisa tidak terpesona oleh pahatan otot-otot indah yang sesuai porsinya di tubuh seorang pria.
Manakala yang memilikinya adalah pria yang memiliki otot-otot indah itu juga mempunyai wajah tampan yang menurutku cukup maksimal, dan pria itu kebetulan sudah menjadi suami sah ku, rasanya tanganku ini gatal ingin menyentuh otot trapezius milik Reiji dari mulai pundak, sampai ke perut yang bak roti sobek itu.
Oh Tuhan, aku akan tertangkap basah sedang meneguk salivaku andai aku tak segera memalingkan wajah, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi.
****
Coba ku netralkan degupan jantungku yang tak beraturan ini akibat sempat memandangi pahatan indah tubuh Reiji.
Namun belum normal degup jantungku, otakku malah ngeres lagi saat melihat bathtub dengan air yang ditaburi kelopak mawar berwarna merah.
Yang airnya masih nampak tenang, belum tersentuh. Sepertinya Reiji juga mandi dibawah kucuran air shower tadi.
Sayang mungkin kalau dia hanya berendam disana sendirian, tanpa aku? ..
Aigoo!!!!!....
Oh, otakku!!.
__ADS_1
Daripada berlama-lama memandangi bathtub dan membuat otak suciku kian menjadi mesum tak karuan, aku buru –buru menanggalkan pakaian resepsi yang masih aku kenakan, dari mulai outer kebaya brukat yang menjuntai, hingga ke dress ********** yang juga menjuntai ujungnya. Dan untungnya, tanganku cukup untuk menggapai resleting gaun yang berada di belakang.
Sehingga drama keuwuan yang pernah aku baca di novel saat si pengantin wanita yang dalam ceritanya juga dijodohkan sepertiku, meminta bantuan pada suami yang dijodohkan olehnya.
Lalu adegan suami hasil perjodohan yang meneguk saliva karena melihat punggung mulus si pengantin wanita tidak aku alami. Hehehe. Sempet-sempetnya aku mikir kesitu, coba?..
Akupun buru-buru masuk ke bilik shower saja untuk mengguyur otakku biar hal-hal ngeres yang sedang berada di dalamnya luntur oleh air.
Tidak mengalami drama keuwuan, tapi aku mengalami drama yang lain.
Aku lupa membawa baju ganti, saking buru-buru melarikan diri dari godaan otot trapezius Reiji.
Untung ada bathrobe yang bisa aku gunakan agar tubuhku tidak terlalu terekspose saat aku keluar dari kamar mandi, yang mana Reiji pasti akan melihatku setelah aku keluar dari sana.
Jadi walau sedikit agak panik, dan gugup, karena bathrobe itu pendek bawahnya, tapi setidaknya bisa menutupi dua aset berhargaku dengan rapat.
Biar aku ga disangka ngumbar-ngumbar amat minta di perawanin sama Reiji.
**
Setelah drama aku yang tidak membawa baju ganti, lalu menemukan Reiji sudah berada di depan pintu kamar mandi saat aku membukanya, dimana aku pikir dia sudah tak sabar untuk segera mendapatkan haknya sebagai suami, yang mana ternyata Reiji hanya ingin menanyakan apakah aku membawa baju ganti atau tidak.
Saking parno nya aku yang begitu gugup menghadapi momen yang disebut malam pertama buat sepasang pengantin baru. Jadilah otakku ini mikir yang aneh-aneh aja asal melihat Reiji perasaan.
Ampun deh.
Well, kembali lagi ke soal drama, setelah lupa bawa baju ganti, aku bahkan tidak menemukan piyama, yang seingatku sudah aku masukkan ke dalam koper kecil yang kubawa.
Dan parahnya lagi, sampai bra yang pastinya aku ingat untuk aku bawa pun juga ga ada!. Hanya ada dua piece kain segitiga penutup ku saja di dalam koper. Itupun sudah ditukar dengan model yang menerawang.
Hingga pada akhirnya aku mendapati sebuah paper bag cantik, dengan kartu yang tertempel serta tulisan di dalamnya yang membuat aku mendengus geli, kala aku mendapati setelan gaun tidur seksi di dalam paper bag tersebut.
Pemberian Avi, mamaku dan mama mertuaku.
Yang aku yakin seratus persen, kalau itu ebi tri, adalah tersangka yang mengambil piyama dan bra-ku di dalam koper ku.
Ah ya sudahlah, mau tidak mau, akhirnya aku pakai juga baju tidur seksi itu, lalu bergegas untuk keluar dari dalam walk in closet, setelah menormalkan dulu diriku, agar kegugupanku untuk berhadapan dengan Reiji bisa ku tutupi atau bahkan hilang.
Terlebih dengan gaun tidur berbahan sutra yang aku pakai, membuatku menjadi sedikit salah tingkah.
Entah sedang apa Reiji dengan ponselnya, yang jelas ia nampak serius, meski tak lama setelah aku keluar dari dalam walk in closet kepalanya tertoleh kepadaku.
Dimana membuatku sedikit menjadi kikuk, karena pandangan Reiji begitu intens padaku. Hingga kemudian suara Reiji terdengar.
“Lia ...”
Reiji mengulas senyumannya sembari menatapku dari tempatnya.
“Sini ...”
Lalu Reiji memintaku untuk mendekat padanya.
Dan aku, spontan meneguk salivaku.
**
Reiji yang melihatku masih diam di tempatku saat ia memintaku untuk mendekat padanya, akhirnya berdiri dari tempatnya, lalu menghampiriku setelah meletakkan ponselnya di atas nakas samping ranjang tempatnya duduk tadi.
Tadinya, aku ingin berjalan ke sisi yang berlawanan dari tempat Reiji duduk sebelum dia keburu menyadari kehadiranku yang sudah keluar dari walk in closet. Tapi ya itu, Reiji keburu menoleh dan melihatku. Berdiri tak jauh dari walk in closet.
Reiji yang sudah berada di hadapanku itu mengulas senyumannya, sebelum menautkan jemarinya dengan jemariku lalu menggandengku berjalan menuju arah ranjang. Dimana degupan jantungku kembali tak beraturan. Membayangkan pakaianku akan dipreteli satu-satu oleh Reiji.
Tapi pada kenyataannya,
“Kita langsung istirahat aja ya, Yang? ...”
Kalimat itu yang aku dengar keluar dari mulut Reiji saat kami sudah berada di dekat ranjang.
“Kamu juga pasti capek kan? ...”
Lalu Reiji bertanya seperti itu.
“Iya...”
Dan akupun mengiyakan. Ya karena memang kenyataannya seperti itu.
__ADS_1
Badanku memang cukup terasa letih, karena pernikahanku dengan Reiji berlangsung sejak pagi, dan baru selesai beberapa waktu yang lalu. Jeda waktu istirahat dari akad ke resepsi pun tidak memberikanku waktu cukup untuk beristirahat.
Reiji kembali mengulas senyumannya, lalu mencium pipiku, sebelum dia bicara lagi.
“Ya udah naik, bobo. Istirahat.”
Kata Reiji begitu.
Dan aku mengangguk.
Reiji membimbingku untuk berbaring di atas ranjang. Kemudian kami saling tidur berbaring miring dan berhadapan.
Lalu Reiji bilang,
“Meski kamu begitu menggoda saat ini, Yank... Tapi aku ingin sesuatu yang istimewa untuk kita, yang pasti kamu tahu maksud aku apa, tidak kita lakukan disini...”
Sambil Reiji mengusap lembut satu pipiku, sembari memandangiku dengan tatapannya yang teduh, serta ucapannya yang lembut.
Lalu Reiji bilang lagi,
“Rasanya sayang aja bagi aku, kalau aku meminta hakku di kamar hotel yang ga akan kita tempati seterusnya ini. Aku mau kali pertama kita melakukannya, di tempat dimana kita, terutama aku, punya akses untuk akses masuk dengan bebas ke tempat kita akan mengukir kenangan soal malam pertama...”
Kemudian Reiji menambahkan ucapannya,
“Jadi setiap kali aku memasukinya, bibir aku akan otomatis tersenyum untuk mengingat hal itu ...”
Oh ya ampun...
Dan jujur, aku merasa wow dengan pikiran Reiji itu. Sebegitu spesial kah aku untuk seorang Reiji Shakeel, hingga kenangan malam pertamanya bersamaku ingin ia ukir sampai sebegitunya?.
***
“Dimana emangnya? ...”
Pertanyaan itu yang kemudian lolos dari bibirku selepas kalimat Reiji yang terakhir.
“Kamar aku ...”
Dan itu jawaban Reiji.
Well, disinilah aku sekarang.
Kamar Reiji, kamar pria yang sudah menjadi suamiku itu.
“Meskipun kita akan tinggal disini, kalo emang kamu mau merubah ini kamar, silahkan aja ya, Yang?..”
Begitu ucapan Reiji padaku, selepas ia membawa masuk koper ku dan kopernya ke dalam walk in closet dalam kamarnya yang seumur hidup aku mengenal Reiji, baru ini aku masuk ke kamar mantan abang-abangan aku ini.
Dan kalimat Reiji itu, seolah mengatakan, jika kamarnya ini, sekarang juga sudah menjadi kamarku.
Aku hanya manggut-manggut saja, sembari mataku masih memandang ke sekeliling kamar Reiji, yang sangat maskulin, kalau dilihat dari dominasi warna wallpaper dinding kamar serta barang-barang dalam kamar Reiji ini.
Hanya saja, sentuhan maskulin yang seharusnya nampak terlihat, kini bercampur dengan sentuhan feminisme, dimana kamar Reiji dihias macam kamar hotel yang semalam kami tempati itu.
Dekorasi kamar pengantin yang sangat romantis aku temui lagi sekarang. Di kamar suamiku ini.
Tanpa aku sadari, Reiji sudah berada didekatku, dan genggaman tangannya membuatku menoleh padanya. Tapi kemudian, ucapan Reiji membuatku kemudian tergugu.
“Yuk...”
Sembari Reiji menarik pelan diriku melalui tautan jemari kami. Dan membawaku mendekat ke arah ranjang yang sudah dihias kurang lebih sama seperti kamar hotel yang kami tempati semalam.
“Mumpung ujan!” Kata Reiji yang membuatku seketika nge-blank.
Oh My God!.
Apa maksud kata-kata Reiji itu, adalah dia meminta haknya sebagai suami sekarang?.
Seriously??!!. Mau ngelakuin itu MP sekarang?????.
Sore-sore gini?????.
****
Bersambung..
__ADS_1